Obsession Of Love

Obsession Of Love
Pulang



“Azia, kita perlu bicara!” Dia memegang tanganku.


Aku memberontak dan pergi ke dalam setelah membuka pagar.


“Lepas! Aku gak mau bicara!”


“Azia, tolong beri aku kesempatan untuk bicara dan menjelaskan semuanya!”


“Oke, 5 menit! Mulai dari sekarang!”


Bukannya menjelaskan sesuatu padaku kak Alex malah memelukku tanpa aba-aba dan membuat aku kaget sekaligus senang, pasti kalian tanya kenapa aku senang padahal aku lagi marah sama kak Alex waktu itu, iya’kan? Nah, sebenarnya aku gak bisa benar-benar marah sama kak Alex dan setiap detik dalam kehidupan ini aku selalu merindukan dia, apalagi dengan pelukan hangatnya itu.


“Lepaskan, kak!”


“Gak akan aku lepaskan sebelum 5 menit!”


“Kak Alex! Kakak paham gak sih apa yang aku katakan tadi? 5 menit yang aku katakan itu untuk penjelasan bukan untuk peluk-pelukan tahu!” Aku pura-pura marah padanya karena aku gak mau membuat dia berpikir kalau aku adalah gadis yang mudah di bujuk.


“Apa yang perlu di jelaskan? Tidak ada yang perlu di jelaskan karena kamu sendiri pasti tahu kalau dalam hatiku hanya ada satu gadis yang bernama Azia Mutiara saja untuk seumur hidupku.”


“Bohong! Lalu siapa perempuan di toko buku lalu siapa yang kakak temui selama kita tidak bertemu?”


“Wanita di toko buku itu adalah salah seorang pasien yang kebetulan kami bertemu saat aku mengikuti mu dan selama kita tidak bertemu aku sama sekali tidak jalan dengan wanita manapun. Sayang, gadis yang mengisi hatiku itu hanya kamu dari dulu, sekarang dan selamanya”


“Bohong! Aku tidak percaya, lalu kenapa kakak menghindari ku dan satu hal lagi kenapa kakak memukul Andi?!”


“Apa dia mengadukannya pada kamu?”


“Tentu saja tidak, Fara yang mengatakannya, asal kakak tahu sekarang Andi itu sedang dekat dengan Fara! Dan waktu di toko buku kakak juga tidak berusaha mengejar ku untuk memberi penjelasan, ya’kan?!”


“Bukanya waktu itu kamu membuat aku di tahan oleh petugas keamanan. Lalu saat aku akan menyusul mu pulang, aku mendapat panggilan dari rumah sakit, aku terpaksa harus ke sana. Lalu soal Andi, aku hanya sedang sangat emosi karena ucapannya, aku tidak bermaksud menyakitinya pada awalnya.”


“Apapun alasan kakak, aku tetap marah pada kakak!” ucapku kesal, meskipun dia tidak sepenuhnya salah tapi, tetap saja bagiku dia salah.


“Kamu boleh marah dan memaki aku tapi, tolong Azia jangan pernah pergi jauh dariku”


“Lalu kenapa kakak mengabaikan aku di rumah sakit, hah?!”


“Itu… Sebenarnya aku hanya sedikit kesal saja waktu itu, aku salah maafkan aku, kalau gitu kita pulang malam ini, ya sayang? Aku sudah memesan tiket penerbangan dan kita akan berangkat dua jam lagi” Kak Alex menatapku dengan tatapan yang sedih dan bahkan matanya seperti akan menangis.


“Eheum… Eheum!” Tante Ika mengagetkan kami.


“Udah mau magrib, sholat dulu di dalam dan ingat bukan muhrim, jangan peluk-pelukan, paham?!” Tante Ika tersenyum kecil sambil mencoba bersikap tegas pada kami berdua.


“Eh, Tante! Maaf, ini cuma…”


Kak Alex melepaskan pelukannya saat tante datang dan menghampiri kami berdua, lalu aku dan kak Alex masuk ke salam rumah mengikuti langkah Tante.


Satu jam kemudian sebuah mobil datang ke depan rumah tante, lalu kak Alex meminta izin pada tante Ika untuk membawa aku pulang. Awalnya tante Ika sedikit tidak percaya pada kak Alex tapi, setelah kak Alex memberikan alamat dan nomor orang tuanya barulah tante Ika mengizinkan kami untuk pulang.


“Tante, Azia pamit, ya?”


“Iya, Azia kalau nanti mau main ke sini kabarin tante dulu, ya sayang?! Soalnya tante berkemungkinan sudah pindah nanti”


“Siap tante”


Lalu kak Alex menggenggam tanganku, saat itu langkahnya tiba-tiba saja berhenti, lalu dia menatap kearah ku dengan wajah yang sangat amat serius.


“Azia, kamu pakai cincin siapa?”


“Ini milik Tristan yang tadi nganterin aku! Dia bilang kalau aku boleh mengembalikan cincin itu pada saat kami bertemu lagi nanti”


“Kamu ngerti gak arti dari ucapan anak itu? Secara tidak langsung dia mengajak kamu untuk bertemu kembali, sayang! Sekarang lepaskan cincin itu dan berikan pada tante Ika, biar tante saja yang mengembalikan cincin itu pada pemiliknya”


“Loh kenapa? Aku suka kok, lagian Tristan gak pernah bilang kapan harus di kembalikan”


“Azia, aku tidak suka mengulang ucapanku, kembalikan sekarang!” Ucap kak Alex tegas.


