
Entah kenapa hari ini terasa sangat terik, meski aku berada diruangan ber AC tetap saja tidak bisa menjamin kalau aku tidak merasakan panasnya cuaca apa lagi hari ini ada pertemuan dengan klien di luar ruangan. Andai aku bisa memilih aku tidak ingin pergi tapi, perusahaan membutuhkan lebih banyak dukungan finansial karena itu membuat rasa enggan dan melupakan semua efek dari cuaca yang aku dapat kan kalau aku tidak berhati-hati.
“Sebelum meeting dimulai kita akan menemani tuan Hideyoshi untuk bermain golf, 20 menit lagi pihak mereka akan tiba di sana, mereka meminta kita untuk ikut serta, selain itu ada beberapa orang yang berpengaruh akan ikut di dalamnya.” Ucap Alham yang baru masuk dengan beberapa dokumen di tangannya, “Silahkan tanda tangan, lalu pakai ini sebelum keluar” Dia meletakkan handbody.
“Untuk apa ini?” Tanyaku.
“Handbody ini mengandung SPF 50, selain itu ini juga cocok untuk melembutkan serta mencerahkan kulit, pakai ajalah”
“Lagi promosi, nih? Oke deh aku pakai, makasih pak Alham yang pengertian dan sangat peka”
“Sama-sama. Oke, saya tunggu lobby” Ia pun pergi.
Sejujurnya punya Alham sebagai sekretaris adalah satu keuntungan yang bagus, selain Bunga, Alham adalah orang yang paling bisa diandalkan di perusahaan, bahkan dia bisa jadi konsultan dalam semua masalah. Aku harap dia bisa terus bekerja sebaik sekarang dan bisa bertahan di perusahaan dalam waktu lama.
*
*
Beberapa menit kemudian aku dan Alham sudah dalam perjalanan menuju ke tempat bermain golf.
“Siapa saja yang akan ada di sana?” Tanyaku.
“Ada Pak Robert, investor dari Kanada, lalu ada Nona Sakura dari perusahaan Hirka Elektro.”
“Pak Robert? Kenapa dia di sini?”
“Pak Robert itu teman dekat Hideyoshi dan Nona Sakura itu tunangan sekaligus sepupu jauh dari tuan Hideyoshi”
“Sangat menarik tapi, rasanya ini agak tidak nyaman karena mereka melakukan pertemuan keluarga sedangkan tujuanku adalah bisnis. Bagaimana kalau nanti ada pembicaraan keluarga di sana?” Dari semua pertemuan yang aku lakukan dengan orang-orang yang berpengaruh dalam bisnis, kalau ada bagian dimana pertemuan berisi sebuah keluarga, aku akan mengalami sedikit ketakutan, takut tanpa sadar ikut campur dalam masalah keluarga orang lain dan membuat tujuan aku ikut pertemuan itu menjadi kacau.
“Tenang saja, kita datang sebagai orang yang diundang jadi jangan terlalu tegang. Kamu hanya perlu ingat kalau ada aku di sana”
“Terus kalau ada kamu disana memangnya apa yang akan kamu lakukan untuk membantuku?”
“Bantu doa hehehe” Dia tertawa mengejek.
“Sangat membantu ya kawan”
‘Plak’
Tatu pukulan aku layangkan ke lengannya tapi, dia tidak bereaksi apapun dan masih fokus menyetir.
‘Apa aku pukulnya terlalu pelan?’ Pikirku, lalu aku mengulang pukulan itu beberapa kali hingga akhirnya dia merespon di pukulanku yang kesekian.
“Udah, kita udah sampai, ayo turun” Ucapnya sambil membuka pintu dan turun begitu saja.
“Dasar menyebalkan” Teriakku kesal di dalam mobil sebelum akhirnya ikut turun dan mengikuti langkah cepat dari Alham.
