
Langit sudah mulai gelap tapi Andi melaju dengan kecepatan terlalu lambat.
“Mau sampai kapan kamu bawa motor selamban ini?”
“Sampai akhir menutup mata” Ucap Andi dengan nada malas.
‘plak’ aku memukul bahu Andi.
“Ada apa?” Tanya Andi yang masih terlihat malas dari kaca spion motornya.
“Cepat dong bawa motornya, nanti keburu malam, tahu!”
“Aku lagi mager banget tahu! Udah kamu duduk aja dengan tenang di belakang, nanti juga pasti sampai kok”
Begitu kami sampai aku melihat mobil kak Alex sudah terparkir rapi di depan pagar dengan kak Alex yang terus menatap tajam ke arah kami. Andi yang berniat langsung pulang setelah mengantarku langsung di hadang oleh kak Alex yang dengan langkah cepat menghampiri kami.
“Habis dari mana? Kenapa tidak bisa dihubungi?” Dari wajah dan nada bicara kak Alex aku menebak dia sudah lama menunggu ku pulang dan dia terlihat cukup kesal.
“Kakak lupa atau apa sih? Handphone aku kan disita sama kakak, apa gak ingat?”
“Oh iya, aku baru ingat” Dia tersenyum canggung.
“Oh, pantas saja aku gak bisa menghubungimu tadi pagi. Kalau begitu selamat bertengkar, aku mau pulang dulu!” Saat Andi akan menghidupkan motornya kak Alex tiba-tiba mengambil kunci motor Andi.
“Apa-apaan ini! Cepat kembalikan!” Andi mulai terlihat kesal dengan kak Alex.
“Kak, kembalikan kunci motor Andi!”
“Kita bertiga perlu bicara. Kalian harus menjelaskan…”
“Ogah! Sumpah, hari ini gue pengen istirahat dengan tenang di rumah dengan kasur empuk gue yang dari tadi udah kangen sama gue, tolong kalau kalian mau ribut jangan ajak-ajak gue, oke!” Kemudian Andi mengambil paksa kunci motornya dari tangan Alex lalu dia langsung pergi begitu saja dengan wajahnya yang sudah terlihat kesal.
“Andi, nanti malam kita ngobrol lagi, ya?!” Teriak Alex.
Andi yang masih mendengar ucapan Alex karena dia membawa motor dengan sangat lambat pun hanya membalas ucapan Alex dengan sebuah jempol yang mengartikan ‘oke’ untuk pertanyaan Alex.
“Hai tunggu! Kenapa kalian ingin bicara tanpa aku, kalian mau bicara soal apa?” Ucapku sambil mengikuti langkah kak Alex yang mendahuluiku.
“Hanya pembicaraan antara sesama laki-laki,
“Heum… Kalian sangat menyebalkan! Dan kapan kakak berencana mengembalikan handphone ku?”
“Aku akan mengembalikannya kalau kamu mau jawab pertanyaanku dengan jujur.” Langkahnya terhenti lalu kami saling berhadapan, matanya menatapku dengan intens.
“Pertanyaan? Oke, coba tanyakan!” Ucapku dengan terus mencoba tenang walau jantungku sedang tidak karuan.
“Kamu tidak sekolah hari ini jadi kamu kemana?” Tanyanya dengan nada dingin yang membuat aku sedikit merinding.
“Itu…” Aku sedikit bingung harus menjawab apa pada kak Alex karena situasinya terlalu membingungkan untuk aku jelaskan dan aku juga tidak ingin membuat kak Alex khawatir padaku. “Itu.. kak Udah malam aku harus mandi dan ganti baju, aku masuk dulu!” Dengan cepat aku berlari masuk ke dalam sebelum kak Alex mulai mengintrogasi aku.
Sesampai di dalam rumah tiba-tiba suasana dalam rumah terasa suram, seakan sesuatu hal yang baru baru saja terjadi. Di dalam rumah terlihat cukup sepi, terlalu tenang, pelayan yang biasanya sesekali terlihat mondar-mandir pun sekarang entah kemana. Suasana itu terasa mencurigakan, aku melihat ke sekeliling saat menaiki tangga, menyadari tempat itu terlalu tenang dan aneh membuat aku mempercepat langkahku. Di dalam kamar ternyata Mia sedang menenangkan Fara yang sedang menangis.
“Ada apa ini? Kemana semua orang?”
“Azia… Hue…. hue… Mereka bilang kami bangkrut dan semua pembantu di pecat karena kami tidak akan bisa membayar semuanya! Hue… hue… Bagaimana ini? Mungkin aku akan pindah sekolah karena masalah ini!” Fara terlihat sangat sedih dan tertekan.
