Obsession Of Love

Obsession Of Love
Menunggu 2



Saat aku sudah putus asa dan berada dalam rasa kesal bercampur dengan sedih tiba-tiba sebuah jaket di selimutkan padaku. Begitu aku melihat dari mana jaket itu berasal aku cukup tidak kaget melihat cowok yang berada di depanku.


“Ngapain kamu masih di sini? Ayo pulang!” Ajaknya padaku.


“Kenapa kamu di sini?”


“Apa itu penting sekarang? Ayo pulang mumpung hujannya sedikit mereda, ni pakai halmmnya!” Andi memberiku halem untuk aku pakai.


Aku dan Andi pun segera pergi dari tempat itu, Andi membawa aku pulang langsung ke rumahnya karena dia tahu kalau aku sudah lapar dan bajuku juga sudah basah.


“Bunda, ada?” Tanyaku yang merasa rumah terlalu sepi.


“Gak ada, katanya sore baru pulang”


“Oh, bajuku gimana?”


“Eum…. Kamu pakai saja bajuku, tunggu di sini aku ambilkan handuk dan baju untukmu”


Andi berjalan cepat kearah kamarnya dan kambali dengan membawa handuk untukku.


“Lap dulu rambutmu yang basah itu! Kamu ganti bajunya di kamar aku saja, aku akan menyiapkan makanan untukmu”


“Iya, terima makasih, Andi!”


“Iya, cepat ganti baju sana, lalu makan”


Aku segara pergi ke kamar Andi dan di sana sudah ada baju kaos merah muda miliknya.


“Hahaha… Dia masih suka dengan warna-warna semacam ini dasar aneh!”


Di dalam kamar Andi aku melihat banyak hal yang sama anehnya seperti Andi, ada banyak poster anime yang dia gemari, beberapa figuran pun ada di dalam kamar itu, dan di tambah dengan beberapa bantal yang bergambar karakter dari game yang dia mainkan. Tidak banyak yang tahu kalau Andi itu manik game dan itu termasuk orang tua Andi dan itu juga alasan kenapa Andi tidak mengizinkan siapapun memasuk ke kamarnya. Pintu kamar Andi selalu terkunci dan dia bahkan rela membereskan kamar sendiri agar tidak ada yang masuk ke kamarnya dengan alasan apapun. Di kamar itu juga di hiasi dengan peralatan game yang super lengakap dan saat itu aku mulai menyadari alasan Andi banyak meminjam uang padaku padahal dia selalu mendapat uang bulanan dari ayahnya.


Setelah berhanti baju aku duduk di kursi yang di beli khusus agar saat main game dia merasa lebih leluasa bergerak dan tempat itu juga cukup nyaman. Lalu aku melihat di pujok meja ada sebuah album foto di dekat foto Mia yang di pajang dengan jelas dalam bingkai cantik, aku pikir mungkin itu album foto dia saat kecil tapi ternyata begitu aku membukanya, isinya di luar pikiranku. Semua foto berisi karakter anime dan karakter game yang dia suka berseta tanda tangan dari penciptanya.


“Dia habiskan uang hanya untuk benda semacam ini? Dasar anak itu!” Lalu aku melatakkan kembali album foto itu dan segera keluar karena aku sudah cukup kelaparan.


Begitu aku tiba di meja makan ternyata Andi sudah menyiapkan semua untukku, dari mulai makanan, air, dan sampai ke alat makan pun dia persiapkan dengan lengkap untukku.


“Ayo cepat duduk dan makan!”


“Kamu gak makan?”


“Aku udah tadi, aku buat untuk kamu aja”


“Makasih Andiku yang baik hati!”


“Iya, yaudah cepat makan sebelum dingin”


Aku selalu suka apapun yang Andi masak karena dia punya keahlian masak yang sama seperti Bundanya, dia sangat pintar mengolah semua bahan menjadi sebuah makanan yang super enak.


“Kalau sudah siap makannya kamu jangan lupa minum vitamin ini”


“Buat apa?”


“Ya supaya kamu sehat dan tidak sakit karena hujan tadi, terlebih kamu juga kayaknya keseringan bergadang”


“Kamu tahu dari mana?”


“Nanti pulang lihat ke cermin, perhatikan seberapa parahnya mata pandamu itu”


“APA?!”


