
Setelah itu Mia kembali masuk ke kamar dan menghampiriku, dia kelihatan sedang banyak berpikir dan menatap lurus padaku. Saat dia duduk di sampingku tiba-tiba saja dia memelukku tanpa memberi aba-aba hingga aku kaget.
“Ada apa, Mia?”
“Jangan pergi ya Azia, jangan tinggalkan kami, aku janji akan merawatmu dengan baik kedepannya”
“Pergi kemana? Memangnya aku mau kemana sih?”
Lalu tiba-tiba dia mengis sambil memelukku dengan erat lalu Fara juga ikut-ikutan memelukku. Aku mulai bertanya-tanya dengan apa yang mereka pikirkan tentangku.
“Kalian pada kenapa sih?”
Mereka melepas pelukan itu lalu Mia menghapus airmatanya lalu menggenggam kedua tanganku, dia melihat kearah Fara seperti memberikan kode, lalu Fara bersandar di bahuku.
“Azia, kami sangat menyayangimu, bagi kami kamu itu sudah seperti keluarga sendiri jadi kalau ada apa-apa langsung cerita jangan di pendam dan apapun masalah yang kamu hadapi baik itu sulit atau mudah kamu akan membantumu jadi jangan pernah berpikir kalau kamu sendiri, ya?”
“Iya, aku tahu kok kalau kalian akan selalu berada di sampingku tapi, kenapa kalian tiba-tiba membahas ini? Sebanarnya ada apa?”
“Kami tidak mau kamu mengalami hal yang seperti dulu, kami tidak mau kamu sendirian menghadapi masalah, jangan sedih ataupun stress seperti dulu lagi, kami tidak sanggup kehilanganmu”
“Aku berjanji tidak akan melakukan hal bodoh seperti dulu jadi, kalian jangan terlalu khawatir dan satu lagi jangan beritahu Andi tentang kondisiku, ya? Dia akan ada pertandingan sebentar lagi dan aku tidak mau membuat fokusnya jadi hilang, kalian mengertikan?”
“Iya, kami janji tidak akan memberitahu Andi”
Setelah itu beberapa hari berlalu dan keadaanku semakin membaik, aku sudah bisa ke sekolah seperti biasa dan yang penting aku tidak harus tidur seharian dan hanya bisa menonton vlog dari teman sekelasku saja. Hari-hari cerahku kembali di mulai, lalu aku mendapat telpon dari kak Alex setelah beberapa hari dia seakan menghilang dari duniaku.
“Hallo Sayang! Hari ini aku jemput, ya?!”
“Gak usah!” Lalu aku langsung mematikan telpon itu.
Sejujurnya aku senang karena bisa mendengar suara kak Alex setelah beberapa hari tapi, aku masih teringat saat wanita yang entah dari mana dimensinya tiba-tiba mengatakan kalau dia pacar kak Alex. Saat itu aku di jemput Andi karena Mia dan Fara ingin Andi menjagaku secara langsung saat mereka tidak bisa menjagaku karena kami beda sekolah.
“Udah siap?”
“Iya, ayo”
Lalu sekilah aku melihat mobil kak Alex saat kami keluar dari komplek perumahan, entah aku salah lihat atau itu benaran ekspresi kak Alex. Dia terlihat sangat menyeramkan hingga aku jadi merasa takut padanya yang sekilas terlihat dari dalam mobil menatap kami dengan tetapan sadis.
“Alex, jemput kamu?” Tanya Andi sambil memperlamban laju motornya.
“Alex? Siapa itu nggak kenal, udah ayo jalan!” Aku sengaja meminta Andi membawa motor dengan lebih cepat karena aku sedang tidak mau melihat, mendengar, atau pun bertemu dengan kak Alex.
Lalu Andi mempercepat laju motornya, aku memeluknya dengan erat karena aku takut angin membuat aku jatuh dari motor tanpa Andi sadari. Di perjalanan Andi seperti kehilangan akal sehatnya, dia terus saja menyelip motor dan beberapa mobil di depan tanpa rasa takut sedikit pun, waktu itu jantungku seakan mau copot tiap kali kami berpapasan dengan mobil yang berlawanan arah dan seakan aku dan Andi hanya akan meregang jawa di jalan itu ketika jarak mobil itu dan motor Andi hanya tinggal beberapa meter lagi. Ya untungnya Andi sangat ahli dalam menggunakan motor jadi kami selamat sampai di sekolah ya walau aku harus mengalami mual karena Andi terlalu ngebut.
“Udah muntahnya?” Tanya Andi tanpa rasa bersalah sedikitpun.
Aku tidak peduli dengan apa yang Andi ucapkan karena perutku mual dan rasanya apapun yang sudah aku masukkan ke dalam perut pagi tadi keluar semua.
“Kenapa tu dia?”
“Hamil mungkin” Elena dan teman-temannya sengaja bicara dengan suara keras agar aku dan Andi mendengarnya.
“Cewek kolot gak tahu diri, dari pada kalian sibuk ngurus hidup orang urus tu otak kalian yang gak ada isi, sana pergi!” Andi menguris para gerombolan kakak kelas yang memang suka cari gara-gara dengan aku.
