Obsession Of Love

Obsession Of Love
Masalah 2



Beberapa hari setelah itu, aku masih memikirkan ucapan Lina. Aku masih menunggu-nunggu berita yang aku yakin sebentar lagi akan menjadi topik pembicaraan sekolah. Aku masih mengamati pembicaraan teman sekelas ku dan juga sikap mereka padaku, aku terus saja dihantui dengan rasa khawatir.


“HAI!” Andi mengagetkanku dari belakang.


“Kamu gila ya? Bagaimana kalau aku jantungan?”


“Lagian siapa suruh pagi-pagi gini udah bengong, ada masalah apa sih? Akhir-akhir ini kamu tidak fokus dan sering melamun gitu?”


“Gak ada”


“Jangan bohong deh, aku yakin kalau ini pasti berkaitan dengan ucapan si Lina waktu itu, ya’kan?”


“Kenapa kamu bisa tahu?”


“Ya karena gejala anehnya muncul setelah kejadian waktu itu, aku cuma nebak aja tadi. Kamu gak pusingin masalah itu’kan? Lagian berita itu gak akan mempengaruhi pertemanan mu dengan teman-teman yang lain.”


“Apa kamu yakin?”


“100% Yakin, soalnya anak-anak tahun kita itu kebanyakan anak SMP kita dulu, jadi mereka gak akan percaya lagi sama masalah itu, aku jamin deh!”


“Tapi, beberapa ada yang bukan alumni kita, ya’kan?”


“Itu benar tapi tetap aja jangan di pikirin terus, telur gak akan jadi makan kalau cuma di pelototi.”


“Maksud kamu apa?”


“Masalah gak akan selesai kalau hanya di pikirkan, jalani aja dulu, kalau ada masalah tinggal kita selesaikan bersama. Kamu tidak boleh lupa kalau kamu tidak sendiri, dulu atau kedepannya, aku dan teman-teman yang lain akan selalu mendukung kamu, paham?!”


“Makasih ya Andi, kamu emang teman yang baik”


“Iya tapi, gak usah pakai pegang tangan juga kali, gak usah lebay, kita udah temanan dari kamu masih bau bawang sampai sekarang, santai saja!”


‘plak’ aku memukul punggung Andi sambil tertawa bersamanya, “Kamu benar banget, kita udah temanan cukup lama, makasih teman terlama aku”


“Udah, gak usah lebay, sekarang cepat masuk kelas!”


“Siap!”


Setelah bicara dengan Andi, aku merasa lebih tenang dan mencoba menghadapi semua kemungkinan yang terjadi.


Semua tidak sesuai dengan harapan, keesokan paginya rumor tentang aku yang membawa sial langsung tersebar kesemua anak bahkan guru di sekolah. Beberapa anak memandangiku dengan aneh dari awal aku masuk ke gerbang hingga aku masuk ke kelas.


“Azia! Gawat!!”


“Apa ada apa?”


Teman-temanku menarik ku ke dalam kumpulan mereka.


“Azia, ada yang menyebar rumor kalau kamu membawa sial sama seperti waktu SMP dulu, banyak gosip yang beredar di kantin pagi ini, dan mereka membuat forum khusus membahas kamu, aku juga ikut gabung biar bisa tahu apa yang mereka omongin” Ucap Seni teman sebangkuku.


“Iya, aku dengar banyak berita aneh dari anak kelas satu tentang kamu.”


“Penyebar berita pertama itu dari akun My dear. Anak ini sering banget memberikan topik tentang kamu dari semalam hingga hari ini, udah hanyak yang tahu masalah itu. Guru-guru juga sedang berdiskusi karena banyak orang tua yang ingin kamu di keluarkan karena mereka takut kamu membuat anaknya sial.”


“Dasar orangtua bodoh! Bisa-bisanya mereka berkata seperti itu tentang Azia!”


“Tapi banyak yang mendukung kamu, jadi kamu jangan terlalu khawatir”


Aku tahu kalau rumor itu membuat situasiku menjadi sangat buru dan berkemungkinan di keluarkan dari sekolah tapi, dibanding dulu sekarang lebih baik, aku merasa sangat di parhatikan, banyak yang berada di sampingku untuk membelaku, mereka sangat khawatir padaku. Andi benar, aku tidak sendiri, aku masih punya teman-teman yang peduli padaku dan akan mendukungku.


“Terimakasit teman-teman karena kalian sangat peduli padaku, aku sangat bersyukur kalian berada di sisiku di saat-saat ini! Aku sangat takut berjuang sendirian tapi, kalian berada di sisiku sekarang, aku tidak akan takut lagi”


“Tentu saja, kami kan temanmu! Kami tidak akan jatuh ke lubang yang sama”


Resil dan Ririn memelukku dan yang lainnya tersenyum hangat kearah ku, aku merasa sangat bahagia karena tahu aku tidak sendirian.


