Obsession Of Love

Obsession Of Love
Bukan berkemah biasa



“Kalian udah ada rencana buat minggu depan?”


“Rencana apa?”


“Rencana buat liburan, kalian tahukan kalau jumat dan sabtu itu tanggal merah dan minggu udah pasti gak sekolah jadi kita punya 3 hari untuk jalan-jalan.”


“Dasar Mia pengamat tanggal! Udah, kita mendaki aja gimana?”


“Gak! Aku kan gak bisa, kepantai aja gimana?”


“Udah biasa, kita perlu yang namanya kemping sesekali!”


“Aku setuju tuh! Jadi gimana enaknya nih?”


Kami mulai memikirkan apa yang harus kami lakukan di hari libur yang sebenarnya itu masih beberapa hari lagi.


“Aku punya ide!” Teriak Mia dengan suara lantang kemudian berdiri membelakangi Fara.


“Mia, jangan teriak dong, sakit ni kuping!” Fara menutup telinganya karena Mia berteriak dekat dengan tempat dia sedang duduk.


“Rencananya apa?” Tanyaku yang memutar arah kursiku kearah Mia dan Fara yang masih duduk di kasur.


“Bagaimana kalau kita kemping aja di taman belakang rumah Fara?”


“Kenapa rumahku? Rumah kamu kan juga ada!”


“Gak mau, kalau rumahku nanti kak Roni jadikan aku budak, dia itu tiap hari nyuruh aku ini lah itu lah, aku gak mau di suruh-suruh lagi!”


“Kenapa kamu mau?”


“Gimana caranya gak mau kalau dia ancam aku dengan foto saat aku kencan sama pacar baru aku, aku benar-benar kapok deh selingkuh” Ucapnya sedih dan menyesal meski aku meragukan ekspresi penyesalannya itu.


“Bohong banget tuh! Kemarin malam aku dengar kamu masih telponan tuh sama cowok di jam 12 malam lewat” Ucap Fara yang membuat Mia jadi tidak bisa berkutik.


“Kamu kok kamu tahu?”


“Gimana gak tahu, kamu ngomong tu suaranya kencang banget di samping aku, kita kan tidur bertiga ya wajar kalau aku tahu!” Ucap Fara kesal.


“Kok aku gak tahu?” Tanyaku dengan wajah bingungnya.


“Ya karena kalau kamu tidur tu susah banget di banguninnya, buat bangun pagi aja kamu itu perlu banyak energi”


“He-he-he, jadi gimana rencananya?” Aku langsung mengalihkan topik pembicaraan dengan cepat.


“Ya rencananya seperti tadi, kita akan kemping di kebun belakang rumah Fara terus di sana kita bakar ikan terus bangun tenda, terus buat api unggun dan lainnya”


“Ikan dari mana?” Tanya aku dan Fara.


“Di sana kan ada tuh danau buatan milikmu, kamu kan bisa beli ikan hidup terus masukkan tu ke danau itu, nanti kita pancing sama-sama, gimana?” Usul Mia.


“Mia sayang, itu buang-buang waktu dan tenaga benget gak sih?”


“Azia-ku yang menggemaskan, proses memancing itu membuat mood kita jadi lebih baik dan aku jamin kalau galaumu bisa hilang, ayo kita coba saja dulu!”


“Yang nama nya kemping itu perlu adanya cowok biar makin asik, kita undang Andi, ya?” Usul Fara.


“Kalau gitu aku undang kak Alex, boleh?” Tanyaku.


“Jangan!!” Jawab serentak Mia dan Fara dengan wajah paniknya.


“Bikin repot”


“Dia ribet”


“Menyusahkan”


“Dan pacar kamu itu super menyebalkan!”


Ucap mereka secara bergantian, keduanya terlihat sekali tidak menyukai kak Alex meskipun aku dan kak Alex sudah hampir setahun pacaran.


“Kok kalian gitu sih? Kalau kak Alex gak boleh ikut artinya Andi juga gak boleh!” Ucapku kesal karena mereka kalau udah bahas kak Alex selalu saja muncul kata hinaan yang bikin aku kesal.


“Setuju” Jawab cepat Mia.


“Jangan dong! Andi tetap harus ikut, dia itu bagian terpenting dari acara ini”


“Dari sudut mananya dia penting Fara? Andi itu gak penting sama sekali, ayolah kalian gak usah ajak cowok ajalah kalau gitu!!” Ucap Mia tegas.


“Mia, Andi itu penting untuk kesehatan mental dan hatiku” Ucap Fara yang tiba-tiba jadi lebay.


“Pret!!” Ejek ku pada ucapan Fara yang terkesan lebay.


“Ish! Azia!”


“Apa?” Aku pura-pura bingung.


“Pokoknya Andi wajib hadir!”


“Terserah kalianlah!” Mia pada akhirnya pasrah dengan keputusan kami berdua.


***


Hari yang ditunggu-tunggu pun tiba, hari sabtu pagi kami semua berkumpul di kebun belakang rumah Fara. Tenda-tenda telah didirikan, tempat perapian siap untuk dinyalakan bahkan ikan-ikan sudah di lepas ke dalam danau kecil itu.


“Wah….!!! Rasanya seperti kemping benerang!” Mia melihat ke arah danau sambil menghirup udara seakan-akan kami berada di hutan sesungguhnya dengan kesegaran alam yang masih terjaga.


“Gak usah lebay deh! Cepat bantu bawa alat pancing dan selimut dari rumah”


“Lah….” Wajahnya langsung berubah lesu. “Kenapa nggak suruh penjaga atau pembantu rumah mu saja sih yang bawa?!”


