Obsession Of Love

Obsession Of Love
Renggang 2



Waktu terus berlalu, Alex sangat disibukkan dengan jadwal operasi yang padat di tambah banyak pasien masuk akhir-akhir ini hingga membuat dia tidak memiliki pilihan selain ikut membantu rekan kerjanya untuk mengurus para pasien tersebut.


“Lex, sorry ya, gara-gara Lia dan Kenan sakit lo malah harus gantiin mereka jaga di sini”


“Is oke. Aku senang bisa membantu, lagian selama ini mereka berdua juga ikut repot karena aku ambil cuti. Anggap aja ini semua ganti rugi karena aku sering merepotkan mereka.”


“Makanya lain kali jangan keseringan cuti, lo di tegur kan sama kepala gara-gara ambil cuti beberapa hari yang lalu”


“Iya, aku tau. Tapi, ya, bagaimana ada masalah lain yang enggak bisa aku tunda. BTW, kamu aku bisa minta tolong nggak?”


“Tolong? Tolong apa? Kalau nggak melibatkan nyawa, gue usahain deh!”


“Ada-ada aja, aku cuma minta tolong supaya kamu mampir ke rumah dan tanya sama penjaga rumah apa, Azia ada pulang atau enggak”


“Yaelah, gitu doang, gue pikir apa. Kenapa enggak tanya langsung sama orangnya?”


“Pengennya gitu tapi, beberapa hari ini dia sulit dihubungi, sekretarisnya mengatakan kalau dia sibuk dan tidak ingin diganggu. Salah nggak sih kalau aku curiga? Aku tau dia sibuk tapi, masa nggak bisa kirim kabar ke suaminya.”


“Kalau itu sih… gimana ya, gue nggak berani komen tapi, ya menurut gue. Menurut gue aja nih ya, mungkin nggak sih kalau istri lo tu ada apa-apa sama si sekretaris barunya itu, secara gitu tu anak kan seumuran, terus gue lihat penampilannya oke lah, dan paling penting dia lebih banyak menghabiskan waktu sama tu manusia, ya bisa aja kan kalau istri lo… lo tau sendiri lah apa yang gue maksud.”


“Nggak! Azia enggak kek gitu orangnya.”


“Yakan gue bilang tadi, itu cuma menurut gue aja. Cuma pendapat, lo boleh ambil dan boleh enggak. Udah ah, jam istirahat kita udah habis, go lanjut kerja, bro!”


Ucapan rekan kerja Alex cukup membuat dia overthinking soal Azia yang tidak ada kabar beberapa hari ini.


“Masalah rumah tinggal di luar, jangan bawa ke tempat kerja, fokus Alex.” Tegur rekan Alex yang melihat raut wajah Alex yang terlihat gusar dan tidak fokus saat berjalan.


“Iya, aku paham”


Keduanya kembali ke pada kegiatannya untuk memeriksa pasien.


*


*


*


AZIA POV


Semua terasa kacau hanya karena kecerobohan satu manusia, sangat memuakkan, aku sudah berusaha sekuat tenaga agar tidak ikut dalam pertarungan perebutan posisi Direktur di perusahaan kakek tapi, gara-gara sepupu yang selama ini aku dukung malah melakukan kesalahan dengan penggelapan sejumlah dana perusahaan cabang milik kakek, akhirnya posisi utama untuk menjadi penerus kakek kembali kosong. Sekarang Azuma dan Kenta akan mencoba merebut posisi itu, dan artinya aku akan diikutsertakan dalam kompetisi mengerikan ini.


“Direktur, tuan Alex terus…”


“Alham, diamlah! Aku sedang pusing!”


“Tapi… Tuan Alex dia…”


“Baik. Lalu bagaimana dengan…”


“Alham, sebaiknya tutup mulutmu atau aku pastikan ini hari terakhir kamu bisa bicara, paham!” Ancamku kesal.


Alham pun bungkam, lalu ia segera keluar dari ruanganku.


