
(AUTHOR POV)
Baru setengah hari Azia sampai di Paris, dia mulai merasa ada desakan rindu dalam harinya hingga tidak sadar mulai meneteskan air mata saat berada di kamal hotel.
“Aku merindukan nya” Keluhnya sambil menatap layar ponsel berharap Alex mengirimnya pesan atau sekedar menghubunginya dengan alasan tidak sengaja terpencet.
“Aa…” Azia mulai berteriak kesal di balik bantal yang menutupi wajahnya.
“Aku merindukan suamiku” Dia memberontak dan berguling di kasur dengan kesal.
“Kenapa dia tidak menghubungiku?” Dia mulai menggila dan berbicara dengan layar ponselnya yang memperlihatkan fotonya bersama suami tercintanya.
“Bukan waktu aku berangkat kamu mengatakan, kalau akan merindukanku saat akan masuk ke mobil, lalu sekarang apa? Kenapa tidak ada satupun pesan? Kamu mengabaikan aku, ya?” Dia bicara seolah foto yang diajak bicara itu akan menanggapi ucapannya.
‘tok tok tok’
“Zia, apa aku boleh masuk?” Suara Alham terdengar dari balik pintu masuk.
Azia segera bangun dan membukakan pintu, “Ada apa?” Tanyanya dengan nada kesal.
“Kenapa kamu kesal? Apa aku melakukan kesalahan?”
“Entahlah! Jadi apa sekarang?” Tanya nya lagi.
“Aulia menjemput kita untuk acara malam ini”
“Kenapa cepat sekali? Aku akan bersiap-siap”
“Aku tunggu di bawah bersama Aulia.”
“Eum”
Setelah Alham keluar, Azia mulai berlari dengan cepat ke kamar mandi dan entah dia mandi atau tidak tapi hanya 5 menit dan dia sudah keluar dan bersiap untuk mengganti bajunya.
Sementara itu di lobby Alham sedang berbincang dengan teman lamanya Aulia.
“Nggak nyangka ya kita ketemu lagi, aku pikir kita nggak bakal ketemu karena kamu kayak menghilang setelah putus dengan si Azia.”
“Aku bukan menghilang tapi aku sedang fokus sama kuliahku, aku ingin cepat lulus dan kembali ke Indonesia.”
“By the way, kok kamu bisa kerja sama Azia?”
“Aku juga nggak nyangka, lagian waktu itu aku cuma lagi pengen cari kerja yang dekat rumah dan kebetulan ada lowongan di perusahaan Azia dan begitu lah jadinya, akhirnya aku malah jadi sekretaris dia.”
“Gila, udah kayak jodoh aja, nggak ada yang tahu hahaha. Eum, lo udah baikan sama Azia?”
Mendengar pertanyaan itu Alham menarik napas berat seolah frustasi.
“Ada apa?” Tanya Aulia.
“Dia tidak mau bicara tentang masalah itu, setiap aku ingin membahasnya dia akan menghindari dengan topik lain atau memperlihatkan batasan yang ada diantara kami”
“Yang sabar, nanti dia juga akan luluh dan mau dengerin penjelasan kamu.”
“Aku harap begitu.”
Lalu tak lama seorang perempuan cantik dan menawan keluar dari lift, dia mengan cepat menghampiri Aulia dan Alham yang sedang berbincang ria.
“Maaf lama”
“Nggak masalah kok, tapi… Azia aku boleh minta tolong nggak?” Tanya Aulia ragu-ragu.
“Kenapa?”
“Eum… Sebenarnya…”
Setelah menjelaskan permasalahan panjang lebar pada Azia akhirnya mereka pun pergi ketempat Aulia akan memamerkan hasil kerjanya selama setahun terakhir ini.
Tak lama mereka pun sampai di tempat tujuan, para undangan dan beberapa wartawan sudah siap untuk melihat karya-karya Aulia yang terbilang cukup untuk di sandingkan dengan para desainer ternama lainnya.
“Aulia, apa kamu yakin dengan ini?”
“Kenapa tidak? Aku sangat yakin dan kamu sangat sempurna seperti yang aku inginkan, benarkan Alham?”
Alham benar-benar kagum melihat kesempurnaan bentuk tubuh mantan pacar sekaligus bosnya saat ini.
“Hai, kamu dengar gak?” Aulia menepuk pundah Alham yang masih membatu.
“Hah? Eum.. Iya cantik, cantik banget malah.”
“Tu dengar kata Alham, kamu harus percaya diri!”
Beberapa menit yang Aulia membujuk Azia untuk menggantikan modelnya yang tiba-tiba sakit padahal orang tiu akan menggunakan desain baju utama dan tidak ada model yang cocok selain model itu hingga, Aulia memperhatikan bentuk tubuh dan gesture Azia yang ia rasa memiliki kecocokan yang sempurna dengan gaun yang akan dia pamerkan hari itu.
“Are you ready guys?” Tanya Aulia pada para model.
“Kamu pasti bisa Azia, tolong aku kali ini saja, please?” Aulia kembali memohon saat melihat raut wajah Azia yang seperti akan berubah pikiran.
“Iya, baiklah”
Tak lama setelah acara pembukaan yang menghadirkan seorang penyanyi solo asal korea membuka acara itu dengan lagu indah dan suara candunya, lalu para model pun mulai masuk begitu penyanyi itu akan membawakan lagi keduanya.
