Obsession Of Love

Obsession Of Love
Mendadak tunangan



Beberapa saat sebelum Mia pulang dalam keadaan menangis. Di sebuah café yang sedang populer di bicarakan di media sosial, Mia dan pacar barunya Carlan sedang duduk berdua sambil berbincang mesra.


“Sayang, aku rasa kamu deh takdirku”


“Ih, yang benar!?”


“Iya, soalnya kamu adalah cowok yang bisa membuat aku menggebu-gebu.”


“Menggebu-gebu hidung mu!” Lalu kakak Mia datang dan menjewer telinga Mia yang sedang pacaran.


“Au.. Au … Au! Sakit kak!” Mia meringis kesakitan hingga kakaknya berhenti menjewer telinganya.


“Kamu bolos sekolah demi pacaran? Dasar tidak tahu diri! Ayo pulang!” Kakak Mia kembali menjewer Mia sambil membawa dia keluar dari tempat itu dan di ikuti oleh pacar Mia di belakang.


“Aduh kak, sakit! Kak, lepasin dulu dong! Ini sakit”


“Tahu sakit, sekarang masuk ke mobil! Dan kamu, menjauh dari adik saya, anak tidak ada masa depan seperti kamu jangan coba-coba mendekati adik saya lagi atau akan saya hancurkan hidupmu, paham!”


Carlan benar-benar terdiam membisu melihat kakak Mia mengamuk di depan matanya, tatapan Hendrik seakan menembus jiwa lemah Carlan.


“Kakak, udah, ayo pergi! Malu di liatin orang-orang!” Mia menarik kakaknya untuk keluar dari tempat itu.


“Tahu malu juga kamu, ya? Kalau tahu malu, harusnya kamu tidak membuang-buang uang hasil kerja orang lain hanya untuk bersenang-senang dengan berandalan ini!” Tunjuk pada Carlan yang hanya bisa diam saat di marahi oleh kakak Mia.


“Kak, ayo pergi, nanti kita bicara di mobil! Dan kamu, maaf, ya kita putus aja, aku pikir kita gak di takdir kan bersama, bye!” Mia menarik kakaknya sebelum menimbulkan keributan yang lebih besar lagi.


Di dalam mobil ternyata ada seorang lelaki yang sudah lama tidak dilihat Mia.


“Kamu!” Begitu menyadari ada lelaki itu dalam mobil Mia langsung bergegas keluar lagi.


“Mau kemana kamu?” Kak Hendrik Menahan tangan Mia.


“MASUK! Kita pulang sekarang!” Bentak Hendrik pada adik satu-satunya itu.


“Kak, aku gak mau pulang kalau ada dia di dalam mobil!”


“Kenapa? Ada masalah dengan Dirga? Dia itu calon tunangan kamu, jadi kamu harus biasakan diri melihatnya.”


“Tunangan? Jangan ngada-ngada, deh! Kalian aja pacaran dengan orang yang kalian suka, lalu kenapa aku harus di jodohkan?”


“Karena kelakuanmu sudah melewati batas, sekarang kamu masuk atau mau kakak seret paksa?!”


“Iya deh aku masuk!” Mia itu paling takut pada amarah kakaknya karena kakaknya tidak main-main kalau sedang marah.


“Hai! Sudah lama ya tidak bertemu, bagaimana kabarmu?” Tanya Dirga dengan senyum ramahnya dan melambai kearah Mia yang melihat kearahnya.


“Apa peduli mu! Kenapa kamu harus kembali ke sini sih? Pulang aja sana ke Amerika, jangan ganggu hidup orang lagi!” Lalu Mia membuang muka dari Dirga karena dia masih marah pada Dirga yang pergi tanpa pamit padanya.


“Aku ke sini karena harus tunangan sama kamu, lagian aku sangat merindukan kamu.”


“Rindu? Jangan bercanda deh! Orang kayak kamu gak akan merindukan aku, dasar idiot sialan!”


“Mia, jaga ucapan mu!” Kak Hendrik kembali memarahi Mia karena ucapan kasarnya pada Dirga.


“Gak papa kok kak! Lagian mungkin aja Mia masih marah karena aku pindah tiba-tiba dulu, padahal aku sudah sering menghubungimu setelah itu, kamu selalu mengabaikan aku, ya’kan?”


“Untuk apa kamu menghubungiku, kamu pindah aja gak bilang aku, ya’kan?”


“Ada kok, aku pernah membahasnya saat kita sedang belajar bersama di rumahmu, Azia dan Fara juga ada di sana hari itu.”


“Jangan bohong!”


Begitu sampai Mia langsung turun dan berjari dari mobil dan menghampiri orang tuanya, dia berharap ada yang membelanya waktu itu. Sayangnya semua orang marah  begitu tahu Mia bolos sekolah hanya untuk pacaran, Mia kembali di hantam dengan amarah kedua orang tuanya.


“Kamu sudah sangat keterlaluan! Kali ini Papa tidak akan memaafkan kamu! Dan masalah tunangan, kamu tidak bisa menolak setelah kesalahan hari ini yang kamu buat, sekarang masuk ke dalam dan renungkan perbuatan mu!” Bentak orang tua Mia.


