
"Eum" Angguknya patuh.
"Kita bicara lain kali, aku pergi dulu" Aku pun segera meninggalkan tempat itu.
Keesokan harinya....
Aku pikir setelah pembicaraan kami kemaren Bastian akan berubah, ternyata salah. Anak itu makan menjadi-jadi, apa lagi dengan postingannya di sosmednya yang memancing para netize satu sekolah mulai ribut dan memberikan banyak pertanyaan padaku.
Postingannya di twitter cukup membuat aku mendapat wawancara dadakan dari para teman sekelas dan beberapa anak yang percaya soal gosip kalau kami ini pacaran.
"Azia lu putus dari Bastian?" Tanya Ando teman sekelasku.
Aku yang mendengar pertanyaan yang sudah berulang kali ditanyakan orang lain itu pun hanya bisa melirik sinis kearah Ando, lalu berjalan melewatinya begitu saja. Aku benar-benar capek dengan semua wawancara dadakan ini, Bastian udah cukup membuat aku jadi topik gosip disekolah.
"Azia, Lo...."
"Stop Andini! Aku capek di introgasi dari tadi pagi, semua orang kenya pengen banget tau kalau aku beneran pacaran sama Bastian atau siapa cewek dalam foto itu, aku beneran capek Dini, senggaknya kamu jangan tambah beban aku hari ini, ya" Keluhku pada Andini yang di balas anggukan dan dia pun segera kembali ke kursinya.
"Azia, are you oke?" Tanya Shen pada aku yang sedang memikirkan cara memberi pelajaran pada Bastian.
"maybe" Jawabku dengan lesu, lalu merebahkan kepalaku ke meja.
"Az, besok kita ulangan matematika, belajar bareng yuk pulang sekalah nanti?"
"Dimana?" Tanyaku pada Rara teman yang duduk di belakangku.
"Di cafe aku aja, disana nyaman dan kita bisa duduk disana lama"
"Oke, deh. Tapi kita pulangnya tunggu semua orang pulang dulu ya" Pintaku.
"Oke" Jawabnya singkat.
Tak lama setelahnya guru masuk dan pelajaran di mulai, selama pelajaran di mulai aku masih kepikiran dengan Bastian. Aku benar-benar tidak habis pikir dengan anak itu, aku pikir dia akan berubah setelah aku tegur, rupanya dia masih sama saja.
***
Ulangan...
Beberapa hari ini aku sengaja menghindari Bastian dan fokus pada perlajaranku, meskipun beberapa fans Bastian kadang datang menemuiku dan menanyakan banyak hal gila bahkan kadang dari mereka juga mengatakan hal buruk padaku, tapi aku hanya bisa diam untuk saat ini karena posisiku sekarang hanya anak pindahan yang tidak kenal banyak orang dan juga statusku dengan Bastian itu masih belum di publikasikan. Meski banyak yang terjadi, setidaknya aku percaya dengan hasil ulanganku akan tetap sempurna seperti biasa.
Saat istirahat aku tidak sengaja melihat pakan nilai yang di tempel di dinding kelas Bastian, aku benar-benar kaget melihat anak itu mendapatkan nilai yang paling rendah dari 23 siswa, bahkan nilainya lebih rendah dari nilai teman sekelasku yang mendapatkan nilai paling rendah di kelas kami.
"Bikin malu aja" Gumaku
Lalu aku melanjutkan perjalananku menuju kantin, tidak sengaja aku melihat Bastian sedang duduk berdua di depan kelas lain dengan seorang gadis yang lebih muda dariku. Karena sejak awal tidak ada perasaan apapun diantara aku dengannya, karenanya aku tidak terlalu peduli dengan apa yang dilakukan anak itu, aku melewati mereka begitu saja.
Tiba-tiba langkahku terhenti karena Bastian menarik tanganku hingga aku terpentar mundur dan jatuh dalam pelukannya. "Lepas!" Aku mencoba berdiri dan mendorong Bastian menjauh.
"Kamu mau kemana?" Tanya dia padaku.
"Kantin" Balasku singkat sambil melanjutkan langkahku yang sempat terhenti.
"Azia, kamu nggak mau mengatakan apapun padaku? Ini sudah beberapa hari dan kamu terus menghindariku, pensaku tidak di balas, aku temui di rumah pun aku selalu nggak mau keluar kamar, sebenarnya kamu kenapa?" Ucapnya yang seolah-olah sejak awal kami memiliki hubungan yang baik dan aku yang bersalah dalam hal ini.
"Mending kamu nggak usah mengikutiku, aku capek. Kamu pergi aja, nanti para penggemarmu menyerangku lagi, aku capek di serang dengan kata-kata si*lan mereka itu." Bentakku kesal.
"Kalau kamu nggak mau mereka terus bertanya-tanya, bagimana kalau kita publikasi hubungan kita dengan benar? Aku tidak ingin hanya gosip yang membenarkan hubungan kita, aku mau kamu dan aku benar-benar mempublikasikan hubungan ini, bagaimana?" Ujarnya tanpa pikir panjang.
"Terserah" Aku mencepat langkahku hingga meninggalkannya cukup jauh.
