
Saat aku dan Pak Arya berada di makam Papaku entah dari mana datanganya pria-pria bertubuh tinggi dan menggunakan pakaian serba hitam. Mereka membawaku paksa dan menahan pak Arya yang mencoba menolongku. Saat mencoba memberontak aku malah di bius hingga aku kehilangan kesadaran dan setelah itu entah apa yang terjadi.
Begitu membuka mata aku sudah berada di sebuah kamar yang sangat mewah, luasnya lebih dari kamar milik Fara, tirai berwarna merah muda itu terbuka dan membuat cahaya matahari memasuki ruanga itu. Aroma mawar yang baru saja di petik memenuhi ruangan itu, di beberapa tempat terlihat vas bunga yang berisi rangkaian bunga-bunga dan dominan bunga mawar berwarna merah muda. Aku mencoba bangun dan memastikan kalau aku sedang tidak bermimpi.
“Au!” Aku merasa sakit serelah mencubut pipi ku, lalu menyadari kalau itu bukan mimpi aku pun bangun dan melihat sekeliling.
“Dimana ini? Baju?” Aku memeriksa semua pakaianku masih sama tapi handphone dan tasku menghilang.
“Sebenarnya aku sedang di culik atau apa sih? Masa di culik terus di bawa ke tempat sabagus ini, aneh banget?!” Aku pergi menuju pintu keluar dan begitu keluar aku di sambut dengan dua orang pelayan.
“Nona, silahkan ikut kami untuk menemui tuan besar”
“Siapa itu tuan besar? Apa dia penjahat? Kenapa dia menculikku?”
“Semua pertanyaan nona akan di jawab oleh tuan besar, silahkan ikut kami” Ucap pelayan itu sopan padaku.
Aku mengikuti langkah mereka hingga ke sebuah ruangan. Begitu masuk ke ruangan itu langsung terasa nuansa klasiknya, banyak hiasan klasik dari kayu dan warna coklat yang mendominasi membaut tempat itu jadi terasa seperti berada di rumah lama pada zaman-zaman dulu.
“Kami akan menunggu di luar”
Begitu aku sudah masuk terlalu jauh dua pelayan yang tadinya mendapingiku pun keluar dan menutup pintu. Terlihat seorang pria parubaya sedang membaca sesuatu seperti dokumen dengan wajah serius. Begitu menyadari kehadiranku, dia pun meletakkan dokumen itu dan berjalan kearahku.
“Ayo duduk, apa kamu ingin minum sesuatu?”
“Pertanyaan yang familiar” Pikirku.
“Ah, tidak terima kasih!”
“Kamu pasti bertanya-tanya kenapa kamu berada di sini begitu membuka mata, ya’kan?” Pria tua itu bicara dalam bahasa china tapi entah kenapa aku paham dengan ucapannya meski aku tidak bisa membalasnya dengan bahasa yang sama.
“Apa yang anda inginkan dari saya?” Aku mencaba berbicara dalam habasa inggris dengan harapan kami bisa nyambung.
“Panggil saya kakek! Apa kamu hidup dengan baik di luar sana?”
“Kakek? Kenapa anda membawa saya ke tempat ini dan siapa anda?”
“Saya kakekmu, apa si Arya itu tidak memberitahukan padamu soal identitas keluarga ibumu? Ah, saya lupa kalau dia adalah teman dari anak kampung itu, pasti dia tidak ingin kamu tahu tentang kami”
“Jangan mengatakan hal buruk tentang Papa saya! Saya mau pulang!”
“Kenapa buru-buru” Kakek pun menuangkan segelas teh untukku. “Silahkan minum dulu”
“Tidak, aku tidak mau”
“Hahaha… saya lupa kalau kamu sama seperti ibumu, kalian tidak suka dengan rasa teh. Apa kamu mau segelas susu coklat?”
“Eum….” Sejenak aku berpikir apa aku boleh minum di tempat orang asing tapi sayangnya godaan susu coklat selalu tidak bisa aku kalahkan.
“Boleh, tapi hanya segelas!”
