
“Aku tidak akan menyesalinya. Dibanding menyesalinya, aku akan terus mensyukurinya seumur hidupku, karena itu tolong jangan berpaling lagi, sayang”
Ucap Alex sambil menari Azia dalam pelukannya, kedua mata mereka kini saling bertatapan, entah sihir apa yang diberikan oleh mata Alex, tapi yang pasti Azia sudah terhipnotis dan masuk dalam hasrat yang tidak pernah keluar sebelumnya. Tanpa permisi Alex berhasil mencium Alex, ciuman itu tidak terlalu lama namun cukup berkesan untuk keduanya, seolah ciuman itu pertanda bahwa mereka telah kembali bersama.
***
Jam sudah menunjukkan pukul 11:58 WIB, tapi Azia belum kunjung memberi kabar, nomornya tidak bisa dihubungi sejak sore tadi, padahal Zuzu sudah merengek dari siang ingin bertemu Azia, Bastian terus mencoba menenangkan anak itu tapi bujukannya tidak mempan untuk menenangkan gadis kecil itu.
“Akhirnya dia tidur, Azia kemana sih, kenapa sudah jam segini belum pulang juga?” Gumam Bastian sambil menatap gadis kecil yang sedang tidur pulas setelah lelah menangis sepanjang sore.
klekk!
Pintu kamar terbuka, terlihat sosok Azia yang entah kenapa aura yang dipancarkan saat itu terlihat sangat cerah, raut wajahnya juga nampak jelas sedang bahagia, terdapat senyum tipis di wajah cantiknya sedari tadi.
“Dari mana saja kamu?” Tanya Bastian dengan raut wajah kesal.
Senyum Azia luntur, kini hanya tinggal ekspresi datar dan dingin menatap laki-laki yang ada di depannya. “Memangnya kenapa?” Azia balik bertanya dengan nada dinginnya, langkahnya diteruskan menuju kamar mandi.
Melihat respon Azia yang acuh dan tidak peduli, Bastian pun keluar dari kamar itu. Jelas dia sedang marah pada tunangannya itu, dia pun menghubungi seseorang untuk mencari tahu kemana Azia dari siang hingga membuat dia pulang tengah malam.
*
*
Pagi tiba, salah satu koki dari restoran milik Bastian datang untuk memasak sedari jam 6 pagi.
“Makanan sudah siap tuan, saya harus segera kembali ke restoran sekarang, apa ada perintah lain untuk saya?” Tanya sang koki itu.
“Tidak ada, kamu bisa kembali sekarang” Perintahnya dengan mata fokus membaca pesan dari orang yang diminta menyelidiki alasan Azia tidak ada kabar dari siang sampai sore.
“Kamu masak?” Tanya seorang perempuan yang masih menggunakan piyama berwarna maroon.
“Bukan, ini masakan dari koki restoran ku” Jawabnya dengan nada datar dengan mata mengarah fokus ke handphonenya, sedang lawan bicaranya menatap heran padanya.
“Kamu kenapa?” Tanya Azia sambil menarik kursi yang berhadapan dengan Bastian.
“Memangnya aku kenapa?” balik tanyanya dengan nada acuh.
“Kenapa kamu balik nanya? Kamu sedang ada masalah atau apa?” Tanya Azia lagi.
“Tidak tau” Jawabnya dengan ekspresi cemberut cendrung kesal.
“Bastian, jangan buat aku pusing, katakan saja apa masalahmu!” Ketus Azia yang sudah tidak tahan dengan nada bicara Bastian padanya.
Bastian menarik napas berat, handphone di tangannya pun diletakkan di meja, ia membuang muka ke samping, sengaja ia menghindari kontak mata dengan perempuan yang ada di depannya itu. Ia sedang sangat kesal, ia ingin lawan bicaranya menyadari kalau dia sedang ngambek dan berharap segera di bujuk.
“Kamu ngambek?” Tanya Azia yang menyadari tingkah Bastian yang aneh itu.
Bastian hanya diam, dia tetap dalam posisinya yang menghindari kontak mata dengan Azia.
“Raja kodok ku kenapa? Apa kamu marah padaku? Karena semalam aku pulang telat? Atau karena handphone ku mati?” Tanya Azia.
Bastian tidak menjawab pertanyaan-pertanyaan itu, ia masih sangat kesal sekarang, mendengar kalau Azia tau kesalahannya, tapi kita kunjung meminta maaf itu membuat dia semakin kesal pada tunangannya itu. Bastian bangun dan berjalan menuju ruang tamu, diambilnya cemilan yang ada di meja kaca dan ia pun mulai memakannya.
Tak lama Azia menyusul dengan segelas jus apel di tangannya, “Nih minum” Ucapnya sambil meletakkan gelas berisi jus apel itu di meja.
“Aku minta maaf karena tidak mengabarimu karena telat pulang, aku juga menyesal karena berkata kasar pada kamu yang sedang khawatir malam itu. Jangan ngambek lagi, ya” Bujuk Azia dengan nada lembut.
Tidak butuh waktu lama Bastian pun luluh, diletakkannya kembali toples berisi cemilan dan diambil gelas berisi jus itu, lalu diminumnya hingga habis. “Sebenarnya aku masih kesal, tapi karena kamu membujukku seperti ini… aku akan memaafkanmu tapi… jawab dulu pertanyaanku, jika kamu berbohong maka masalah ini akan panjang” Ancamnya dengan meletakkan gelas kosong di tangannya ke meja.
Sejenak Azia terdiam dan berpikir, lalu ia mengangguk dengan senyum tipis terukir samar.