“Tunggu, sekarang apa yang kita lakukan untuk menghilangkan masalah ini?”


“Ini akan sulit karena murid di SMA lebih banyak dari waktu kita SMP dulu”


“Aku punya ide tapi, mungkin sebelum membereskan berita ini kita harus menemukan orang yang menjadi dalang dari semua masalah ini”


“Benar, bagaimana kalau aku beberapa teman lainnya mencari tahu dalangnya dan sisa nya membuat rencana untuk meredam gosip ini?”


“Ide bagus, sekarang kita mulai dari mana?”


“Anak-anak sekarang waktunya belajar setelah jam ibu kalian bisa menyelesaikan misi kalian”


“Baik bu!”


Kami semua kembali duduk di bangku masing-masing setelah di kaget kan oleh ke datangan ibu Ana yang tanpa suara. Kami kembali belajar seperti biasa tapi, bu Ana yang tahu dan mendengar percakapan kami akhirnya mengakhiri pelajarannya lebih cepat dari biasanya, setelah itu kamu mulai menyusun rencana. Saat jam pulang sekolah tiba, aku mencegah Andi pulang duluan dan memintanya mengantar aku, aku sebenarnya di jemput kak Alex tapi, aku masih tidak ingin mereka tahu masalahku, aku ingin menyelesaikan semua masalahku kali ini sendiri.


‘ting’ Pesan masuk dari kak Alex. Aku hanya melihat nama kak Alex di notif itu tapi aku tidak ingin membuka pesan itu karena aku sudah bisa menebak apa yang ingin dia katakan padaku.


“Azia, apa aku perlu membantu dalam masalah ini?”


“Perlulah! Ini kan ulah mantan kamu!”


“Ya emang sih tapi, kan gak ada hubungannya dengan aku!”


“Memang tapi, kamu tadi menawarkan diri, kan?”


“Iya tapi kan cuma basa-basi aja”


“Gak ada basa-basi, pokoknya kamu harus ikut membantu!”


“Iya deh, sekarang pulangnya kemana?”


“Ke rumah nenek.”


“Kamu gak mau tinggal sama Fara lagi?”


“Bukan begitu, aku hanya tidak ingin membebankan masalah ini lagi padanya, waktu itu dia sangat kerepotan karena masalah ini, kali ini aku akan menyelesaikan semua dengan caraku”


“Memangnya mereka mengizinkan?”


“Maksud kamu apa?”


“Mereka itu kan selalu ikut campur semua urusanmu dari dulu hingga sekarang, kamu biasanya kan selalu mengikuti semau keingaina mereka, ya’kan?”


“Gak juga”


“Apanya yang gak juga, waktu itu kamu di tembak sama anak yang paling populer saat SMP tapi, karena mereka bilang gak terus kamu langsung menolak anak itu di depan umum, ya’kan?”


“Gak deh! Aku nolak karena memang aku gak suka dia”


“Terus mereka juga mengancam semua anak-anak yang mencoba menembak kamu!”


“Gak mungkin, kalau memang itu yang terjadi mana mungkin ada yang menembak aku”


“Beberapa masih nekat dan beberapa memang melewati standar mereka makanya di biarin.”


“Tunggu dulu, kamu tahu dari mana?”


“Ya tahu karena aku lihat sendiri dan dengar percakapan mereka saat kamu sedang tidak ada di dekat mereka”


“Dasar tukang guping!”


“Eh, yang di omongin udah di depan tuh!”


Saat kami berhenti di depan pagar rumahku sudah ada Mia dan Fara yang menatap sinis pada Andi.


“Apa-apaan tatapan itu?” Andi kesal dengan tatapan Mia dan Fara


“Hai kamu jangan dekat-dekan dengan Azia kami! Kamu hanya akan membuat kepolosan Azia kami tercemar dengan sifat mu itu!”


“Jangan asal nyerocos deh! Memang ada masalah apa dengan sifat aku, hah?! Aku ini cowok polos dan baik hati!”


“Polos pantatmu? Kami udah sering mergikin kamu ciuman saat SMP, itu yang kamu sebut polos?”


“Itukan masa lalu, ngapain masih di ingat-ingat!”


“Sana pulang!”


“Ini juga mau pulang, gak usah pakai diusir segala kali!” Andi pun pergi dengan wajah kesal


Bersambung…


Jangan lupa LIKE, Komen dan Favoritkan ya kawan-kawan