Lalu dia memanggil pelayan untuk membawakan aku segelas susu coklat dingin. Dia seakan tahu apa yang aku suka dan yang tidak aku suka, aku merasa asing di tempat itu tapi ada bagian dari dirimu yang tidak ingin pergi meninggalkan tempat itu.
“Apa kamu menyukainya?”
“Eum” Aku mengguk sambil terus meneguk susu coklat yang sangat enak itu.
“Apa kamu mau biskuit coklat ini?”
“Tentu” Aku terus saja memakan semua cemilan di depanku tanpa rasa curiga sedikitpun.
“Apa kamu suka? Kalau begitu kenapa tidak tinggal di sini saja?”
Begitu Kakek membahas soal tinggal aku langsung tersentak dan berhanti makan.
“Aku mau pulang!”
“Ku pikir kamu sudah lupa soal pulang! Sebelum memutuskan untuk pulang coba temui ibumu dulu, kalian bisa bicara dan setelah itu baru putuskan kamu akan tetap di sini atau tetap ingin kembali”
“Baik”
Lalu pelayan yang tadi mendampingiku pun datang dan kembali menuntunku ke ruangan lain. Sebenarnya aku lebih suka ruangan kakek karena di sana banyak cemilan enak dan kue yang belum pernah aku makan sebelumnya. Tak lama kami berhenti di depan sebuah ruangan, pelayan itu mengatuk pintu lalu kemudian membukanya untukku.
“Kami akan menunggu di sini, silahkan anda temui nona besar”
Lalu aku pun masuk ke ruangan itu, tempat itu terlihat hampir mirip dengan kamarku saat aku membuka mata tapi warnanya sedikit berbeda. Warna dominan ruangan itu adalah warna krim, hiasan dan bunga semuanya hampir sama hanya beda warna dari kamar ku yang tadi.
“Nama kamu, Azia Mutiara, ya’kan? Apa itu nama yang di buat agar kamu bisa masuk ke dalam keluarga ini dan agar kamu bisa menjadi tuan putri di rumah ini?” Ucapan dingin sambil membelakangiku meninggalkan rasa tidak nyaman dalam hatiku.
Wanita cantik bertubuh tinggi dan dari belakang saja dia terlihat sangat menawan dalam balutan dress berwarna abu-abu itu.
“Siapa yang menyuruhmu? Apa ini cara orang tua mu untuk mendapatkan harta kekayaan dari kami?” Dia terus saja membicarakan sesuatu yang tidak aku mengerti.
“Apa tujuanmu? Katakan saja sekarang sebelum kamu menyesal karena telah menipu kami” Ucapnya dengan nada dingin dan tatapan sinis.
Aku mulai hilang kesabaran saat mendengar ucapan wanita yang tidak pernah melihat kearahku saat bicara.
“Apa sih yang anda bicarakan? Saya hanya ingin pulang dengan tenang dan tolong berikan milik saya!”
“Sudah saya duga, kamu juga sama seperti mereka, meminta hak yang bukan miliknya! Lebih baik jangan bersandiwara lagi, katakan saja apa tujuanmu dengan begitu setidaknya saya akan berbelas kasih padamu dan keluarga yang mengirimu.”
“Apa?” Lalu dia berbalik dan melihat kearahku.
Sunggu wanita di depan ku itu terlihat bak bidadari, wajahnya sangat cantik, mata yang menatapku itu terlihat sangat indah. Meski dia tidak tersenyum tapi aku bisa melihat dia masih sangat cantik, apa lagi kalau tersenyum mungkin saja akan jauh lebih cantik dari saat itu.
“Kamu… Bagaimana bisa sangat…” Dia menghampiriku dan menyentuh wajahku seakan mencari celah dari setiap sisi wajahku.
“Apa kamu melakukan operasi plastik?” Tanya wanita itu dengan tatapan penuh curiga.
“Apa yang anda bicarakan? Lepas!” Aku mundur dan menjauh dari wanita cantik itu dan berjalan kearah pintu keluar. Aku berlari dari tempat itu secepat mungkin, aku menghindari kejaran para pelayan yang tadinya mendampingiku. Aku terus berlari dari kejaran para pelayan dan penjaga hingga berakhir di sebuah taman, aku bersembunyi di balik pagar bunga.