Kalau dia udah bicar sangat tegas padaku, ya aku tidak bisa menolaknya. Kemudian aku melepas cincin itu dengan berat hati lalu memberikannya pada tante Ika.


“Azia, pacar kamu kayaknya cemburu deh sama Tristan makanya dia semarah itu” Bisik tante Ika saat aku memberikan cincin itu padanya.


“Apa itu benar tante?”


“Iya sayang”


“Azia, cepat! Kita akan ketinggalan pesawat kalau kamu lama”


“Kak, kakak sedang cemburu, ya?”


“Gak lah! Masa aku cemburu pada hal yang seperti itu, itu tidak masuk akal”


“Benar juga, kenapa harus cemburu pada Tristan, diakan orang yang baru aku kenal dan kami juga belum tentu akan bertemu lagi kedepannya.”


“Azia, coba perlihatkan jarimu padaku”


“Buat apa kak?”


“Perlihatkan saja, sayang!” Ucapannya lembut tapi terkesan memaksa.


“Nih”


Lalu dia mengambil sesuatu dari kantongnya lalu dia memasangkan sebuah cincin pada jari manisku.


“Wah….!! Cincinya cantik sekali. Bagaimana kakak tahu ukuran jariku?”


Sunggu saat cincin itu terpasang di jari manisku, entah kenapa rasanya aku seperti melayang, aku terharu sekaligus senang, meskipun itu bukan cincin lamaran, tapi tetap saja aku sangat bahagia hingga aku bisa melupakan semua kesalahan kak Alex selama ini padaku.


“Tentu saja tahu karena kamu kan pacarku. Lalu sekarang apa kamu senang?” Ucap kak Alex sambil menarikku dalam pelukannya lalu memberiku sebuah kecupan di kepala.


“Jelas dong! Cantik banget, kapan kakak belinya?” Aku membalas pelukan itu dengan antusias.


“Rencananya aku mau memberikan cincin ini saat aku mengikuti mu di toko buku hari itu.”


“Kenapa kakak gak bilang kalau kakak mau kasih aku hadiah?”


“Gimana mau bilangnya kamu kan main kabur aja ke sini tanpa berkata apapun padaku, ya’kan?”


“Hehehehe… Maaf! Tapi aku janji lain kali aku tidak akan bersikap kekanakan lagi demi hubungan kita, makasih pacarku yang tampan” Aku memeluk kak Alex dengan erat.


“Eheum… Ehuem… Udahlah jangan mesra-mesraan di belakang, supir gak ada pasangan ni di depan!”


“Udahlah Bastian, yang jomblo tolong diam, ya!”


“Kakak kenal supir itu?”


“Wait wait!! Pacar kamu panggil aku apa barusan? Supir? Keterlaluan sekali kalian, udah minta tolong dianterin ke bandara sekarang malah menghina pula” ucapnya dengan nada ngambek.


“Sabar, sabar! Diakan gak tahu, udah dari pada berisik mending kami fokus saja pada jalannya”


“Ya, yang di belakan turusin aja mesra-mesraannya, ya!” sindirnya.


“Kak, dia siapa?”


“Dia teman aku, namanya Bastian. Kami dulu pernah satu kampus, meski kadang mulutnya itu begitu tapi, aslinya dia baik kok”


“Aku emang baik kok deh, salam kenal, ya! Semoga betah sama di kaku Alex”


“Emangnya kak Alex kaku, ya?” Aku bingung karena selama aku kenal kak Alex dia bukan tipe cowok yang kaku.


“Masa kamu gak tahu kalau dia kaku sih dek? Dulu masa kuliah dia…”


‘plak!’ Kak Alex tiba-tiba menepuk kursi depan dan membuat Bastian kaget dan langsung bungkam.


“Masa kuliah kak Alex kenapa?” Aku sangat penasaran dengan kelanjutan ucapan Bastian saat itu.


“Gak ada, aku cuma bercanda kok dek”


Lalu tak lama kemudian kami sampai di bandara, saat aku akan masuk ke dalam kak Alex memintaku menunggu di pintu karena dia ingin bicara sesuatu pada temannya Bastian.


“Kamu ini teman macam apa sih? Mau bongkar aib teman sama pacarnya itu ada batasnya juga dong, kamu mau hubungan aku dan dia hancur karena dia merasa gak suka dengan masa lalu aku, gitu?”


“Gak gitu juga lah Lex, lagian tadi aku cuma kebawa suasana aja, soalnya kan masa kita kuliah itu masa-masa yang lucu kalau di ingat apa lagi sikapmu saat itu bikin aku sakit perut kalau mengingatnya.”


“Sebaiknya kamu diam saja sebelum hal buruk terjadi, paham?!”


“Iya, iya udah sana! Dia udah nunggu tu!”


Bersambung….


Jangan lupa meninggalkan jejak bacaan dengan memberikan like dan vote nya