Dalam langkah lambat aku terus berpikir ‘kenapa Alham tidak mengatakan apapun soal pukulan itu, apa aku selemah itu?’, tiba-tiba langkahku terhenti karena Alham berhenti dan membuat aku yang berjalan di depannya jadi menabrak tubuh besarnya itu.
“Hai, bisa nggak kalau berhenti itu ngomong dulu kek!” Protesku kesal.
“Ya siapa suruh jalan di belakangku, cepat jalan di samping, mana boleh kamu jalan di belakangku” Ucapnya sambil menarik tanganku sebelum kami kembali berjalan dengan langkahnya yang kini diperlambat mengikuti langkahku yang pelan.
“Apa kamu tidak lelah berjalan lama?”
“Bukannya kalau jalan seperti ini memang jadi tidak lelah?” Jawabku polos tanpa berpikir kalau ucapannya adalah suatu sindiran.
“Kamu ini… Ah, sudahlah. Lama-lama aku bisa gemas dan menggendong mu, ayolah percepat langkahmu, kita sudah terlambat”
“Ini sudah cepatlah!” Protesku kesal.
Langkah kami kembali terhenti saat kami bertemu dengan tuan Hideyoshi yang sedang berbincang dengan Robert.
“Halo, pak Robert, tuan Hodeyoshi, bagaimana kabar kalian?” Tanyaku.
Untungnya orang tua tuan Hideyoshi adalah orang Indonesia jadi secara otomatis dia bisa bicara dalam Bahasa Indonesia, sedangkan pak Robert, pernah tinggal di Indonesia saat kecil jadi dia paham Bahasa Indonesia tanpa perlu penerjemah.
“Kami baik” Jawab pak Robert.
“Benar ucapanmu mereka sangat mirip, bagaimana bisa semirip ini, ya? Pantas saja kamu ingin ikut pertemuan ini” Ujar tuan Hideyoshi.
“Mirip? Siapa?” Tanyaku penasaran.
“Hahaha… Tidak ada, ayo kita segera ke lapangan.”
“Alham, nanti kamu aja yang main ya, aku semangatin” Bisikku pada Alham.
“Lah kok aku, kamu aja, kan kamu direkturnya”
“Ya kan kamu sekretarisku, udah kamu aja”
Alham menggelengkan kepala dengan ekspresi cemberut yang cukup mengesalkan.
Pada akhirnya kami berada di lapangan golf, padahal masih jam 9 tapi karena cuaca cukup bagus rasanya berada sebentar di luar ruangan sudah cukup membuat kulit gosong.
“Apa kamu bisa bermain?” Tanya Robert.
Permainan pun dimulai, tuan Hideyoshi dan Alham terlihat sangat menikmati permainan, bahkan Alham yang tadinya enggan bermain kini terlihat sangat kompetitif.
“Apa kamu ingin mencobanya?” Tanya Robert yang berhenti bermain dan menghampiriku.
“Hem? Eum…” Sejujurnya ingin aku tolak tapi, aku merasa itu akan berefek buruk pada investasi nantinya karena itu aku terpaksa, “Baiklah, tapi saya benar-benar tidak pernah bermain golf”
“Tidak apa, biar aku yang mengajarinya”
Robert mengambil tongkat lain dan diberikannya padaku, sejujurnya aku bukan benar-benar tidak bisa bermain hanya saja aku males, aku juga bukan pecinta olahraga, apalagi cuaca hari ini sangat tidak mendukung untuk berada di luar ruangan dalam waktu yang lama.
“Perhatikan gerakan saya, jadi pegang tongkatnya seperti ini lalu, perhatikan tumpuan kaki, lihat arah …”
“Hallo! Sorry I’m late, have you started, yet? Ah, can I come too, baby?” Nona Sakura tiba-tiba datang dan menyela kami.
‘Akhirnya penyelamat dunia datang’ Pikirku.
Aku langsung memberikan tongkat golf yang ada ditanganku pada Nona Sakura, “This is for you, please play first. I will see mr. hideyoshi and Alham there. Have fun” dengan langkah cepat aku meninggalkan dua bucin itu dan berjalan menuju ke tempat Alham yang sedang senang karena berhasil mengalahkan tuan Hideyoshi.
