
Restoran….
“Apa kamu tidak ingin memperbaiki hubunganmu dengan Bibi Tiara?” Tanya Bastian tanpa keraguan meski melihat ekspresiku yang masih kesal.
“Tidak, tidak akan pernah. Aku membencinya, karena dia dan orang tuanya, aku terjebak dengan kamu dan harus kehilangan semua kebahagiaanku” Jawabku kesal.
“Hai, apa kamu masih tidak suka dengan hubungan ini?”
“Aku bukan tidak menyukainya Bastian, aku hanya kesal mengingat bagaimana kita memulainya. Lupakan itu, apa yang kamu lakukan hari ini, kenapa kamu terlambat, jelas-jelas kelasmu hanya ada satu dan itu pun di sore hari.” Tanyaku.
Dia tertawa kecil dan menekan sedikit pelipisnya, “Itu… Aku…”
“Stop berbohong, kamu tau pada akhirnya aku akan mengetahui semuanya” Ketusku.
“Maaf, aku mengantar Monica ke bandara, aku…”
“Sudahlah, bagaimana hubunganmu dengan Monica?” Tanyaku lagi.
“Aku tidak punya hubungan lagi dia, aku sudah putus, makanya dia pulang ke Kanada hari ini, dia sangat sedih karena aku putuskan.” Jelasnya.
“Eum, apa kamu pikir aku peduli. Jangan lakukan hal yang sia-sia lagi, fokus saja pada kuliahmu, bulan depan aku akan berangkat ke Inggris jadi, bersiaplah bebas dari tekanan ku”
“Kamu bercandakan?” Tanyanya dengan wajah cerah ceria seolah menantikan kepergianku.
“Jangan terlihat bahagia di hadapanku, aku membencinya. Aku akan pergi selama 2 tahun atau lebih, selama aku pergi kamu bebas melakukan apapun karena aku sudah berhenti mengusik hidupmu setelah ini, mari menjadi asing karena aku sudah muak denganmu” Ucapku dengan nada dingin.
Seketikan ekspresi senang di wajah Bastian berubah menjadi sendu, “Apa kamu membenciku?” Tanya nya.
“Bukankah sudah jelas? Itu karena sifat burukmu yang tidak berubah-ubah dari dulu, aku sudah lelah Bastian, lelah mentoleransi perselingkuhanmu, lelah mengurus pemberontakanmu, lelah sikap kekanakanmu, lelah dengan menutupi setiap kekuranganmu yang semakin hari bukan semakin berkurang malah bertambah.” Aku menatap matanya lama hingga akhirnya mataku kembali fokus pada makanan yang ada di depanku.
“Azia, apa kamu ingin mengakhiri hubungan kita?” Tanyanya dengan nada serius namun aku enggan menatap matanya yang mungkin saja memancing emosiku semakin menjadi.
Aku benar-benar mengabaikan pertanyaan yang sejujurnya jawabannya masih belum pasti, ya mungkin aku ingin mengakhiri hubungan ini tapi memangnya itu bisa, lebih dibalik Bastian ada Kakekku yang selalu memihaknya.
“Azia, kenapa diam?” Nada bicaranya sedikit meninggi tapi, tetap saja tidak cukup untuk mengusik ketenanganku.
Tiba-tiba dia menarik piring ku hingga aku terpaksa melihat ke arahnya. “Jangan menggangguku makan” Perintahku kesal.
“Jawab dulu, pertanyaanku!”
“Pertanyaan yang mana?” Aku pura-pura lupa, lalu menarik kembali piringku yang ditahan oleh tangannya, “Lepas, aku masih lapar”
“Azia, apa kamu akan mengakhiri hubungan kita?” Tanyanya lagi.
“Iya” Jawabku singkat, lalu aku berhasil mendapatkan kembali makananku.
“Azia, apa kamu serius dengan ucapanmu?”
“Bastian, jangan membuat keributan di tempat umum atau masalah ini akan jadi berita buruk untuk kita berdua” Ujarku.
“Azia, apa kamu cemburu dengan para pacarku?”
