
“Kamu gak ngerasa kalau suasana dalam mobil ini terasa aneh? Dan ekspresi datar dia itu membuat aku sedikit takut”
“Jangan terlalu dipikirkan, dia bukan orang yang suka marah-marah gak jelas, percaya saja, kamu akan baik-baik saja, oke!”
“Au ah, aku gak yakin, tapi terserahlah!”
“Sayang, kamu chat sama siapa?” Tanya kak Alex tiba-tiba.
“Hah!” Aku kaget karena dari tadi dia seperti tidak melirik kearah ku sama sekali.
“Chattingan sama siapa??” Nada bicaranya masih sama tapi, tatapannya seakan menusuk ke dalam hati dan pikiranku.
“Eumm itu.. Eum, aku cuma chat sama teman aja, kok?” Aku sedikit gugup karena tatapan kak Alex.
“Teman yang mana??” Ekspresinya berubah dalam sekejap tapi dia masih terlihat mencurigai ku.
“Temen sekolah lah kak, kakak nggak percaya sama aku?” Balasku dengan nada ngambek
“Aku bukan nggak percaya, tapi dari tadi kamu terlihat sangat serius menatap layar ponselmu”
“Ya kan aku lagi chatting sama teman masa aku lihat kearah depan kan aneh, lagian kakak bawa mobil kok asik lirik ke aku? Itukan bahaya, kak!” Aku mencoba mengalihkan pembicaraan agar arahnya bisa tetap dikendalikan.
Aku pikir semua berhasil dengan mudah tapi, nyatanya suasana dalam mobil tiba-tiba menjadi lebih dingin padahal tidak ada yang menurunkan suhu AC mobil saat itu. Kak Alex diam dan kembali fokus menyetir tapi, aku jadi merasa bersalah karena aku tau dia pasti kesal karena jawabanku.
“Oke aku salah, aku minta maaf, aku tadi cuma lagi bahas pelajaran sama teman, kakak jangan marah ya, aku benar-benar tidak membicarakan kakak atau semacamnya dengan temanku kok.” Pada akhirnya aku mengalah karena aku lebih takut dia marah dan memutuskan hubungan kami ketimbang harus mempertahankan egoku yang ingin menang dalam perdebatan kami, meskipun penjelasan yang aku berikan harus bercampur dengan sedikit kebohongan.
“Hemm, aku maafkan tapi, lain kali kamu jangan gitu lagi, ya dek?” Ucapnya dengan nada lembut seperti biasanya.
Lalu kami turun dan menuju ke dalam rumah sakit dari arah parkiran khusus dokter dan tenaga medis lainnya di tempat itu.
“Andi, apa kamu bisa ke ruangan nenek Azia duluan?” Pinta kak Alex sambil menahan langkahku.
“Kenapa?”
“Kami perlu bicara berdua”
“Baiklah kalau begitu, aku duluan, ya!” Andi pergi dengan cepat, ya bisa dibilang dia berjalan terlalu cepat hingga aku mengira kalau dia lari dari cengkraman harimau setelah mengorbankan temannya.
“Apa yang kakak ingin bicarakan denganku?” Waktu itu sejujurnya jantungku berdetak dengan kencang dan aku mulai keringat dingin melihat ekspresi serius dari wajah kak Alex.
“Ayo ke taman dulu” Dia menarikku dengan paksa, dan mengikuti langkahnya yang begitu cepat.
“Kak, kaki ku itu pendek, tolong pelan kan langkahmu!”
Lalu tiba-tiba dia berhenti dan berbalik melihat ke arahku, aku pikir waktu itu dia akan marah atau mengatakan sesuatu tapi, sayangnya tebakanku meleset jauh. Dia malah menggendongku dan kembali berjalan cepat hingga ke taman rumah sakit itu. Tempat dimana tak hanya pekerja rumah sakit yang berada di sana tapi, juga pasien dan keluarganya yang lalu lalang dan itu membuat aku menutup mukaku karena malu.
