
Rabu penuh semangat, aku mendapat cuti sekolah seharian penuh sebagai asisten pelatih klub basket. Andi dan teman-temannya mendapat undangan untuk pertandingan melawan tim dari SMA di luar kota, ini seperti ajang menunjukkan bakat karena dari informasi yang aku dapat, akan dipilih beberapa orang yang memiliki potensi menjadi wakil untuk kejuaraan basket tingkat provinsi. Aku tidak pergi dengan anggota tim basket lainnya, melainkan pergi bersama kak Alex untuk membeli persediaan minuman dan makanan untuk tim basket. Hari itu sangat menyenangkan karena aku bisa bersama dengan kak Alex untuk menonton pertandingan Andi dan teman-temannya. Biasanya aku kewalahan sendiri untuk menyiapkan semua kebutuhan anak-anak tim basket sendiri, namun sekarang aku punya kak Alex yang membantuku.
“Sayang, aku bawa makanan nya ke dalam, ya?” Tanyaku pada kak Alex yang sedang mengangkat air minum untuk dibawa ke dalam juga.
“Ya, kamu duluan aja dan panggil yang lain untuk membantu membawa air.”
“Baik!”
Lalu aku pergi, aku lihat mereka sedang melakukan pemanasan untuk persiapan pertandingan.
“Kalian, tolong bantu kak Alex untuk bawain minuman dari mobil dong!”
“Oke, teman-teman ayo bantu bawain air!” Ajak Andi pada anggota tim lainnya.
Beberapa anak laki-laki pergi dan membantu membawakan makanan dan minuman untuk mereka. Sedangkan Andi sedang sibuk berdiskusi dengan pelatih, mereka terlihat sangat serius, entah apa topik yang mereka angkat hingga membuat wajah dua orang itu sangat serius.
“Hai! Apa aku mengganggu? Pak, aku membawa minuman dan makanan untuk kalian semua, mereka ada di sana, jadi kalau kalian ingin sesuatu tinggal ambil saja sendiri di sana.”
“Terimakasih nak, Azia! Tidak sia-sia saya mengangkat kamu jadi asisten, kamu memang asisten yang luar biasa, selalu tahu apa yang harus dikerjakan tanpa menunggu perintah dari saya, dan terimakasih atas semuanya”
“Saya sangat ingin mendukung Andi makanya saya menjadi asisten anda, dan soal pengeluaran tim ini sebenarnya itu di tanggung oleh Andi.”
“APA?! Kenapa jadi aku? Jangan bilang kamu tambahkan dalam hutangku?”
“Hahahah… Aku hanya bercanda lagian aku ikhlas bantuin kalian, ini bentuk dukunganku untuk kalian semua, nih minuman buat kamu, minuman leci khusus untukmu”
“Ini gratiskan?”
“Untuk hari ini gratis, sekarang cepat minuman sebelum acaranya dimulai”
Tak lama setelah itu pertandingan pun dimulai dan aku akui kalau tim lawan hari itu terlihat tanggu dengan badan mereka yang lebih besar dan berotot dibandingkan dengan anggota tim milik Andi. Aku melihat wajah Andi sedikit pucat dan juga dia kelihatan tidak percaya diri dengan melihat tim lawannya terlihat lebih tangguh.
“ANDI!!! KAMU PASTI BISA! SEMANGAT!!” Aku berteriak sekencang-kencangnya agar Andi merasa lebih bersemangat dan kembali percaya diri.
Dia melihat kearah ku dan tersenyum dengan kedua jempolnya di perlihatkan padaku, dia memberi isyarat kalau dia pasti akan menang. Pertandingan pun dimulai, aku benar-benar tidak menyangka kalau tim lawan kali itu lebih payah dari penampilan fisik tim Andi. Aku sudah mereka hanya terlihat keren dan menakutkan dari luar saja tapi, teknik yang mereka gunakan dan formasi tim mereka cukup kacau hingga sampai akhir mereka hanya mencetak setengah dari jumlah poin milik tim Andi.
“Wah, capek banget! Azia minta air nya, dong!”
Aku pergi mengambil air untuk Andi dan juga makanan.
“Nih, minum! Kamu sangat berkeringat dan itu menjijikkan! Nih ambil handuk untuk kamu, dan kalian semua bisa ambil sendiri di dalam kotak.” Ucapku sambil melempar handuk kecil pada wajah Andi yang sudah keringatan parah.
“Iya, makasih Azia” Ucapnya sambil mengelap wajahnya, dari kejauhan pelatih melambai ke arah Andi, “Ah, udah di panggil aja, susah ya jadi artis” Ucapnya dengan nada songong.
“Eleh, sok ngartis banget” Ejek ku padanya.
Sementara aku sibuk berbincang dengan pelatih dan Andi, di kursi dekat tempat kami meletakkan air minum kak Alex terus mengawasi seperti elang yang sedang mengincar mangsa.
“Azia selalu bersama Andi, ini sangat menyebalkan! Mereka bahkan tidak pacaran tapi, sikap keduanya seperti pasangan kekasih, lihat saja, Azia hanya memperhatikan Andi saja.” Anggota tim Andi yang duduk sedikit jauh dari kamu mulai bergosip tentang kami.
“Betul itu, aku pikir mereka pacaran tapi, aku dengar kalau Azia punya pacar, Andi pernah membicarakannya dengan kami saat sedang berkumpul.”
“Kalian berdua gak ngerasa kalau itu cuma alasan yang dibuat Andi agar kita tidak mendekati Azia? Mungkin saja mereka sebenarnya pacaran tapi, mereka tidak ingin mengatakannya pada kita karena suatu alasan?”
