
Begitu sampai di rumah, hujan masih saja. Aku males turun dari mobil tapi aku tidak mungkin terus berada di mobil hingga hujan berhenti.
“Kita sudah sampai” Ucapnya.
“Aku tahu, beri aku payung mu, kamu tidak perlu mengantarku ke depan rumah.”
Dia segera mengambil payung dan memberikannya padaku. “Hati-hati dengan langkah ada” ucapnya dengan nada khawatir.
“Iya”
Aku turun dari mobil, berjalan perlahan menuju pagar rumah, kulihat di garasi tidak ada mobil Alex. Aku pikir dia belum kembali dari rumah sakit, tapi saat akan menutup pagar, aku melihat mobil Alex di belakang mobil Alham yang kini sudah mulai bergerak pergi dari tempat dia terakhir parkit. Aku membuka pintu pagar rumah agar mobil Alex masuk, lalu segera pergi dari tempat itu karena bajuku mulai basah dengan percikan air hujan.
“Sial, kenapa harus basah, padahal sudah menggunakan payung.” Keluh ku yang berjalan masuk ke dalam rumah.
“Selamat datang, nona” Sambil salah seorang pelayan padaku.
“Siapkan air untuk berendam” Perintahku pada layanan itu.
“Baik, nona”
Aku mengikuti pelayan itu ke kamar, saat para pelayan menyiapkan air untuk berendam, aku sibuk dengan mencari baju yang akan aku gunakan setelah mandi.
“Nona, air sudah siap”
“Eum. Kalian bisa keluar”
Saat akan masuk ke kamar mandi tiba-tiba Alex menghampiriku dan menghalangi pintu masuk.
“Ada apa?” Tanyaku pada pria yang terlihat seperti kesal.
“Kenapa tidak membaca pesanku?” Tanyanya dengan nada sedikit meninggi.
“Tadi handphone ku kehabisan daya lalu, aku belum mengisinya. Kalau tidak percaya lihat sendiri handphoneku di tas.” Aku mencoba menarik Alex yang menghalangi pintu, aku pun masuk ke kamar mandi dan mulai berendam.
Dia masih menyusulku ke dalam kamar mandi. Setelah membuka semua pakaiannya dia malah ikut berendam bersamaku. Sejujurnya aku tidak menyukai bagian dimana ada orang yang mengganggu waktu pribadiku tapi, karena itu adalah Alex suamiku tercinta, aku pikir aku bisa menahannya.
‘ada apa dengan wajah cemberut itu? Apa dia mengalami masalah di rumah sakit? Tapi tidak ada laporan apapun tentang itu, lalu dia marah kenapa?’ Pikirku melihat dia terus memasang wajah cemberut.
Aku mencoba berpindah posisi, membiarkan tubuh besarnya menjadi sandaranku, aku menggenggam tangan besarnya dengan dua tangan mungilku.
“Apa ada yang salah?” Tanyaku dengan nada manja.
“Hueft” Dia menghela napas frustasi.
‘Serius, anak ini kenapa? Apa dia benar-benar mendapat masalah di rumah sakit?’
Dia benar-benar menjadi pendiam akhir-akhir ini dan itu sedikit membuatku khawatir.
“Kak… Sayang… Suami ku, ayo bicara jangan diam saja” Ucapku manja.
Alex benar-benar pendiam, kadang dia menghela napas beras seolah sedang sangat banyak pikiran.
‘Aku benar-benar tidak suka dia yang seperti ini, kenapa harus diam seribu bahasa, dia pikir aku peramal atau apa yang bisa mengerti isi otaknya tanpa mendengar langsung dari mulut manisnya itu’ Keluhku sambil terus bermain dengan tangan Alex yang besar dan sedikit kasar.
“Besok hari jumat” Ujarnya tiba-tiba.
‘nah ada apa nih dengan hari jumat, apa hari ulang tahun dia? Tidak mungkin itukan sudah lewat, hari jadi kami sudah lewat, pernikahan kami masih belum sebulan lalu hari jumat ada apa’ batinku mulai bergerak kebingungan.
“Lalu”
“Kamu akan ke Paris?” Tanya nya dengan suara kecil.
“Eum, jadi?” Aku masih tidak paham dengan alasan diamnya dan kepergianku ke Paris.
“Aku ingin sekali pergi”
“Ya sudah pergi saja, aku tidak pernah mengakatan kalau kak Alex tidak boleh ikut.”
“Iya tapi, aku ada jadwal operasi yang tidak bisa kutunda dan hari sabtunya aku harus menghadiri pernikahan sahabatku dan itu pun tidak bisa aku hindari karena dia adalah teman terdekatku dari kecil.”
“Heum… Jadi masalahnya apa?”
Aku masih tidak mengerti letak masalahnya apa, dia terdengar seperti sangat frustasi dan sedih akan sesuatu.
