
Jepang….
Padahal aku sudah menolak Bastian dengan tegas tapi, pada akhirnya aku hanya bisa pasrah dan ikut dengan laki-laki itu ke negeri sakura. Selama perjalan dia terus mengoceh, mencoba mengajakku bicara dengan berbagai cerita yang dia tentang negara yang sedang kami kunjungi hari ini.
“Apa kita benar-benar membutuhkan pengawalan seketat ini?” Tanyaku seraya melihat dua orang yang berada di depan kami. Jujur saja aku risih dengan kehadiran 6 pengawal dalam liburan kali ini, biasanya kakek hanya memberi 2 orang untuk pengawal kami tapi entah kenapa kali ini ada orang 6 pengawal yang ikut bersama kami ke Jepang.
“Entahlah, kalau kamu merasa risih, aku akan meminta mereka untuk mengawal kita dari jarak agak sedikit jauh”
“Iya begitu saja, aku tidak menyukai rasanya diawasi. Lagian kemarin kamu bilang ingin menghabiskan waktu berdua, sekarang malah menghabiskan waktu ramai-ramai, kan aneh.” Ketusku kesal.
Bastian meraih jemariku lalu, dia sisipkan kelima jarinya diantar jemariku, aku sedikit kaget dengan hal itu lalu aku menoleh ke arahnya dengan tatapan penuh tanya, “Aku ingin menghabiskan waktu denganmu, maaf jika kehadiran mereka sedikit mengganggu kita” Ujarnya entah kenapa terdengar seperti seorang pria dewasa padahal biasanya dia hanya terlihat seperti bocah manja yang menyebalkan.
“Iya” Jawabku singkat.
Kini kami telah tiba di hotel yang kami pesan, sejujurnya keluarga Bastian punya rumah di sini tapi, karena sedang mengalami renovasi secara besar-besaran terpaksa kami harus memesan hotel.
“Akses kamarnya hanya satu? Jangan bilang kalau kita sekamar?!” Tanyaku dengan menatap dingin ke arah laki-laki yang sedari tadi terlihat tersenyum padaku.
“Memangnya kenapa? Lagian nanti kita juga bakalan tinggal di satu kamar, kenapa tidak coba dari sekarang”
Aku melepas genggaman tangannya dengan paksa, kulihat lekat pupil hitamnya.
“Jangan lewati batasmu, BASTIAN!” Tegasku dengan nada dingin.
Seketika senyumnya luntur, raut wajahnya berubah menjadi raut orang yang bersalah.
“Pesan lagi kamar, aku tidak mau sekamar denganmu. Selama aku masih bersabar sebaiknya ingat batasmu, TUAN BASTIAN!” Lalu aku pergi menuju kamarku dan meninggalkanya di lobi hotel bersama para pengawal.
Aku tidak tau apa yang terjadi setelahnya pada Bastian, tapi sekarang aku sudah berada di kamarku. Kamar yang cukup mewah, dihias seolah yang akan jadi penghuninya adalah sepasang pengantin baru, terlihat jelas dari kelopak bunga yang berbentuk hati di atas sprei putih. Bahkan di meja terdapat dua jenis botol anggur yang tentu saja dari tampilannya itu merupakan anggur mahal dan di sampingnya terdapat dua gelas kaca.
Perjalanan yang panjang membuat aku lelah, apalagi bicara dengan Bastian itu memerlukan lebih banyak energi. Aku menyingkirkan semua kelopak mawar yang ada di atas kasur, lalu aku merebahkan diri diatasnya.
“Ini sangat melelahkan” Keluhku dengan mata menatap langit-langit.
*
*
Entah berapa lama aku tertidur, tapi yang jelas langit sudah menggelap dan beberapa panggilan terus masuk, notifikasi pesan juga tidak kalah mengganggu dari panggilan pun menghiasi layar desktop handphoneku.
“APA?” Tanyaku pada orang yang sedari tadi menghubungiku.
“Ayo makan malam” Ajaknya singkat.
“Dimana?” Tanyaku singkat.
“Aku di depan pintu kamarmu, bisa buka pintu dulu?” Tanyanya.
Aku segera memutus panggilan itu lalu berjalan menuju pintu, aku membuka pintu itu dan sudah terlihat seorang pria dengan tinggi 180 berdiri di depanku yang tingginya hanya 168 cm.
“Masuk” Perintahku padanya.
“Kamu sudah mendapatkan kamar lain, bukan?” Tanyaku padanya yang berjalan di belakang.
“Sudah” Jawabnya yang kini berjalan menuju sofa.
“Aku mandi dulu, lalu kita pergi” Ucapku sebelum berlalu ke kamar mandiri.
