Obsession Of Love

Obsession Of Love
i'm yours part 2



“Tapi itu membuat aku tetap terjaga dan lebih baik agar bisa bekerja dengan maksimal.”


“Kurasa itu bukan alasan yang tepat. Lain kali aku kan menyediakan minuman yang sehat untukmu. Ah, bicara soal minuman sehat, aku melihat tim produksi baru saja mengirim sampel dari minuman sehat yang akan kita jadikan produk baru nantinya, jika kamu menyetujui proposal nya maka kita kan mulai memproduksinya segera.”


“Aku akan melihatnya nanti.”


Tak lama kami sampai di tempat tujuan, karena kami tiba lebih awal terpaksa aku dan Alham hanya duduk bersantai di sebuah kafe milik temanku hingga hampir setengah jam. Lalu Alham mendapat pesan kalau orang yang akan kami temui hari itu sudah tiba.


“Selamat pagi” Sampa pria baru baya dengan senyum ramah terukir jelas di wajahnya.


“Pagi, pak Rudi. Bagaimana kabar anda?”


“Baik. Ayo duduk. Apa kalian sudah menunggu lama?”


“Tidak juga” Aku berbohong padanya.


“Apa kita pesan minuman dulu sebelum mengobrol?” Tawar pria itu pada kami.


“Tentu saja”


Lalu Alham memanggil pelayan untuk mencatat pesanan kami, tak butuh waktu lama pesanan itu segera datang, mungkin karena tempat itu sepi di jam-jam ini.


“Anak muda, kalian terlihat sangat serasi, apa kalian pasangan?” Tanya pak Rudi pada kami.


“Hah?” Serentak kami kaget.


Tidak pernah terlintas dalam pikiran kami tentang hal itu sebelumnya, jadi wajar kalau kami sangat kaget mendengar pertanyaan semacam itu.


“Tentu saja tidak, kami hanya rekan kerja.” Jawabku.


“Benarkah, sayang sekali, padahal kalian terlihat serasi. Satu tampan dan satu lagi cantik. Ah sudahlah, saya sudah terlalu mencampuri urusan pribadi kalian, ayo kita mulai bahas masalah bisnis saja” Ucapnya memecah suasana kami.


Lalu kami mulai fokus pada pembahasan bisnis, setelah tawar menawar yang cukup panjang akhirnya setuju menjadi penyetok teh untuk kebutuhan produksi perusahaan Green World, perusahaan Azia yang bergerak di bidang produk makanan sehat.


“Akhirnya selesai, apa kita kembali ke kantor?”


“Heumm… Bagaimana kalau makan dulu, lagian sebentar lagi waktu makan siang?”


“Kita makan di perjalanan saja, karena akan ada rapat jam 2” Jawab Alham sambil membukakan pintu mobil untukku.


“Terserah kamu aja lah”


Aku pun masuk ke dalam mobil, aku pikir dia akan masuk ke dalam mobil juga tapi dia malah menghilang lebih dari 10 menit.


Pintu mobil terbuka lalu dia meletakkan barang belanjaan yang cukup banyak di kursi belakang kami


‘trak’


Pintu ditutup rapat lalu dia berjalan ke pintu depan mobil, dia membukanya lalu duduk dan mulai menyalakan mobil.


“Apa yang membuatmu lama?”


“Hanya 15 menit, rasanya itu terlalu singkat bukan?” Ucapnya sambil melihat kaca spion untuk mundur.


“Heum”


Aku tidak bisa membantah tapi bagiku setiap detik terasa lama jika yang menunggu itu aku.


Di perjalanan panjang itu, hanya terdengar suara musik santai dan kadang beberapa lagu patah hati sesekali muncul. Jarak yang jauh dan kemacetan parah membuat aku muak dan ngantuk, entah sejak kapan tertidur tapi, membuka mata aku sudah berada di parkiran kantor.


“Apa sudah bangun?” Tanya Alham padaku dengan nada rendah dan lembut.


“Huem?” Aku menggeliat, mencoba mengumpulkan sebagian nyawaku. “Berapa lama kita disini?”


“Kenapa kamu tidak membangunkan aku?”


Bukan menjawab pertanyaan ku dia malah keluar dan membuka kan pintu.


“Huem, aku lapar”  Keluhku sambil turun dari mobil.


Dia membuka pintu lain dan mengeluarkan kantong belanjaan.


“Mau ngemil?” Tanya nya sambil mengeluarkan snack kentang yang baru-baru ini perusahaan kami keluarkan.