“Tenang! Masalah sekolah biar aku urus, kamu tidak perlu memikirkannya” Mia terus menghapus airmata Fara yang bersandar padanya.
“Kenapa bisa terjadi? Ini terlalu tiba-tiba, tadi pagi semua masih baik-baik saja, ya’kan?”
“Aku juga gak tahu, katanya investor dari china menarik semua sahamnya setelah membeli hampir semua saham perusahaan kami. Papa dan Mama sekarang sedang mencoba menangani masalah ini… hue… hue.. A-apa yang harus aku lakukan?” Kepanikan Fara semakin besar saat memikirkan harus kehilangan segalanya tapi dia tidak bisa berbuat apapun.
“Tenangkan dirimu, Fara! Biar aku berpikir!” Lalu terlintas di pikiranku kalau semua ini ulah dari keluarga kandungku.
“Boleh aku pinjam handphone mu, Mia?”
“Nih! Buat apa?”
“Nanti aku cerita”
Aku menghubungi nomor baruku karena handphone milikku masih berada di tangan Kakek. Aku lupa mengambilnya saat akan kembali dengan Ayah.
“Hallo! Katakan apa ini ulah kalian?”
“Sudah saya katakan kalau kamu pergi maka kamu akan dapat akibatnya, saya akan hancurkan semua yang membuat kamu tidak ingin kembali kepada keluargamu!”
“Kenapa kalian melakukan ini pada aku? Memangnya salah kami apa? Dan harus aku tegaskan kalau kalian itu salah orang!!” Ucapku kesal
*“M*ana mungkin saya salah, cucuku tercinta tes DNA yang kami lakukan dengan mengambil darah mu sudah keluar sore ini dan hasilnya memang benar kami adalah anak kandung dari putri kecilku. Putuskan sekarang apa kamu masih mau tinggal dengan mereka atau kembali ke sini!”
“Kalian semua jahat! Aku benci kalian!” Aku segera memutuskan panggilan itu secara sepihak.
“Maksud kamu apa, Azia?” Mata Fara yang sudah Fara yang terlihat sedikit bengkak kini menatapku penuh tanya dengan air mata tidak henti mengalir.
“Mereka ingin aku kembali pada mereka, tapi aku terlalu egois hingga memilih tetap tinggal di sini dan akibat dari pilihanku adalah semua kekacauan yang kamu alami. Mereka akan menghancurkan siapapun yang berada di sisiku. Maafkan aku... Maafkan aku Fara...” Aku memeluk Fara dengan erat, rasa bersalah benar-benar menyiksa jiwaku, pikiranku kacau dan rasanya duniaku sangat berantakan.
“Azia, tidak ini bukan salahmu, ini salah mereka yang kejam dan tidak punya perasaan itu!” Lalu kami pun menangis bersama selama beberapa jam hingga tertidur pulas.
Di pagi hari saat kami akan berangkat ke sekolah tiba-tiba saja Mia dan Fara mendapat kabar kalau Andi kecelakaan dan sekarang berada di rumah sakit.
“Apa ini juga ulah mereka?” Mia terlihat mulai tertekan karena teror dari keluargaku.
“Satu persatu mereka mulai menyerang kita, tadi siang keluarga Fara lalu sekarang Andi, apa berikutnya aku?” Mia terlihat pucat dan ketakutan.
“Tidak akan aku biarkan, aku akan menyelesaikan semua ini, kalian harus berhati-hati dan beri aku waktu agar bisa membuat semua kembali normal. Bagaimana kalau kita menjenguk Andi?” Ajakku
“Tidak, aku harus ke sekolah karena hari ini ada ulangan, aku akan menyusul nanti” Jawab Mia yang tertekan karena ulangan.
“Aku mau ikut tapi aku tidak mungkin lagi bolos karena situasi keluargaku sedang buruk dan aku tidak ingin menambah masalah lagi” Ucap Fara yang terlihat masih sedih dan stres karena masalah kuangan keluarganya.
“Aku mengerti, aku akan pergi mewakili kalian. Kalau begitu aku bersiap-siap dulu”
Menggunakan handphone milik Fara aku menghubungi kak Alex untuk menjemputku karena Andi di rawat di tempat kak Alex bekerja. Begitu keluar aku sudah disambut oleh kak Alex yang baik hati membukakan pintu untukku.
“Terimakasih, kak!”
