Obsession Of Love

Obsession Of Love
*Rumah Bastian



Rumah Bastian….


Selama liburan di Jepang bersama dengan Bastian, jujur aku menikmatinya tapi, dibanding pasangan menurutku kami lebih cocok menjadi sahabat, karena bersama dengan Bastian aku merasa seperti bersama dengan sosok Fara yang sudah lama kita aku temukan dari orang lain. Dan kini aku sedang berada di rumah Bastian karena orang tua Bastian memintaku untuk ikut makan siang bersama mereka. Sejujurnya ingin aku tolak tapi, mau bagaimana lagi aku belum punya kuasa untuk diriku sendiri, aku masih membutuhkan lebih banyak waktu agar bisa menjadi diriku sendiri dan bebas dari tekanan dari siapapun.


“Lusa kalian akan tunangan lagi, bagaimana perasaanmu, sayang?” Tanya Bibi Aurel padaku.


“Aku merasa sedikit gugup karena kali ini akan banyak media yang meliput, tapi aku tetap senang karena semua berjalan sesuai rencana awal” Jawabku bohong, dengan sebuah senyum palsu yang mungkin dikira natural oleh orang lain.


“Padahal Mama berharap kalian cepat-cepat menikah tapi, karena Azia belum siap, ya mau bagaimana lagi, ya’kan sayang?” Tanya Bibi Aurel pada suaminya yang berada di sebelahnya.


“Iya sayang, lagian mereka masih terlalu mudah. Biarkan saja mereka menikmati setiap proses pendewasaan mereka, toh pada akhirnya mereka akan tetap menikah, benarkan nak Azia?” Paman Calvin menatapku dengan mata seolah meminta jawaban ‘ya’ tanpa bantahan lain.


“Iya, paman.”


“Padahal kalian akan menikah nantinya kenapa kamu belum terbiasa manggil kami dengan sebutan ‘mama, papa’ seperti Bastian?” Tanya Bibi Aurel dengan senyum ramahnya seperti biasa.


“Maaf, Ma. Aku akan segera membiasakan dari, kedepannya ini tidak akan terulang lagi” Ujarku datar.


“Hahah… santai saja, lagian kamu tidak terbiasa karena kita jarang bertemu, maaf karena kami terlalu sibuk hingga jarang bisa berbincang santai dengan kalian.” Ucap Bibi Aurel.


“Iya, tidak apa, Ma. Kami memahami kondisi kalian” Jawabku dengan sebuah senyum palsu seperti biasa.


Padahal orang tua Bastian sangat baik dan ramah padaku, mereka selalu memperlakukan ku seperti putri mereka sendiri, tapi entah kenapa aku merasa tidak seharusnya aku berada dalam keluarga ini. Mungkin ini perasaan yang tidak rela untuk melepas masa lalu, tidak rela membangun hubungan baru, dan rasa tidak rela ruang yang telah diisi keluarga kak Alex malah tergantikan oleh keluarga Bastian.


“Azia, bagaimana dengan yang Mama kirim untukmu?” Tanya Bi Aurel padaku.


Sehari saat aku sampai di Australia, tiba-tiba saja aku mendapatkan kiriman gaun dari butik Bibi Aurel. Sejujurnya aku merasa gaun itu berlebihan jika dipakai untuk acara tunangan, tapi aku juga tidak bisa menolak pemberian dari Bibi Aurel.


Aku coba mengukir kembali senyumku, “Sangat indah, aku menyukainya” Jawabku, yang dibalas senyum puas dari Bibi Aurel. “Syukurlah kamu suka” Ucapnya.


*


*


Selesai dengan masalah makan siang, aku dibawa ke kebun belakang milik Bibi Aulia, kebun itu terlihat indah dan dipenuhi tanaman penghasil buah di rumah kaca yang cukup luas.


“Apa kamu menyukai strawberry?” Tanya Bastian padaku sambil melirik sekilas pada tanaman strawberry yang sedang berbuah, yang aku jawab dengan anggukan.


Bastian mengambil satu strawberry yang terlihat sangat merah dan menggiurkan, “Coba ini!” Dia menyuapinya ke mulutku, aku pun menerimanya dengan senang hati. “Bagaimana?” Tanyanya lagi padaku.


“Eum.. Manis, rasa asamnya tidak terlalu jelas tapi masih ada” Jawabku jujur.


“Mau petik bersama?” Ajaknya sambil memberikan keranjang kecil yang entah dari mana dia mendapatkannya.


“Boleh, ayo”


“Kalian sangat serasi, andai cepat menikah mungkin kita bisa membuat keluarga lebih besar lagi” Ujar Bibi Aurel dengan tatapan yang lembut seperti seorang ibu yang senang melihat keakraban keluarganya.


“Hahaha Mama bisa saja” Jawab Bastian santai.


Aku hanya bisa tersenyum kecil, lalu mengalihkan pandanganku pada tanaman-tanaman strawberry yang siap panen.


