
Aku mencium pipi kak Alex yang sedang kesal lalu berjalan mendahuluinya.
“Jangan terlalu dipikirkan, ayo ke kamar” Aku menarik kak Alex cepat masuk ke dalam rumah.
Alex menarik ku dengan kasar hingga kami sampai di dalam kamar, hari itu sudah cukup melelahkan untukku dan aku harap tidak ada hal berat lainnya yang harus terjadi malam itu.
Alex mendorongku hingga aku terjatuh di atas kasur, perlahan dia menindih ku, kedua mata kami saling bertemu. Aku melihat amarahnya bercampur dengan hasrat yang kuat, aku tidak bisa bayangkan apa yang bisa dilakukan saat itu.
“Apa kamu tahu kesalahanmu?”
“Hah?!” Aku tidak mengerti apa yang Alex coba sampaikan saat itu, aku benar-benar kebingungan dan tidak bisa mencerna apapun saat itu terlebih karena posisiku yang sedang tidak dalam situasi aman.
“Heh. Sepertinya kamu tidak menyadarinya” Lalu Alex mulai menekan kedua tanganku dengan satu tangannya yang besar. “Aku akan membuatmu sadar apa yang salah”
Lalu bibir kak Alex mulai ******* bibir lembut ku yang masih lembab karena aku menggunakan pelembab bibir saat dalam perjalanan pulang. Ciuman itu terasa cukup panas, tangan kak Alex yang satunya lagi mulai menyentuh pinggangku, aku benar-benar ingin mengatakan ‘tidak’ saat itu tapi dia sudah terlanjur jauh dan aku tahu mata Alex menunjukkan suasana hatinya sedang cukup buruk.
Entah dari mana asal tenaga kak Alex, dia terkesan seolah sangat bertenaga. Namun aku masih cukup lelah hari itu untuk mengikuti permainan Alex, aku mencoba mendorong kak Alex saat dia mulai masuk ke tahap yang lebih jauh.
“Kak, aku ada meeting besok pagi” Ucapku dengan harapan dia melepaskan ku malam itu.
Sayangnya pikiranku salah, dia semakin bersemangat dan adegan itu semakin panas. Aku benar lelah dan tak kuasa melawannya lagi, pada akhirnya aku hanya bisa mengikuti arusnya. Rasanya lebih kasar dari terakhir kami melakukannya, kali ini dia seperti lebih brutal hingga aku tidak berpikir kalau kami ini aku akan selamat. Aku hanya bisa berharap besok aku masih bisa berjalan seperti biasa dan tidak ada yang menyadari perubahan pada diriku.
“Kak, pelan-pelan”
Semakin aku mengeluh Alex malam semakin brutal, dia tidak membiarkanku untuk menghentikannya. Dua jam berlalu dengan cepat dan dia masih sangat kuat, dia masih terlihat baik-baik saja padahal aku sudah berada di titik akan kehilangan kesadaran. Rasanya aku ingin memberontak dan berkata ‘ cukup, aku lelah! Beri aku istirahat’ tapi kata-kata itu tidak bisa aku keluarkan karena mengeluh tidak menyelesaikan masalah dan masalah itu akan alasan Alex semakin brutal.
Aku tidak tahu berapa lama aku berada dalam kendali kak Alex tapi, aku hanya tahu kalau aku sudah kehilangan kesadaran dan begitu aku membuka mata pagi sudah datang menyapaku. Aku mencoba bangun tapi, pinggang ku sudah cukup sakit hingga rasanya untuk duduk saja sudah sangat sulit, tapi aku melihat pria yang ada di sampingku masih tertidur lelap seperti bayi dan sepertinya di baik-baik saja.
Perlahan kaki ku turun menyentuh lantai yang dingin, aku mencari sandalku yang ternyata sudah berada jauh dari tempat tidur. Perlahan aku melangkah menghampiri sandal berbulu dengan gambar kelinci menggemaskan. Aku mencoba berjalan perlahan ke kamar mandi, aku pikir aku harus tetap bekerja meskipun tadi malam seseorang telah menyiksaku dengan sangat mengerikan hingga membuatku kesulitan berjalan.
“Sial, kenapa dia harus melakukannya hari ini?” Keluh ku sambil terus melangkah perlahan ke kamar mandi.
“Apa aku harus menunda meeting kali ini? Ah! Kenapa harus terjadi sekarang, aku tidak ingin jadwalku kacau, lagian aku tidak suka berada di rumah sendirian. Kak Alex pasti akan ke rumah sakit, lalu aku ngapain?”
