
Setelah selesai makan ikan bakar buatan chef Andi, kami tidak langsung beristirahat menunggu datangnya langit jingga yang konon katanya sangat indah untuk dinikmati bersama-sama orang tercinta. Andi mengusulkan permainan yang menurut dia itu menyenangkan dan bisa mengetes seberapa tahu seseorang tentang orang lain.
“Ayo kita main permainan yang menyenangkan?”
“Permainan apa?” Tanya Fara yang penuh semangat menanggapi Andi.
“Permainan ini disebut ‘seberapa tahu kamu tentangnya’ jadi aturan mainnya gampang banget, yang gak tau jawabannya dihukum dengan cara dipukul 2 kali dan kalau bisa jawab dia boleh langsung melempar pertanyaan pada orang lain, gimana?”
“Menarik, ayo kita coba” Ucap Mia yang tertarik dengan penjelasan Andi.
“Boleh deh, dari pada gak ada kerjaan”
“Karena semuanya setuju..”
“Aku gak bilang setuju tuh” Kak Alex tiba-tiba menyela ucapan Andi.
“Kita itu dengar pendapat yang banyak bukan pendapat sendiri-sendiri, udah pokoknya aku mulai dari Fara. Apa kesukaanku?” Ucap Andi tegas dan tidak peduli dengan kak Alex yang tidak ingin ikut bermain.
“Nasi goreng pedas” Jawab cepat Fara tanpa ragu.
“Yup!” Angguk Andi dengan memberikan dia jempol pada Fara.
“Giliranku, aku mau ke Azia. Kapan terakhir kali Andi pacaran?” Tanya Fara pada ku.
“Pertanyaan yang cukup bagus, ya?!” Ucapku sambil tersenyum melirik kearah Fara yang sebenarnya sangat ingin tahu jawaban dariku.
“Saat kamu ajak dia jalan, setelah itu dia belum ada pacar” Jawabku.
“Salah” Jawab Andi cepat.
“Kapan kamu punya pacar lagi?”
“Kemarin aku baru pacaran sama adiknya si Kiki, kalian ingatkan sama Riska yang imut itu?” Ujar Andi penuh percaya diri.
“Oh aku tahu! Karena Azia salah ayo pukul!”
Saat mereka akan memukulku kak Alex menghalanginya dengan tubuh kak Alex sambil memelukku. Melihat hal itu mereka malah memukul kak Alex melebihi kesepakatan dan dengan kekuatan yang kencang dan penuh semangat.
“Udah dong! Kak Alex kan sakit!” Bentakku pada mereka.
“Salah sendiri, ya kan?” Ucap Mia yang tidak merasa bersalah sama sekali.
“Betul itu! Ayo lanjut! Karena Azia salah, sekarang masih tetap giliran Andi.”
“Aku suka nih! Aku kasih pertanyaan yang paling gampang deh buat pacar tercinta Azia, Alex berapa usia Azia yang sebenarnya?”
“17”
“Salah!”
Lalu Mia dan Fara langsung maju untuk memukul kak Alex tanpa mendengar jawaban dariku dan di ikuti Andi yang tersenyum puas saat bisa memukul kak Alex tanpa perlawanan.
“Udah dong!” Aku mencoba menghentikan mereka yang terus memukul kak Alex.
“Tunggu dulu! Bukannya emang 17, ya’kan dek?”
“Sebenarnya aku lahir tu tahun 2001 jadi, umur aku tu masih 15 tahun, terus kakak pasti mikir kenapa di data aku tahun lahirnya itu 1999, itu karena aku loncat kelas biar bisa satu kelas dengan Andi dulu”
“Kenapa harus satu kelas dengan Andi?” Wajah kak Alex terlihat mulai masam.
“Itu karena waktu kecil banyak hal buruk yang terjadi padaku, Andi saat itu adalah orang yang aku anggap bisa melindungiku dan membuat aku merasa lebih baik makanya…”
“Oke aku paham, lanjut!” Kak Alex menyela ucapanku dengan nada kesal.
“Kakak gak akan cemburu karena masalah itu, ya’kan?”