“Sama-sama, sayang”
Beberapa kilometer dari rumah Fara kami sudah di cegat oleh gerombolan preman dengan motor mereka.
“Apa-apaan ini?!”
“Hai kalian turun!” Mereka berteriak dan mengetuk-ngetuk kaca mobil kak Alex.
“Apa yang mereka inginkan?” Aku ketakutan karena wajah para preman itu sangat menakutkan.
“Kamu tunggu di sini, biar aku atasi”
Kak Alex keluar dan pertarungan pun tidak bisa dihindari, kak Alex yang kalah jumlah pun akhirnya tidak bisa berkutik. Mereka kembali mengetuk kaca mobil dan menyuruhku keluar, aku sebenarnya sangat ketakutan tapi, aku tidak mungkin membiarkan kak Alex terus di pukul.
“Apa yang kalian inginkan?”
“Tuan kami ingin bicara!” Lalu pria gendut yang menggunakan jaket hitam memberikan handphone yang sedang menghubungi nomor yang tidak dikenal.
“Hallo cucuku tercinta, apa kamu suka hadiah pagi ini? Apa perlu Kakek berikan kejutan yang lebih menarik lagi agar kamu mau pulang?” Ucapnya dengan nada santai.
“Jadi semua ini ulah Anda! Kenapa Anda melakukan hal jahat pada keluarga dan teman-teman aku?” Bentakku kesal.
“Makanya kamu harus memutuskan untuk pulang atau kamu ingin berkunjung ke makam teman-teman baikmu itu?”
“Dasar jahat!” Bentakku kesal.
“Kakek melakukan semua ini agar kamu mau pulang, kamu bagian dari keluarga dan mana mungkin Kakek membiarkan kamu tinggal dengan orang asing”
“Baru sekarang kalian peduli tentang hal itu, sudah cukup terlambat” Ucapku frustasi dan kecewa dengan situasi sekarang.
“Kalau begitu… Belum terlambat bukan kalau melihat makam para sahabatmu?” Ucapnya seolah teman-temanku itu adalah benda yang dengan mudah bisa dia singkiran.
“JANGAN! Oke, aku akan menurut. Tapi beri aku sedikit waktu, aku berjanji akan segera meninggalkan tempat ini dan kembali pada kalian.” Aku benar-benar dibuat gila olehnya, aku lelah dan muak dengan situasi ini, bagaiman bisa segalanya menjadi kacau dan tidak terkendali seperti ini.
“Nah, begitu kan lebih baik! Kalau saja kamu lebih patuh dari kemarin maka semua ini tidak akan pernah terjadi. Kapan kamu akan pulang?”
“Aku akan kabari Kakek nanti tapi, tolong lepaskan teman-temanku, kita akan bicara lagi setelah semua selesai.”
“Baik, kalau begitu Kakek akan menunggu di sini bersama adikmu Liam yang sudah sangat merindukanmu.”
Setelah berbicara dengan Kakek, akhirnya para preman itu melepaskan kak Alex. Aku berlari mendekati kak Alex yang dipenuhi dengan luka, aku merasa bersalah dan tidak tega melihat luka di sekujur tubuh kak Alex.
“Bagaimana ini? Apa aku panggil taksi saja? Luka kakak sepertinya parah” Lalu rasa bersalah yang membelenggu hatiku membuat aku tidak bisa menahan air mata.
“Semua salahku, maafkan aku!” Ucapku penuh penyesalan dan rasa bersalah yang tidak bisa aku gambarkan dengan jelas.
Aku tau dia sedang kesakitan tapi dia mencoba tetap tersenyum padaku, dia mencoba terlihat baik-baik saja didepanku, “Azia, ini bukan salahmu, sayang. Ini musibah, aku tidak apa-apa, aku masih kuat berjalan, dan sekarang ayo kita ke rumah sakit” Ucapnya dengan tangan mengelus pipiku yang sudah basah dengan air mata yang entah kapan mulai mengalir dari mataku.
Di perjalanan aku masih saja menangis karena melihat kak Alex yang memaksakan diri menyetir dan berpura-pura kalau dia baik-baik saja. Sesampai di rumah sakit, aku langsung membawa kak Alex untuk diobati sebelum menemui Andi di ruangannya.ta
“Dokter Doni tolong obati kak Alex dengan benar, aku harus menemui temanku sebentar. Jangan biarkan dia pergi dari ruangan ini sebelum aku kembali”
“Tenang saja, aku akan merawatnya dengan sangat baik, kamu bisa pergi sekarang.”
Bersambung….