“Gak usah lebay kagetnya dong! Bunda baru beli masker mata untuk menghilangkan mata panda, kamu pakai itu aja, nanti aku kasih pas pulang jadi jangan panik”


Saat kami akan keluar rumah hujan malah semakin lebat, kami melihat kearah langit dan tertanya awan hitamnya semakin tebal meski angin tidak separah tadi.


“Ayo masuk lagi! Kalau udah berhenti hujannya baru aku anterin kamu pulang”


“Eem” Aku mengikuti langkah Andi masuk ke dalam.


Ketika Andi akan menutup pintu tiba-tiba saja ada mobil yang berhenti di depan para rumah Andi, lalu supir mobil keluar dan memayungi orang yang keluar dari pintu samping mobil. Seorang gadis cantik berlari memasuki gerbang rumah Andi dan di ikuti supir yang ikut berlari mengikuti gadis itu.


“Kenapa kamu di sini?” Tanyaku pada dia.


“Andi bilang kalau kamu menunggu si kampr*t sialan itu berjam-jam dan di dalam hujan?! Kamu tahu begitu mendengarnya aku langsung berangkat ke sini dan menembus macet untuk menemuimu, apa kamu baik-baik saja?”


“Iya, aku baik-baik saja!”


“Kalau gitu ayo kita pulang!” Fara menarik tanganku untuk ikut dengannya.


“Tunggu dulu! Inikan masih hujan kalian bisa…”


“Stop! Andi, kamu lupa ya kalau aku bawa mobil jadi gak masalah, ayo pulang Azia!”


Fara menarikku masuk ke dalam payung dan supir memayungi Fara tadi pun berlari di depan kami dan membuka pintu untuk kami berdua.


Selama di jalan Fara benar-benar terlihat kesal, dia tidak bicara sama sekali padaku dan wajahnya terlihat sangat masam. Sorot matanya yang tajam melihat ke depan membuat aku takut untuk memulai pembicaraan. Rasa gelisah tiba-tiba menyelimuti diri, aura yang di keluarkan Fara membuat aku menjadi merasa di sudutkan dalam ketakutan.


“Azia, aku minta kamu putus dengan si Alex itu sekarang?!”


“Ta… Tapi kenapa?” Bicaraku terbata-bata karena terlalu takut pada Fara.


“Jika kamu masih menganggapk aku teman dan menanggap kami semua penting untukmu, sekarang tolong putus dari Alex.”


“Fara, tenang dulu! Pasti ada salah paham, ini bukan salah…”


“Stop membela si sialan itu! Lihat ini!”


Fara memberikan aku sebuah amplop coklat, aku tidak mengerti apa yang menyebabkan Fara semurka itu. Aku membuka amplop itu dengan sesekali melihat kearah Fara yang masih terlihat sangat marah. Aku cukup kaget ternyata isi dari amplop itu adalah foto-foto kak Alex dengan beberapa wanita dan beberapa aku kenal, aku sebenarnya juga marah tapi, aku tidak mau putus dengan kak Alex, aku sangat mencintainya.


“I-ini pasti ada kekeliruan! Kita bisa..”


“Stop Azia! Aku sudah cukup sabar dalam beberapa bulan ini tapi aku tidak tahan lagi dengan semua kelakuannya di belakangmu dan kamu ingat minggu lalu kalau muka Andi luka-luka?”


“Apa hubungannya dengan kak Alex?”


“Semua itu karena dia! Aku sudah bilang pria sialan itu cemburuan, karena sifatnya itu dia membuat muka Andi terluka, apa kamu tidak mengerti?!”


“Fara, katakan dengan jujur, apa semua ini karena untuk kebaikanku atau untuk Andi?”


“Kenapa kamu bertanya seperti itu?” Fara mulai salah tingkah dan dia mengalihkan matanya dariku.


“Fara, katakan sekarang!”


“Tentu saja ini untuk kalian berdua, kamu adalah sahabatku yang sudah aku anggap seperti adik kecilku dan Andi adalah cowok yang aku cintai, aku melakukan semua ini untuk kalian dan itu karena aku sayang dan peduli pada kalian berdua.”


“Kamu sahabatku, harusnya kamu tahu betapa aku mencintai kak Alex! Masalah perkelahian Andi dan kak Alex, aku akan mengurusnya tapi untuk putus itu… Ini bukan masalah kecil, ini masalah perasaan Fara.”


Lalu kami sampai di rumah dan hujan pun sudah reda, aku segera berlari turun dari mobil.


Bersambung


 


Jangan lupa untuk meninggalkan jejak bacaan kalian dan mengfavoritkan novel ini