“Kakak, aku malu! Bisa-bisanya kakak menggendongku di depan umum seperti tadi, itu sangat memalukan”
“Memalukan? Aku pikir kamu cukup suka” Dia bicara dengan penuh percaya diri.
“Iya sih suka, tapi tetap saja malu di liatin orang!” mungkin saat itu jika aku membuka telapak tangan yang menutupi wajahku, muka ku akan terlihat merah seperti buah tomat karena terlalu malu.
“Azia, aku mau tanya sesuatu sama kamu?”
“Tanya? Tanya soal apa?”
“Apa kamu merasa malu pacaran sama aku? Atau apakah aku benar-benar tidak memenuhi tipe ideal kamu?”
“Kenapa tiba-tiba menanyakan hal itu?”
“Tentu saja karena kamu…. Sudahlah, lupakan itu, ayo kita masuk saja”
“Kenapa tidak diteruskan? ‘kamu’ apa?” Desak ku karena penasaran lanjutan dari apa yang dia coba sampaikan.
“Lupakan itu, ayo kita temui nenekmu, aku tidak ingin beliau menunggu terlalu lama”
Rasanya akhir-akhir ini dia terlihat semakin aneh, dia mudah sekali membuat aku penasaran dengan ucapannya yang setengah-setengah dan cara dia mengubah topik pembicaraan membuat aku merasa ada sesuatu yang tidak bisa di bicarakan denganku. Aku ingin percaya pada dia, aku ingin percaya pada ucapannya karena itu aku tidak ingin curiga tak jelas pada dia, aku menutup mata dan telingaku agar hubungan kami bisa aku pertahankan. Aku tidak ingin tahu jika itu hal yang membuat aku harus berpisah lagi dengan dia, aku ingin mendapatkan dia terus disisiku dengan cara apapun.
Di kamar rumah sakit VIV terbaring lemah namun tetap menunjukkan senyum cerianya seperti biasa, nenek yang aku rindukan suaranya, aromanya, tawanya, senyumnya, ucapannya, dan pelukan hangatnya. Begitu aku masuk keruangan itu dia menyambut ku dengan sebuah senyum, seakan dia benar-benar baik-baik saja. Andi di sampingnya mengupas kan buah apel untuk nenekku dengan hati-hati bak sedang mengukir.
“Sicantik ku, akhirnya kamu datang!”
Aku memeluk nenek yang berusaha bangun dari tempat tidurnya.
“Maafkan aku terlambat, nek!”
“Tidak apa, Andi sudah cerita kalau kalian makan dulu. Padahal nenek sudah memintamu untuk tidak sering berkunjung tapi, nenek malah terus merindukanmu sayangku. Gadis kecilku kini sudah besar, sudah pandai pacaran”
“Pacaran? ANDI……!!!”
“Bukan aku yang bilang!” Andi mengangkat tangan seakan mengisyaratkan dia tidak memiliki hubungan dengan masalah itu.
“Itu aku, aku yang mengatakannya pada nenekmu, lagian kita tidak mungkin merahasiakannya untuk selamanya, ya’kan?” Ucap kakak Alex dengan penuh percaya diri.
“Tidak apa, nenek tidak akan memarahi kalian, nenek malah bersyukur karena kini ada orang yang benar-benar menjagamu saat nenek tidak bisa mengawasimu seperti dulu. Dokter Alex ini anak yang baik, nenek kira kalian cukup cocok jadi, kamu tidak usah khawatir, karena nenek memang merestui kalian” Wanita tua itu dengan wajah pucatnya berusaha untuk tersenyum.
Saat nenek memuji kak Alex, kak Alex terlihat lebih baik dari sebelum kami masuk ke ruangan, dia terlihat lebih ceria dari sebelumnya.
“Terimakasih, nek! Azia sayang nenek”
“Nenek juga sayang kamu gadis kecilku” Nenek mengelus rambutku dengan perlahan dan membuat aku sadar kalau ia tak lagi sekuat dulu.
“Nenek, apa nenek makan dengan benar?”
