
Setelah dia pergi aku kembali sibuk membaca beberapa laporan hingga aku mulai muak dengan semua tulisan yang harus aku baca. Berjam-jam duduk di kursi dan memeriksa berkas dan bicara dengan beberapa klien membuat aku benar-benar kelelahan dan sedikit lapar.
‘tok tok tok’
“Permisi, bu Zia. Ini sudah jam 12 lewat, saya rasa anda pasti sudah lapar. Saya bawakan anda beberapa potongan buah, ini cukup baik untuk kesehatan dan juga bisa mengganjal perut anda sebelum kita berangkat untuk bertemu klien.” Pria itu meletakkan sepiring buah pir yang tertata sangat rapi.
“Bagaimana dia tahu kalau aku suka buah ini? Ah, benar pasti Indah telah memberitahunya.” Pikirku sambil menarik piring berisi buah.
“Terima kasih.” Ucapku.
Dia hanya mengangguk lalu keluar dari ruangan itu.
Entah kenapa tiap kali dia bersikap seperti itu membuat aku sadar kalau aku telah jahat karena terus memikirkan beberapa kesalahan kecilnya di masa lalu, dan bersikap dingin di hari kami benar-benar bekerja bersama.
“Arghhh! Kenapa aku terkesan jahat di sini?! Tidak, tidak, tidak, aku bukan pendendam, ayo lupakan masa lalu itu, Azia!” Pikirku sambil terus melahap habis potongan buah terakhir.
Tiba-tiba Alham masuk, “Apa anda sudah siap, Bu Zia?”
Sejujurnya aku masih agak terganggu saat ada orang lain memanggilku ‘Zia’ sementara dia bukan sahabatku.
“Sudah, ayo pergi!”
Lalu aku mengikuti langkahnya hingga kami berhenti di depan lift yang masih belum terbuka.
“Apa semua sudah siap? Kamu tahu apa tugasmu bukan?” Tanyaku ragu padanya.
“Tentu saja”
Lalu pintu lift pun terbuka dan tidak ada seorangpun di dalamnya, aku mendahului langkah Alham.
“Apa sore ini aku masih memiliki jadwal?”
“Tentu, ada meeting jam 16 di restoran yang sama dan di jam 20 di hotel semesta dengan…”
“Apa itu tidak ditunda saja? Hari pertamaku masuk kantor sangat melelahkan apa lagi Indah sedang tidak ada di sini untuk menggantikan ku.”
“Sayang sekali tidak bisa, klien ingin menemui anda secara langsung, ini kesempatan besar untuk mendapatkan lebih banyak dukungan untuk mengembangkan bisnis anda.”
“Heum..”
Aku sedikit kecewa karena aku tidak bisa makan malam dengan kak Alex. Segera aku mengetik beberapa pesan permintaan maaf dan penyesalan karena tidak bisa pulang awal dan makan malam dengan kak Alex.
“Kak, aku punya meeting dan mungkin akan selesai sebelum jam tidur kita karena itu kakak makan saja dulu, aku akan makan malam dengan mereka nanti. Jangan lupa merindukanku, aku sangat merindukanmu di sini” Pesanku.
[tak apa, aku juga berencana makan malam dengan rekan tim ku, kami sudah lama tidak bertemu karena kesibukan masing-masing dan karena liburan kita waktu itu]
“Jangan pulang terlambat, aku sangat merindukanmu” Balasku.
Alham melihat perubahan depresi ku selama di mobil, sesekali dia melirik dengan tatapan penuh tanya tapi tidak sekalipun dia mencoba bertanya, mungkin dia sadar posisinya saat ini.
[Tentu saja istri mungilku, aku selalu merindukanmu. Sampai jumpa di rumah]
Tak lama kemudian kami pun sampai di restoran yang kami tuju, saat sampai di sana tiba-tiba Alham mendapat pesan dari klien kami. Dia berhenti cukup lama di parkiran hingga membuat aku kesal, tapi dari ekspresinya aku sudah bisa menebak apa isi dari pesan itu.
“Apa dibatalkan?” Tanya ku.
“Bagaimana anda tahu?” Dia sedikit kaget mendengar pertanyaan ku.
“Aku hanya menebak saja, sudahlah jadi kapan dia ingin mengatur pertemuan berikutnya?”
“2 minggu lagi. Sekarang apa kita harus kembali ke perusahaan?”
“Ini masih jam istirahat, sudahlah ayo makan saja lagian aku lapar.”
“Baiklah.”
Pada akhirnya kami tetap masuk ke restoran itu, untungnya Alham sudah memesan meja serta beberapa menu untuk kami jadi kami hanya perlu masuk dan makan.
Aku tidak yakin tapi aku merasa suasana diantara kami sedikit lebih canggung dari yang aku bayangkan.
“Apa sekarang aku boleh menanyakan sesuatu, Zia?” tanya Alham padaku.
“Zia? Jangan bercanda! Kamu tahu posisimu sekarang?”
“Aku tau, tapi… Ini masih jam istirahat jadi tidak ada atasan atau bawahan, bagaimana kalau kita bicara santai saja?” Ucapnya dengan nada santai.
“Terserahlah! Jadi apa yang ingin kamu tanyakan?”
