Obsession Of Love

Obsession Of Love
Permintaan



Acara pertunangan kami semakin dekat tapi, aku masih dilanda kebingungan, aku tidak tau apa aku bisa mengundang para sahabatku ke acara ini. Aku ingin sekali mengundang mereka secara langsung, tapi kakek pasti akan merah besar jika tau kalau kamu kembali menghubungi mereka. Namun jika aku tidak mengundang mereka di acara penting ku kali ini, aku bisa menjamin kalau mereka akan membenciku di masa depan, dan aku tidak bisa memperbaiki lagi hubungan kami yang rusak itu.


“Aku harus melakukan apa? Aku ingin mereka hadir di acara ini tapi….” Monolog ku.


“Aku takut kakek akan merah dan membuat mereka dalam masalah lagi seperti dulu”


“Sial, kenapa hidupku jadi seperti ini, kenapa aku harus terus merasa takut pada orang tua jahat itu” Ucapku kesal.


Lalu mataku teralih pada pesan-pesan dari Fara yang selama ini aku baca namun tidak satupun aku belas. Dari hari aku meninggalkan indonesia, Fara sering kali mengirimku pesan lewat IG ataupun Twitter, kadang dia berkata “kami merindukanmu, aku merindukanmu, apa kamu baik-baik saja disana? Apa mereka memperlakukanmu dengan baik? Apa kamu akan kembali suatu saat nanti” dan banyak lagi pesannya yang kadang membuat aku tertawa dan menangis di waktu yang bersamaan. Kadang dia bercerita tentang kisah pacarnya yang konyol, atau rasa kecewanya pada darinya yang tidak bisa melupakan Andi, atau kisah gila Mia dengan para kakaknya, dan pesan terakhirnya di beberapa berbulan-bulan lalu adalah informasi tentang kak Alex yang menjadi suami orang. Pesan terakhir yang dikirim membuat aku cukup sakit hati dan menjadi rindu yang menyakitkan karena setelahnya dia tidak lagi mengirimku pesan apapun, dan tidak ada lagi kabar tentang mereka dan kak Alex darinya.


“Mia, Fara, apa kalian baik-baik saja di sana?  Apa kalian sudah menemukan sahabat baru? Apa sekarang kalian melupakan aku?” Monolog ku.


“Aku ingin bertemu kalian, aku benar-benar merindukan kalian” Ucapku dengan airmata kini mengalir tanpa henti saat mataku memandang foto Aku, Fara, dan Mia yang sedang berlibur di pantai saat kami baru saja menjadi murid SMA.


Ting!


Sebuah pesan masuk dan di layar handphone ku terlihat nama ‘Andi’, "Apa kamu tidak berencana mengundang Mia dan Fara?" Tanyanya.


"Tentu saja, tapi aku tidak tau caranya. kamu kan tau kalau aku tidak bisa menghubungi mereka secara langsung lagi" Balasku.


“Mau aku wakili?”


‘ide bagus, kenapa aku tidak kepikiran meminta bantuan Andi dari awal’ pikirku.


“Boleh, tolong bantu aku untuk mengundang mereka ke acara pertunanganku”


“Kalau begitu, mereka akan datang dengan keluargaku, kamu tidak masalahkan?”


“Masih lama, aku masih harus menyelesaikan pendidikanku dan mulai debut ku di dunia bisnis. Kamu taukan mimpiku menjadi chef?”


“Iya tau, memangnya kenapa?”


“Aku tidak bisa mengerja mimpiku lagi, sekarang fokus ku pada perusahaan keluargaku. Aku anak tunggal karena itu aku tidak bisa egois dan mengejar mimpiku dengan menghancurkan kerja keras orang tuaku”


“Aku mengerti posisimu, tapi restoran milik keluargamu kan kamu juga yang pegang. Kalau kamu punya waktu luang kan bisa tu jadi koki paruh waktu”


“Hahaha… ada-ada saja kamu, Zia. Mana bisa aku melakukan itu, kamu lupa kalau menjadi direktur itu sama seperti melepaskan semua hari libur dan waktu rebahan ku.”


“Benar juga. Mana ada direktur yang masih sempat magang jadi koki. Tapi, karena calon istri mu itu tidak bisa masak, so pasti kamu harus jadi chef rumahan tiap hari.”


“Hahahaha… kamu benar. Setidaknya kemampuanku tidak benar-benar sia-sia jika menikahi sepupu kamu itu”


“Benar sekali…. Oh iya, saat acara jangan lupa gunakan baju yang aku kirimkan pada kalian, ingatkan juga Bunda dan Ayah, aku takut mereka lupa”


“Siap, semua bisa diatur. Kalau gitu besok kita bicara lagi, bye”


“Oke, bye”


*


Sampai jumpa di episode berikutnya, salam hangat dari penulis