Obsession Of Love

Obsession Of Love
Ancaman



‘drauk!’ Alex di dorong ke dinding di lantai atas rumah sakit tempat dia bekerja.


“Hai, apa yang kalian lakukan?”


Dua pria di samping Alex menahannya dengan sekuat tenaga dan Alex pun dengan sekuat tenaganya mencoba melepaskan diri.


“Kami tidak akan membuang waktumu tuan Alex sialan! Kamu cukup diam dan dengarkan apa yang kami katakan, paham?!” Ucap gadis itu dengan tatapan membunuh.


“Sudah pernah kami katakan jangan membuat Azia kami sedih, bukan?” Mereka tersenyum dengan aura membunuh berkobar sambil memegang sebuah tongkat kayu seakan mereka akan memukul Alex saat itu.


Beberapa jam sebelum kejadian, Alex sedang berada di kantin rumah sakit bersama dua perawat pria, mereka sedang berbincang asik hingga dua orang pria berbadan besar meminta Alex untuk ikut dengan mereka secara paksa.


“Hai apa yang kalian lakukan?”


“Nona kami ingin bertemu dengan anda, tolong ikut kami dengan tenang atau kami terpaksa menggunakan kekerasan!” Ucap tegas orang itu.


“Baiklah saya akan ikut, tolong lepaskan” Alex berjalan beriringan dengan dua pria itu dan sesekali melirik kearah mereka.


“Alex, tunggu! Jangan ikut mereka, bisa saja kamu akan di bunuh?!” Dua perawat pria mengejar dan mencoba menghentikan Alex dan dua pria yang membawanya.


“Sebaiknya anda berdua tidak ikut campur, kami tidak bermaksud membunuh di sini, kami hanya ingin tuan Alex menemui nona kami di rumah sakit ini.”


“Kalian jangan khawatir, aku kenal siapa tuan mereka, aku pergi dulu”


Alex pun pergi ke atap rumah sakit, tempat yang jarang di kunjungi, dua pria itu hanya mengawasi dari jarak tidak lebih dari dua meter dan Alex terus saja merasa tertekan karena dua orang yang ada di belakangnya.


“Akhirnya kamu datang dasar pria sialan, membuat orang repot saja!”


“Apa yang kalian berdua inginkan?” Alex menatap mereka dengan tatapan kesal.


“Salah, harusnya kami yang menanyakan hal itu pada kamu, apa yang kamu inginkan dengan bersikap dingin pada Azia kami, hah?!” Fara berjalan kearah Alex dengan tangan membawa balok kayu, dia menyudut Alex hingga dia terdorong dengan keras ke dinding karena tersandung sesuatu.


Dua pengawal milik Fara pun langsung memegang tangan Alex dengan sekuat tenaga dan Alex juga mencoba melawan dua orang itu dengan sekuat tenaga tapi semua sia-sia karena dua pria itu benar-benar lebih kuat dari dirinya.


“Kami tidak akan membuang waktumu tuan Alex sialan! Kamu cukup diam dan dengarkan apa yang kami katakan, paham?!” Ucap gadis itu dengan tatapan membunuh.


“Sudah pernah kami katakan jangan membuat Azia kami sedih bukan?” Mereka tersenyum dengan aura membunuh berkobar sambil memegang sebuah tongkat kayu seakan mereka akan memukul Alex saat itu.


“Kalian tidak tahu apa-apa! Kenapa suka sekali ikut campur dengan masalah kami?”


“Kamu tahu, Azia itu semula milik kami, kami sudah menjaganya dari dulu, lalu kamu datang mencoba merebut posisi kami berdua! Kami biarkan karena dia sangat mencintai kamu tapi, kamu malah membuat dia terus saja merasa sedih, apa kamu pikir kami akan diam saja, hah?!”


“Hai, pria b**gs*t! Kalau kamu tidak menyukainya lagi cepat menyingkir, agar kami mencarikan orang lain untuknya!” Yang kesal hampir memukul Alex dengan tongkat kayu di tangannya, untungnya pukulan itu hanya mengenai dinding di belakang Alex saja.


“Apa maksud kalian?” Alex masih sedikit syok karena ulah Mia.


“Begini tuan Alex, kamu bisa memilih untuk tetap bersama dia dengan bersiakap seperti biasa dan jangan membuat dia murung, paham?”


“Benar kata Fara, kalau kamu memang tidak lagi menyukai Azia kami, lebih baik segera putus dengan dia sekarang!”


“Apa-apaan kalian ini! Ini sudah kelewatan, kalian tidak bisa bertindak sejauh ini!”


“Apa kami perlu memukul kepalamu agar kamu langsung bisa paham dengan apa yang kami bicarakan, hah!” Fara mulai meletakkan tongkat itu pada kepala Alex.


“Pukul saja dia Fara, otaknya tidak berguna, dia selalu membuat Azia sedih dan murung!”