“Ni minumu! Dan ni tisu!”
“Dapat dari mana?” Tanyaku pada Andi yang perasaan dari tadi dia gak pergi kemana-mana.
“Ada yang kasih tadi, bisalah penggemarmu yang sok perhatian, udah sekarang cepat masuk”
“Iya, iya”
“Azia, apapun yang kamu dengar nanti tolong jangan terlalu di pikirkan, paham?!”
“Emangnya ada apa? Kenapa aku gak boleh…”
“Semakin sedikit yang kamu akan semakin baik untuk dirimu sendiri, sekaranga cepat ke kelas!” Andi tiba-tiba terlihat sangat serius.
“Iya, dasar aneh!”
Tak butuh waktu lama, kabar aneh kembali tersebar dan kali ini cukup parah karena seluruh sekolah tahu masalah itu. Gara-gara mulut besar Elena yang tidak bisa di kendalikan dan di tambah geng dia memang suka banget sebarin gosip.
Siang itu di perpustakaan, tidak ada yang bicara tentang gosip itu padaku dan semua itu karena Andi akan mencegah berita buruk sampai padaku.
“Eh, Andi kok kamu di sini? Apa terjadi sesuatu? Apa kamu kerasukan?”
“Apaan sih Azia, biasa aja kali!”
“Iya, iya, jadi sekarang kamu mau belajar juga?”
“Enggak” Andi malah membuka handphonenya.
“Terus tuan sok keren mau ngapain di perpustakaan?” Tanyaku yang merasa aneh karena Andi biasanya menghindari perpustakaan apa lagi setelah beberapa kali denda karena telat mengembalikan buku dan di tambah beberapa bulan yang lalu dia tidak sengaja menghilangkan buku yang dia pinjam di perpustakaan.
“Sengaja buat nemenin kamu, emang gak boleh?” Ucapnya yang langsung duduk sampingku.
“Bolehlah, apa lagi kalau kamu juga ikut baca buku, aku pasti senang banget. Eum… Mau aku rekomendasikan buku yang bagus gak?”
“Gak” Jawab singkat Andi dan jelas.
“Yaudah kalau gitu” Lalu aku melanjutkan membaca sedangkan Andi sibuk dengan gamenya.
Dia benar-benar fokus pada gamenya dan tidak memerhatikan sekeliling, lalu aku mulai membuat asumsi alasan kenapa Andi masuk ke tempat yang tidak pernah dia datangi kecuali mendesak yaitu karena dia kehabisan koata internet dan terpaksa ke perpustakaan untuk mendapatkan wifi gratis.
‘dring…’ suara bel masuk berbunyi, aku segera mengembalikan buku ke raknya dan menarik Andi keluar dari tempat itu.
“Azia, kenapa tarik-tarik sih?! Gara-gara kamu aku kan jadi kalah”
“Kamu terlalu fokus sama hal yang gak perlu dan sekarang sudah bel, segera masuk ke kelasmu dan jangan main game lagi, paham?!” Aku mulai merapikan buku dan meletakkannya kembali kerak buku.
“Iya dasar ratu rakus super bawel!” Ucapnya sambil terus mengokor langkahku.
Lalu Andi mendapatkan pesan dari seorang yang membuat dia terlihat sangat senang.
“Azia, lihat ini!”
“Apa?”
Lalu Andi memperlihatkan berita yang sedang hot di bicarakan di dalam forum sekolah tentang gang Elena yang mual-mual serentak di sekolah.
“Mereka kenapa?”
“Apa peduli kita, yang penting masalahmu bereskan?”
“Masalah apa?”
“Gak ada apa-apa, kamu cepat masuk ke kelas sebelum guru masuk dan memarahimu”
“Iya, kamu juga, oke!” Lalu aku dan Andi berpisah di persimpangan jalan menuju kelas kami yang berbeda arah.
Sesampai di kelas semua orang mengerembuni aku, wajah penasaran mereka membuat aku bingung apa dan juga terdesak.
“Kalian kenapa?”
“Azia, kamu tadi pagi mual-mual kenapa?”
“Biasalah si Andi ngebut banget makannya aku pusing dan mual-mual”
“OO…. Pantas saja, aku juga pernah nebeng sama Andi dan serius itu jadi pengalaman terbutukku yang akan aku ingat seumur hidup dan aku berjanji gak akan pergi lagi sama Andi” Ucap Eki yang pernah pergi dengan Andi.
“Gak jelas banget tu kakak kelas, masa dia bilang kamu hamil sama si Andi, gak ada akhlak banget kan dia itu?”
“Betul, masa karena mual di kira hamil, ya’kan?”
“Eh, tapi tadi di forum sekolah ada berita hot tentang mereka, katanya geng yang suka buat gosip itu pas jam istirahat mual-mual gak jelas gitu. Terus ada yang komen kalau mereka dapat karma karena sering fitnah orang.”
“Hahaha…. Biar tahu rasa dia tu, biar gak suka asal ngomong lagi”
Setelah itu guru masuk dan mengagetkan kami yang sedang membicarakan anggota Elena.
Bersambung….
Jangan lupa like dan vote dari kalian semua, terima kasih telah membaca.