30 menit kemudian aku sudah selesai mandi dan berganti pakain di sana, aku keluar dari kamar mandi dengan pakaian lengkap, entah perasaanku saja atau memang ada raut kecewa yang muncul sekilas di wajah Bastian saat aku keluar dari kamar mandi.
“Aku tidak akan lama, kamu tidak buru-burukan?” Tanyaku sambil mencari alat make up ku di dalam tas.
“Tidak, pelan-pelan saja, aku bisa menunggumu sampai kapanpun”
“Cih, gombalan buaya” Gumam kecil yang hanya aku sendiri yang bisa mendengarnya.
Beberapa menit berlalu dan akhirnya aku selesai.
“Ayo” Ajak Ku padanya yang masih menatap layar handphonenya.
“Sudah?” Tanyanya dengan tatapan menatapku kagum.
“Iya, sudah, yok!” Aku mendahuluinya keluar dari kamar.
“Makan malam di restoran hotel saja kan?” Tanyaku.
“Untuk malam ini iya, tapi besok malam baru kita pergi kencan di tempat lain” Ucapnya dengan tangan kini sudah menggam tanganku.
Jika ditanya apa aku sudah terbiasa dengan sentuhan Bastian? Jawabanya tidak, hanya saja aku tidak bisa mengekspresikannya secara nyata karena Bastian adalah salah satu makhluk yang sama sensitifnya seperti bayi, dia terlalu mudah marah, sedih, kecewa, dan ujung dari semua perasaannya itu akan berimbas pada marahnya Kakek padaku.
“Apa itu istrinya?” Gumamku yang rupanya di dengar Bastian.
“Istri siapa?” Tanya Bastian padaku yang tiba-tiba berhenti.
“Ah tidak, aku pikir orang yang aku kenal rupanya hanya mirip, ayo jalan, aku sudah lapar” Ucapku sambil menarik tangan Bastian agar segera menjauh dari tempat itu.
Sakit, sedikit tapi mau bagaimana lagi ini resiko dari pilihanku beberapa tahun yang lalu. Jujur aku tidak terlalu kaget mengetahui kalau kak Alex bersama dengan wanita lain, karena beberapa bulan yang lalu Fara mengatakan kalau kak Alex akan menikah dengan wanita lain. Waktu itu aku dengan mudahnya berkata, “Syukurlah, aku harap dia bahagia” Tapi melihatnya bahagia bukan denganku rasanya sakit sekali hingga aku berharap mati saja daripada melihat dia bersama wanita lain.
“Apa kamu menyukainya?” Tanya Bastian padaku.
“Hah? Kamu tanya apa tadi?” Tanyaku memastikan ucapan Bastian yang sekilas terdengar meskipun aku sedang melamun.
“Aku tanya apa kamu menyukai menu yang aku pilih?” Tanyanya lagi.
“Aku belum memakannya, bagaimana caranya aku tau?” Ucapku, lalu dengan segera aku mengambil satu sendok makanan yang di atas meja, mengunyahnya pelan lalu merasakan setiap sensasi bahan-bahan pilihan yang dipadukan di dalamnya. “Lumayan, kamu cukup tau selera lidahku” Pujiku yang direspon dengan senyuman bangga olehnya.
“Aku senang kamu menyukainya” Ucapnya dengan senyum masih senantiasa terukir indah di wajahnya yang memang tampan.
Setelah selesai makan kami pun memutuskan berjalan-jalan singkat di sekitaran hotel, tentunya tidak berdua tapi, ber delapan dengan enam pengawal kami.
“Apa kamu merasa dingin?” Tanyanya padaku.
“Tidak, memangnya kamu dingin?” Aku berbalik bertanya padanya.
“Sedikit” Jawabnya senyum segaris senyum tipis.
Jujur setelah lama mengenal Bastian aku sedikit mulai paham alur pikirnya, meski beberapa tahun yang lalu memang dia sering membuat aku kesal dengan berselingkuh dengan beberapa wanita di kampus tapi, selama tinggal bersama selama 1 tahun sebelum akhirnya aku bisa mendapatkan izin untuk tinggal di apartemen milikku sendiri, kami cukup dekat hingga mungkin saja aku dan dia lebih saling tau satu sama lain karena hal itu.
Aku menarik tangannya yang menggendongku untuk masuk ke kantong jas hitam tebal milikku. “Apa lebih hangat?” Tanyaku datar.
“Eum” Dia mengangguk dengan sebuah senyum lebar terukir indah di wajahnya.
“Mau duduk di taman?” Tawarku padanya karena di depan kami sudah ada taman dan tidak jauh dari tempat kami berhenti terlihat ada sebuah bangku taman yang kosong.
Dia mengangguk setuju lalu kami pun mengurutkan langkah dan berhenti untuk duduk di bangku taman.