Untuk pertama kalinya aku menyesal mengatakan kata 'terserah' apa lagi pada anak yang bernama Bastian itu, semua jadi semakin buruk karena tiba-tiba di sore hari yang aku pikir akan jadi soreku yang tenang, rupanya malah menjadi soreku yang menyiksa, dan membuat sakit kepala.
notifikasi dari aku sosmed dan pesan andi cukup menggangguku, pada akhirnya aku mengecek pesan apa yang Andi kirimkan padaku sebelum melihat sosial mediaku yang pastinya sedang ramai-ramainya.
Pengen rasanya aku berlari dan menemui Bastian, lalu memberinya beberapa pukulan hingga dia menghilang dari dunia ini dan berhenti membuat aku susah. Aku pikir Bastian tidak akan benar-benar mempublikasikan hubungan kami, apa lagi dia itu playboy, mana mau dia ketahuan punya pacar sama para penggemarnya, rupanya pikiranku salah dan dia malah membuat aku dalam masalah.
"Ngapain dia lakuin ini sih?" Aku pun pada akhirnya membarikan balasan pada postingan Bastian yang membuat anak itu dalam hitungan detik menghubungiku.
Dringg...
Handphoneku terus berbunyi dan tentunya itu dari Bastian tapi, aku sengaja mengabaikannya karena aku sedang kesal padanya. Lalu tak lama beberapa pesan dari Andi terus bermasukakan, aku tidak langsung membalas pesan itu, hingga beberapa saat Andi menghubungiku dengan nomornya yang lain.
Dringg...
Aku langsung menjawab panggilan itu tanpa ragu.
"Azia, kamu pacaran sama cowok lain? Alex gimana Azia? Kamu taukan dia nggak bisa lupain kamu dan kamu juga bilang dulu ke aku kalau kamu akan segera kembali pada Alex setelah semuanya selesai" ucap Andi dengan nada kecewa dan marah padaku.
"Itu rencana awalku sebelum kakek berbuat nekat dan mencelakai kak Alex. Andi, aku tu nggak sanggup kehilangan kak Alex karena itu aku lebih memilih mengorbankan cintaku dari pada melihat dia harus pindah alam karena keegoisanku." Tanpa sadar aku pun menangis di tengah-tengah percakapan kami. "Aku cinta banget sama kak Alex Andi, tapi aku nggak bisa bersama dia, aku nggak mau dia luka karena aku, ini jalan terbaik untuk kami Andi. Tolong mengerti aku" Lanjutku.
"Azia aku minta maaf, aku nggak tau kalau semua udah kayak gini. Tapi apa Alex akan rela jika kamu dengan yang lain? Bagaimana kalau Alex lihat postingan cowok itu?"
"Nggak Andi, kak Alex nggak akan tau kecuali kalian yang kasih tau, karena kak Alex itu cuma punya IG dan nggak punya akun sosmed lainnya, dia terlalu sibuk hingga nggak punya waktu untuk membuat banyak akun sosmed lainnya, jadi tolong rahasiakan ini setidaknya sampai kak Alex menemukan orang lain"
Sejenak Andi terdiam, seolah sedang mempertimbangkan sesuatu, "Azia, aku ragu soal orang baru tapi, aku berjanji masalah ini tidak kan terdengar ke telinga Alex"
"Makasih Andi, kalau gitu aku mau lanjut kegiatanku dulu"
"Oke, bye"
Baru selesai bicara dengan Andi, tiba-tiba Bastian sudah ada di depan pintu kamarku dan terus mengetuk pintu kamar yang sengaja aku kunci karena tidak ingin ada gangguan.
tok tok tok
"Sayang, buka pintunya, aku mau bicara! Azia! Azia"
"Iya bawel, ni lagi dibuka" Ucapku sambil membuka pintu.
"Azia, maksud kamu apa dengan komentar tanda tanya itu? Kamu nggak mau publis hubungan kita? Kamu kan udah setuju tadi lalu kenapa sekarang berubah lag?"
"Bawel, iya aku setuju, udah sana pulang, aku masih harus belajar."
"Ini udah sore Azia, kenapa kamu selalu belajar? Kamu nggak bosan?"
"Nggak" Jawabku ketus lalu aku berjalan kembali kearah meja belajarku. "Pulang saja" Usir ku pada Bastian yang masih belum pergi dari kamarku.
"Nggak mau! Aku akan pergi jika kamu memposting fotoku di sosmedmu sekarang"
Aku diam dan melirik sinis karah Bastian, yang dibalas senyum olehnya, lalu aku membali mengarahkan fokusku pada buku yang ada di mejaku.
"Sayang, ayolah, hanya satu foto saja" Ucapnya dengan nada memohon.
"Nggak" Tegasku.
"Kalau gitu aku akan tetap di sini, kalau perlu aku akan nginep di sini"
"APA? Jangan macam-macam kamu, ya!" Bentakku padanya.
Wajahnya berubah cemberut lalu dia duduk di lantai dan merebahkan kelanya ke pahaku, "Aku mohon" Ucapnya dengan nada manja yang membuat aku tidak tega dan juga muak padanya.
"Iya bawel, aku post" Ucapku kesal yang di tanggapi dengan senyum bahagia dari Bastian.
Lalu aku memposting foto Bastian dan memperlihatkan padanya.
"Nih, udahkan! Puas sekarang" Tanyaku dengan nada kesal dan dibalas anggukan dengan senyum puas dari Bastian.
Lalu anak itu pun bangun dan segera pergi dari kamarku tanpa mengucapkan kata-kata yang biasanya akan menaikkan emosiku.
Next...