“Cemburu? Yang benar saja, gak akan! Ayo lanjut” ucap kak Alex dengan nada datar.
“Karena masih giliranku aku mau lempar pertanyaan pada si imut Mia. Apa kebiasaan buruk Azia dan Fara?” Lanjut Andi yang masih menjadi pemenang dari beberapa ronde terakhir.
“Azia, huem…. Mungkin... terlalu ambisius hingga sering melupakan kesehatan diri sendiri, lalu kalau Fara… Kebanyakan begadang nonton drakor dan sering ngebahas kamu itu aja kebiasaan buruknya”
‘dring!’ handphone kak Alex terus saja berdering di tengah-tengah permainan.
“Maaf ya, aku harus pergi dulu” Lalu kak Alex menjauh beberapa meter dari kami.
Aku terus melirik kak Alex yang sepertinya sedang berbicara dengan seseorang yang penting hingga terlihat wajahnya sangat serius saat bicara.
“Woi! Mumpung si Alex lagi jauh, aku mau kasih tahu kalian sesuatu” Ucap Mia dengan nada berbisik.
“Kak Hendrik kemarin bilang kalau ada yang tiap hari ngirimin makan, bunga, minuman ke si Alex. Coba pikir deh, kalau bukan wanita siapa lagi yang akan melakukan hal semacam itu?”
“Ah, aku tahu mungkin saja penggemarnya?!” Ucap Andi yang masih positif thinking.
“Bukan, kak Hendrik juga nanya sama aku apa Azia dan Alex udah putus karena Alex sering banget berduaan sama cewek lain di rumah sakit”
“Wih… Dah mulai deh! Azia, kamu harus lebih ekstra hati-hati mulai sekarang, lalu kalau bisa sih kamu langsung aja bergerak sesuai rencana kalian dulu”
“Oke, aku akan berusaha!” Ucapku penuh semangat tempur.
“Berusaha apa?” Kak Alex yang datang tanpa bersuara cukup mengagetkan kami semua.
“Ah, tidak ada” Mia dan Fara mulai salah tingkah, sedangkan Andi langsung mengambil langkah seribu dengan alasan mau ke kamar mandi.
“Kalian lagi bahas apa? Kelihatannya serius sekali?” Tanya kak Alex penasaran.
“Nggak ada bahas apa-apa, ya’kan Azia?”
“Eh, Ah itu… Iya, iya gak bahas apa-apa” Ucapku untuk meyakini kak Alex.
“Udah sore nih, ayo kita masuk ke rumah dan bersih-bersih dulu sebelum lanjut kampingnya?”
“Iya, ayo!” Aku langsung berjalan paling depan dan sedikit berlari.
Saat malam tiba, tepatnya setelah makan malam kami kembali ke tenda dan menyalakan api unggun. Suasana agak dingin tapi terasa lebih hangat dengan kebersamaan kami yang berada di dekat api unggun sambil bernyanyi-nyanyi asal-asalan.
“Di bawah rembulan dan angin malam, aku duduk di dekat api yang menyala, hangatnya tak seberapa jika dibandingkan dengan pelukan mu sang gadis pujaan” Lalu asal-asalan Andi yang bertujuan untuk menggoda Mia yang duduk di depannya.
Fara menyadari kalau Andi masih saja melirik kearah Mia dan mencoba menggoda Mia dengan suaranya yang sebenarnya cukup bagus. Fara yang kesal akhirnya mencubit pinggang Andi yang duduk di sampingnya sambil memainkan gitar dan matanya yang tak lepas dari Mia.
“Au! Sakit tau!” Andi menepis tangan Fara yang mencubitnya.
“Kamu ini kenapa sih? Gak suka dengan nyanyianku yaudah bilang aja, gak perlu lah kamu pakai cubit segala”
“Hahaha… Yang jadi masalah itu bukan nyanyian mu tapi, mata kamu itu Andi gak lepas dari Mia, ya wajar kalau Fara marah” Ucapku sambil terus tertawa geli melihat tingkah mereka.
“Au, ah!” Andi terlihat kesal dan kemudian dia pindah tempat duduk di dekat kak Alex.
