
Rasanya baru kemarin aku menginjakkan kakiku di kelas dua lalu tanpa terasa sudah waktunya ujian semester tiga. Aku selalu berharap teman-teman juga bisa melewati ujian dengan lancar dan mendapatkan nilai yang terbaik mereka. Lalu pada hari terakhir aku ujian, aku meminta sesuatu pada Andi.
“Jadi kamu mau minta apa?”
“Setelah ujian kitakan bisanya libur, lalu kita akan masuk semester…”
“Stop! Langsung ke intinya aja, Azia!”
“Oke, oke! Intinya apa di hari valentine apa kamu bisa jalan…”
“Gak!” Jawab Andi dengan tegas lalu pergi meninggalkan aku dari taman.
Aku mengejar langkah cepat Andi yang menghindari permintaanku.
“Andi tunggu! Andi!” Aku terus mencoba menyamai langkahnya yang cepat tapi, sayangnya langkahku tidak benar-benar terkejar, lalu aku berhenti karena kelelahan.
“Kak Azia!” Seorang adik kelas yang juga murid les ku datang membawa sebuah catatan di tangan kanannya dan pulpen biru di tangan kirinya.
“Ada apa?” Aku mencoba menenangkan diri karena masih terengah-engah setelah mengejar Andi.
“Ini ada soal yang membingungkan, apa kakak bisa bantu?”
“Mana? Sini biar aku lihat?!” Lalu aku langsung memperbaiki kesalahan dari jawaban anak itu dan setelah itu aku kembali mencari Andi.
Aku mengitari semua jalan dari lantai paling atas hingga lantai dasar tapi Andi tidak terlihat olehku, saat sedang mencari malah terdengar suara bel masuk.
“Anak itu sembunyi dimana, sih? Awas aja kalau ketemu nanti!” Gerutuku kesal.
Saat jam terakhir selesai harusnya aku sudah menunggu Andi di parkiran tapi sayangnya aku dipanggil ke ruang guru oleh Bu Heni.
“Selamat siang, bu!”
“Eh, Azia! Silahkan masuk nak!”
Aku mengambil salah satu kursi guru yang kosong dan menariknya mendekat ke meja bu Heni.
“Ada apa, ya bu?”
“Begini nak, sebenarnya ibu gak enak membicarakannya tapi, mau bagaimana lagi karena ibu susah sekali mengontrol anak ibu. Ibu meminta tolong pada kamu untuk mengajari les untuk anak Ibu Bery, dia itu siswa SMP yang sebentar lagi akan lulus tapi, ibu sulit mengajarkan karena jadwal ibu yang padat ditambah pekerjaan sampingan ibu yang tidak bisa ibu abaikan.”
“Ibu ingin saya menjadi guru les anak ibu?”
“Iya nak, apa kamu bisa?”
“Saya akan lihat jadwal dulu bu, kalau ada celah saya akan terima tapi, kalau tidak nanti saya akan mengabari kembali”
“Ibu tunggu kabar baiknya, ya nak!”
“Baik, bu! Kalau begitu saya permisi dulu” Setelah bersalaman dengan bu Heni aku pun keluar dan segera menuju ke parkiran dengan terburu-buru.
Padahal aku sudah lari sekencang-kencangnya tapi, ternyata tidak bisa mengejar Andi yang sudah duluan pulang dengan motornya. Aku tahu kalau dia menghindariku dan tidak mau menuruti permintaanku yang soal meminta dia untuk menemani Fara di hari valentine.
Aku membuka tas dan mencari handphone milikku, begitu aku menemukannya aku langsung menghubungi Andi. Awalnya Andi tidak mengangkatnya sampai beberapa kali, tapi itu tidak membuat aku menyerah karena aku merasa tidak mau membuat Fara kecewa. Aku terus menghubunginya hampir setengah jam dan akhirnya dia mau mengangkatnya.
“Andi… Hue… Hue…” Aku menangis karena terlalu kesal pada Andi.
“Kenapa nangis? Kamu dimana sekarang?”
“Di sekolah”
“Kalau begitu tunggu disitu dan jangan menangis lagi, oke!” Lalu dia menutup telepon.
Di saat yang sama tiba-tiba saja bu Heni keluar dari sekolah dan menuju parkiran. Aku ketahuan sedang menangis di sana dan dia langsung menghampiri aku.
“Ada apa, Azia? Apa ada yang mengganggumu?” Bu Heni adalah guru yang sangat baik dan perhatian pada murid-muridnya.
“Tidak, bu! Hanya saja…”
Lalu Andi datang dengan wajah yang panik dan menghampiri kami berdua.
“Kamu kenapa?” Tanya Andi dengan wajah paniknya itu.
