
Satu hari setelah kejadian itu, Alex datang ke Paris menemui istri tercintanya yang sedang sangat sibuk karena beberapa urusan.
‘Dring Dring’
Handphone Azia terus berdering tapi Azia tidak menjawabnya karena dia sedang sangat sibuk dengan beberapa proposal yang akan dibawanya ke meeting kali ini. Handphone itu terus saja berdering beberapa kali tapi Azia benar-benar tidak memperhatikannya, mungkin suaranya yang kurang keras atau dia yang terlalu fokus.
‘klak’
Alham masuk ke kamar dan membawakan Azia beberapa buah-buahan dan sebotol jus, dia berjalan tanpa bicara dan meletakkan makanan itu di meja tidak jauh dari Azia. Lalu matanya teralihkan pada handphone Azia yang terus berdering tanpa henti.
“Hallo!” Pada akhirnya Alham menjawab panggilan itu meski tidak meminta persetujuan dari Azia.
“Kenapa kamu yang menjawab panggilan saya? Dimana dia?” Tanya Alex dengan nada kesal.
“Ibu Azia sedang bekerja, dia tidak bisa diganggu, jika anda ingin menghubunginya lagi nanti”
“Kalian tinggal dimana?” Tanya Alex yang masih dalam nada kesal.
“Di hotel xx”
Setelah mendapatkan alamat tempat tinggal Azia, dia pun bergegas pergi ke tempat itu. Begitu sampai di hotel dia melihat Azia dan Alham sudah di lobi dan hendak berangkat, dia mencoba menghampiri keduanya tapi saat dia ingin menyapa Azia, Azia malah hanya melirik sekilas lalu terus melangkah. Untungnya Alham tidak pergi dari tempat itu dan langsung merangkul Alex sedikit menjauh dan memberikan kunci kamar Azia padanya.
“Nih kunci kamar bu Azia, anda tunggu saja di sana.”
Alex tidak mengubris ucapan Alham dan dia terus memandangi Azia yang sudah jauh.
“Jangan terlalu dipikirkan, dia hanya sedang marah pada dirinya sendiri. Dia baru saja kehilangan investor besarnya kemarin, jangan hubungi dia untuk saat ini, tunggu kami kembali dan semua akan baik-baik saja nanti.” Lalu Alham pun pergi menyusul Azia.
“Apa dia tidak suka dengan kehadiranku?” Pikir Alex sedih lalu dia pergi menuju kamar.
*
*
*
Entah berapa lama menunggu tapi ketika Alex sadar langit sudah berubah warna, dari cerah menjadi gelap dan Azia tidak kunjung kembali. Dia menatap layar handphone ya tapi tidak ada satu pesannya yang dib alas Azia hingga dia berpikir akan sia-sia jika dia menghubungi Azia sekarang. Setelah berpikir panjang dan membuang egonya, akhirnya dia memutuskan menghubungi Alham.
“Halo Al, kalian dimana?”
“Di loby, tolong kesini” Terdengar suara perempuan lembut yang cukup familiar di telinganya.
“Azia, kenapa kamu yang jawab panggilannya?”
“Udah nanti kita bicarakan, sekarang kak Alex kesini dan bantu aku bawa Alham ke kamarnya.”
Setelahnya Alex bergegas turun dan membantu Azia membawa Alham ke kamarnya.
“Apa yang terjadi?”
Alex merangkul Alham yang sudah tidak sadarkan diri akibat mabuk. Pria putih bak susu itu terlihat sangat merah seperti udang rebus, dia diam tanpa suara seolah tidur tapi dia masih sedikit sadar untuk bisa menggerakan kakinya berjalan walau tidak terlalu bertenaga.
“Dia menggantikan aku minum dengan klien tadi jadi… Nanti saja kita bicaranya ayo bawa dia ke kamarnya”
Pada akhirnya Alex lah yang menggendong Alham hingga ke kamarnya karena dia tidak sabar sekali menunggu langkah lemot Alham saat berjalan padahal dia sudah lama menunggu agar bisa bicara berdua dengan istrinya.
Setelah mengantarkan pria mabuk itu, dia kembali ke kamar Azia tentunya bersama Azia di sampingnya.
*Kamar Hotel
“Kapan kakak sampai?” Tanya Azia yang kini sedang merebahkan diri di kasur.
