Obsession Of Love

Obsession Of Love
Di titipkan



2 hari sebelum keberangkatan Azia dan Bastian ke Indonesia, Xu mengatur sebuah kencan romantis untuk keduanya di sebuah restoran yang terbaik yang tidak lain merupakan milik keluarga Bastian.


“Kamu terlihat cantik malam ini, my queen” ucap Bastian pada Azia yang terlihat tidak peduli.


“Apa kamu sudah memesan?” Tanya Azia to the point.


“Udah, aku memesan menu terbaik tempat ini, kamu akan suka”


“Hem”


Bastian mencoba meraih tangan Azia, namun perempuan itu sengaja menghindar hingga Bastian tidak bisa menyentuhnya.


“Apa aku tidak boleh menyentuh tanganmu?” Tanya Bastian dengan raut kecewa.


“Bastian, kenapa akhir-akhir ini kamu semakin tidak dewasa, sifatmu semakin hari semakin kekanan-kekanan, cobalah untuk dewasa dan jangan terus menunjukkan ekspresi menyebalkan itu.” Keluh Azia kesal.


Bastian sedikit menunduk, wajahnya murung dan merasa bersalah, “Maaf” Ucapnya dengan nada bersalah.


“Jangan cemberut di depanku, aku tidak suka melihatnya”


Makan yang mereka pesan pun akhirnya datang, beberapa kali Bastian mencoba menarik napas, “Aku akan mencoba menjadi lebih dewasa untukmu”


“Bukan untukku Bastian, tapi untuk diri kamu sendiri, kamu itu lebih tua dariku, bersikaplah sesuai usiamu.” Tegas Azia yang menjadi renungan serius untuk Bastian.


Kediaman Bastian cukup lama tidak membuat Azia peduli, Azia tetap sibuk dengan handphone miliknya, entah pesan dari siapa yang terus masuk tapi, dia benar-benar teralihkan pada pesan-pesan itu. Sedang Bastian yang selesai dengan renungannya kini fokus menatap Azia yang berada di depannya, dilihatnya perempuan cantik itu dengan lekat, ada senyum tipis terukir di wajahnya, meski tersirat sendu di tatapannya, entah apa yang sedang dia pikirkan saat menatap perempuan yang menyandang status tunangannya tersebut.


Tatapan Bastian cukup membuat Azia terganggu dan hilang fokus, bukan malu yang dia rasa saat di tatap pria blasteran Indonesia eropa itu, tapi dia lebih merasa risih dan muak karena terus di tatap oleh orang yang duduk berhadapan dengannya. “Mau sampai kapan kamu ingin menatapku?” Tegur Azia dengan melirik sinis ke arah Bastian, lalu ia meletakkan handphonenya di meja dan fokus pada laki-laki itu.


“Cantik” Kata itu yang tiba-tiba terucap dari bibir seksi laki-laki itu.


“Hah?” Azia menatap penuh tanda tanya pada pria itu, “Kamu…” Saat Azia hendak mengatakan sesuatu, tiba-tiba saja pramu saji datang dan menyajikan makanan yang mereka pesan.


“Terima kasih” Ucap Azia pada pramu saji tersebut, yang dibalas sebuah anggukan dan senyum lebar dari laki-laki yang berusia sekitar 25 tahun itu.


“Mau aku potongin dagingnya untukmu?” Tawar Bastian saat pramusaji itu telah pergi dan Azia fokus melihat makanan yang sudah dihidangkan di depan mereka.


“Aku bisa sendiri. Ayo selesaikan makannya lalu pergi, aku ingin ke kantor sebentar”


“Untuk apa? Bukannya besok? Kakek mengatakan besok kamu akan mulai masuk ke kantor dan menggantikan kakek sebagai direktur?”


“Heum. Bastian, apa kamu tidak terlalu dekat dengan kakek? Kalian seperti cucu kandung di bandikan cucu menantu, aku sedikit terganggu dengan kedekatan kalian, jangan terlalu…”


“Tapi Azia, kakek itu sudah seperti kakekku sendiri, dari kecil aku sudah dekat dengan kakek, lalu apa aku salah kalau dekat dengan kakek?” Ucapan Bastian membuat Azia terdiam.


Keduanya kini hanya fokus pada makanannya, tidak ada lagi pembicaraan yang mereka bicarakan. Azia tidak tau harus merespon bagaimana ucapan Bastian yang isinya memang fakta, fakta kalua Xu lebih dekat dengan Bastian karena mereka sudah kenal dari kecil karena Bastian adalah cucu tunggal dari sahabat Xu yang telah meninggal beberapa tahun yang lalu. Sedangkan Bastian diam karena merasa suasana hati Azia sedang tidak baik untuk memulai pembicaraan lain lagi, ekspresi kesal Azia terlihat kentara hingga membuat Bastian merasa takut untuk memulai bicara. Tempat itu terasa cukup hening, mungkin karena ruangan yang mereka tempati adalah ruang VIV yang sangat privat dan kedap suara, karena itu selain suara AC ruangan, maka tidak ada suara lain yang bisa mengusik ketenangan mereka saat ini.