Ekspresi Bastian benar-benar tidak bisa aku artikan dengan jelas tapi, tau sedikit tidaknya dia sedang merasa kecewa, “Azia, apa kamu tau kenapa aku selingkuh? Kenapa aku nakal?” Tanyanya.
“Aku tidak tau dan tidak peduli” Jawabku acuh.
“Azia, aku melakukan itu karena kamu, kamu tidak pernah melihatku sebagai seorang laki-laki, kamu tidak menaruh perasaan apapun padaku, aku hanya ingin setidaknya sekali saja kamu cemburu padaku, aku ingin melihatmu cemburu, aku ingin kamu marah karena aku dekat dengan perempuan lain, aku ingin kamu mencintaiku, Azia.”
“Jangan mengharapkan hal mustahil” Ucapku dingin.
Air mata Bastian mulai mengalir dan membasahi kedua pipinya yang memerah, aku mulai panik karena melihat Bastian menangis di tempat umum, dengan cepat aku bangin dan memeluknya, aku mencoba menutup wajahnya yang sedang menangis agar tidak ada yang memotret kondisinya yang mungkin akan mencemarkan nama baikku.
“Berhenti menangis, aku salah. Aku cinta kamu, aku sayang kamu, aku cemburu, jadi cepat berhenti menangis” Ucapku tanpa ada perasaan apapun dalam setiap kata.
“Kamu tidak akan memutuskan hubungan kitakan?” Tanyanya dengan tangan melingkar pada pinggangku.
“Iya, jadi berhentilah melakukan hal konyol dan berhenti menangis sekarang, kalau kamu memang ingin aku cintai, cepat susul aku ke Inggris.
“Kalau benar kamu mencintaiku dan tidak akan memutuskan hubungan kita, ayo tunangan sekali lagi dan kali ini ayo tunjukkan ke publik kalau kamu milikku dan aku milikmu” Ucapnya dengan mempererat pelukannya.
Jujur aku tidak ingin mempublish hubunganku dengan Bastian karena aku tidak ingin kabar hubunganku dengan Bastian sampai pada kak Alex, atau pun pada para sahabatku, selama ini aku sudah cukup menjaga rahasia hubunganku dengan Bastian meski Andi adalah satu-satunya makhluk yang tidak mungkin bisa aku tipu, terlebih beberapa tahun terakhir keluarga Andi dan kakek sedang menjalin bisnis, bahkan Margaret sepupu ku dari anak kedua Kakek sedang menjalin hubungan bahkan berencana menikah setelah Margaret lulus kuliah tahun depan.
“Aku tidak bisa, aku lebih suka hubungan kita yang sekarang” Jawabku ragu.
“Sayang, kenapa kamu tidak ingin mempublish hubungan kita? Apa ada hati lain yang sedang kamu jaga?”
“T-tentu tidak” Jawabku mencoba untuk tetap tenang.
“Aku akan bicara dengan orang tuaku dan kakek, agar mengurus pertunangan kita, aku mau sebelum kamu pergi ke Inggris kita sudah mempublikasi hubungan kita. Agar dunia tau kamu milikku, dengan begitu tidak ada yang mendekatimu atau aku di masa depan” Putusnya sepihak.
Aku tidak ingin berdebat, apalagi jika dia akan menangis lagi dan membuat aku benar-benar malu di depan umum.
“Lakukan sesukamu, sekarang selesaikan makanmu lalu kita pulang.”
“Pulang ke rumah kakek atau ke apartemenmu?” Tanyanya.
“Ke apartemenku saja, aku sedang tidak ingin melihat Mama, jadi ke apartemen ku saja”
“Baiklah, ayo berangkat” Dia melepas pelukannya, lalu bangun dengan tangan menghapus sisa-sisa air matanya.
“Makananmu?”
“Aku sudah kenyang sayang, ayo pulang, aku ingin istirahat di tempatmu sebelum masuk kelas sore”
“Eum, terserahlah.” Karena restoran yang kami kunjungi hari ini milik Bibi Aurel, karenanya aku dan Bastian tidak perlu membayar makanan yang kami pesan.
***
***Jangan lupa tinggalkan vote dan komentar anda >_