“Andi, jangan buat Azia sedih dong! Kalau ada masalah lebih baik selesaikan baik-baik, jangan berantem dan buat ceweknya nangis!” Lalu bu Heni memari Andi habis-habisan karena waktu itu dia pikir kalau aku menangis karena Andi melukai perasaanku.
“Dasar anak muda jaman sekarang, cewek baik aja masih sempat-sempatnya disakiti, cepat minta maaf dan jangan ulangi kesalahanmu!”
“Tapi bu…” Andi ingin menjelaskan situasi tapi ucapannya selalu saja di potong oleh bu Heni.
“Sudah! Pokoknya kalian harus baikkan, ibu mau pulang dulu” Kemudian bu Heni meninggalkan kami dan menuju ke mobilnya.
Saat bu Heni sudah benar-benar keluar dari gerbang sekolah barulah Andi mendekati dan bicara padaku.
“Sebenarnya kamu masalah apa?” Andi menghapus air mataku dengan tangannya dan menepuk-nepuk punggung ku dengan pelan agar aku merasa lebih tenang.
“Semua karena kamu meninggalkan aku, aku sendirian, aku gak punya teman pulang dan sekolah sudah sepi”
“Lah, aku pikir ada apa tadi, kamu kan bisa panggil pacar kamu atau seenggaknya kamu bisa panggil taksi online, iya’kan?”
“Heu… hue… Kak Alex masih marah padaku, dia tidak menghubungiku sampai sekarang dan kuota milikku itu habis jadi gak bisa menggunakan aplikasi untuk memanggil taksi online”
“Iya udah jangan nangis, cepat kita pulang! Gara-gara kamu aku gak jadi makan, padahal udah siap masuk mulut”
“Maaf” Ucapku dengan penuh penyesalan.
“Udah gak papa, sekarang naik ke motor terus kita ke rumah dulu buat makan, Bunda buat banyak makanan enak hari ini jadi kamu jangan khawatir kelaparan.”
“Iya”
Aku menurut dan naik ke motor Andi, aku menghapus air mataku lalu mulai mencari celah untuk meminta Andi pergi dengan Fara.
“Andi, kamu mau ya pergi sama Fara sekali aja, please!!”
“Gak, Azia kenapa sih kamu maksa banget?”
“Kamu kan bilangnya mau move on, jadi apa salahnya kamu coba jalan sehari aja sama Fara, kalau cocok kalian kan bisa jadian, iya’kan?”
“Ratu rakus ku, kamu tahukan kalau Fara udah nembak aku pulahan kali dan pulahan kali juga aku sudah menjelaskan kalau aku gak bisa menyukai dia”
“Tapi..” Aku sangat kecewa mendengar jawaban Andi karena aku berharap Andi bisa membuka hati Fara dan melupakan Mia.
“Tapi apa lagi, sih Azia?!”
“Kamu membentakku?” Entah kenapa hari itu aku jadi sensitif dan begitu Andi meninggikan nada bicaranya aku jadi merasa sakit hati dan kembali menangis.
“Jangan nangis lagi, Azia! Baik, baiklah aku mau jalan sama dia tapi, aku tidak bisa di hari valentine karena aku sudah ada janji sama orang lain.”
“Makasih Andi” Aku memeluk Andi dari belakang dengan erat karena memang aku sedang naik motor dan memeluknya agar tidak jatuh.
“Udah hapus dulu air matanya, jangan buat aku di hukum sama Bunda kalau tahu kamu nangis karena aku!”
“Iya, aku hapus!”
Dan tak terasa kami sudah di depan rumah Andi, begitu sampai ternyata Bunda baru masuk ke rumah setelah menerima paket dari kurir.
“Halo, tante!”
“Sayangku, berapa kali Bunda bilang panggil Bunda saja jangan tante, biasa sama seperti Andi! kalian pasti lapar ayo masuk!” Bunda Andi menggandeng aku masuk dan meninggalkan Andi yang sedang memarkirkan motor.
“Baik, Bunda!”
Saat sedang berbincang-bincang Bunda, dia menyadari kalau mataku bengkak karena baru selesai menangis, dan Andi jadi target pertama untuk diinterogasi, setelah pengakuannya Andi pun mendapat hukuman karena telah membuat aku menangis.
“Bunda, jangan hukum Andi, Andi kelihatannya sangat lapar, Azia gak mau nanti Andi sakit karena Azia”
“Anak baik, kamu selalu memikirkan orang lain daripada diri sendiri” Bunda mengelus rambutku lalu melihat ke arah Andi.
“Sekarang kamu boleh duduk dan makan dengan kami tapi awas saja kalau kamu membuat Azia nangis lagi”
“Iya, Bunda”
Bersambung…