Dringg…


Suara handphone Azia sedikit memecah hening diantara mereka, di layar handphone tertera nama ‘Leon’ salah seorang sepupu dari Anak pertama dari Xu.


“Adik sepupu ku yang cantik, baik hati, pengertian, penuh kasih sayang….”


“Cukup! Langsung ke intinya? Kamu mau bantuan apa kali ini?” Tanya Azia to the point.


“Hehehe… Kamu sangat peka adik kesayanganku, bisa jaga Zuzu untuk 2 minggu ini?” Pintanya dengan nada lembut.


“Tidak! Aku sibuk, itu anak mu kenapa aku yang harus repot?” Ketus Azia dingin.


“Hei jangan begitu, dia kan anak angkat mu, kamu harus menjaga dia, dia paling mencintaimu daripada aku yang ayah kandungnya. Please, ini hanya 2 minggu saja, tidak lebih, aku janji akan melakukan apapun yang kamu mau setelah ini” Ucapnya dengan nada memohon.


“Cih! Memangnya kamu mau kemana?”


“Itu… Aku ada urusan bisnis di Australia, Cici ikut denganku, kami tidak bisa membawa Zuzu karena dia… kamu tau kan kalau dia anak yang terlalu aktif” Ucapnya beralasan.


“Jangan menipuku, katakan saja kalau kamu ingin melakukan tour dengan istrimu, kalian pasti ingin berkencan di berbagai negara lagi, kan?”


“T-tidak kok, ini beneran bisnis. Percayalah” Ucapnya sedikit terbata-bata.


“Jujurlah, jika jujur akan mempertimbangkan permintaanmu” Ucap Azia dingin.


“Oke, aku jujur, sebenarnya Cici sedang hamil 3 bulan, dia mengidam ingin makan makanan beberapa negara secara langsung, jadi aku terpaksa mengikuti keinginannya. Zuzu tidak mungkin ikut kami, dia sangat merepotkan, Cici sudah cukup membuat aku pusing, setidaknya Zuzu, kamu saja yang urus, dia kan anak angkat mu” ucapnya.


“Kenapa Cici hamil lagi, Zuzu masih 3 tahun, kalian ini memang keterlaluan, sekarang dimana Zuzu?”


“Dia ada di apartemenmu, aku dan Cici sudah di jalan menuju bandara, tolong jaga putri kami, salam hangat dari Cici untuk mu bye!” Ucap Leon sebelum memutuskan panggilan itu.


Trak!


Azia memukul meja dengan kesal, “Dasar orang tua gila, bisa-bisanya dia meninggalkan anaknya di apartemenku sendirian!” Azia bangun dan dengan cepat mengambil jas dan juga tas kecil miliknya, dengan langkah cepat dia melangkah menuju pintu keluar.


“Azia tunggu!” Bastian mencoba berlari kecil menyusul Azia yang sudah berlari cepat menuju parkiran.


Azia cukup panik karena memikirkan Zuzu, anak dari sepupunya yang bernama Leon. Sebenarnya Azia tidak berniat mengangkat Zuzu menjadi anak angkat tapi karena suatu kejadian dimana karena kepercayaan keluarga dan demi keselamatan Zuzu, Azia terpaksa menjadikan Zuzu anak angkatnya. Dulu saat Zuzu baru lahir, entah kenapa anak itu sangat rentan sakit dan sulit untuk menerima asi, namun saat Azia mencoba merawat Zuzu saat usia 3 bulan karena permintaan dari sesepuh keluarga pihak ibu Zuzu, akhirnya Zuzu menjadi lebih sehat dan mau untuk menerima asi meskipun dia tidak mau meminumnya secara langsung dari ibunya tapi, setidaknya dia mau minum asi dari botol susu yang diberikan oleh Azia. Setelah kejadian itu Azia diminta untuk menjadi ibu angkat dari Zuzu dan hingga saat ini Azia masih sangat dekat dan menyayangi Zuzu seperti anak kandungnya sendiri.


“Kenapa kamu buru-buru sekali sih?” Tanya Bastian yang mencoba menahan Azia.


“Zuzu sendirian di apartemenku, aku takut dia kenapa-kenapa, kamu kan tau sendiri dia anak yang terlalu aktif hingga bisa membuat dirinya sendiri celaka. Ayo cepat ambil mobil kita temui Zuzu sekarang.” Ucap Azia penuh kekhawatiran pada putri kesayangannya itu.


.


.


.


Next....