Obsession Of Love

Obsession Of Love
*Perjalanan keluarga



“Menyebalkan! Azia tidak pernah bicara seakrab itu denganku, dia gadis yang tertutup, tidak banyak bicara tapi, kenapa dengan wanita itu dia bicara panjang lebar, bahkan memeluknya dengan mesra, itu sangat menjengkelkan” Ucapnya kesal, lalu dia berjalan menghampiri Azia yang masih berbincang mesra dengan Dewi.


“Azia sayang, apa kamu lapar?” Tanya Aurel sambil menarik Azia ke dekatnya dan membuat jarak antar Dewi dengan Azia.


*


“Mama? Aku… aku belum lapar ma” Ucap Azia canggung. Azia menyadari tatapan tidak bersahabat dari Aurel, yang jelas dilayangkan pada Dewi yang berada di depan mereka, “Ma, kenalkan ini Bu Dewi, ibu dari… dari, teman… iya temanku” Ucap Azia sedikit kaku.


“Selam kenal, saya Dewi Sekar” Dewi memahami situasi Azia, dia mencoba untuk mengikuti arus agar tidak menimbulkan masalah untuk Azia.


“Saya Aurel Baskara, MERTUA Azia.” Aurel sengaja menegaskan kata ‘mertua’ agar lawan bicaranya paham posisi Aurel diatasnya.


“Ah… salam kenal. Saya titip Azia pada Anda, tolong jaga dia seperti saya menjaganya dulu, kalau begitu saya permisi” Ucap Dewi yang hendak pergi.


“Ibu mau kemana?” Azia mencoba menahan tengan Dewi, tapi tangan Azia kembali ditarik oleh Aurel, melihat tatapan Aurel yang seolah mengatakan ‘jangan lewati batasmu’ pada Azia, membuat perempuan itu akhirnya bungkam dan sedikit menunduk.


“Ibu akan pulang, ibu kesini hanya ingin melihatmu. Sekarang kita telah bertemu, ibu bersyukur kamu sehat dan baik-baik saja. Kalau mereka tidak bisa menjagamu dan memberimu bahagia, pulanglah, ibu selalu menunggumu di rumah” ucap Dewi sebelum berlalu.


Ucapan tulus Dewi itu benar-benar memancing emosi Aurel, “Azia, jangan sekali-kali kamu menghubungi wanita itu lagi, paham!” Perintahnya tegas.


“Tapi kenapa, Ma? Bu Dewi itu …”


“Tidak usah bersandiwara lagi, saya tau dia itu mantan mertuamu, jangan coba-coba menghubunginya ataupun anaknya. Sekarang kamu sudah jadi bagian dari keluarga saya, kamu harus menjaga nama baik calon suamimu, perhatikan sikapmu. Jangan sampai publik berpikir buruk padamu, paham” Ucap Aurel sebelum meninggalkan Azia.


“Saat ini aku akan mengikuti alur yang kalian buat, tapi suatu hari nanti kalian yang harus mengikuti alurku” gumam Azia kecil.










Setelah resmi bertunangan dengan Bastian, Azia kembali ke singapura sehari setelah pesta untuk menemui keluarganya yang berkumpul di sana sebelum dia pergi ke Inggris.


“Selamat pagi, kak” Sapa Liam dengan senyum cerianya.


“Pagi sayang, Papa mana?” Tanyanya pada anak laki-laki yang hampir sebahunya.


“Papa sedang menunggu Mama di kamar, ayo kita ke ruang makan dulu” Ajak Liam.


“Kenapa kamu terlihat senang sekali?”


“Tentu saja senang karena kakak akan tinggal dengan aku di Inggris, akhirnya kita bisa menjadi keluarga yang sempurna seperti yang lainnya.”


‘hahaha… kamu terlalu banyak bermimpi adik kecilku, kita tidak bisa menjadi keluarga sempurna karena aku tidak ingin menjadi bagian dari keluarga kalian’ pikir Azia dengan senyum menutup semua rasa kecewanya pada fakta yang ada.


“Hai boy, hai baby girl! Kalian bangun sangat pagi, apa kalian siap untuk pergi jalan-jalan hari ini?” ucap laki-laki dengan paras sempurna keturunan eropa, dengan mata sedikit coklat.


“Pagi Papa, aku sudah tidak sabar bisa jalan-jalan keluarga seperti teman-teman lainnya” Ucap Liam antusias.


