
Saat sampai di rumah ternyata tante Mita dan Om Hiro tidak di rumah. Malam yang sudah menunjukkan pukul 9 membuat aku semakin tidak bersemangat untuk mengerjakan apapun bahkan untuk berjalan saja aku sudah bosan dan lames. Begitu membuka pintu terlihat dua gadis yang sedang asik dalam dunianya masing-masing, Fara seperti biasa dia hanya menonton drakor yang baru dia dapat sedangkan Mia karena sedang berstatus jomblo sementara dia hanya bisa main game. Aku berjalan perlahan menuju tempat tidur lalu begitu jaraknya hanya beberapa cm lagi aku langsung melempar diriku keatas kasur dan membuang tasku ke samping tanpa peduli kemana jatuhnya.
Melihat aku yang lesu dan seakan kehilangan semangat hidup dua sahabat terbaikku itu pun langsung bergegas menghampiri ku.
“Ada apa, sayang?” Fara mencoba menarikku untuk bangun.
“Kamu berantem lagi sama si Alex?” Mia duduk di belakangku dan mengikat rambutku.
“Sepertinya kak Alex marah deh! Handphone ku disita, dan kalian tahukan kalau di situ banyak terdapat sumber pencarianku”
“Memangnya kamu buat salah apa?”
“Gak ada salah kok!”
“Ah, yang benar?” Wajah Fara terlihat tidak percaya dengan ucapanku.
“Lupakan itu, aku mau tanya sama kalian satu hal”
“Tanya apa, beb?”
“Aku pernah kan minta kalian menyelidiki soal latar belakang aku, ya’kan? Kalian tolong jujur saja, apa kalian menemukan sesuatu?”
Mereka terdiam dan saling menatap. Fara seakan mengirim sinyal pada Mia lewat gerak matanya.
“Berhenti lakukan itu! Katakan saja apa yang kalian ketahui!” Ucapku dengan sedikit membentak.
“Beb, jangan marah gitu dong! Aku tidak tahu, tanya Fara saja!”
“Loh kok aku, aku gak….”
“Kalian merahasiakan sesuatu dari aku, ya’kan? Padahal kita sudah berjanji tidak akan punya rahasia di dalam hubungan persahabatan kita ini, ya’kan? Kita sudah berjanji akan terbuka”
“Oke! Aku akan jujur, tapi kamu juga harus begitu Azia Mutiara!”
“Maksud kamu apa, Fara?”
“Kamu diam-diam juga menyelidiki masalah itu, ya’kan?” Tanya Fara.
“Yang benar? Kapan?” Mia terlihat kaget mendengar ucapan Fara.
“Dari mana kamu tahu? Kamu memata-matai aku, ya?” Ucapku yang curiga pada Fara.
“Tidak, hanya saja aku melihat ‘orang itu’ menemui kamu di restoran milik keluarga Mia, ya’kan?”
“Kamu mengenalnya?”
“Tentu saja, dia adalah orang yang sangat ahli dalam menggali informasi”
“STOP! Kalian bicara soal apa sih ini? Kenapa aku gak nyambung banget? Please seseorang tolong jelaskan sesuatu padaku!” Mia terlihat kesal sekaligus bingung dengan pembicaraan antara aku dan Fara.
“Tadi sore aku lihat si sepupu Kiky si Ian itu ke restoran keluarga kamu dan sebelum itu aku juga lihat Azia di sana. Aku mau ikutin ke dalam tapi katanya tempat itu sudah di booking untuk mereka berdua, jadi aku simpulkan kalau Azia pasti sedang bertransaksi dengan si Ian itu”
“Oh, jadi nama pria itu Ian?!” Ucapku yang baru hari ini tahu nama pria yang sudah beberapa kali aku temui tapi belum pernah menanyakan namanya sama sekali.
“Eum… Baru loading otakku, jadi ngapain Azia ketemu sama si Ian?”
“Aduh Mia! Kok bisa sih loading otakmu itu setengah-setengah? Apa jaringan di rumah ku kurang bagus, ya?”
“Apaan sih, Fara!”
“Kalau orang mau ketemu sama Ian itu ya pasti mau cari informasi, kamu kayak gak kenal si Ian aja!”
“Emang gak kenal, cuma pernah pacaran 1 minggu saja itu pun kami hanya jalan 2 hari terus ngobrol online sampai putus.”
“Dasar anak ini!” Fara terlihat geram pada Mia yang berlagak bodoh saat membahas mantannya. “Sudahlah, ayo bahas masalah tadi, kamu mau mendengar aku bicara dulu atau kamu mau ngomong duluan, Azia?”
