
{jangan lupa tinggalkan like dan vote nya sayang ku biar semangat nulisnya ❤️}
“Hanya pekerjaan, kak sepertinya tidak bisa malam ini, aku harus memeriksa beberapa laporan penting”
“Apa lebih penting dari aku?” Tanya Alex dengan tangan mulai melingkar di leherku dan menopang dagunya di kepalaku.
Situasinya saat itu aku sedang kesal karena rencana ku memiliki perkebunan itu tiba-tiba menjadi gagal, aku benar-benar ingin marah dan meluapkan nya. Sayangnya aku tidak ingin amarahku ku tujukan pada orang yang paling penting dan berharga untukku.
“Kita ganti lain waktu sayang” ucapku sambil melepas tangannya dari pundak ku.
Aku segera pergi ke ruang kerja, mencoba menenangkan diri dan mengalihkan amarahku pada pekerjaan yang sebenarnya bisa aku kerjakan besok hari. Malam itu aku benar-benar menghabiskan malam ku di ruang kerja bahkan begitu aku sadar pagi sudah menyapaku, untungnya aku sempat tidur 2 jam di ruang kerja setidaknya itu lebih baik daripada tidak sama sekali. Aku bangun dan segera kembali ke kamar. Kulihat Alex masih tidur di tempat tidur sambil memeluk bantal guling.
Aku sedikit kasihan pada pria itu, tapi aku tidak bisa melakukan apapun malam tadi untuk menghiburnya karena aku juga sedang mencoba menghibur diri dengan bekerja sepanjang malam di ruang kerja.
“Kak, ayo bangun!” Ucapku lembut mencoba membangunkan pria bertubuh besar namun tidur seperti seorang bayi.
“Kak, ayo bangun, ini sudah jam 7” lanjut ku sambil menggoyangkan sedikit tubuhnya.
“Eum…” Dia hanya berbalik arah dan masih menutup matanya.
“Kak, bangun” ku coba lagi membangunkannya tapi aku tidak berhasil, pada akhirnya aku mengalah dan pergi mandi untuk bersiap ke kantor.
Padahal aku sudah selesai mandi, tapi Alex masih saja tidak kunjung bangun, aku coba mendekatinya dan memeriksa lagi kondisi Alex.
‘Apa dia sakit?’
Aku mencoba membangunkan Alex berulang kali tapi tidak bisa hingga tanganku tidak sengaja menyentuh kulitnya dan ternyata tubuhnya cukup panas. Aku langsung menghubungi dokter pribadiku untuk memeriksanya.
Tak lama dokter pun datang dan memeriksa kondisi Alex, dan untung dia hanya demam biasa karena kelelahan, stres, dan kondisi cuaca yang akhir-akhir ini tidak menentu.
Setelah dokter pergi, Alham datang untuk menjemput ku seperti biasa.
‘tingg’
Sebuah pesan masuk dari Alham.
Alham (Green World): Aku udah di bawah.
Aku: Kamu pergi sendiri aja, aku tidak bisa ke kantor hari ini.
Alham (Green World): Kenapa? Apa ada masalah? Apa aku bisa membantu?
Aku: Tidak ada. Ini urusan keluarga. Selama aku tidak ada pekerjaanku kamu yang urus… ini termasuk tentang tanah yang kita bicarakan semalam.
Alham (Green World): Baik.
“Sayang… Azia.. Azia…”
Tiba-tiba Alex mengigau, keringat mulai bercucuran dan membuat aku semakin panik. Saat hendak menghubungi dokter lagi tiba-tiba saja tangan kak Alex menarik ku hingga aku yang tidak siap dengan hal itu membuatku tidak bisa menahan diri hingga terjatuh di pelukannya.
“Tolong jangan pergi… Tolong jangan pergi… jangan lihat dia… jangan ikuti dia… Azia…”
Teriakan itu membuat dia tersadar, ekspresi panik nya terlihat sangat hampir mirip seperti anak kecil yang kehilangan ibunya di tengah keramaian.
“Azia, tolong jangan tinggalkan aku” ucapnya dengan tatapan seolah aku akan meninggalkan dia.
“Aku tidak akan meninggalkan kakak kok.” Aku memeluknya, mencoba membuat dia lebih tenang.
“Kamu tidak akan meninggalkan ku?”
“Tentu saja tidak”
“Meskipun dia meminta kamu meninggalkan ku?” Ucapnya dengan raut wajah seperti anak malang yang menyedihkan.
“Kak, sebenarnya maksudnya gimana, sih? Aku nggak ngerti, ‘dia’ yang kakak maksud itu siapa?”
“Alham, sekretaris barumu. Kamu tidak akan bersamanya, kan?”
Sejenak aku terdiam, aku masih mencoba mencerna apa yang Alex coba sampaikan padaku saat itu.
“Hah?!”
Aku masih tidak mengerti apa yang membuat Alex mengatakan hal-hal aneh seperti itu.
“Azia, berjanjilah kamu tidak akan meninggalkanku untuk laki-laki lain” Pintanya dengan nada serius.
“Aku berjanji” Ucap ku mencoba menenangkan Alex.
“Sudah kak, jangan terlalu banyak berpikir. Apa kakak Alex mau makan sesuatu?” Tanyaku sambil mencoba melepas pelukannya dariku.
“Jangan tinggalkan aku” Ucapnya lagi masih dengan ekspresi anak malang yang membuat hatiku goyah.
‘bagaimana suamiku seimut ini, aku bisa gila melihat keimutannya yang seperti ini. Sepertinya aku harus mengurungnya agar tidak ada yang menyadari betapa manis dan imutnya suamiku’ pikirku sambil menatap lembut Alex yang masih terlihat lemas.