Alex tidak langsung menjawab pertanyaan Azia, dia berjalan mendekat dan duduk disamping Azia yang sedang mencoba menutup mata.
“Apa tidak masalah mengambil cuti lag?” Tanya Azia lagi.
“...” Alex hanya diam memperhatikan wanita yang sangat dirindukannya tapi, karena rasa kesalnya, semua itu dipendam dalam pikiran dan hatinya saja.
“Kenapa diam?” Azia bangun, lalu menatap mata Alex yang sedari tadi mengamatinya.
“Tuan Alex, bisa buka mulutnya?” Tanya Azia dengan nada formal, ekspresinya cukup jelas cemberut tapi dia mencoba untuk tidak berkata-kata kasar pada suaminya yang masih diam sedari tadi.
Alex masih saja tidak merespon, tangan nya malah bersilah di dada seolah sedang marah.
“Oh mau diam, oke! Bye!” Azia turun dari tempat tidur dan langsung ke kamar mandi.
Alex masih saja diam, bahkan sampai Azia sudah selesai mandi dan bersiap untuk tidur.
“Besok kita pulang”
Tiba-tiba Alex mengatakan hal yang tidak terduga hingga membuat Azia yang tadinya sudah berbaring di tempat tidur, kini kembali terduduk kaget.
“Hah? Maksudnya gimana?”
“Besok kita pulang, tidak ada bantahan!” Tegas Alex lalu dia pun melepas sepatunya dan menarik selimut.
“Tidak ada perdebatan.” Alex pun menutup mata, sedang Azia menatap kesal tanpa bisa berkata-kata lagi.
*PAGI
Untungnya Azia bangun lebih pagi dari Alex jadi dia bisa langsung pergi dari hotel tanpa harus melalui perdebatan. Karena keadaan Alham tidak memungkinkan untuk ikut meeting, pada akhirnya Azia mengurus semua sendiri, mengatur keperluan meeting dengan kliennya hari itu.
Sedang Alex, yang bangun di pagi hari sudah panik karena tidak menemukan siapapun di sampingnya. Segera dia menghubungi Azia tapi, Azia tidak menjawab panggilan atau pesan dari Alex, hingga pria itu terpaksa menghubungi Alham.
Tuu… tu…
“Hallo! Kalian dimana?” Tanya Alex dengan nada dingin.
“Saya masih di kamar, pak. Direktur… mungkin sedang sedang meeting, maaf saya tidak bisa menemani beliau karena situasi saya” Jelas Alham dengan suaranya sedikit serak.
“Eum”
Alex pun memutuskan panggilan itu secara sepihak.
Dia khawatir tapi, dia juga kesal karena Azia dengan sengaja tidak mematuhi perintahnya sebagai suami.
Beberapa jam berlalu dan pada siang hari Azia baru kembali ke hotel. Wajahnya terlihat tidak terlalu baik, mungkin hasil meeting kali itu tidak sesuai harapannya.
Creek!
Pintu terbuka, Azia yang lesu masuk ke kamar, ia hendak untuk istirahat tapi, istirahatnya tertunda saat melihat wajah suami yang sudah masam.
“Ayo pulang!” Perindah Alex pada Azia yang baru sampai.
Azia benar-benar di puncak emosi, matanya menatap tajam, tangannya sudah terkepal kesal, otaknya sudah meracau sejak dari masuk hotel di tambah dengan Alex yang bermuka masam tiba-tiba mengajak pulang.
Brak!
Tas laptop di lempar ke lantai dengan kasar, dokumen di tangan pun berhamburan ke lantai.
Kedua manusia itu benar-benar berada di puncak emosi, kedua pasang mata saling menatap tajam. Cinta? Entah kemana pergi di detik itu, tapi yang jelas hanya ada amarah yang berkecamuk dalam hati masing-masing.
“Pulang aja sendiri! Aku tidak memintamu untuk datang!” Bentak Azia kesal.
“Jaga cara bicaramu, Azia! Aku masih suamimu, aku memintamu pulang, maka kamu harus pulang dengan ku!” Ucap Alex dengan nada yang sama tingginya dengan Azia.
“Suami? Cih, jadi masih ingat punya istri rupanya. Kalau kamu ingat punya istri kenapa kamu dekat-dekat dengan para suster dan dokter genit itu, hah?! Sudahlah, aku muak di sini. Dan jika kamu ingin pulang, pulang saja sendiri!” lalu Azia pun berbalik berjalan menuju pintu.
