Obsession Of Love

Obsession Of Love
Bantuan



Setelah kejadian tidak mengenakkan di pagi hari, aku mencoba menenangkan diri di teman sambil makan cemilan yang aku dapat sebagai permintaan maaf dari teman-teman sekelas ku.


“Azia, aku dengar kamu mencuri soal ulangan kelas mu”


“Mau aku lemper batu?”


“Eut! Sabar bos! Aku cuma bercanda, gimana anak yang menuduh kamu itu?”


“Dia menolak minta maaf dan memilih pindah sekolah”


“Dasar anak gila, udah jangan terlalu di pikirkan, nih bekal makan siang buat kamu dari Bunda”


“Beneran? Bukan kamu yang buat?”


“Ya bukanlah! Aku aja telat bangun sampai-sampai tidak bisa bawa bekal untuk diri sendiri”


“Lalu ini?”


“Ya kamu tahu sendiri Bunda cuma sayang kamu aja, bekalku udah pasti gak dibuatin lah! Nyebelin banget, pilih kasih!”


“Udah jangan kayak gitu, kita bagi dua aja bekalnya, lagian ini banyak banget buat aku?”


“Banyak apanya? Biasanya dua kali lipat dari ini bisa kamu habiskan sendiri”


“Kalau gak mau ya udah, nggak usah ngoceh yang aneh-aneh deh!”


“ Iya, iya aku mau! Jangan di habisin dong!”


“Nih, aku bawa sendok satu lagi”


“Dari mana sendok ini?”


“Itu, aku bawa karena aku pikir mau makan es krim pakai ini nanti pas mau pulang”


“Memang ya, si rakus penuh persiapan kalau soal makan”


“Kamu ini benar-benar, ya!” Aku hampir memukul Andi tapi gak jadi karena aku lagi mau makan.


Kami menghabiskan bekal itu dalam sekejap mata dan pada akhirnya aku masih merasakan lapar.


“Andi, beli cemilan dong!”


“Kamu baru saja makan, Azia!”


“Tapi aku belum ngemil”


“Ngemil apa lagi? Sebelum aku kasih bekal ini kamu kan lagi ngemil”


“Itu beda, yang tadi mengemil sebagai pembuka, nah sekarang mau ngemil sebagai penutup, sana pergi beliin, nih uang!”


“Oke”


Entah kenapa aku marasa Andi jadi aneh dari biasanya, dia lebih patuh, padahal dulu dia kalau di suruh-suruh ngelawan dulu dan kalau sudah kena pukul baru dia pergi itu pun dengan wajah terpaksa.


“Sepertinya dia mencurigakan” Pikirku.


Lalu Andi membawa banyak cemilan dan membelikan ku jus padahal aku tidak memintanya.


“Ada apa ini?”


“Kenapa?” Dia sok-sok an bingung.


“Jujur aja deh! Kamu ada maksud lain’kan?”


“Maksud apa yang kamu bicarakan, Zia?”


“Gak mungkin cowok se-nyebelin kamu tiba-tiba patuh dan bersikap sangat baik kayak gini tanpa alasan yang jelas, katakan apa yang kamu rencanakan?”


“Kamu peka benget sih, Zia! Gini, sebanarnya aku baru aja ditembak sama anak SMA sebelah, dia ajak ketemuan di akhir pekan, kamu bisa kan…” Ucap Andi dengan wajah berharap.


“Gak” Aku memotong ucapannya dengan cepat.


“500”


“Gak” Aku menggelengkan kepalaku


“700”


“Deal!”


“Serius?”


“Iya, tapi gak ada kisahnya ngutang, gimana?”


“Deal! Kamu cuma perlu pura-pura jadi pacar aku biar dia gak ngejar-ngejar aku lagi, gimana?”


“Gampang tapi, kalau gitu tambah 300 lagi”


“Loh kok nambah?”


“Diskon dong!”


“Enak aja!”


“Masa gak ada diskon buat sahabat kecilmu?”


“Ayolah”


“Udah, oke deh! 900”


“Lah, kalau gitu sama aja beda cuma 100 doang”


“Yaudah, kalau gitu cari orang lain aja”


“Jangan gitu dong! Kalau aku ajak orang lain kan pastinya mereka baper terus malah suka beneran sama aku”


“Lah kamu pikir aku gak gitu?”


“Baru sadar kamu kalau pacar aku super ganteng, kamu mah lewat dan gak akan bisa se level dia. Dia itu cowok terbaik, terkeren, tercakep, ter ter lah!”


“Dasar bucin! Udah mujinya, jadi gimana?”


“Ya gitu!”


“Gitu apanya?”


“Uangnya gak akan aku kurangi lagi, udah mau bel ini aku duluan dan bilang makasi buat tente untuk bekal hari ini”


“Oke! Jangan lupa minggu pagi!”