“Baiklah aku tidak akan pergi. Tapi kak Alex bisa lepaskan pelukannya dulu, aku ingin mengatur posisi tidur yang baik untuk kita”
Segera dia melepas ku lalu aku mengambil posisi tidur yang tepat untuk bisa membiarkan dia tidur dalam pelukanku. Aku sudah lama mengenalnya tapi baru kali ini aku melihat betapa manja nya seorang Alex yang bertubuh atletis, tinggi, dan berkesan seperti pria dingin di mata orang yang baru pertama bertemu dengannya.
‘untung dia suamiku, kalau dia masih pacarku aku akan menikahinya lagi ahahah’ pikirku sambil memeluknya.
Saat Alex sudah terlelap, aku mengambil kesempatan untuk menghubungi kepala pelayan dari rumah utamaku, aku meminta dikirim beberapa pelayan ke rumah Alex.
Ini terdengar aneh tapi, sebenarnya aku masih berpikir untuk tinggal di rumah utama, rumah yang diwariskan oleh Ayah kandungku, rumah penuh kenangan tentang keluarga kecil kami yang bahagia dulu sebelum beberapa masalah terjadi hingga membuat Ayah meninggalkan ku selamanya dan aku terjebak dalam drama kehidupan yang membuat aku hampir ingin mati. Tapi, pada akhirnya aku terpaksa tinggal di rumah yang dibeli Alex sebelum kami menikah, alasan ku tinggal di sini sederhana, hanya karena Alex ingin tinggal di sana setelah menikah.
Tak lama para pelayan datang dan mulai bekerja, mereka juga membantuku membuat makanan untuk suami tampanku yang sedang terbaring lemas di tempat tidur. Seharian aku hanya merawat Alex di kamar, hampir aku tidak bisa meninggalkannya lebih dari satu menit, dia terus saja merengek ingin aku di dekatnya sepanjang hari. Aku memang bosan di kamar terus tapi aku tidak pernah bosan menatap wajah tampan suamiku atau mendengar suaranya saat mulai merengek seperti bayi padaku.
“Azia”
Tiba-tiba saja Alex bangun saat aku hampir lelap di sampingnya, aku cukup terkejut saat dia memanggilku.
“Eum, ada apa kak?” Tanya mencoba untuk sepenuhnya sadar.
“Apa kamu mencintaiku?”
Pertanyaan yang cukup mendadak itu membuat ku terdiam sejenak dan diam ku membuat sebuah ekspresi cemberut dari wajah tampan dan menawan dari suamiku.
“Kamu tidak mencintaiku lagi?” Tanyanya lagi dengan ekspresi seolah kecewa.
‘apa demam membuat otaknya bermasalah’ pikirku yang masih diam membisu.
“Sekarang hatimu sudah miliknya”
Pertanyaan Alex mulai menjadi-jadi, membuat aku geram hingga tidak tahan lagi.
“I’M YOURS! Berhenti memikirkan hal gila, ALEX HARDIAN!” Ucapku sedikit meninggikan suara.
“Jika aku semudah itu jatuh cinta pada orang lain, apa kamu pikir aku akan menikah dengan kamu sekarang? Berapa banyak pria yang aku temui dan berapa banyak orang yang memiliki potensi menjadi suami yang sesuai dengan kriteria keluargaku tapi, pada akhirnya aku hanya memilih kami! Itu karena sejak awal hati, pikiran, dan diriku hanya untuk kamu! PAHAM, GAK!” Aku sedikit meninggi kan suara dan hampir terdengar seperti membentuk nya.
Alex terdiam seolah merenung kesalahannya, tapi aku tidak terlalu yakin kalau dia merenungi kesalahan.
“Lalu apa bisa kamu tidak terlalu dekat dengan ‘pria itu’” Ucapnya dengan suara kecil yang masih cukup jelas di telingaku yang sensitif pada suara.
“KAK! Aku dan Alham itu rekan kerja. Jangan berfantasi liar tentang hubungan kami. Bahkan dia tidak setengah dari kakak, bagaimana aku bisa menyukai orang itu! Bahkan jika kak Alex menghilang dari bumi ini, aku tetap tidak akan bersama orang lain, karena aku lebih memilih ikut menghilang dari bumi yang dimana kak Alex tidak ada dari pada aku harus tetap tinggal dengan sebagian jiwaku sudah menghilang bersama kak Alex. Apa kak Alex mengerti?”
Dia masih terlihat seperti orang yang sedang berpikir keras, diam sejenak setelah mendengar ucapan ku.
‘Pasti dia akan mengeluarkan pikiran gilanya lagi’ Pikirku sambil terus menatap Alex.
“Tapi dia lebih muda, kalian juga terlihat serasi, bagaimana mungkin kamu tidak tergoda pada pria muda yang penuh energi seperti dia. Orang yang melihat kalian bersama pun pernah berkata kalau kalian sangat serasi, seperti pasangan yang dikirim dari surga”
‘tu kan, aku sudah menduga. Pasti banyak fantasi gila dalam otak suami ku’ Pikirku yang sedikit kesal pada Alex.
"Hueft" aku menghela nafas berat seolah aku menampung lebih banyak tekanan dalam diriku.
“Apa pendapat orang lain itu penting? Ini hidup kita, untuk apa menjadikan ucapan orang lain sebagai patokan hidup? Sudahi pikiran gila itu, ayo makan dan minum obat” Pintaku padanya.
Akhir dari perdebatan itu adalah aku yang menjadi diam seribu bahasa karena menahan rasa kesal dan marah yang ingin sekali keluar tapi aku tahan karena yang aku hadapi saat itu Alex yang sedang sakit.