Dengan cepat Alex mengejar langkah Azia hingga saat tangan kecil itu memegang gagang pintu, Alex sudah menariknya dengan cepat.
Alex menghela napas berat beberapa kali, mencoba menenangkan diri sebelum membuka mulutnya. Dia sadar Azia sedang lelah dan suasana hatinya sedang buruk, dia tidak bisa bersikap sama batu nya dengan Azia yang jelas lebih muda dan labil darinya.
“Dek, maaf. Kakak salah. Tolong jangan pergi” Ucap Alex lembut.
Azia hanya menatap dingin orang yang menariknya jauh dari pintu, lalu saat tubuhnya di dekap Alex, barulah dia merasa lebih tenang.
“Apa kamu bisa pulang dengan kakak sekarang? Tolong tetap di rumah saja, ya sayang?” Pinta Alex dengan nada lembut.
Sejujurnya hati Azia sudah tergerak tapi, egonya tidak ingin mengalah dengan apapun alasan yang dia punya untuk mengalah saat itu. Meski dia sudah lebih tenang, tetap saja permintaan Alex saat itu tidak bisa langsung dia penuhi. Ada banyak hal yang dia pikirkan selama dia membangun bisnis itu. Ya, memang dia mendirikan perusahaannya itu setelah bertemu kembali dengan Alex, meski saat itu dia masih belum tahu kalau Alex ternyata belum menikah, tapi ambisinya untuk memiliki Alex dengan cara apapun waktu itu membuat dia membangun perusahaannya saat ini.
Mungkin dia bisa mundur sekarang karena sudah bisa mendapatkan Alex, tapi melihat begitu banyak yang berusaha merebut Alex darinya, dia pikir menutup perusahaan bukan ide bagus, apa lagi ada banyak karyawan yang menggantungkan hidup pada perusahaannya.
Azia mencoba melepaskan diri dari pelukan Alex, lalu matanya menatap mata Alex dengan tatapan yang mendalam, “Aku tidak bisa pulang sekarang, dan aku…. aku tidak bisa hanya menjadi boneka yang duduk manis di rumah menunggu mu pulang, kak.” Jawab Azia dengan tatapan seolah ada beban yang ditanggung dan tidak mampu dia bagi pada siapapun.
“Aku tidak pernah berpikir istri yang tinggal di rumah itu sama seperti boneka, sayang. Dek, aku hanya tidak ingin kamu pergi terlalu jauh dan membuatku khawatir… Melihatmu berfoto dengan baju terbuka saja sudah membuatku sangat kepikiran hingga harus mengambil cuti dan datang ke sini.” Alex menghela napas berat beberapa kali, “Maaf jika ini terdengar egois tapi, aku tidak ingin ada orang yang melihat dan menginginkan istriku. Dek, aku hanya takut jika suatu hari kamu meninggalkanku, aku takut kamu melihat ke arah lain. Bisa kamu mengerti apa yang sedang aku katakan?” lanjut Alex.
Perlahan tangan Azia memeluk Alex, sejujurnya dia juga tidak ingin kehilangan Alex tapi, dia juga tidak bisa mundur dari apa yang sudah dijalankan selama ini.
“Sore ini kita pulang, tapi untuk tinggal di rumah… Aku tidak bisa, dan … kak, aku ingin tinggal di rumah peninggalan orang tuaku” Ujar Azia dengan nada memohon.
Alex berpikir cukup lama saat mendengar permintaan Azia, tapi dia tidak ingin membuat pertengkaran lagi siang itu. Pada akhirnya dia hanya diam, dan tidak merespon permintaan itu sampai akhiri.
“Ayo makan siang saja.” Ajal Alex yang kini melepas pelukannya.
Azia menggeleng kecil, “Aku ingin istirahat kak, jika kakak ingin makan, tinggalkan saja aku. Aku sedang tidak punya mood untuk makan apapun” Lalu Azia berjalan menuju tempat tidur.
Alex kembali menghembuskan nafas kasar, lalu berjalan ke arah Azia yang sudah mengambil posisi tidur.
“Kakak pesan makan untuk mu saja, mau?” Tawar Alex.
“Tidak perlu, aku sudah makan.”
“Baiklah, kalau begitu aku akan keluar sebentar untuk makan dan akan segera kembali.”
“Eum” Azia hanya bedehem kecil lalu mencoba untuk tidur.
***