Obsession Of Love

Obsession Of Love
*Hari buruk



Alex POV


Aku Alex Hardiata, seorang dokter muda yang memiliki pacar imut yang usianya jauh lebih muda dariku. Sejujurnya aku merasa tidak enak pada gadis kecil itu, tapi aku juga tidak bisa menahan perasaanku pada Azia Mutiara, si pacar mungilku. Sejujurnya aku pikir usianya sudah masuk 17 tahun sama seperti teman-temannya, tapi rupanya dia lebih muda dari itu dan hal itu membuat aku benar-benar merasa jadi seorang pria aneh karena mencintai anak kecil seperti Azia.


Mengingat perbedaan usia kami yang terlampau jauh membuat aku merasa takut, takut kalau ada yang membuat dia berpaling, takut ada yang menarik perhatiannya, takut senyumnya bukan milikku lagi, takut dia bermanja pada orang lain, takut tatapan hangat penuh cintanya malah di berikan pada orang lain, karena ketakutanku itu membuat aku menjadi posesif dan berlebihan padanya. Aku tau menyuruh orang untuk memata-matai orang lain itu salah karena melanggar privasi orang tapi, aku tidak bisa menahan diri untuk tidak melakukan itu.


Beberapa hari ini orang yang aku minta memata-matai Azia, melihat ada orang lain yang juga mengawasi Azia. Azia juga menemui orang-orang asing yang hingga saat ini belum aku ketahui siapa dan untuk apa orang itu menemui Azia. Hingga hari itu, hari dimana aku dan menuju rumah sakit untuk menemui Andi yang baru saja mengalami kecelakaan, beberapa orang bertubuh besar dan berwajah garang menghadang kami, perkelahian saat itu tidak bisa di hindari. Jumlah mereka yang banyak membuat aku kalah dan kekalahanku itu membuat Azia terpaksa maju, namun diluar dugaanku, mereka malah bersikap sopan pada Azia, salah seorang dari mereka memberikan handphonenya pada Azia.


Azia terlihat marah, namun dalam sekejap ekspersinya berubah menjadi frustasi dan ketakutan, lalu aku tidak sengaja mendengar percakapan dua orang pria yang ada di sampingku.


"Padahal nona hanya perlu pulang dengan tenang, tapi dia malah memilih mengalami ini semua"


"Sangat di sayangkan, dia gadis kecil yang menyedihkan"


"Tapi setidaknya keluargnya kaya, jadi dia tidak lebih menyedihkan dari kita yang bekerja seperti ini untuk mereka"


Aku cukup kaget karena mendengar kalau Azia merupakan anak dari orang kaya, yang lebih mengangetkan adalah Azia memiliki keluarga selain nenek yang merupakan orang tua angkatnya. Setelah hari itu aku terus mencari tau soal keluarga Azia tapi, entah kenapa keluarga Azia seolah orang besar yang infomasinya benar-benar terjaga kerahasiaanya.


Aku pikir setelah hari itu, semuanya kembali seperti biasa dan tidak ada yang berubah, Azia masih bersikap biasa saja dan teman-temannya juga sama kecuali masalah mata-mata yang aku kirim semua berhasil mereka singkirkan dengan cepat dan tidak ada sisa satu pun. Namun beberapa minggu setelahnya Azia tiba-tiba mengajakku bertemu tanpa memberitahu tujuan pertemuan kami, terlebih dia meminta bertemu di waktu yang biasanya kami tidak akan melakukan pertemuan apapun karena hari itu aku akan cukup sibuk. Sebenarnya siang hari itu aku hendak bertemu dengan Azia di cafe dekat rumah sakit tapi, ada pasien yang mengalama kecelakaan dan aku kebetulan berada disana, karena itu aku tidak bisa keluar untuk menemui Azia, setelah menangani pasien kecelakaan itu aku benar-benar lupa soal janjiku dengan Azia, apa lagi karena kebetulan teman lamaku Dinda tiba-tiba menghampiriku yang baru keluar dari ruang UGD, kami berbicara cukup panjang tentang masa lalu dan juga kesulitan yang telah kami alami selama perkulihan, lalu tiba-tiba Azia datang dengan ekspresi marah dia berkata "Putus" Lalu berjalan pergi begitu saja melewati aku dan Dinda yang syok dengan kehadiran sekaligus dengan ucapan Azia yang diluar pikiran kami.


"Kamu kenal?" Tanya Dinda.


"Dia pacarku, maaf aku harus menyusulnya dulu" Ucapku sambil berlari menuju Azia yang berjalan menuju lift.


Aku terus mengajaknya bicara dan menanyakan apa yang dia maksud tapi dia benar-benar tidak menanggapiku.