“Sip”


Untungnya minggu itu aku tidak memiliki janji dengan kak Alex karena dia masih punya banyak pekerjaan di rumah sakit. Dia selalu sibuk hingga kami benar-benar jarang untuk ketemu, aku jadi rindu tapi kami hanya bisa bicara sebentar di telpon karena dia benar-benar sibuk.


“Pagi, Tante!”


“Azia, duduk, nak!”


“Tante lagi apa?”


“Hanya membaca majala saja, kamu mau pergi dengan Andi, ya?”


“Ya, tan!”


“Dia itu kalau siap-siap emang agak lama, kadang-kadang tante suka kesal karena dia siap-siapnya lebih lama dari pada anak perempuan, yang sabar ya Azia!”


“Iya, tante”


“Hai! Udah lama!” Ternyata Andi siap lebih awal dari dugaanku, pahal aku sudah berpikir untuk tidur sebentar sambil menunggu dia.


“Bunda, kami pergi dulu, ya” Andi bersalaman dengan ibunya lalu aku pun mengikuti langkahnya untuk bersalaman lalu kami pun pergi.


“Kamu udah minta izin dari pacar kamu itu?”


“Udah, aku bilang mau pergi sama kamu”


“Bagus deh, eh aku udah ganteng belum?”


“Eum… Boleh lah dari pada biasanya”


“Apa-apaan komentar kamu, kayak menghina gitu”


“Gak kok, aku gak menghina cuma bicara jujur aja”


“Dasar anak ini!”


Taksi yang kami tumpangi berhenti di depan sebuah kafe dan kami segera masuk ke tempat itu.


“Kamu harus meyakinkan, ya!”


“Siap! Percaya saja pada aku, aku ini udah pernah main teater tahu!”


“Aku percaya sama kamu makanya minta bantuan kamu, udah ayo masuk!”


“Oke”


Saat masuk, gadis itu terlihat menyambut Andi dengan senyuman penuh cinta hingga dia seakan tidak melihat keberadaanku di samping Andi.


“Akhirnya kamu datang, ayo duduk!” Dia dengan penuh semangat menarik Andi untuk duduk di sampingnya.


“Tidak udah, aku kesini cuma mau bilang tolong jangan hubungi aku lagi dan mengirim surat atau pesan dari teman-temanmu karena pacarku ini sangat cemburu dengan hal itu!” Andi memelukku di depan gadis itu.


Wajah gadis itu langsung terlihat kesal, dia memandangiku dengan penuh kemarahan.


“Kamu bercanda’kan?”


“Gak, dia tidak bercanda, kami memang pacaran bahkan kami pacaran dari SD sampai sekarang.”


“Gak, pasti ini bohong! Gak, ini gak mungkin!” Gadis itu benar-benar marah terlihat seakan tidak menerima kenyataan kalau Andi mempunyai pacar.


Andi menarik ku keluar dari tempat itu begitu melihat gadis itu siap mengamuk dan menjadi moster di café itu.


“Wah gila!! Untung kita cepat kabur kalau enggak udah pasti kena kita tadi tu!”


“Udah aku bilangkan kalau yang suka sama kamu itu cuma cewek katarak dan sekarang malah nambah satu jenis lagi, cewek gila yang suka sama kamu hahahah…. Wajah kamu gak guna baget, gak bisa menarik cewek yang waras apa?”


“Udah, gak usah ketawa!”


“Oke oke aku gak akan ketawa lagi, mana bayarannya?”


“Setengah dulu, ya?”


“Enak aja! Janji di awalkan gak kayak gini!?”


“Waktu itu aku enggak tahu kalau uangku udah ke pakai setengah buat beli item di game, bulan depan aku lunasin, ya?”


“Memang kamu ya, teman yang gak ada akhlak benget! Udah minta diskon sekarang ngutang pula, udah sebagai gantinya sekarang temanin aku belanja!” Ucapku geram pada Andi.


“Lah kenapa harus aku, ajak pacar kamu aja sana!”


“Gak, aku gak mau buat dia kesusahan bawain barangku, aku kan sayang banget sama dia!”


“Terus aku? Masa aku harus bawain barang kamu? Kamu gak adil banget jadi teman”


“Apanya yang gak adil, kalau gak mau ikut aku bilangin sama tante kalau kamu asik main game dan gak pernah belajar!”


“Oke, oke! Udah ayo jalan!”


“Nah, gitu dong kan enak!”


Bersambung…


Mohon maaf kalau ada kesalahan dalam pengetikan, kalau ada kesalahan bisa tulis di komentar agar bisa di perbaiki. Terimakasih telah berkunjung dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan memberikan like dari kalian😁😁😁