“Oke, yang aku tahu kamu masih punya seorang ibu, tapi dia sudah memiliki keluarga lain dan aku pikir kamu tidak memerlukan mereka lagi karena kamu sudah punya kami”
“Fara, harusnya kamu tahu kalau aku juga berhak tahu tentang orang tua ku dan aku berhak memutuskan apa aku menginginkan mereka atau tidak.”
“Beb, apa kamu akan meninggalkan kami dan pergi pada mereka yang sudah membuang kamu dulu?” Tanya Fara dengan mata sudah berkaca-kaca.
“Fara, Mia, aku sangat menyayangi kalian seperti keluarga, keluarga kalian juga sangat baik padaku, dan aku sudah punya cukup cinta dari keluarga karena itu aku mungkin tidak akan kembali pada mereka yang tidak menginginkan aku”
“Bagaimana kalau mereka menawarkan dunia sebagai ganti kami?” Tanya Fara dengan wajah serius seakan-akan apa yang dia tanyakan pasti akan terjadi dan aku harus benar-benar memilih.
“Aku tetap memilih kalian dong, kalian adalah orang yang paling aku cintai dan paling berharga dibanding dunia ini. Lagian aku tidak bisa menjamin dunia yang mereka berikan akan membuatku bahagia, sedangkan kalian sudah tentu duniaku yang paling membuat aku bahagia dan bersyukur telah lahir ke dunia ini”
“Kamu memang adik kecil kami yang berharga” Sambil mengatakan itu Fara memelukku dan disusul Mia.
“Terimakasih karena sudah menjadi keluargaku”
“Sama-sama, beb! Apapun yang terjadi kedepannya kita tidak boleh berpisah, oke!”
“Iya, aku berjanji”
“Sekarang giliranmu, apa yang kamu dapatkan dari si Ian itu?”
“Oh, aku belum membukanya masih dalam flashdisk ini!” Aku mengeluarkan flashdisk itu dari saku dan memberikan itu pada mereka.
“Lah, aku pikir dia kasih tahu langsung, kan bisa langsung cerita. BTW dia kasih bonus apa?”
“Bicara bonus aku baru ingat kalau dia ada bahas soal orang yang dikirim kak Alex untuk memata-matai aku”
“Oh... Itu sih udah aku bereskan tapi, sepertinya dia mengganti orang lain lagi beberapa minggu terakhir ini.”
“Kok si Alex mulai banyak tingkah ya sekarang? Dia terlalu berlebihan banget gak sih? Masa pacar harus di mata-matai, memangnya dia penjahat apa?!” Ucap Mia kesal.
“Sabar Mia, jangan emosi hanya soal si kampret itu. Soal handphone kamu disita itu gimana kalau kamu beli aja yang baru?”
“Kapan belinya? Inikan sudah malam?”
“Ya besok aja, beb”
“Ngapain besok, kita pesan sekarang!” Usul Fara yang sedang membuka handphonenya dan melihat merk handphone yang bagus saat itu. “Nah aku udah pesan! Kita tunggu sebentar”
Tak menunggu lama barang yang Fara pesan datang tepat waktu dan tidak ada kendala sama sekali. Kurir yang mengantar pun ramah padahal dia mengantar barang saat jam tidur orang-orang.
“Wih… Kok cepat banget? Pesan dimana?”
“Bisa, aku pesan sama mantan aku si Gunawan. Tempat dia buka 24 jam jadi, kalau mau pesan ke tempat dia aja dan di jamin aman banget deh.”
“Makasih, Fara!” Aku memeluk Fara yang sedang menginstal handphone milikku.
“Tapi, ini jangan sampai ketahuan sama si Alex, oke! Ini rahasia kita bertiga saja, paham?”
“Oke, tapi… kalau ketahuan gimana?”
“Azia ku sayang, ya kamu harus hati-hati biar gak ketahuan, pokoknya handphone ini gak boleh sampai disita sama si kampr*t Alex, paham?!”
“Oke, bos!”
“Karena masalah sudah beres dan mataku sudah berat banget, mending kita semua bobok cantik sekarang sebelum lingkaran hitam di mata kita mulai muncul”
“Iya, ayo tidur”
Setelah itu kami pun bergegas tidur. Dalam keadaan perasaan yang sudah membaik karena mendapatkan handphone baru dari Fara, aku berharap bisa bermimpi indah dan tidak mengalami hal buruk esok pagi saat aku membuka mata.
Bersambung…