“Tidak, Azia. Kamu pasti kuat, ayo jangan menjadi lemah sekarang!” Aku memaksakan diri, aku mulai menghidupkan shower.
‘tok tok tok’
“Azia, apa masih lama?” tanya kak Alex dari luar pintu kamar mandi.
Aku mencoba untuk lebih cepat mengeringkan rambutku lalu membuka pintu kamar mandi. Saat akan keluar tangan Alex malah menahan ku, matanya yang dengan sinar yang entah dari aman membuat aku sedikit terganggu.
“Apa kamu baik-baik saja?” tanya nya.
“Kenapa dia harus bertanya sih? Ini sangat memalukan!” Aku mendorong Alex lalu berjalan melewatinya.
“Apa kamu marah karena semalam?” Dia menyusul langkahku lalu memelukku dari belakang saat aku sedang menarik baju dari lemari.
“Maaf, aku memaksamu semalam, aku terlalu terbawa perasaan. Sayang, jangan marah ya?” Dia mencium leherku dari belakang dan itu membuat sebuah sensasi geli yang menggelitik.
“Aku tidak marah, cepat mandi atau kak Alex akan terlambat bekerja.” Tegur ku sambil melepas tangan Alex yang melingkar di pinggangku.
“Kalau kamu tidak marah, beri aku morning kiss”
“Apa kamu puas?”
“Heum… sedikit. Apa bisa minta lebih?”
“Kak, semalam sudah sangat berlebihan jadi jangan lagi pagi ini. Aku harus berangkat kerja.”
“Heum… Baiklah” Ucapnya yang sedikit kecewa, lalu mencium keningku sebelum masuk ke kamar mandiri.
Saat kak Alex sedang mandi aku bersiap secepat mungkin karena Alham sudah sudah menungguku di depan rumah. Karena terburu-buru aku tidak sempat makan apapun, jangankan untuk makan bahkan aku lupa untuk minum saat itu. Begitu membuka pintu, dari jauh terlihat mobil Alham sudah berada di depan pagar, aku berjalan cepat meskipun aku harus menahan semua rasa sakit karena ulah Alex semalam.
“Apa kamu baik-baik saja?” Tanya Alham yang turun untuk membukakan pintu untukku.
“Aku baik-baik saja, semua sudah siap?” Tanyaku.
“Tentu saja, semua sudah siap” Lalu dia kembali berjalan ke pintu mobil lainnya.
Begitu masuk ke dalam mobil, dia mengambil sekotak bekal yang tote bag berwarna coklat muda.
“Aku membuat nasi goreng, roti panggang, lalu beberapa potong buah untukmu, mungkin saja kamu tidak makan karena buru-buru.”
“Terima kasih” Aku pun menerima bekal berisi dengan nasi goreng dan mulai melihatnya saat mobil kamu mulai bergerak.
Sejujurnya jadwal meeting itu jam 10 pagi tapi, karena tempat yang kami tuju itu membutuhkan 2 jam dari rumahku, terpaksa kami harus pergi lebih pagi agar tidak terkena macet di jalan.
“Zia, apa kamu baik-baik saja?” Tanya Alham yang sesekali melirik ke arahku.
Aku tidak tahu harus mengatakan apa karena memang aku sedang tidak dalam keadaan sehat.
“Kenapa kamu jadi informal sekarang? Katanya mau professional”
“Ya memang tapi, kita diluar kantor dan kita belum mulai bekerja, bukan?” Jawabnya.
“Heum… terserah kamu saja, lakukan senyuman mu… Apa kamu lapar?”
“Tidak, aku sudah makan tadi pagi. Apa kamu ingin makan lagi?” tanya nya.
“Huem sedikit”
Lalu tangannya mencoba meraih tas yang ada di bangku belakang dan menariknya lalu memberikannya padaku. “Makan ini, aku memang membuatnya untukmu”
“Apa jus ini juga milikku?” Tanyaku ragu.
“Tentu saja. Sebaiknya kamu berhenti memaksakan diri untuk meminum minuman berkafein, aku tahu kamu tidak menyukainya.” Ucap Alham.
“Tapi itu membuat aku tetap terjaga dan lebih baik agar bisa bekerja dengan maksimal.”
“Kurasa itu bukan alasan yang tepat. Lain kali aku kan menyediakan minuman yang sehat untukmu. Ah, bicara soal minuman sehat, aku melihat tim produksi baru saja mengirim sampel dari minuman sehat yang akan kita jadikan produk baru nantinya, jika kamu menyetujui proposal nya maka kita kan mulai memproduksinya segera.”
“Aku akan melihatnya nanti.”