“Iya, meski makanan di sini tidak seenak masakan rumah kita”
“Kalau nenek tidak suka makanan di rumah sakit, bagaimana kalau Andi bawakan makanan untuk nenek saja?”
“Apa itu tidak merepotkan?”
“Tentu saja tidak repot kok, nek!”
“Andi, kamu selalu jadi anak yang baik dari dulu, tolong jaga Azia, ya!”
“Tentu saja nek, Andi bakalan jaga Azia seperti nenek menjaganya.”
“Azia, aku harus pergi sebentar, apa tidak masalah?” Kak Alex yang tidak bisa menyela percakapan kami terlihat kesal dan membuat alasan untuk pergi dari tempat itu.
“Memangnya kakak mau kemana?”
“Temanku meminta bantuan sebentar, aku harus kesana, aku pikir mungkin dia sedang terlibat masalah, apa kalian bisa pulang sendiri?”
“Bisa kok, tenang saja! Kakak hati-hati, ya!”
“Eum”
Dari ruangan dia keluar dengan wajah yang masih ceria dan senyum hangatnya masih terlihat seperti biasa tapi, begitu dia keluar, sekilas aku melihat ekspresi sedihnya dan marahnya ketika dia menutup pintu ruangan itu dengan perlahan.
“Apa yang aku lihat tadi? Tidak mungkin kak Alex berekspresi seperti itu” Pikirku.
Aku mencoba percaya kalau itu hanya ilusi optic saja, aku mayakinkan diri kalau kakak Alex tidak dalam keadaan yang membuat dia marah. Meski aku ingin menutup mata dan telingaku untuk semua masalah tapi, tetap saja aku tidak bisa berhenti untuk memikirkan wajah kak Alex yang sekilas terlihat aneh itu.
“Azia, kamu sedang memikirkan apa?” Tanya Andi padaku.
“Tidak, tidak ada !”
“Benarkah? Aku rasa kamu sedang berbohong, coba katakan apa yang membuat kamu terlihat segelisah ini?”
“Ya, ada, tapi aku tidak bisa mengatakan pada kamu!”
“Kalau begitu pada nenek bisa, kan?” Tanya nenek padaku.
“Pada nenek juga tidak, aku ingin mencoba mengatasinya sendiri, kalau tidak bisa aku akan mengatakannya pada kalian, bagaimana?”
“Baiklah, selama itu membuat kamu merasa lebih baik”
“Nenek selalu mengerti aku, terimakasih, nek”
“Iya, sekarang kalian mau tetap di sini tau makan siang di luar?”
“Tentu saja Azia mau tetap di sini sampai malam sama nenek.”
“Eh, sayangnya aku harus pergi”
“Kenapa?” Tanyaku pada Andi yang baru saja mengecek pesan dan terlihat panik.
“Pelatih meminta kami berkumpul hari ini, aku rasa ini bukan hal baik tapi, aku tetap harus pergi, maaf nek karena Andi tidak bisa lama-lama di sini”
“Tidak apa-apa. Kamu pulang bawa Azia, ya?!”
“Kenapa nenek mengusirku?”
“Azia sayang, nenek ingin istirahat, kamu harus pulang sekarang, ya!”
“Aku bisa menunggu nenek di sini”
“Azia, jangan bandel, sekarang pulang bersama Andi, ya?!”
“Baik, Azia akan pergi dengan Andi” Aku memeluk nenek sebelum pergi.
Aku tidak mengerti kenapa nenek selalu saja membuat aku tidak bisa berlama-lama bersamanya, aku tidak mengerti kenapa dia tidak mau aku kunjunginya setiap hari atau aku temenin seharian, padahal aku rindu bisa bercengkrama lebih lama dengan nenek lagi. Aku akhirnya pulang bersama Andi, dia mengantarku hingga ke depan rumah Fara, ya walaupun sebenarnya karena itu dia kembali meminjam uang kepadaku untuk membayar taksi yang ditumpangi.
Bersambung…