“Bukan kemping dong nama nya kalau semuanya diurus sama mereka, ayo cepat! Azia dan Andi sedang mengambil makanan di rumah”


“Iya, iya! Terus kamu ngapain?”


“Aku mau siapkan alat pancing untuk Andi dan si sialan itu” ucap Fara.


“Oh, oke!” Lalu Mia berlari cepat ke arah jalan masuk rumah Fara lewat belakang.


Begitu sampai di depan pintu Mia bertemu denganku dan wajahnya terlihat sangat kaget, matanya seakan mau keluar dan mulutnya terbuka saking kagetnya melihat aku.


“Beb! Kita mau kemping nih bukan mau pesta, ganti baju sekarang!” Ucap Mia padaku.


“Tukan, aku bilang juga apa, kamu sih gak percaya! Cepat ganti baju biar selimut dan bantal di bawa sama Mia!”


“Ada masalah apa dengan pakaianku? Aku merasa biasa aja tuh” Aku tidak merasa ada yang salah dengan penampilanku saat itu tapi, mereka mengganggap aku terlalu berlebihan.


“Azia, please deh, aku tahu kalau si Alex datang di acara ini, tapi ya sewarnya ajalah, udah sana ganti, barang kamu biar Mia yang bawa” Ucap Andi dengan sorot mata seperti sedang mengejek penampilanku.


“Andi menyebalkan!” Aku masuk kembali sambil terus memandang kesal pada Andi yang terus saja mengatakan hal ini dan itu soal bajuku.


Saat aku selesai mengganti baju dan pergi ke tempat kemping di situ terlihat kak Alex dan Andi sedang bersiap untuk memancing. Aku berlari dengan cepat ke arah kak Alex yang sedang membawa pancingannya ke tepi danau yang sudah diisi dengan banyak ikan air tawar.


“Kak Alex!” Aku memeluk kak Alex dari belakang dan itu membuat dia sedikit kaget.


“Sadar woi! Dunia ini bukan milik kalian berdua dan berhentilah bermesra-mesraan di depan para jomblo!” Ucap Andi yang lewat dengan wajah yang kesal pada kami berdua.


“Yang jomblo jangan iri dong!”


“Sudah dari pada ribut ayo kita mulai pertandingan memancingnya!” Sorak semangat dari Mia.


Lalu kami semua pergi ke tepi danau kecil itu dan mulai mempersiapkan tempat duduk sambil ikut memancing di dekat Andi dan kak Alex.


“Kita taruhan gimana?”


“Taruhan? Taruhannya apa?”


“Kalau Andi menang dan menangkap banyak ikan aku yang akan masak, tapi kalau kak Alex menang nanti Andi yang masak, gimana?” Usulku.


“Oke!”


Lalu Andi dan kak Alex saling memberikan kode yang tidak aku mengerti, saat mereka menunggu pancingannya di lahap ikan aku dan yang lainnya kembali ke tenda karena sudah bosan menunggu.  Saat matahari mulai memuncak aku dan Mia berencana kembali ke rumah dan mengambil makanan tapi Fara mengatakan kalau itu melanggar aturan kemping karena itu terpaksa deh kami menunggu ikan hasil pancingan dari dua pria yang sepertinya sedang kurang beruntung.


“Aku mau rebahan ajalah, kalau udah dapat ikannya nanti kasih tahu. ya!” Lalu aku masuk ke tenda dan memejamkan mata.


Rasanya baru saja 5 menit aku memejamkan mata tapi sudah tercium aroma ikan bakar, aku yang kelaparan pun langsung keluar dan mencari sumber aroma yang luar biasa menggoda perutku. Aku melihat Andi dan yang lain sedang memanggang ikan dan kak Alex hanya menonton dari kejauhan.


“Jadi siapa yang menang?”


“Gak ada yang menang, kami minta pengawal untuk menangkap ikan di kolam terus sekarang kami bakar”


“Wah…” Aku sedikit kecewa karena aku sudah sangat berharap kalau kak Alex bisa menang.


“Gak usah kecewa kali, yang penting kamu bisa makan, ya’kan?”


“Betul katamu Andi, yang penting bisa makan! Mana ikan milikku?” Aku mendekati Andi yang sedang mengipas-ngipas bara api.


“Udah, duduk saja sana sama pacarmu dan jangan ganggu aku!” Andi mengusirku dengan mengibas-ngibaskan kipas padaku.


“Andi tega! Andi jahat!!” Aku memukulnya sekali lalu pergi ketempat kak Alex yang sedang duduk sendirian.


“Kakak, Andi jahat banget sama aku! Masa dia usir aku, padahal aku kan gak gangguin dia” Aku mengadu pada kak Ale dengan sedikit bermanja-manja.


“Iya, jangan marah lagi, biar aku yang marahin Andi nanti!” Lalu kak Alex memelukku.


“Euhm! Euhm! Ingat ada orang nih di depan!” Ucap Mia yang duduk di depan tenda.


Makin Mia memberi kode agar kak Alex menjaga sikapnya kak Alex malah makin erat memelukku dan membiarkan aku bersandar pada bahunya.


“Dasar kalian gak punya hati!” Lalu Mia yang sudah tidak tahan dengan kemesraan kami pun merajuk masuk ke tenda dan menelepon tunangannya.


Bersambung….


Sampai jumpa di episode berikutnya, semoga episode ini tidak terlalu membosankan untuk kalian, terima kasih telah membaca dan jangan lupa like dan favoritkan novel ini.