“Azia, bagaimana denganmu?” Tanya Mexim pada putri tirinya itu.


“Aku juga senang” Jawab Azia singkat tanpa maksud sebenarnya.


“Syukurlah. Sayang, akhirnya kamu selesai berdandan, ayo makan bersama” Ajak nya pada istri tercintanya Tiara.


“Ya, ayo makan. Oh ya, Papa mana?”


Setelahnya di meja makan menjadi sunyi tanpa ada topik apapun yang mereka buka, keempat manusia yang sedang fokus pada sarapannya itu, sebenarnya asik hanyut dalam pikirannya masing-masing.


“Aku selesai” Ujar Azia sambil bangeti dari kursinya. “Kalian pergi saja dulu, aku akan menyusul nanti”  Ucap Azia yang hendak meninggalkan ruang makan.


“Kenapa kakak tidak pergi bersama dengan kami?” Tanya Liam dengan tatapan polosnya.


“Aku akan pergi dengan Bastian.” Jawabku singkat.


“Loh? Kak Bastian bukan keluarga kita, dia tidak boleh ikut! Ini kan acara keluarga kenapa membawa orang asing? Menyebalkan!” Ketus Liam kesal.


Langkah Azia terhenti, sebenarnya dia tau kalau ini acara keluarga hanya saja dia cukup merasa asing di antara mereka bertiga karena itu dia sengaja mengajak Bastian agar dia merasa lebih lega karena ada teman ngobrol saat perjalanan.


“Ikut saja dengan kami, kamu bisa pergi lain kali dengan Bastian” Ucap Tiara dengan nada datar.


Azia lama berdiri, menatap ketiga orang yang masih belum selesai dengan makanannya, “Baiklah, aku akan bersiap” Ucapnya lalu segera pergi meninggalkan ruang makan.








Pada akhirnya Azia dan keluarganya sampai di sebuah taman hiburan, Liam yang sudah dari pagi antusias pun menarik Azia mencoba berbagai wahana, sedangkan kedua orang tua mereka lebih sering jadi menonton atau memilih kencan berdua dibanding ikut dalam keseruan bermain wahana di sana. Mereka terus mencoba berbagai wahana hingga waktu sudah menunjukkan pukul 12 siang.


“Apa kamu lelah?” Tanya Azia pada Liam yang air wajahnya sudah mulai kelihatan lelah.


“Sedikit dan sekarang aku lapar, Papa dan Mama kemana kakak?”


“Tidak tau” Jawabnya singkat.


“Hai anak-anak, apa kalian sudah selesai mencoba semua wahana?”


“Belum, tapi aku lapar, Pa” Keluh Liam dengan wajah memelasnya.


“Baiklah, ayo kita makan” Ajal Mexim dengan mengandeng tangan putranya.


Restoran…..


“Makan sudah dipesan, kalian hanya perlu menunggu” Ujar Mexim pada kedua anaknya. “Azia, kamu alergi seafood juga kan?” Tanya pada Azia.


“Iya” Jawab Azia singkat dengan mata fokus pada handphone.


“Ketika orang tua bicara, jangan lihat handphone” Kegurt Tiara pada Azia.


Azia yang tau siapa yang sedang Tiara tegur kala itu, ia langsung menyimpan handphonenya di dalam tas yang ia bawa.


“Maaf” Ucapnya pelan.


Tak lama setelahnya makanan yang mereka pesan pun akhirnya sampai, semua jenis seafood kini berada di hadapan Tiara dan Liam yang duduk saling berhadapan, sedangkan Azia yang berhadapan dengan Mexim mendapatkan menu daging dengan berbagai olahan.


“Bukannya Mama alergi seafood?” Tanya Azia sedikit ragu.


“Bukan Mamamu, tapi aku yang alergi. Dari kecil kami sudah berteman jadi karena aku tidak makan seafood, makannya dia tidak pernah memakannya sampai-sampai keluarganya berpikir kalau dia alergi seafood, tapi semua berubah saat dia bertemu dengan Ayah kandung mu” Ucap Mexim dengan sedikit menyimpan raut sedih di ujung ucapannya.


Tangan Tiara meraih tangan Mexim, “Itu sudah berlalu, kamu tidak perlu mengingatnya. Fokus pada masa kini saja” Ujarnya dengan nada penuh kelembutan.


“Heum” angguk Mexim dengan senyum kembali muncul dari raut nya yang tadi sedikit sendu.


Bersambung....