“Jadi Azia,  apa tidak masalah acara dilaksanakan di Australia dan bukannya di Singapura?” Tanya Bibi Aurel dengan mata dan tangan fokus pada strawberry.


Sejenak aku berhenti dengan kegiatanku, lalu kembali aku lanjutkan langkahku, “Sama sekali tidak masalah. Lagi pula Di sana atau pun di sini sama saja, yang penting acaranya terlaksana dengan lancar” Jawabku datar.


“Syukurlah, padahal tadi Mama takut tidak suka dan kesal karena acara dipindahkan ke sini”


Aku sebenarnya tidak peduli dimana acara pertunangan ini akan dilaksanakan karena yang sebenarnya aku harapkan adalah pembatalan pertunangan dan bukannya acara pertunangan.


“Mana mungkin aku bisa kesal pada Mama, apalagi ini hanya masalah sepele” Ujarku.


“Keranjangku sudah penuh, ayo kesana!” Bastian menarikku bersamanya.


Diantara banyak tanaman buah yang tumbuh di rumah kaca itu, ada sudut yang hanya dipenuhi oleh bunga yang dominan berwarna merah muda, di tengah-tengah terdapat ruang yang diisi satu meja bundar dan empat kursi. Bastian membawaku ke tempat itu, dimana dimana sudah ada 4 cangkir keramik biru muda, dan satu teko keramik dengan warna selaras dengan cangkir.


“Ayo duduk” ajak nya, sambil menarik kursi seperti seorang laki-laki dewasa pada wanitanya.


“Terima kasih” Ucapku.


“Bagaimana dengan Mamamu?” Tanyaku yang menyadari kalau Bibi Aurel tidak mengikuti kami.


“Mama kembali ke dalam, di sini hanya ada kita berdua, bukankah ini seperti kencan romantis” Ucapnya dengan sebuah ukiran senyum di wajah tampannya yang tidak bisa dimaknai. “Kamu juga merasakannya juga, bukan?” Lanjutnya lagi.


Sejenak aku mencoba mencerna pertanyaan itu, aku mencoba menerka jawaban seperti apa yang diharapkan, meski ini terkesan jahat karena memberinya harapan, tapi aku hanya ingin sedikit menghargai hubungan kami saat ini.


“Huem… iya, maybe” lanjutku dalam hati.


“Eum… Azia, apa boleh aku memanggilmu dengan sebutan lain? Kita sudah tunangan selama 3 tahun, tapi kita tidak pernah menggunakan panggilan ‘sayang, baby, bee’ atau panggilan sayang seperti yang lain.”


“Terus?” Tanyaku datar.


“Ayo coba panggil sayang?”


“Nggak” Jawabku datar.


“Kenapa?”


“Aku nggak suka” Tegasku lagi.


Ekspresinya mulai berubah cemberut.


“Kamu panggil apa saja lah asal jangan panggilan menggelikan seperti tadi” Ucapku mencoba membuat suasana kembali normal.


“Benarkah? Apa saja? Kamu tidak akan marah?”


“Itu, jadi berhenti cemberut. Jika Mamamu melihatnya, apa yang akan dia pikirkan tentangku. Jangan membuatku malu di rumahmu” Ancamku dengan nada dingin.


Entah dia mendengar ancamanku atau tidak tapi, dia terlihat tidak peduli, dia terus saja memasang wajah cerah ceria, dengan senyum konyolnya itu membuat aku sedikit menyesal karena telah mengizinkannya memanggilku dengan nama panggilan apapun selain panggilan yang dia sebutkan sebelumnya.


“Aku sudah memikirkannya?” Ucap nya tiba-tiba yang membuat fokus ku benar-benar beralih padanya. “Apa?” Tanyaku.


“Ice Queen , bagaimana dengan itu?” Tanyanya padaku.


“Terlalu panjang” Jawabku singkat.


“Bagaimana dengan Nuang?”


“Nuang?” Tanyaku dengan menaikkan sebelah alis.


“Itu, maksudnya queen, tapi Nuang lebih enak buat aku ucapkan, terdengar menggemaskan, bagaimana?”


“Terserah” Jawabku ketus, lalu bangun dan beranjak dari tempat itu.


Bastian mengejar langkahku, “Apa kamu tidak suka? Yaudah aku panggil sayang saja?” Tanyanya.


“TIDAK! Mending yang tadi aja. Dan aku akan memanggilmu raja katak”


“Loh kenapa begitu?” Tanyanya penasaran dengan terus mencoba menyemai langkah cepatku.


“Karena kamu lebih berisik dari katak saat hujan” Ketusku.


Bastian akhirnya memblokir langkahku dengan berdiri di depanku, “Tidak peduli apa alasannya tapi, yang pasti aku akan menyukainya karena itu nama panggilan sayangmu untukku” Ucapnya dengan sebuah senyum manis seperti biasa.


“Ya terserah” Ucapku dingin.


***


Jangan lupa dukung kami dengan memberikan like dan votenya