“Sebagai ucapan selamat, bagaimana kalau setelah ini kita makan siang di tempat saya?” Tawar tuan Hideyoshi.
“Baik, saya menerima undangan anda” Jawab Alham dengan senyum puas yang sangat kentara.
“Katanya nggak mau main tapi, kelihatan sangat menikmati, tuh!”
“Itu kan tadi. Mau coba nggak?”
“Yaudah boleh deh sekali” Alham pun mengajariku cara memukul bola dengan benar.
Pukulan pertamaku terlampau tidak kuat membuat Alham yang geram langsung mengajariku secara langsung, “Pegangnya gini lah, nih sini letakkan tangan dan genggam dengan erat, lalu ayunkan dan… Nah, lihat bagus, lain kali pukul nya kayak gitu, bertenaga dikit” Tegur Alham seolah aku muridnya yang sangat buruk dan sulit diajari.
“Iya, guru” Ucapku kesal, “Nih, nggak mau main lagi!”
“Ngambek? Aku salah, jangan ngambek lah, kita lagi sama klien nih, jangan gitu” Bisiknya.
Mendengar ucapannya aku langsung sadar dan kembali memperbaiki ekspresi wajahku di depan tuan Hideyoshi yang sedari tadi memperhatikan interaksi kami.
“Bagaimana kalau main sekali lagi?” Ajak Hideyoshi.
“Baik” Jawab Alham dengan semangat bertarungnya.
Mereka kembali bermain sedangkan aku hanya menjadi penonton hingga sebuah panggilan masuk dari Alex.
‘dringg!!!’
“Kak Alex? Ada apa, ya?” Aku segera menjawab panggilan itu, “Hallo kak, ada apa?”
“Azia, kemana saja sih kamu beberapa hari ini? Kenapa sulit untuk dihubungi?” Tanyanya dengan nada dingin.
“Itu… Perusahaan memiliki masalah serius beberapa hari ini dan aku sedang fokus mengurus itu, selain itu, aku bukannya tidak bisa di hubungi tapi aku tidak menggunakan handphone ini kemarin karena tertinggal di rumah Mama.”
“Kamu ke tempat Mama? Kenapa tidak memberitahuku? Apa Mama tidak mengatakan apapun?”
“Tidak ada, kami hanya membahas bisnis saja, memangnya apa yang harus Mama katakana?”
“Bisnis? Mama jadi investor juga?”
“Sekarang Mama memiliki 30 persen dari saham perusahaan. Ada hal lain yang ini kakak bicarakan?”
“Sebenarnya ada tapi, aku ada pasien yang harus aku urus sekarang, nanti kita bicara lagi. Kamu pulang ke rumah hari ini?”
“Kak, aku akan menetap di rumah utama untuk waktu yang tidak tahu akan sampai kapan, aku harap kakak juga tinggal disana bersamaku.”
“Kita bicarakan ini nanti, bye sayang, love you”
“Me too”
Pembicaraan kami pun berakhir sesingkat itu.
“Ada masalah?” Tanya Robert yang muncul dari belakang punggung ku.
“Heum? Tidak, nona Sakura dimana?”
“Dia ada urusan mendesak jadi pergi duluan tapi, dia akan ikut makan siang dengan kita.”
“Eum… Apa ada yang ingin anda bicarakan?” Tanyaku dengan sopan karena melihat mata tuan Robert seolah ingin mengatakan banyak hal.
“Tidak ada, apa anda harus?”
“Tidak, saya ingin pergi ke kamar kecil sebentar”
“Baiklah, silahkan.”
Aku pun menaiki mobil club car yang ada di sana, sejujurnya tujuanku bukan ke kamar kecil hanya ingin berteduh dari sinar matahari hingga tiga pria itu bosan bermain dan mengajakku makan siang.