“Ren, kamu terlalu banyak berpikir! Aku rasa Andi bukan tipe yang seperti itu, mereka memang dekat, tapi Andi tidak punya alasan untuk merahasiakan hubungan mereka pada kita, ya’kan?”
“Bela aja terus si Andi, lo kan sahabatnya, ya’kan? Lagian mereka tu tiap hari nempel kek perangko masa sih nggak pacaran?”
Sementara itu aku dan Andi sedikit tegang karena menunggu jawaban dari teman pelatih yang merupakan salah seorang yang menilai permainan mereka.
“Bagaimana, pak?”
“Dia mengatakan kalau hanya ada dua orang yang akan dipilih dari tim kita tapi, dia masih belum menyebutkan siapa, dan satu orang dari tim lawan.”
“Aku berharap kamu bisa lolos dan bisa bergabung di tim, agar impianmu menjadi pemain basket tingkat internasional bisa terwujud.”
“Iya, aku juga berharap begitu sih, Zia. Tapi…, kamu tahu sendiri kalau anak-anak yang lain juga memiliki potensi yang sama” Andi terlihat tidak percaya diri.
“Bapak yakin kamu pasti terpilih, percaya pada kemampuanmu, Andi! Kamu adalah ketua sekaligus anggota yang memiliki potensi yang lebih dari yang lain, percaya itu!” Pelatih menepuk pelan bahu Andi.
“Nah, gitu dong semangat lagi! Kamu harus percaya diri, sebagai ketua tim harusnya kamu tidak merendah, kamu harus percaya diri dan penuh semangat agar anggota lain juga bisa semangat!”
“Makasih, rakus ku! Kamu selalu tahu cara membuat aku semangat” Andi mengacak-acak rambutku.
Kak Alex menarik tanganku dan menyembunyikan ku di belakangnya, dia terlihat kesal saat menatap Andi. Lalu dia berbalik dan merapikan rambutku dengan sangat hati-hati, aku sangat suka tiap kali ada yang menyentuh rambutku dengan lembut, rasanya aku bisa merasakan cinta dari mereka semua hanya dengan sentuhan sederhana itu.
“Sayang, rambutmu sudah rapi, bagaimana kalau setelah ini kita makan siang berdua?”
“Kak, kita sudah sepakat buat makan siang bersama anak-anak disini sambil menunggu pembagian hadiahnya, ya kan?”
“Tapi…”
“Sudahlah Azia, kalian bisa pergi, biar aku yang urus sisanya di sini, aku pikir kalian sudah cukup banyak membantu hari ini, benarkan, pak?” Ucap Andi yang terlalu peka dalam hal yang nggak perlu.
“Tentu saja! Azia, kamu boleh pergi makan siang di luar jika kamu mau, bapak tidak masalah. Lagian acara sebentar lagi juga selesai, kami akan mengurus sisanya di sini, kamu jangan khawatir”
“Makasih pak! Andi, aku duluan, ya! Jangan lupa hubungi Bunda mu saat pulang nanti!”
“Tenang aja! Udah sana pergi!”
“Dasar anak itu! Ayo kak!” Aku pun pergi bersama kak Alex keluar dari tempat itu.
Tadinya aku tidak percaya ucapan Fara tentang perasaan seseorang akan memudar seiring berjalannya waktu dan perubahan sikap adalah bagian memudarnya rasa dari seorang pasangan yang mulai jenuh pada hubungannya, tapi kenyataanya sekarang apa yang aku lihat dari kak Alex bisa aku duga sebagai rasa jenuhnya padaku. Aku sangat takut kalau kak Alex berhenti mencintaiku, lalu meninggalkan aku, seperti Fara yang merasa bosan pada setiap pacarnya dan mencari pacar baru setiap kali dia bosan.
“Kak!”
“Iya sayang, ada apa?”
“Sepertinya aku lupa bilang sesuatu sama kakak hari ini deh”
“Kamu mau mengatakan apa?”
“love kak Alex, sepertinya aku akan terus jatuh cinta sama pacarku ini” Ucapku dengan sedikit mencubit pipi kak Alex.
“Kenapa tiba-tiba kamu gombal gitu sih? Ada apa?” Dia tersenyum tapi, senyumnya masih sama seperti beberapa hari terakhir ini, tidak memiliki perasaan.
“Gak ada, cuma rasanya kurang aja kalau gak mengatakan isi hatiku hari ini, kakak katakan juga dong!”
“Katakan apa?”
“Yang barusan?”
“Yang mana?” Kak Alex pura-pura bingung.
“Ish! Kakak pura-pura gak tahu, ya?”
“Entahlah, coba kamu ulang mungkin aku bisa ingat”
“Love kak Alex!”
“Apa? Gak kedengeran, suaranya kurang kenceng”
“Kakak ini!” Aku memukulnya pelan karena kesal.
“Coba ulang dong deh, aku gak denger nih! Ucapinnya yang kenceng dong dek”
“Nyebelin banget sih kak Alex ini! Yaudah deh, AKU CINTA KAK ALEX puas!”
“Nah gitu dong!”
“Kak Alex gak bales ucapanku, aku ngambek ini!”
“Iya iya aku juga cinta sama Azia ku ini!” Kak Alex mencubit pipiku sambil terus berusaha fokus pada jalan.
Aku terus melakukan segala cara agar hubungan ini tidak hampa dan tetap hangat seperti pertama. Aku mengabaikan semua sikap anehnya dengan harapan segalanya berlalu seiring waktu dan aku bisa mengatasi masalah yang kami punya tanpa ada kata perpisahan untuk kedua kalinya.
Next….