“Papa kok tega gitu sih sama aku? Ini semua gak adil! Aku gak mau tunangan sama anak itu!” Mia menunjuk Dirga yang berdiri di samping Roni yang merupakan kakak pertama Mia.


“Jaga sikapmu, dasar anak nakal! Minta maaf pada Dirga sekarang!” Bentak Papa Mia pada putri kesayangannya.


Mia menunggu penjagaan merenggang, lalu kabur lewat jendela kamarnya seperti biasa, lalu di jalan dia malah bertemu dengan Dirga.


“Kamu mau kemana?” Dirga menghalangi langkah Mia.


“Apa mau mu? Menyingkir dari jalanku!”


“Kamu tidak boleh keluar dalam keadaan marah, bagaimana kalau kamu melakukan hal konyol di luar sana?”


“Aku tidak bodoh tahu! Aku mau ke rumah Fara!”


“Kalau gitu, ayo aku anterin”


“Gak perlu!” Mia berjalan dan melewati Dirga.


“Kalau kamu gak mau dianterin boleh tapi, aku panggil kakak mu, ya?!” Ucap Dirga dengan nada sedikit mengancam dan bersiap untuk berteriak agar kak Hendrik  dan kak Roni datang dan menangkap basah Mia yang sedang ingin kabur dari rumah.


“Jangan!! Dasar sialan! Ayo kalau gitu!”


Pada akhirnya Mia di kalahkan oleh rasa takutnya pada kakak tertuanya yang kalau marah itu udah kayak iblis aja.


“Jadi, apa yang kamu lakukan di sekolah? Apa kamu hobi pacaran?” Tanya Dirga basa-basi.


“Kamu jangan ngada-ngada! Aku tidak seperti itu, kakak ku itu hanya melebih-lebihkan saja! Dan kamu sendiri apa yang kamu lakukan selama tinggal di luar negeri?”


“Tentu saja belajar, dan sekarang aku akan mengejar gelar masterku di sana.”


“Gelar master? Serius? Usia kita hanya beda setahun lebih aja, tapi kamu kok bisa?”


“Ya, karena aku belajar dong, aku tidak membuang waktu seperti kalian. Oh iya, ngomong-ngomong soal belajar, aku pernah menawarkan Azia beasiswa di tempatku, kenapa dia menolak? Padahal dia punya potensi dengan kecerdasannya.”


“Kamu tidak tahu, ya?!”


“Tahu soal apa?”


“Dia mengalami beberapa masalah, sekarang neneknya di rumah sakit dan dia mengatakan akan melupakan impiannya menjadi seorang ilmuan karena dia ingin terus berada di sisi neneknya dan merawatnya hingga akhir.”


“Sayang sekali! Aku harap semua akan baik-baik saja pada akhirnya.”


“Ya, sekarang dia lebih baik setelah mendapat pacar yang seorang dokter, dia cukup tampan dan bisa diandalkan, kami pikir akan menyerahkan Azia kalau anak sialan itu bisa menjaganya.”


“Kamu masih belum berubah juga, ya? Masih suka bicara kasar dan terlalu protektif kalau soal Azia. Kadang aku berpikir Azia itu anak kalian berdua karena kalian terlalu menjaganya.”


“Tentu saja kami menjaganya karena dia itu terlalu rapuh dan kali ini kami tidak akan membiarkan hal yang terjadi di masa lalu terulang kembali”


“Oh, baguslah! Sekarang setidaknya kalian tidak perlu mengawatirkan anak itu, dan kamu bisa fokus mengurusku di masa depan.” Ucap Dirga dengan PD nya.


“Jangan mimpi! Kita tidak akan bertunangan, paham?!”


“Gak, aku gak paham! Tanggal acaranya sudah di tentukan, sekitar dua minggu dari sekarang bersiaplah!” Ucap Dirga dengan penuh percaya diri.


“Kita sudah sampai” Mobil Andi berhenti di depan rumah Fara.


Mia langsung berlari turun tanpa bicara sepatah kata pan pada Dirga yang sudah mengantarnya.


“Anak itu masih sama, kalau ngambek suka sekali kabur-kaburan, mari kita tunggu sampai kapan kamu mau begitu” Ucap Dirga sambil memandangi Mia yang sedang berlari menjauh dari mobilnya.


Begitu sampai di rumah Fara, Mia langsung masuk ke kamar dan menangis di dekat Fara yang sedang nonton drakor sendirian karena dia jomblo setelah putus dari Jordan beberapa jam sebelum dia memutusakan untuk nonton drakor yang belum habis dia tonton semalam.


“Kamu kenapa?”


“Huhuhu…. Aku kesal banget sama kakak dan orang tuaku” Lalu Mia pun menceritakan masalahnya pada Fara sambil menangis. Dan begitulah yang terjadi lalu menceritakan hal itu sampai kamu hampir lupa tidur.


Bersambung…..


Jangan Lupa Buat LIKE Ok! Aku selalu menunggu dukungan dari kalian karena semangatku datang dari satu Like dari kalian semua. Sampai Jumpa di episode berikutnya.