“Aku ingin kamu tinggal tapi aku tahu kamu sudah berjanji pada temanku, aku tidak ingin membuat hubungan kalian memburuk. Aku tahu dulu kamu tidak hadir di acaranya karena aku tidak ingin kamu pergi, dan membuat alasan kalau aku sedang tidak enak badan.”
“Aku tidak sepenuhnya bohong, aku memang sakit kepala tapi karena kurang tidur, bukan karena sakit. Apa kamu marah?” Tanyanya yang khawatir.
“Aku tidak mungkin marah.”
“Lalu sekarang masalahnya apa?” Tanyaku.
“Kita tidak akan bertemu selama 3 hari dan itu berat untukku, aku akan sangat merindukanmu”
Mendengar hal itu aku merasa senang sekaligus bingung, karena aku tidak tahu harus menanggapi ucapan Alex seperti apa.
“Bagaimana jika aku merindukanmu?” Lanjutnya.
“Kak Alex bisa menghubungiku kapan saja dan di mana saja, aku akan menjawab panggilan itu dan kita bisa video call.”
“Apa bisa seperti itu? Kamu harus berjanji akan selalu menjawab panggilanku” Ucapnya sambil memelukku.
“Tentu saja”
*
*
*
Keesokan paginya, aku sudah siap untuk berangkat ke Paris, semua barang sudah siap dan mobil menjemputku pun sudah ada di depan.
“Kenapa kamu harus mengambil penerbangan sepagi ini?” Ucap Alex yang masih memelukku.
“Karena aku harus memberi waktu untuk tubuhku setelah perjalanan, lalu aku juga harus menemui klien yang ada di sana sebelum akhirnya mengikuti acara Aulia.” Jelasku.
“Heum… Aku akan merindukan istri mungilku”
“Aku akan segera menjadi tinggi dan tidak akan mungkin lagi” Ujarku kesal karena kata ‘mungil’ yang selalu disematkan padaku.
Alex mencoba menahan tawanya tapi tetap saja aku tahu kalau dia menertawakan ucapanku yang tidak masuk akal.
“Aku ingin sekali mengantarmu tapi… Aku harus segera ke rumah sakit” Lalu sebuah kecupan menempel di keningku. “Jaga diri dan terus kabari, ya” lalu dia segera membantuku membawa koper kecil menuruni tangga dan berakhir di depan rumah.
“Jangan lupa kabari kalau sudah sampai di bandara” Alex terus mengingatkanku dan tangannya seolah tidak ingin melepaskanku.
“Aku tahu sayang, sudah waktunya kamu berangkat kerja” Aku mencoba menepis tangan Alex yang menggandengku padahal supir taksi sudah lama menunggu.
“Aku ingin memeluk mu lagi, aku takut kalau aku akan merindukanmu begitu aku melangkah ke mobil” Dia memelukku tanpa persetujuan dan sedikit membuatku kaget.
“Jangan berlebihan. Ayo satu kecupan” Aku menarik lembut kepalanya dan memberi satu kecupan di bibir sebelum akhirnya aku berhasil melepas pelukannya yang erat dan segera aku masuk ke taksi.
“Pak, tolong hati-hati. Istri saya mungkin akan mabuk perjalanan jika bapak terlalu kencang bawa mobilnya” Ucap Alex pada supir taksi.
“Iya, mas. Saya akan pelan-pelan”
Lalu taksi itu pun segera melaju sedikit pelan.
“Pak, tolong jangan terlalu dengarkan suami saja. Percepat laju mobil, saya tidak ingin ketinggalan penerbangan saya.”
“Baik, mbak”
Kecepatan pun bertambah dan tak lama berselang setelah itu kami pun sampai di depan pintu bandara. Dengan bantuan supirku menurunkan barang bawaanku yang terbilang cukup sedikit karena sisanya adalah tanggung jawab Alham.
“Biar saya bantu” Tawar Alham padaku.
“Terima kasih” Aku menyerahkan koper kecil berwarna merah milikku untuk ia bawa.
Sepertinya aku salah akan sesuatu, aku pikir Alex yang mengatakan akan merindukan ku begitu dia masuk kemobil itu adalah hal yang terlalu berlebihan tapi, ternyata aku juga merasakannya. Begitu masuk ke pesawat tiba-tiba ada sesuatu dalam diriku mengatakan ‘ayo kembali, aku merindukan suamiku’. Padahal aku sendiri sadar kalau kami hanya berpisah sebentar dan itu pun kami masih bisa saling bicara meskipun tidak secara langsung, sayangnya perasaanku yang sangat sensitif membuat pikiranku menjadi kacau hingga air mataku terus mengalir karena kerinduan ku pada Alex.
Alham menyadarkanku sebungkus tisu, tanpa bicara apapun dan matanya seolah tidak melihat ke arahku.
“Terima kasih” Ucapku sambil menarik tisu itu dan menghapus air mataku.
*
*