
"Kamu berjanji?" Tanya nya dengan nada seolah-olah ragu dalam berbicara.
"Iya, aku janji" Ucapku tanpa pikir panjang. "Setidaknya tidak saat ini" Lanjutku dalam
Beberapa menit kemudian akhirnya kak Alex lebih tenang, kami pun duduk di tangga darurat tanpa bicara sepatah katapun.
Ting!
Sebuah pesan masuk dari nomor asing, namun saat aku membaca pesan itu, sepertinya aku tau siapa pengirim pesan itu. "Azia, berhenti bermain-main. Segera putuskan hubunganmu dengan orang-orang itu dan segera kembali, Akhir minggu ini akan ada yang menjemputmu, jika kamu berubah pikiran dan tetap mempertahankan hubunganmu dengan orang-orang itu, kakek akan pastikan bahwa tidak ada dari mereka yang bisa bernapas dengan tenang mulai hari ini"
Pesan yang sempurna untuk membuat aku semakin stres, aku benar-benar tidak tau harus bagaimana dengan situasi sekarang, apa lagi dengan ancaman dari kakek yang sudah bisa dipastikan bukan hanya sekedar omong kosong saja.
"Pesan dari siapa?" Tanya kak Alex padaku.
"Nomor yang tidak di kenal. Lupakan itu dan fokus pada permasalahan kita. Kak, aku mau tanya jika aku minta kak Alex untuk tidak pergi melanjutkan study kakak ke luar negeri apa yang akan kakak lakukan?" Jawabku bohong.
"Aku tidak akan pergi, aku akan mencari kampus yang ada di sini saja jika itu mau mu" Jawabnya tanpa beban tapi membuat yang mendengarnya menjadi terbebani.
'Mampus! Kalau gini mau alasan putus apa lagi' pikirku yang mulai frustasi.
"Hari ini sampai di sini saja dulu, kita bicara nanti saja saat kakak sudah pulang. Sekarang aku ingin menemui nenek dulu" Ucapku sambil bangun dan bergegas untuk pergi dari tempat itu.
Aku pikir kak Alex akan melanjutkan pekerjaannya yang mungkin tertunda karena masalah tadi, tapi nyatanya dia malah mengekos denganku dan ikut masuk keruangan nenek.
"Kak, bisa biarkan aku bicara berdua dengan nenek?" Pintaku dengan sopan dan harapan agar dia memberi kami ruang privasi tanpa tersinggung.
"Tentu saja, aku akan segera kembali" Ucap dia sebelum akhirnya benar-benar menghilang dari ruangan itu
Kini ruangan hanya ada aku dan nenek, entah kenapa suasana jadi aneh dan sedikit menengang.
"Aku sudah tau semuanya" Ucapku pada nenek yang masih berbaring.
"Tau tentang apa?" Tanya nya yang tidak tau arah pembicaraan ini.
"Aku tau semua tentang alasan kenapa aku tidak bisa diadopsi oleh siapapun, alasan kenapa selalu ada uang masuk dalam jumlah banyak pada aku rekeningku, dan kenapa nenek bisa menjadi waliku selama ini" mendengar ucapanku serontak nenek kaget, dia yang tadinya terbaring di tempat tidur pada akhirnya memaksakan diri untuk bangun.
"Azia, dengar penjelasan nenek, ini semua..."
Aku pun bangun dan bergegas pergi namun tiba-tiba dia meneriakkan namaku hingga aku kaget dan tidak jadi keluar dari pintu.
"AZIA!!"
Aku berbalik melihat kearah nenek yang kini sudah berlinang air mata.
"Nenek memang merawatmu atas perintah pak Arya dan memang nenek di bayar untuk itu tapi, kasih sayang nenek dan kepedulian nenek padamu selama ini bukan di dasarkan uang yang diberikan tapi, nenek benar-benar tulus menganggap kamu sebagai cucuk kandung nenek. Maafkan nenek karena telah menutupi kebenaran dari kamu." Ucapnya dengan tulus.
Meski dia menangis dan meminta maaf dengan tulus, tetap saja aku belum mampu langsung memaafkan mereka yang telah membohongiku selama bertahun-tahun, apa lagi nenek itu merupakan orang yang paling aku percaya di dunia ini dan rasanya saat tau kebenaran tentang alasan kenapa aku bisa tinggal bersama nenek selama ini adalah karena itu sebuah tugas yang diberikan bukan karena dia memang menginginkan ku.
Aku meneruskan langkahku, entah kenapa air mataku mulai mengalir begitu masuk delam lift yang kebetulan kosong saat itu, rasa sedih bercampur kecewa membuat aku kehilangan kontrol pada diriku. Aku menangis dengan menahan suara jerita yang ingin keluar dari mulutku.
Ting
Pintu lift terbuka, dengan cepat aku menghapus air mata dan berjalan cepat agar tidak ada yang menyadari kalau aku sedang menangis. Pikiranku sangat kacau saat itu, aku menghubungi nomor kakek dan meminta untuk dikirimkan seseorang untuk menjemputku di rumah sakit. Pikiranku sangat kacau saat itu, aku tidak mungkin menghubungi Andi yang sedang sakit, atapun menghubungi Fara atau Mia yang merupakan orang yang juga membuat aku kecewa karena mereka yang sudah tau kebenaran tentang keluargaku selama ini menutupinya dengan alasan yang mereka punya. Meskipun aku tetap tidak bisa benar-benar marah pada mereka, namun hari ini aku tidak ingin melihat wajah mereka berdua.
10 menit kemudian sebuah mobil hitam menghampiri aku yang sudah lama menunggu di parkiran rumah sakit.
"Nona Azia silahkan masuk" Ucap seorang pria yang turun dari mobil dan membukakan pintu untukku.
"Terimakasih" ucapku sebelum masuk.
Saat mobil akan berangkat, tiba-tiba aku melihat dari jauh kak Alex sedang berlari menghampiri mobil yang sedang aku tumpangi.
"Tolong cepat, jangan sampai orang ini menghampiri kita" Ucapku pada pria yang mengemudi mobil.
"Baik, nona"
Untungnya mobil keluar dari area rumah sakit dengan cepat hingga membuat kak Alex tidak bisa menghampiriku.
"Apa tiket pesawatnya sudah disiapkan?"
"Tidak, tuan besar ingin nona menggunakan pesawat pribadi. Semua sudah di persiapkan nona hanya perlu datang ke bandara saja"
"Baguslah kalau begitu" Ucapku.
Sebenarnya aku punya beberapa hari lagi untuk aku gunakan sebelum berpisah dari semua orang, tapi setelah mendapat ancaman dari kakek, lalu masalah kak Alex yang tidak mau putus, dan rasa sakit dan kecewaku pada nenek membuat aku ingin segera pergi dari tempat ini. Aku hanya bisa mengirim kata perpisahan lewat pesan pada teman-teman dan kak Alex, aku harap mereka tidak terlalu kecewa padaku karena pilihanku untuk pergi adalah jalan terbaik agar mereka semua tetap aman.
Selesai Season 1, sampai jumpa di Seaso berikutnya.