“Kamu siapa?” Terdengar suara kecil dan menggemaskan disampingku.
“Sejak kapan kamu di sini?” Tanyaku pada anak kecil yang mungkin usianya sekitar 4 atau 5 tahun.
“Kenapa kakak ada di sini?” Tanyanya dengan nada bicara anak-anak dan itu membuat aku gemas sekali.
“Kamu sangat menggemaskan! Tapi, nanti kita bicaranya, kakak sekarang mau menghindari penjaga dan pelayan yang mengejar kakak, apa kamu bisa bantu kakak agar tidak di tangkap oleh mereka?”
“Apa imbalannya?”
“Eum…” Aku mencari sesuatu yang bisa di jadikan imbalan lalu aku menemukan coklat yang belum sempat aku makan di kantong rok ku.
“Aku punya coklat tapi kamu harus membuat mereka menjauh dari tempat ini.”
“Baik”
Lalu anak itu pergi kearah pelayan yang sedang mencariku, mereka membicarakan sesuatu yang pada akhirnya membuat penjaga dan pelayan itu pergi kearaha lain.
“Mana imbalan, ku?” Tangan mungil itu di ulurkan kearahku.
“Ni coklat milikmu! Eh, kenapa kamu bisa bicara bahasa inggis di usia segini?”
“Itu karena Papa orang Inggris” Jawabnya singkat sambil mencoba membuka bungkus coklat.
“Sini biar aku bantu!” Aku mengambil coklat itu lalu membuka bungkusnya untuk anak itu.
“Ini”
“Terimakasih!” Lalu dia melahap coklat itu dengan cepat.
“Apa kamu punya handphone?”
“Punya, apa kakak mau meminjamnya?”
“Iya, aku mau pinjam”
“Tunggu di sini!” Lalu anak kecil itu kembali masuk ke dalam dan tak lama kemudian dia kembali dengan sebuah handphone yang entah dari mana dia dapatkan.
“Ini untuk kakak”
“Terimakasih adik kecil” Aku mengusap rambutnya, lalu kemudian aku mencoba mengingat nomor orang yang bisa aku hubungi saat itu.
“Andi di jam segini pasti di sekolah atau sedang latihan basket, Mia dan Fara juga pasti masih di sekolah, aku harus menghubungi kak Alex dan meminta bantuan” Pikirku sambil mulai mengetik nomor kak Alex.
Aku mencoba menghubungi kak Alex beberapa kali tapi dia tidak mengangkatnya. Aku tidak langsung putus asa, aku ingat nomor Bunda Andi itu hampir mirip dengan nomor milikku jadi aku mencoba menghubungi Bunda. Untungnya Bunda itu adalah orang yang paling mudah di hubungi jadi sekali telpon langsung di angkat.
“Halo, Bunda! Ini Azia, Bunda apa bisa minta tolong jemput Azia di…”
“Sayang, kamu ini di negara apa?” Tanyaku pada anak mungil itu.
“Singapura”
“Bunda, bisa tolong jemput Azia di singapura?”
“Kenapa kamu di sana sayang? Untung Ayah masih di sana, kamu langsung saja ke bandara biar Ayah yang urus penerbanganmu.”
“Nanti Azia ceritakan tapi, Azia tidak bisa ke bandara, apa Ayah bisa jemput Azia ke alamat yang Azia berikan saja?”
“Biar Bunda bicara sama Ayah nanti, kamu kirim saja dulu alamatnya”
“Baik, terima kasih bunda”
Lalu aku memenanyakan alamat pada anak kecil itu dan setelah itu mengirimnya ke Bunda.
“Apa kamu bisa bantu kakak keluar dari rumah ini?”
“Bisa, tapi ada coklat lagi?”
“Kalau kakak bisa keluar, nanti kakak akan minta Ayah kakak buat bawa coklat untukmu, bagaimana?”
“Kakak janji?”
“Iya, janji sayang”
Bersambung…