“Apa aku boleh bersandar?” Tanyanya dengan suara kecil yang sebenarnya masih cukup terdengar di telingaku. “Eum” Aku pun mengangguk dan tidak butuh waktu lama dia pun bersandar di pundakku.
Meski tubuhku saat itu sedang bersama Bastian tapi, pikiranku sudah melayang jauh ke tempat terakhir aku melihat kak Alex. Bertahun-tahun berpisah, tidak saling memberi kabar, bahkan aku benar-benar tidak tau apapun tentangnya karena memang setelah resmi menjadi bagian dari keluarga Zhong, aku benar-benar memutuskan kontak dengan semua orang termasuk sahabat-sahabatku. Namun 2 tahun terakhir, saat perusahaan keluarga Andi resmi menjalin kerjasama dengan perusahaan Kakakku pun kembali memiliki hubungan baik dengan Andi, dan tentu saja keluarga besarnya.
Meski aku tidak di ijinkan untuk ke indonesia lagi tapi, setidaknya Bunda dan Ayah akan mengunjungiku dua atau tiga bulan sekali di singapura, bahkan terkadang Bunda menginap di tempatku 1 atau 2 minggu, bahkan ada waktu dimana Ayah perlu memohon agar Bunda mau pulang bersamanya.
‘Padahal begitu dekat, tapi kenapa aku tidak bisa menggapainya? Memeluknya dan menuntaskan rinduku?’ Pikirku sendu.
“Sepertinya aku mulai mengantuk, ayo kembali ke hotel” Ajak Bastian yang kini sudah berdiri dan mengulurkan tangannya padaku.
Aku menerima uluran tangan pria itu, lalu kami segera berjalan menuju hotel, para pengawal mengikuti kami di belakang terlihat siap siaga menjaga kami padahal tidak ada yang perlu dikhawatirkan disana.
“Jika memang suatu hari kita menikah, kamu harus cepat menjadi dewasa, karena aku tidak bisa selalu menjaga dan mengawasimu, aku tidak mungkin selalu memperbaiki kesalahan yang kamu buat, dan aku tidak mungkin hanya menjadi sandaranmu, kamu harus berdiri sendiri karena bahuku tidak sekuat yang kamu pikirkan hingga kamu bisa terus bersandar padaku” Ucapku datar dengan langkahku yang masih stabil.
Tiba-tiba langkah Bastian terhenti, “Jadi …… kamu benar-benar akan menikahiku, kan?” Tanyanya seolah aku sedang melamarnya.
“Eum. Karena itu cepatlah dewasa” Ucapku seolah pada anak kecil yang masih bertumbuh padahal yang di depanku sudah masuk kategori pria jika kita lupakan usia dan juga sikapnya yang kekanakan.
“Baik, aku akan segera dewasa, agar kita bisa segera menikah.” Ucapnya penuh semangat dan percaya diri.
Aku tidak merespon apapun ucapannya itu, lalu kami kembali melanjutkan langkah kami yang sejenak terhenti karena dia.
Bastian mengantarku sampai di depan pintu kamar padahal kamar kami bersebelahan, “Selamat malam” ucapnya sembari memberikan satu kecupan di keningku, lalu menatapku dengan tatapan aneh.
“Kenapa menatapku?” Tanyaku yang mulai risih dengan tatapannya yang tidak bisa aku artikan itu.
“Apa kamu tidak memberikan ciuman selamat malam padaku?”
“Buat apa? Kamu sudah besar, kita tidak perlu melakukan hal yang tidak penting seperti itu dan lain kali jangan lakukan itu padaku” Tegasku padanya, yang mana ucapanku direspon sedih olehnya.
“Cih, bocah” Aku pun mengecup pipinya karena hanya itu yang masih bisa aku jangkau secara cepat. “Sudahkan, sekarang tidur!” Usirku dengan dingin padanya.
Senyumnya kembali muncul setelah kecupan singkat itu, “Azia, jika kamu sudah di Inggris nanti apa kamu akan melupakanku?” Tanyanya dengan wajah mulai sedikit sendu.
“Jangan banyak berpikir, kamu kan bisa mengunjungiku kapan saja, lagian itu hanya 2 tahun. Cepat selesaikan kuliahmu dan susul aku. Berhenti berekspresi sok sedih, aku muak melihatnya. Sana tidur!” Dengan cepat aku masuk ke kamarku dan mengunci pintu, sedang Bastian mungkin masih diluar atau mungkin sudah pergi ke kamarnya.
***
JANGAN LUPA UNTUK TINGGALKAN VOTE SEBAGAI BENTUK DUKUNGAN UNTUK KAMI, JANGAN LUPA JUGA LIKE DAN SHARE PADA TEMAN-TEMAN YANG SUKA CERITA INI, TERIMA KASIH SAMPAI JUMPA DI EPISODE BERIKUTNYA, SALAM HANGAT DARI AUTHOR