Semakin larut malam itu, semakin dingin pula suasananya. Kak Alex bangun dan masuk ke tenda, tak lama kemudian dia kembali dan menyelimuti aku dengan selimut tebal miliknya sambil memelukku.
“Azia, kalau suatu hari aku bilang mau pergi untuk melanjutkan studi apa kamu gak masalah?” Ucapan kak Alex yang tiba-tiba itu membuat aku sejenak terdiam dan terasa sedikit sakit di dadaku meski aku tidak ingin menunjukkannya pada siapapun.
“Gak dong, lagian mana mungkin aku mau jadi penghalang untuk kakak menggapai mimpi, bahkan aku tidak mau ada orang yang menghalangi mimpiku. Kenapa?” Tanyaku penasaran sambil merebahkan kepalaku ke dada kak Alex yang duduk di sampingku.
“Apa kamu tahu, beberapa kejadian hari ini cukup membuat aku terkejut dan gelisah?!” Kak Alex mencium kepalaku dari belakang dengan tangan masih memeluk erat tubuhku yang terbalut dengan selimut tebal.
“Hal apa?” Tanyaku penasaran.
“Aku baru tahu kalau usiamu masih 15 tahun, artinya harus menunggu sekitar 3 atau 4 tahun lagi untuk bisa menjadikanmu istri, ya’kan?” Ucap kak Alex yang terdengar serius.
“Lalu apa masalahnya? Apakah kakak tidak mau menunggu?”
“Bukan seperti itu, sayang! Meski seribu tahun pun akan menunggu tapi, aku cukup kaget dengan fakta bahwa kamu masih anak kecil, pantas saja waktu itu kamu mengatakan kalau kamu masih dalam masa pertumbuhan, wajar kalau tinggi dan wajah kamu itu masih menggemaskan.”
“Kak, aku ni udah dewasa! Pokoknya aku bukan anak-anak!”
“Iya, iya sayangku mana mungkin anak-anak. Lalu, tadi Paman juga memintaku untuk bersiap agar bisa segera pergi ke Amerika beberapa bulan lagi.”
“Apa? Kakak mau pergi? Apa kakak sengaja untuk meninggalkan aku yang ternyata bukan cewek dewasa seperti yang kakak harapkan?” Aku berdiri dan pergi dari tempat itu.
“Azia mau kemana?” Tanya Andi yang tadinya masih asik nyanyi-nyanyi dan menggoda dua cewek yang ada di depannya.
Aku tidak menjawabnya lalu kak Alex menyusul langkahku.
“Kenapa dua anak itu?”
“Biasalah, mereka kan udah setahun pacarannya, pastinya bakalan banyak pertengkaran, tapi tenang aja, nanti juga baikan lagi. Lanjut aja!”
Sementara mereka masih asyik dengan cara api unggun yang menangkan sambil bernyanyi-nyanyi bersama, aku dan kak Alex sudah berada di tepi danau yang pada saat itu cukup di terangi dengan sinar rembulan yang seakan sebuah lampu yang menerangi tempat itu.
“Kak Alex sekarang pasti minder, iya’kan? Kakak pasti kecewa dan gak suka lagi sama aku yang masih anak-anak ini, ya’kan?” Aku mulai menangis dengan pikiran yang sudah mereka apa yang akan terjadi kedepannya untuk hubungan kami berdua.
“Azia, dengerin aku tidak pernah mempermasalahkan usiamu, karena sebenarnya yang dirugikan di sini bukan aku tapi kamu, sayang! Sekarang saja aku sudah berusia 23 tahun, saat kamu akan berusia 22 tahun dan siap untuk menjadi istri, kamu pasti akan melirik yang lain karena saat itu mungkin aku tidak setampan dan sebaik saat ini sayang” jelasnya pelan-pelan padaku.
“Kak, aku mencintai kakak itu tulus dari hati, mau kakak cacat, tua, tidak tampan, asal itu kak Alex yang aku kenal maka, itu bukan sebuah alasan untuk tidak mencintai dan malah meninggalkan kakak!”
Bersambung