Hingga pintu lift terbuka dia benar-benar mengabaikanku dan memperlakukanku seolah makhluk kasat mata. Selama dalam lift aku terus berusaha membuat dia bicara tapi, dia sama sekali tidak menanggapi ucapanku hingga aku benar-benar geram dan pada saat lift terbuka kembali, aku mencoba menahan langkahnya yang hendak menuju kamar tempat neneknya di rawat.


"Azia, tolong bicara!" Aku menggengam tangannya dengan erat.


"Nggak ada yang perlu di bicarakan, kita sudah putus"


"Kapan kita putus? Jangan bercanda Azia, ini benar-benar tidak lucu!" yang terlihat sangat marah.


"Lucu? Yang lucu itu kakak yang buat aku menunggu setengah jam tanpa kepastian, lalu sekarang aku malah melihat kak Alex sedang ngobrol asik dengan suster cantik itu! Sudahlah, aku sudah muak!" Ucapnya sambil terus memberontak dan mencoba melepaskan diri dariku.


"Aku minta maaf, aku lupa soal janji kita siang ini. Soal suster tadi, dia itu hanya teman lamaku yang baru saja masuk kerja hari ini dan..." Belum selesai aku menjelaskan alasanku tidak menemuinya, dia malah menarikku ke tangga darurat.


"Kenapa kamu menarikku kesini"


Dia punya wajah yang sangat tidak bisa menutupi ekspresi saat dia sedang kesal, pipinya yang sedikit menggembang karena menahan marah membuat dia terlihat menggemaskan, tapi aku tidak bisa mengatakan hal itu padanya karena jika aku mengatakan hal itu mungkin dia akan tambah kesal dan akan semakin marah.


"Di sana kita di lihatin orang dan itu buat aku malu!" Ucapnya kesal.


"Dek, kamu nggak beneran mau putus kan?" Tanyaku yang masih berpikir kalau dia hanya emosi sesaat.


"Kita udah putus" ucapnya dengan ekspresi yang sangat serius dan dingin untuk pertama kalinya padaku.


"Dek, bercanda kan? Ini nggak benar-benar minta putuskan?" Aku mulai panik, aku takut kalau dia serius dengan ucapannya kali ini.


"Aku sudah bilang aku tidak bercanda. Kita Putus" ucapnya dengan ekspresi dingin dan tatapan yang sangat dingin padaku.


Mendengar hal itu membuat aku seolah sedang disambar petir, air mataku tidak bisa kutahan, rasanya ada pedang yang menusuk jantungku hingga untuk beberapa saat rasanya aku tidak bisa bernapas, pikiranku kosong dan tiba-tiba tubuhku jadi lemas. Aku tidak sadar kalau tubuhku sudah terduduk di lantai yang pastinya di penuhi partikel debu, apa lagi tangga darurat rumah sakit hampir tidak pernah di lewati siapapun.


"Kak, kamu kenapa? Kamu sakit?" Tanya Azia yang terdengar cukup khawatir pada orang yang baru saja dia putuskan.


"Azia, tolong jangan tinggalkan aku, aku benar-benar sangat mencintai kamu, aku... aku tidak bisa, aku benar-benar tidak bisa kehilangan kamu Azia." Ucapku yang siap berlutut padanya jika dia ingin aku berlutut agar dia mau memberiku kesempatan untuk memperbaiki situasi kami.


Tiba-tiba dia memelukku dan menepuk pelan punggungku, "Kita tidak putus, aku maafkan kakak, sekarang berhenti menangis" ucapnya padaku yang membuat aku mulai sedikit berharap untuk dimaafkan olehnya.


"Kamu berjanji?" Tanyaku ragu-ragu padanya, aku takut kalau dia hanya mengatakan kata penghibur sesaat hanya agar aku tenang.


"Iya, aku janji" Jawabnya tanpa keraguan.


Mendengar jawaban dari Azia, aku merasa sedikit lebih tenang, tapi air mataku tidak langsung berhenti mengalir, beberapa menit kami duduk diam di tangga darurat hingga aku benar-benar tenang untuk keluar.


Setelahnya dia keluar lebih dahulu dan menuju ke kamar neneknya, aku di belakang menyusulnya hingga saat kami sudah berada di kamar neneknya tiba-tiba dia mintaku untuk keluar karena dia ingin bicara berdua dengan neneknya. Aku yang tidak ingin memancing emosi Azia yang baru saja pedam pun akhirnya langsung mengalah dan pergi dari ruangan itu. Karena aku belum makan siang, aku pun pergi ke kantin rumah sakit sambil menunggu Azia selesai bicara dengan neneknya.


Next....