“Heum, boleh juga”


Aku pun mengambil cemilan itu dan dengan satu tarikan kuat pembungkus itu pun terbuka tapi sialnya kekuatan gigiku cukup hebat hingga membuat pembungkus snack itu terbelah dua dan makanan mulai berhamburan di lantai.


“Sial!” Ucapku spontan, lalu berjalan meninggalkan tempat itu dalam keadaan kesal.


Alham mencoba menyusul ku, ia memberikanku coklat.


“Nih makan!” Pintanya.


“Makasih tapi aku tidak lapar!” Aku memang mengatakan tidak tapi tanganku bergerak untuk meraih coklat itu. “Makasih!” Aku mempercepat langkahku dan mendahului Alham.


Mood ku kadang mudah buruk ketika baru bangun tidur tapi, satu gigitan manis dari coklat yang bercampur dengan kacang almond benar-benar mengembalikan mood ku secepat jantung berdetak.


“Enak juga” Ucapku yang terus mengunyah coklat itu hingga potongan terakhir.


Begitu pintu lift terbuka aku mulai menyadari aku ke habis coklat dan itu membuat hatiku sedikit kecewa. Aku terus berdiri di depan meja Alham, aku berharap masih ada sisa coklat di kantung belanjaannya.


Sebuah tangan yang mendarat di pundak ku berhasil membuat sebagian jiwaku melayang, aku menoleh ke belakang dan ternyata itu Alham.


“Apa anda perlu sesuatu?” Tanya padaku dengan nada formal seperti seharusnya.


“Apa coklat tadi masih ada?”


“Coklat?” Dia memiringkan kepala dan menaikan alis, seolah tidak percaya aku menunggunya hanya untuk menanyakan hal itu.


“Apa masih ada?” Tanya ku lagi.


“Ada satu, di mejaku, apa anda benar-benar ingin memakannya sekarang?” Tanya nya dengan nada ragu.


“Kenapa tidak” Jawabku.


Lalu dia berjalan ke meja dan membuka laci, dia terdiam sejenak karena sesuatu di dalam laci nya lalu dia segera mengambil coklat batangan itu dan memberikannya padaku. “Ini!” Ucapnya sambil menatapku dengan tatapan yang tidak bisa aku terjemahkan. “Kita akan rapat 30 menit lagi, setelah makan jangan lupa untuk menggosok gigi anda. Lalu dia memberikan ku pasta gigi dan sikat gigi baru yang ada di tangannya yang lain.


“Kapan kamu membeli ini?”


“Hanya berjaga-jaga saja saat aku perlu.” Jelasnya.


“Oke, makasih!” Lalu aku pun kembali masuk ke ruangan ku.


“Ada gunanya juga dia jadi sekretaris, dia cukup tahu apa yang aku butuhkan” Pikirku.


Tak lama setelah selesai dengan makanan ku, aku pun segera pergi ke kamar mandi pribadi yang ada di ruangan ku. Aku melihat gigiku dan ternyata sesuai dugaan beberapa bagian gigiku terlihat di tempali coklat, seketika aku mulai membayangkan bagaimana kalau saja aku langsung ke ruang rapat dalam posisi coklat menempel di gigi, pasti dalam seminggu itu akan jadi bahan gosip di kantor. Aku tahu aku direktur di sana tapi, tidak kecil kemungkinan kalau aku bisa jadi bahan gosip di kantorku sendiri.


“Untung ada anak itu” Pikirku sambil terus menyikat gigi.


Setelah membersihkan kotoran di gigi dan memperbaiki beberapa bagian make up ku, aku segera pergi ke ruang rapat di temani oleh Alham yang tidak pernah jauh dari 50 cm dariku.


Di rapat itu cukup banyak terjadi ketegangan antara tim pemasaran dan tim produksi, keduanya tidak saling satu pandangan dalam produk yang segera kami keluarkan. Perdebatan itu cukup panjang, karena semua memiliki pendapat yang berbeda hal itu membuat aku harus sedikit menaikkan suara agar ruang rapat kembali normal. Rapat itu harusnya selesai dalam 1 jam tapi pada akhirnya itu hampir mencapai 3 jam, karena mereka tidak ada yang mau mengalah, dan untungnya pada akhirnya setelah berdiskusi lama kami semua mendapat satu titik yang sama, itu cukup untuk mengakhiri perang dingin antara dua divisi tersebut.