
“Pengertian juga orang itu, ya?” Ucap Bastian.
“Iya, enggak kayak kamu! Ayo mainkan lagu untuk api unggun kita malam ini!”
“Lagu apa?” Tanya Bastian yang sudah siap untuk memainkan gitarnya.
“Kamu tahu lagu ‘come through’ dari Jeremy?” Tanya Fara pada Bastian.
“Oh itu… liriknya yang… Eum.. Ah itu, I’m trying to realize… it’s alright to not be fine… itu kan?” Jawab Bastian.
“Iya yang itu! Ayo coba”
Batian pun mulai memperlihatkan kemahirannya dalam bermain gitar, aku sangat suka dan kagum pada suara merdu dan cara dia memainkan gitar seolah-olah dia adalah seorang penyanyi profesional.
“I might lose my mind… waking when the sun’s down… riding all these highs…waiting for the comedown…”
Lagu yang kebetulan aku hafal likirnya itu membuatku tanpa sadar itu menyanyi bersama Bastian dan Fara sedang kan kak Alex hanya diam dan tersenyum melihat kami bertiga bernyanyi girang.
Tanpa dasar keseruan itu kembawa kami pada larut malam yang dingin, kak Alex memelukku erat, lalu berbisik di telingaku dengan suara napas yang sedikit berat “Sayang, ayo kembali. Aku sudah ngantuk” Ucapnya dengan suara super lumbut dan membuat aku tidak bisa berkata-kata lagi.
Aku menarik kak Alex untuk bangun.
“Mau kemana?” Tanya Fara padaku.
“Aku mau kembali ke kamar, aku ngantuk” Ucapku dengan menatap mata kak Alex yang terlihat benar-benar mulai mengantuk.
Dengan cepat aku menarik kak Alex kembali ke kamar dan meninggalkan Bastian dan Fara yang masih tidak ingin kembali. Sempai di kamar, aku benar-benar kehilangan kendali pada diriku. Dengan sengaja aku mendorong kak Alex ke tempat tidur dan menindihnya.
“Kenapa kak Alex terus menggodaku?” Ucapku dengan terus menatap mata kak Alex.
“Aku tidak menggoda siapapun tapi.. jika kamu ingin melihat aku menggoda, maka akan aku tunjukkan apa itu ‘menggoda’ padamu” Kak Alex membalikkan posisi kami hingga aku berada di bawahnya.
“Apa kamu sudah tergoda?” Tanya nya dengan setengah berbisik di telingaku, nafasnya benar-benar terasa di telinga dan leherku.
“Jangan lakukan ini kak, aku tidak tahan dengan godaan!” ucapku sambil tersenyum kecil dan sedikit mendorongnya.
“Aku tidak memintamu menahannya” Ucap kak Alex, lalu dia menyerangku dengan sebuah ciuman dari bibir lembutnya.
Ciuman lembut itu perlahan-lahan menjadi panas, dan aku tidak bisa menahan diriku untuk tidak menunjukkan sisik buasku pada kak Alex.
Kak Alex mulai melepas bibirku, dan beralih pada pipi, kening, lalu melanjutkannya ke telingaku. Hembusan nafasnya membuat aku sedikit geli, lalu gigitan lembut itu ditujukannya ke leher dan semakin jauh hingga aku tidak tahu apa yang sedang kami lakukan saat itu. Pikiranku kosong dan seolah tubuhku dikendalikan oleh kak Alex.
“Ah… kak… A-lex, pelan-pelan!” Pintaku yang tidak bisa menahan desahanku.
Dia hanya tersenyum dan malah mempercepat gerakannya hingga membuatku tidak bisa menahan suaraku, semakin aku bersuara maka semakin dia bersemangat.
“Euhm… Alex! Ahh… Al … Eum… Alex” Tanpa sadar aku ikut menggigit bahunya.
Bukan nya dia mengeluh sakit, dia malah tersenyum senang seakan menikmati gigitanku itu. Terlihat jelas wajahnya yang sangat menikmati situasi kami, semua terjadi terlalu cepat dan aku tidak bisa mengingat rencanaku yang sudah aku susun rapi sebelum malam pertama kami benar-benar terjadi.
“Aku akan membuatmu tidak bisa melupakan malam ini” Bisiknya di telingaku dengan nafas berat yang membuat aku lebih bersemangat.
Setelah bertahun-tahun menunggu akhirnya aku benar-benar menjadi milik kak Alex seutuhnya, malam itu benar-benar panjang dan bergairah untuk kami. Aku yang sudah mengenal kak Alex bertahun-tahun baru hari itu aku tahu kalau dia benar-benar sangat luar biasa, tubuhnya sangat sempurna, aroma tubuhnya sangat-sangat membuatku tagih dan membuatku ingin terus menikmati aroma itu.
Kak Alex benar-benar menguasaiku malam itu, hingga aku merasa aku bukan Azia seperti yang aku kenal. Aku tidak tahu harus mendeskripsikan perasaanku bagaimana malam itu, antara sakit dan nikmat yang tidak bisa dijelaskan, aku benar menikmati tiap detik yang aku lalui dengannya saat itu. Pelukan hangat, suara desahanku yang tidak bisa aku kontrol, dan banyak hal yang tidak bisa aku ungkapkan lewat kata-kata membuat aku merasa kalau kak Alex adalah pilihan yang paling tepat untukku.
“Apa kamu baik-baik saja?” Tanya kak Alex padaku yang terbaring lemas di tempat tidur.