Padahal bisnisku sedang berkembang tapi, masalah lain malah muncul, jika aku diam aja maka kakek pasti akan turun tangan dan membuat aku terpaksa ikut bersaing dengan sepupu gila itu.


“Apa yang harus aku lakukan?” Gumam ku kesal.


Tok tok tok…


“Direktur, saya bawakan segelas susu hangat, apa saya boleh masuk ?” Tanya Alham ragu dan sedikit takut.


“Eum”


Ia masuk dan meletakkan cangkir berwarna mint di meja, lalu ia berdiri di depan meja sambil menunggu aku mengambil minuman itu.


“Apa anda yakin ingin ke singapura? Saya rasa itu bukan pilihan yang tepat untuk saat ini, apa lagi hari ini ada meeting dengan investor dari Jepang. Sebaiknya anda pertimbangkan ulang soal keberangkatan anda itu.”


“Gara-gara semua masalah yang terjadi akhir-akhir ini, aku sampai lupa soal jadwal meeting hari ini. Tapi, jika aku tidak pergi sekarang, bagaimana kalau kakek melakukan sesuatu terhadap bisnis ku? Dia itu sangat keras kepala dan selalu melakukan segala cara agar tujuannya tercapai.”


Alham menarik kursi yang disampingnya lalu duduk dan bersiap memberi nasehat.


“Memangnya kalau kamu pergi ada yang akan berubah? Aku juga kenal siapa kakek mu itu, dan tidak akan ada yang berubah meski kamu memohon agar dia tidak memintamu menjadi kandidat penerusnya.”


Aku menarik pelan cangkir berisi susu hangat lalu mulai meminumnya sambil mencoba membuka pikiranku dan memahami situasi.


“Heum! Aku juga tidak yakin. Btw, makasih buat minumannya” Rasa susu coklat hangat cukup untuk membuat otakku berhenti meracau gila. “Tapi aku tidak bisa memikirkan hal lain saat ini, beberapa hari ini saja kita sudah kehilangan 2 investor besar hanya karena aku menolak untuk ikut dalam rapat keluarga kemaren.”


“Makanya, mending hari ini kita meeting aja sama investor Jepang, meski tidak akan bisa menutupi seluruh kerugian karena penarikan 2 investor kemarin ya, setidaknya ini sedikit memperbaiki keadaan, ya’kan?”


“Tidak sia-sia juga kamu jadi sekretarisku, ada faedahnya, bagus juga nama mu alham kalau di sambung sama dulillah kan jadi alhamdulillah hahaha” ucapku dengan tawa kecil yang tidak bisa aku tahan lagi.


“Tertawa lah selagi kamu senang, dasar teman tidak akhlak” Ketusnya.


“Cielah, ngambek. Daripada ngambek mending siapkan semua keperluan meeting sore ini. Dan… Kamu lupa ya kalau ini jam kantor, jaga cara bicaramu dengan atasan” Tegur ku yang baru menyadari kalau Alham bicara seolah kami teman bukan atasan dengan bawahan.


“Dih, udah di kasih pencerahan malah masih ingat aja aturan aneh itu. Iya deh, lain kali aku akan perhatian cara bicaraku, BU DIREKTUR YANG TERHORMAT” Ucapnya sebelum meninggalkan ruangan.


“ALHAM! Makasih ya buat semuanya, nanti bonus menyusul” Teriakku pada Alham sebelum dia benar-benar keluar dari pintu.


Alham yang menutup pintu hanya mengangguk dengan sebuah senyum ramah seperti biasa. Kadang aku merasa jahat karena bersikap seperti pada dia tapi, mengingat hubungan di masa lalu aku lebih ingin memperjelas jarak diantara kami agar tidak ada kesalahpahaman seperti dulu.


“Andah hal buruk di masa itu tidak terjadi, aku rasa kita bisa menjadi teman baik. Jika sekarang kita memulai lagi dari awal apa bisa? Apa kali ini kita bisa saling menguatkan dan bukan saling menjatuhkan? Aku harap kali ini aku tidak kecewa lagi Alham”