“Sekretaris mu mengatakan kamu pulang kerja sejak jam 2 siang, lalu kemana kamu pergi? Kamu tidak di apartemen, bahkan pulang malam tanpa alasan yang jelas” Ucapnya dengan nada kesal yang terdengar cukup jelas.
Azia menyadari jika laki-laki di depannya itu bertanya bukan tanpa alasan, dapat dipastikan ia sudah mengantongi informasi pasti tentang kemana dan dengan siapa Azia habiskan sore dan malamnya kemarin.
“Aku bertemu dengan kak Alex” Jawab Azia jujur, meski berat tapi dia memang harus jujur atau masalah baru yang tidak terduga akan muncul karena kebohongannya.
“Aku hanya ingin… ingin mengucapkan terima kasih saja pada kak Alex karena telah menyelamatkan kakek, apa itu salah?”
“Salah!” ucapnya dengan nada meninggi, matanya kini saling beradu dengan mata Azia. “Harusnya kamu mengajakku dan bukannya makan berdua dengan laki-laki lain, apa kamu menyukainya?” Tanya Bastian kesal.
Deg
Pertanyaan yang tidak terduga dari Bastian cukup membuat jantung Azia seolah berhenti dalam satu detik.
“A-apa yang kamu bicarakan! Suka? Omong kosong apa itu, aku hanya menghormatinya sebagai kakak laki-laki kenalan ku saja, tidak lebih” Jawab Azia bohong.
“Syukurlah kalau begitu” Bastian merasa lega mendengar jawaban dari Azia, tapi wajahnya kembali mengekspresikan kekesalan lainnya, “Tapi aku masih marah padamu, padahal kita sudah bertunangan selama 5 tahun tapi, selama ini tidak pernah sekalipun kamu berinisiatif mengajakku makan malam berdua, bahkan kamu juga tidak pernah bersikap romantis padaku” Ketusnya kesal.
“Baiklah, aku akan mengajakmu makan malam berdua akhir pekan ini, bagaimana?” Tawar Azia yang diangguk antusias oleh Bastian, “Kamu janjikan” Tanya Bastian.
“Iya janji” keduanya pun melakukan janji kelingking.
“Janji? Zuzu juga mau ikut” Ucap gadis kecil yang baru saja bangun.
Azia bangun dan menggendong Zuzu, “Bayi kecil ku sudah bangun, apa tidurmu nyenyak sayang” Ucapnya lalu kecupan ke kedua pipi gembung gadis kecil yang menggemaskan itu.
“Mimi kangen” Peluknya dengan kedua tangan kecilnya itu, disandarkannya kepala pada bahu Azia, “Mimi kenapa tidak pulang kemalin?” Tanyanya.
“Mimi pulang kok sayang, tanya aja sama Pipi mu itu” Liriknya pada Bastian yang hanya menatap kedua orang yang ada di depannya.
“Iya Mimi mu pulang tapi telat, entah apa yang dilakukannya sampai pulang larut malam” Sindirnya.
“Aku kan sudah minta maaf, jangan menyindirku begitu” Ucap Azia datar.
“Mimi jangan pelgi lagi, ya” Pinta gadis kecil itu dengan manja.
“Ayo cuci muka dulu, lalu kita makan” Azia membawa Zuzu kembali ke kamar, tak berapa lama keduanya kembali dengan wajah sudah segar, “Kita sarapan, ya sayang” Ucap Azia sambil berjalan menuju meja makan, lalu Bastian menyusulnya dari belakang.
“Hari kamu pulang jam berapa?” Tanya Bastian.
“Kenapa bertanya?” Tanya Azia.
“Bisa tidak jangan balik tanya, tinggal jawab saja apa susahnya sih” Ketus Bastian kesal.
“Aku pulang jam 4, tapi malamnya aku harus ke acara promosi produk baru yang akan louncing, kalian boleh ikut kalau mau” Tawar Azia.
“Zuzu juga ikut?” Tanya Zuzu yang berhenti makan dan fokus pada Bastian.
“Tentu saja sayang” Jawab Bastian lembut.
“Asyik, Zuzu ke pesta!” Ucapnya girang, “Zuzu mau pakai baju pelinces, Mimi belikan baju cantik untuk Zuzu, Zuzu mau jadi pelinces” lanjutnya dengan ekspresi sangat bahagia.
“Nanti beli sama Pipi saja ya sayang, soalnya Mimi harus kerja”
“Eum… baik Mimi, Pipi nanti kita beli baju, yaa~” Pintanya dengan mata berbinar.
“Iya sayang, nanti kita beli, tapi setelah makanannya habis oke, kalau nggak habis, nggak jadi beli bajunya” Ucap Bastian dengan senyum tulus pada putri angkatnya itu.
Dengan cepat Zuzu melahap makanannya, meski dia tidak suka sayur tapi, demi baju princess yang ingin dibeli, dia pun melahap semua makanan dalam piringnya hingga habis.
“Aku selesai, aku akan bersiap-siap ke kantor. Kalian bisa langsung pergi saja, ini biar pekerja yang akan bereskan nanti. ART kembali hari ini, mungkin dia akan kesini sekitar jam 10, jadi kalian bisa pergi saja dulu.”
“Eum, baik. Nanti kalau pulang kabari ya, aku akan jemput”
“Buat apa jempus? Aku kan bawa mobil”
“Mobilmu tinggal saja di kantor nanti, aku ingin menjemputmu bersama Zuzu” Kekeh Bastian tidak mau mengalah.
“Baiklah, terserah” Azia pun melangkah menuju kamar.
***