“Apa kamu baik-baik saja?” Tanyanya dengan nada serius seolah aku baru mendapat masalah berat.
“Tentu saja, memangnya kenapa? Lagian kenapa juga kamu menanyakan hal tidak penting itu?”
“Mungkin untukmu tidak penting tapi bagi aku… itu berbeda” Jawabnya.
Mendengar jawabannya aku benar-benar terdiam kehilangan kata, aku tidak tahu harus bagaimana menanggapinya.
“Soal itu…”
“Azia!” Kak Alex muncul dan mengagetkanku. “Bukan katamu kamu meeting? Apa dia klien mu?” Tanya kak Alex dengan nada menyindirku.
“Tentu saja bukan, meeting di tunda dan karena kami sudah terlanjur di sini ya kami… makan siang.”
“Berdua?” dia melirik tajam kearah Alham.
“Bertiga kalau kak Alex mau gabung. Tapi kenapa kak Alex di sini?”
“Aku punya sedikit waktu luang dan ingin memesan tempat untuk acara malam ini” jawabnya dengan mata masih menatap tajam ke arah Alham.
“Ou. Apa sudah selesai?” Tanyaku.
“Eum.” Kak Alex menarik kursi dan duduk di sebelahku, matanya terus menatap tajam kearah Alham yang duduk di hadapanku.
“Apa dia asistenmu?” Lanjut kak Alex yang tidak melepas pandanganya dari Alham.
“Eum, dia asisten baruku. Indah sedang mengambil cuti dan dia pengganti indah.” Jawabku.
“Euhm… Apa kamu akan pulang sekarang?”
“Tidak, aku masih harus mengurus beberapa pekerjaan dan aku masih ada satu meeting lagi di sini”
“Heum. Baiklah, kalau begitu sampai jumpa di rumah” Lalu kak Alex bangun dan mencium keningku sebelum akhirnya dia pergi karena mendapat panggilan dari rumah sakit.
“Siapa tadi?”
“Suami ku lah! Tampan kan? Benar-benar sangat tidak bisa di bandingkan dengan siapapun. Dia sangat luar biasa.” pujiku yang masih terus melirik kearah Alex yang semakin menjauh.
“Benarkah?” Raut jawab Alham terlihat aneh tapi aku pikir mungkin saja dia hanya sedikit lelah.
Setelah makan akhirnya kami kembali ke kantor, aku mencoba menyelesaikan tugasku dengan cepat agar tidak ada beban yang aku bawa saat aku pulang ke rumah nanti.
‘tok tok tok’
Alham masuk dengan segelas teh hangat dan sepiring cemilan.
“Silahkan dinikmati, dan ini vitamin yang seharusnya anda minum tadi, bu Indah baru memberitahu saya kalau anda harus minum vitamin anda.” Ucapnya dengan nada bicara kembali formal.
“Terima kasih.”
Hari pertama kerja, aku bisa merasakan kalau dia memang bisa menjadi pengganti Indah, akan lebih baik jika dia benar-benar pegawai tetap. Hari itu kami benar-benar sibuk apa lagi harus menghadapi beberapa klien dengan kepribadian cukup unik hingga aku berharap waktu cepat berlalu agar aku bisa pulang ke rumah dan menemui kak Alex. Tidak terasa waktu yang aku habiskan dengannya cukup banyak dan aku mulai muak melihat wajahnya, untungnya meeting yang terakhir selesai sebelum jam 10 malam karena itu aku bisa segera pulang dan menikmati hidupku sebagai nyonya Alex dengan tenang.
“Besok pagi, saya akan menjemput anda” Ucap Alham.
“Eum. Jangan terlambat.”
“Tentu saja” Jawabnya.
Sampai di rumah ternyata kak Alex sudah menungguku di depan pintu gerbang, dengan wajah garang membuat aku takut untuk turun dari mobil.
“Apa itu suamimu yang tadi siang?”
“Eum iya, aku rasa” Jawabku ragu.
“Sepertinya dia sedang sangat kesal.”
“Itu tidak perlu kamu beritahu pun aku tahu. Sebagainya kamu cepat pulang” Lalu aku segera turun dari mobil.
“Hai kak!” Sapa ku canggung.
“Lama ya?” Ucapnya sambil terus memperhatikan pengemudi mobil yang mengantarku.
“Sedikit. Kakak sudah makan?”
“Sudah, ayo masuk!” Dia berjalan di depanku.
“Mana mobilmu?”
“Mobilku sedang di bengkel, karena itu untuk sementara waktu Alham akan menjadi supir pribadiku.”
“Tidak perlu, aku akan mengantarmu”
“Jam kerja kita beda sayang, aku tidak ingin membuatmu dalam kesulitan, lagian sebentar lagi kamu akan menjadi direktur rumah sakit. Bukan seharusnya kamu lebih berusaha lagi dalam pekerjaanmu daripada membuang waktu untukku?”
“Aku hanya..”
Aku mencium pipi kak Alex yang sedang kesal lalu berjalan mendahuluinya.
“Jangan terlalu dipikirkan, ayo ke kamar” Aku menarik kak Alex cepat masuk ke dalam rumah.
Bersambung.