Aku hanya bisa diam karena malu, aku menutup wajahku dengan selimut, sedang kak Alex pergi ke kamar mandi.
“Gila! Kenapa aku tidak bisa mengontrol suaraku? Aku sudah membuat banyak rencana dan skenario agar terlihat seperti gadis cantik dan anggun tapi kenapa aku jadi seperti tadi?” Keluhku dalam pikiranku.
“Sayang, ini minum dulu airnya” Kak Alex mencoba menarik selimut ku tapi aku menahannya sedang sekuat tenaga.
“Ish! Kak Alex! Aku malu tahu!” ucapku yang masih tidak mau keluar dari selimut.
“Kenapa harus malu sekarang? Bukan tadi kamu sangat ganas? Sudah, ayo minum dulu! Tenggorokanmu pasti sakit karena yang tadi kan? Ayo minum dulu!”
Aku mencoba untuk keluar dari selimutku, dan melihat ke arah kak Alex yang tersenyum ke arahku dengan secangkir minuman di tangannya.
“Terima kasih” Aku mengambil air itu dan segera meneguknya. “Aku mau mandi, kak Alex keluar dulu!” Pintaku.
“Loh kenapa? Aku bahkan sudah melihat semuanya tadi!” Ucapnya dengan sebuah senyum nakal dan mata terus menatapku seolah menahan hasrat.
“Jangan katakan itu! Kak, aku benar-benar malu sekarang.” Aku menarik bantal dan melemparkannya ke arah kak Alex, sayangnya lemparan ku berhasil di tangkisnya.
“Baiklah, keluar” Lalu kak Alex keluar dari kamar.
Dengan cepat aku berlari masuk ke kamar mandi dan segera membersihkan diri dan bersiap untuk tidur. Saat sedang berkaca aku sangat kaget melihat begitu banyak bekas gigitan kak Alex memenuhi leher dan dadaku, aku tidak tahu berapa banyak lagi tanda itu yang ada di bagian tubuh yang tidak bisa aku lihat. Aku sangat malu melihat hal ini, aku tidak tahu harus bagaimana untuk menutupi bekas ****** itu, beberapa dari ****** itu benar-benar tidak bisa aku tutupi dengan baju.
“Eum! Kenapa harus sebanyak ini?” Keluhku yang malu menatap tubuhku yang penuh bekas ****** itu
“Aku harus menutupinya dengan apa? Besok pasti Fara akan mengintrogasiku jika dia melihat ini” Pikirku.
“Sayang masih lama?” Kak Alex mengetuk pintu kamar mandi.
Aku segera menggunakan jubah mandi dengan benar dan menutup bagian tubuhku yang memiliki lebih banyak bekas ****** dari kak Alex.
‘klek’
Aku membuka pintu dan terlihat kak Alex berdiri disana menungguku, dengan cepat aku pergi ke lemari dan mengambil baju tidur.
“Kenapa kamu menutupinya?” Tanya kak Alex yang mengikuti langkahku.
“Kak, aku malu tahu!” Ucapku yang buru-buru menarik baju tidur dari lemari dan berlari kecil ke kamar mandi.
Kak Alex menghalangiku di pintu masuk kamar mandi dengan tubuhnya yang besar.
“Apa kamu malu karena aku?” Tanya nya dengan ekspresi kecewa.
“Duh, kalau salah jawab bisa perang besok pagi” Pikirku.
“Tentu saja tidak” Lalu aku mencium pipi kak Alex dan menyalip lewat lengan sampingnya dan segera menutup pintu sebelum kak Alex kembali mengintrogasiku.
Tak lama kemudian aku selesai dan begitu keluar dari kamar mandi kak Alex ternyata sudah tidur duluan. Aku cukup lega melihat dia sudah tidur, setidaknya aku tidak perlu berpikir bagaimana cara mengatasi kecanggungan diantara kami berdua.
Perlahan aku naik ke tempat tidur, aku berusaha sebisaku untuk tidak membuat suara atau gerakan berlebihan yang berpotensi membangunakan kak Alex. Aku mencoba rangkak pelan ke tempat tidur, tapi tak Alex malah menarikku hingga aku terjatuh dalam pelukannya. Dia memelukku sangat erat hingga aku tidak bisa melepaskan diri darinya.
“Kak, biarkan aku tidur seperti biasa” Ucapku dengan suara kecil.
“Tapi aku tidak bisa tidur. Biarkan aku memelukmu”
“Ya udah, kalau gitu biarkan aku membenarkan posisi tidurku dulu lalu kak Alex boleh memelukku lagi”
Kak Alex pun melepasku dan aku mencoba mencari posisi tidur terbaikku, lalu tangan kak Alex kembali merahku dan kali ini dia tidak hanya memelukku, tapi dia terus mengendus rambutku.
“Rambutmu sangat harum” Ucapnya dengan setengah berbisik di dekat telingaku.
“Kak, bisa enggak sih peluk aja tapi jangan ngendus-ngendus gitu, apa lagi berbisik di telingaku” Aku sangat sensitif di telinga ku.
“Eum… Oke, kali ini aku akan membiarkanmu karena istri cantikku yang mungil sudah bekerja keras malam ini” Ucapnya dengan nada menggodaku.
“Kak!”
“Aku bercanda, ayo tidur” Kak Alex mematikan lampu dan kami pun tertidur lelap di malam yang lebih panjang dari malam lainnya.