Ada 15 orang model sebelum Azia keluar dengan gaun mewah bak putri raja. Begitu model terakhir keluar, Azia mulai bersiap untuk luar menggunakan gaunnya berwarna campuran silver dan hitam. Perempuan cantik dan anggun itu benar-benar memiliki aura sebagai seorang tuan putri, dia terlihat sangat indah dan langsung jadi pusat perhatian begitu berjalan keatas panggung dengan penuh percaya diri. Gaun itu tidak hanya memperlihatkan bagaimana pemakaiannya bisa terlihat sebagai tuan putri yang cantik tapi juga memperlihatkan bagaimana seorang wanita bisa terlihat indah dan menjadi pusat dunia, meski begitu gaun itu juga menyiratkan kalau pemakainya tidak hanya akan terlihat cantik, anggun, menawan, atau pun indah tetapi, dia juga memperlihatkan bahwa wanita yang memakainya memendam aura dominan, mengisyaratkan perempuan berani dan tidak akan bisa ditundukkan oleh siapapun.
Penampilan terakhir benar-benar menjadi pusat sorotan tak hanya para wartawan tetapi tamu yang hadir langsung jatuh hati pada gaun yang di pakai Azia dan tentunya model yang mengenakan gaun indah itu.
“Bagaimana penampilanku?” Tanya Azia ragu bisa mengekspresikan karya dari Aulai dengan sempurna.
“Sangat sempurna sayang” Aulia langsung memeluknya dengan erat.
“Zia, kamu sangat mengagumkan”
“Alham, aku rasa akhir-akhir ini kamu mulai terlalu informal padaku” Ucap Azia dengan nada dingin.
Alham hanya diam karena memang dia menyadari kalau dia mulai menggunakan bahasa informal saat mereka mulai berada di Paris.
“Ayolah, masa itu di permasalahkan. Kitakan teman, lagian ini bukan jam kerja, jangan terlalu kesal” Aulia mencoba menghilangkan suasana tegang antara kedua orang itu.
“Azia, apa kau tahu penampilanmu membuat aku mendapatkan banyak keuntungan, beberapa artis dan pengusaha terkenal meminta aku untuk mengirimkan gaun yang sama sepertimu. Padahal ini bukan gaun murah karena ada taburan berlian di beberapa bagian dan kain yang aku gunakan juga tidak sembarangan…”
“Aku tahu. Jadi bisa kita segera pergi?” Tanya Azia dengan nada datar.
“Kenapa?” Tanya Aulia.
“Aku lapar” Azia mulai menyandarkan diri pada Aulia dan mengeluh seperti anak kecil.
“Baiklah, hari ini aku akan traktir.”
*
*
*
Di sebuah restaurant di ternama di Paris, Aulia membawa Azia dan yang beberapa orang lainnya untuk mengisi kekosongan perut mereka.
“Aku pikir tidak akan melihatmu lagi Azia, tidak disangka kamu mengenal Aulia.” Ucap Zian salah satu teman SMA yang dikenal Azia.
“Kalian saling kenal?” Tanya Alham.
“Tentu, dia teman SMA ku yang cukup nakal, dia selalu saja bolos dan aku sudah muak saat dia merengek meminta contekan PR tiap pagi”
“Lalu kamu memberikannya?”
“Aku menjualnya” Jawab Azia sambil tersenyum tipis dengan mata memberi kode pada Zian seolah mengatakan ‘ingat gak kamu soal itu’
“Ah, Azia, kenapa kembahasnya di sini. Aku malu sama yang lainnya” Zian sok malu dan menutup sedikit tawanya dengan tangannya.
“Yaelah, biasa aja kali! Aku juga langganan Azia kok.” Jawab Rahel.
“Lah, bukannya kamu dari sekolah lain?” Tanya Aulia.
“Ya iya, tapi Azia buka jasa joki di instagramnya dan aku salah satu dari pelanggannya.”
“Ini sangat gila. Semua yang duduk di sini sudah mengenal Azia rupanya. Kamu sangat terkenal ya, Zia” Aulia kagum pada teman cantiknya yang tidak henti tersenyum sambil terus mengingat masa lalu.
“Karena kita semua sudah pasti saling kenal, bagaimana kalau malam ini kita anggap sebagai reuni dan… Ayo kita ke bar?” Ajak Aulia penuh semangat.
“GASS!” Jawab serentak mereka kecuali Alham karena melihat Azia terlalu bersemangat.
“Ayo foto!” Ajak Aulia.
Semua mulai membuat pose yang memperlihatkan sisi menawan masing-masing tidak terkecuali Azia dan Alham yang juga ikut bersemangat saat mengambil foto. Dengan bantuan seorang pelayan mereka benar-benar membuat berpose dengan maksimal untuk mendapatkan foto terbaik mereka.
“Boomerang, gimana?” Tanya Aulia pada teman-temannya.
“Oke”
Lalu mereka pun membuat pose lucu sebisa mereka, sedangkan Azia membuat pose seolah sedang mencubit manja pipi Alham dan Alham juga melakukan hal yang sama pada pipi lembut Azia.
“Aku post ya!”
“Jangan lupa tag kami” Ucap Azia semangat.
*
*