“Dengar, aku tidak melakukannya karena aku membenci Azia ataupun karena aku bosan padanya tapi, karena aku memiliki alasan ku sendiri”


“Alasana? Katakan sekarang atau kayu ini akan menghantam kepalamu yang tidak berguna itu!” Fara mulai mengacukan tongkat kayu di tangannya pada Alex beberapa kali.


“Bicara baik-baik? Waktumu sudah habis tuan Alex Sialan! Padahal waktu di pantai dulu kami sudah pernah memberimu peringatan tapi, ternyata peringatan itu kamu anggap angin lalu saja, ya?!”


“Pengen ku pukul juga nih pria ini!” Ucap Mia kesal melihat Alex yang seakan enggan mengakui kesalahannya.


“Kenapa kalian melakukan ini padaku?” Teriak Alex dengan penuh kekesalan.


“Katakan sekarang apa masalah yang terjadi diantara kamu dan Azia atau kayu ini benar-benar akan menghantam kepalamu itu” Fara mulai terus mengacukan tongkat kayu itu kearah kepala Alex beberapa kali.


“Masalahnya bukan padaku, itu ada pada Azia, dia memiliki pacar sebelum aku”


“Mia, ternyata pria ini benar-benar gila!”


‘tak’ balok kayu di pegang Fara menghantam dinding yang ada di belakang Alex dan membuat Alex benar-benar terkejut karenanya.


“Apa otakmu ini benar-benar bermasalah?” Fara memukul pelan kepala Alex dengan kayu yang sudah patah karena dia memukul dinding dengan sepenuh tenaga.


“Hai, Alex kamp**t! Asal kamu tahu dia itu sebanarnya bisa di bilang tidak pernah benar-benar pacaran sebelum dengan kamu, paham!”


“Eh, si anak manja itu gak terhitung sebagai mantan, ya?” Tanya Mia sedikit merasa bingung.


“Ya enggak lah! Pacaran macam apa yang jalan cuma sekali terus gak pernah pegangan tangan lebih dari sekali, itukan gak bisa di sebut pacaran apa lagi Azia gak pernah menggap dia sebagai pacar, ya’kan?”


“Betul juga, eh kembali lagi ke topik, sekarang kamu temui Azia dan bersikaplah seperti biasa atau kamu akan tahu akibatnya, paham?!”


“Baik, aku akan lakukan hal itu tapi kalian bisa lepaskan aku sekarang?”


“Kalian berdua, lepaskan dia sekarang!” Perintah Fara pada dua pengawalnya.


“Sekarang sudahkan, sana pergi! Jangan buat kami melakukan kekerasan lain kali, paham?!”


Lalu Fara dan Mia bersama pengawal yang mengikuti langkah mereka dari belakang pun beranjak dari tempat itu.


“TUNGGU! Bukannya kalian udah terlalu jauh ikut campur tentang masalah sahabat kalian?”


“Aku beritahu pada kamu Alex, Azia bukan hanya sabahat bagi kami berdua, bagi kami Azia itu sudah seperti keluarga, dia adik kecil yang ingin kami jaga, dia itu lemah dan terlalu baik, dia terlalu banyak mendapat luka dari kecil karena itu kami tidak ingin dia terluka selama kami masih berada di sisinya!”


“Dan satu lagi, dia itu memang tidak peka tapi, dia mudah terluka dengan sikap yang kamu tunjukkan padanya. Dan yang jelas dia benar-benar mencintai kamu.” Ucap Mia dengan nada dingin pada Alex.


“Oh iya, kami juga ingin mengatakan padamu, tuan Alex sialan! Kalau kamu sempat meninggalkan Azia, kami akan segera mencari penggantimu dalam hitungan detik, paham? Kami dari awal hingga saat ini sebanarnya tidak menyukai hubunganmu dengan Azia kami tapi, karena dia terlalu tergila-gila padamu, kami akan biarkan kalian bersama hingga dia lelah dan mau mendengar kami.”


“Fara, aku pikir dari sekarang kita perlu menyiapkan cadangan untuk Azia, aku rasa mereka tidak akan bertahan lama, dengan sikap pria ini yang terus melukai hati Azia kita”


“Aku pun memikirkan hal yang sama”


“Jangan coba-coba! Aku tidak akan membiarkan itu terjadi”


“Kalau kamu tidak ingin itu terjadi maka jangan pernah membuat Azia sedih dan murung lagi, dasar pria tidak berguna! Ayo kita pulang, Azia pasti sudah sampai di rumah sekarang”


“Oke”


Lalu mereka pergi meninggalkan Alex yang masih terpaku di tempat itu. Alex tetap di tempat itu dan merenungkan apa yang telah dia lakukan pada pacarnya.


Bersambung…


Jangan lupa buat like dan komentar kalau ada kesalahan dalam penulisan ku.