Obsession Of Love

Obsession Of Love
Restu bagian 1



Sore itu aku kembali ke rumah sakit dan menemui kak Alex.


“Sore kakak tampanku” Sapa ku pada kak Alex yang sedang asik dengan handphonenya.


“Azia, untuk apa bunga itu?” Tanya kak Alex yang melihat aku membawa buket bunga mawar merah.


“Untuk kakak dong! Bagaimana kondisi kak Alex, apa sudah mendingan?”


“Sudah, sepertinya aku akan segera bisa keluar rumah sakit.”


“Ibu tahu tentang kondisi kakak?” Tanya ku yang tiba-tiba ingat tentang ibu kak Alex.


“Tidak, aku berharap kamu tidak memberitahukan masalah ini pada ibu, aku tidak mau ibu khawatir dengan kondisiku”


Aku merasa cukup bersalah pada kak Alex tapi aku juga tidak bisa melakukan apapun padanya, aku hanya berharap dia bisa segera pulih.


“Aku sudah mengurus cuti untuk kak Alex, semua sudah aku atur jadi kak Alex hanya perlu beristirahat untuk saat ini. Jangan terlalu banyak berpikir dan cukup istirahat saja di sini. Semakin kak Alex cepat sembuh, maka semakin cepat kita akan menikah.


“Hah!” Kak Alex sangat kaget.


“Maksudnya gimana?” Tanya kak Alex.


“Kakek sudah merestui hubungan kita, ayo menikah dalam minggu ini, apapun kondisinya aku ingin kita menikah minggu ini sebelum kakek berubah pikiran.”


Sepertinya kak Alex benar-benar kaget dan hampir tidak bisa berkata-kata lagi karena berita baik yang baru saja aku sampaikan untuknya.


“Aku sudah memberitahu seluruh keluarga kak Alex, acaranya akan diadakan di rumah kak Alex aja. Ibu sudah mulai mengerjakan persiapan pernikahan kita, karena acaranya mendadak aku pikir kita hanya perlu membeli baju pengantin yang sudah ada saja. Padahal aku ingin memesan baju pengantin khusus tapi karena situasinya tidak memungkinkan tiba beli apa yang ada aja… Bagaimana menurut kak Alex?”


“Azia, kamu tidak sedang bercanda kan?” Tanya kak Alex yang masih tidak yakin dengan ucapan ku.


“Tentu saja tidak, sayangku”


Kak Alex pun bangun dan memelukku, “Akhirnya penantian dan perjuangan kita terbayarkan” Ucapnya.


“Iya, aku juga sangat bahagia karena akhirnya kita benar-benar bisa bersama.” Aku membalas pelukan itu.


Kak Alex menangis tanpa suara saat sedang memelukku. Aku menyadari hal itu karena air mata kak Alex sudah membasahi bajuku. Aku tidak ingin membuat kak Alex malu, karena itu aku berpura-pura tidak tahu dan menunggu hingga kak Alex selesai menangis.


Beberapa menit kemudian kak Alex lebih tenang dan dia pun menghapus air matanya.


“Jangan mengatakan hal seperti itu, kita sudah bersama hingga saat ini aku rasa itu sudah lebih dari cukup! Lagian, kak Alex sudah banyak terluka selama bersamaku, aku pikir itu saja sudah cukup… Aku ingin berterima kasih pada kak Alex yang tidak pernah menyerah padaku” Ucapku sambil  menyandarkan diri padanya.


“Jika waktu bisa di putar, aku ingin hari itu aku ingin menikahi kak Alex lebih cepat” Lanjut ku.


“Apapun yang terjadi di masa lalu tidak penting, yang penting saat ini kita sudah bersama dan tidak ada lagi yang bisa menjadi penghalang bagi kita.” Ucap kak Alex sambil mengelus sambut ku.


Beberapa hari setelah itu kak Alex akhirnya kembali ke Indonesia, sedang aku aku masih harus tetap berada di sana untuk beberapa alasan yang tidak bisa aku katakan pada siapapun.


Siang itu, aku menemui Mama dan Papa di rumah. Sejujurnya aku tidak ingin menemui Mama tapi, karena saat itu Papa sedang bersama dengan Mama aku terpaksa harus bertemu dengan Mama.


Rencananya aku hanya ingin membicarakan beberapa masalah tentang pekerjaan pada Papa tapi, karena waktu itu hampir jam makan siang, pada akhirnya aku harus ikut makan siang bersama dengan mereka.


“Bagaimana kabarmu akhir-akhir ini?” Tanya Papa padaku.


Hubunganku dengan Ayah sambung ku memang cukup baik di bandingkan dengan Mama yang merupakan orang tua kandungku sendiri. Jika orang luar melihat kami mungkin mereka akan berpikir yang orang tua sambung itu adalah Mama dan papa adalah orang tua kandungku.


“Aku semakin membaik akhir-akhir ini, bagaimana dengan papa?”


“Kami baik-baik saja, kamu kapan akan tinggal di rumah?” Tanya Mama.


“Aku akan menikah akhir pekan ini” Ucapku.


Keduanya langsung terdiam dan saling menatap penuh dengan pertanyaan.


“Kenapa mendadak?” Tanya Papa padaku.


Mama terus menatapku seolah dia mengatakan ‘jangan bercanda’ tatapan dingin itu sudah biasa aku lihat tiap kali kami bertemu.


“Kakek mendesak pernikahan kami karena itu…”


“Sudahlah, ayo makan dulu, nanti kita bicara kan lagi hal ini!” Mama memotong ucapan ku.


Karena diantara kami tidak ada yang berani membantah mama, pada akhirnya kami hanya mengikuti apa yang diperintah mama dan makan dengan tenang.


Setelah makan aku masih belum menemukan cara untuk bisa keluar dari rumah itu, andaikan adiku ada di rumah aku pasti punya cara untuk keluar tapi sayangnya dia sedang berada di rumah neneknya.


Bersambung….