Obsession Of Love

Obsession Of Love
Pergi untuk menenangkan diri



Fara dan Mia tidak ada di rumah, apa lagi ke dua orang tua Fara sedang berlibur untuk merayakan hari pernikahan mereka. Hari itu jadi membosankan, walau sebenarnya Andi memintaku untuk ikut dengan dia jalan-jalan tapi, itu beda rasanya dengan pergi dengan pacar. Di hari valentine harusnya aku sedang berduaan dengan kak Alex, sayangnya dia membuat aku kesal hari itu.


“Ah, membosankan?! Apa aku pergi saja sementara?” Aku terus saja menggulingkan diri di tempat tidur karena terlalu bosan.


Lalu aku melihat handphone, banyak pesan dari kak Alex tapi, aku sedang marah jadi tidak mau membalas pesannya toh dia juga jarang membalas pesanku. Lalu terlintas satu tempat di pikiranku waktu itu. Aku segera memesan tiket pesawat dan menghubungi Andi.


“Aku mau pergi beberapa hari, aku gak masuk ke sekolah selama itu, kamu juga jangan lupa kasih tahu ke tante mu kalau aku mau ke sana”


“Ngapain ke sana? Tadi setelah aku anterin kamu masih waras-waras aja, kenapa udah kayak gini?”


“Andi!! Kamu mau aku pukul, ya? Kapan aku gak waras, aku cuma mau…”


“Mau apa? Azia, kalau kamu punya masalah kamu bisa kok cerita sama aku, aku akan mendengarnya dan akan membantumu, katakan kamu kenapa mau pergi tiba-tiba?” Bujuk Andi yang seakan tidak setuju aku pergi.


“Udah nanti aku cerita, sekarang aku mau kamu kasih nomor tante mu sekarang, aku udah pesan tiket pesawat, sekarang aku mau berangkat ke bandara”


“Terserah kamu lah, Azia! Kalau pulang bawa oleh-oleh, ya?”


“Sip”


Lalu aku berkemas dengan cepat, taksi yang aku pesan pun sudah datang, aku sangat tidak sabar bisa melupakan semua beban untuk sementara. Aku sudah rindu liburan di tempat yang tidak ada yang mengenalku, tempat aku berjalan tanpa memikul beban apapun. Setelah sampai di bandara aku memutusakan untuk mematikan handphone ku hingga aku sampai di rumah tante Andi. Saat dalam pesawat, sekilas aku terpikir apa yang akan terjadi jika kak Alex benar-benar bersama wanita di toko buku itu, apa mereka akan bersama dan aku hanya akan jadi angin berlalu untuk kak Alex.


Saat aku sedang hanyut dalam ingatanku sendiri, pesawat yang aku tumpangi pun sudah mendarat. Setelah mengambil tas aku segera keluar bersama penumpang lain, aku tidak bawa banyak barang hari itu karena aku berniat untuk membeli baju di sana saja. Keluar dari tempat itu sudah ada tante Andi yang menjemput ku.


“Tante Ika!” Aku berlari dan memeluk adik dari Bunda Andi.


“Gimana kabar kamu sayang? Kamu makin kurusan aja deh, kamu gak dikasih makan di sana, ya?”


“Bukan gitu tante, Azia cuma banyak pikiran dan tante tau sendiri Azia mudah sakit makanya berat badan Azia terus turun beberapa bulan ini”


“Sudah, kalau gitu kita segera ke rumah!”


“Tante, Azia dengar tante mau pindah rumah setelah kontrak kerja tante udah berakhir di sini, ya?”


“Iya sayang, tante berpikir untuk berhenti bekerja dan tinggal sama Om mu di Italia, anak-anak udah ke sana semua. Tante senang karena kami ke sini, seenggaknya sekarang tante ada teman ngobrol di rumah.”


Kami masuk ke dalam mobil tante dan langsung pergi karena aku tidak bawa banyak barang jadinya kami cepat dan tidak repot.


“Sayang, kamu rencananya berapa lama di sini?”


“Mungkin tiga hari”


“Baguslah, tante senang kamu di sini tapi, tante gak mau kami jadi terlalu lama libur sekolahnya, sebentar lagi kata Andi kalian ujian, ya’kan?”


“Iya , tante”


“Oh iya, Azia kamu udah punya pacar, ya? Kata Andi pacar kamu seorang dokter muda, katanya lagi kalian itu sering banget berantemnya akhir-akhir ini dan Andi juga bilang kalau kamu ke sini karena ngambek sama pacar kamu, apa itu benar Azia?”


“Gak kok! Andi suka fitnah tu tante, Azia ke sini karena mau refreshing otak aja, akhir-akhir ini Azia banyak sekali masalah jadi, Azia mau sejenak memberi waktu istirahat untuk jiwa dan raga Azia, tante!”


“Bagus deh kalau bukan karena masalah pacar, tante pikir kamu beneran kesini hanya karena mau menghindari dari pacar kamu”


“Ya enggak mungkinlah, tante”


“Iya, iya tante paham! Ayo turun, kita sudah sampai!”


“Ayo masuk!” Tante Ika menuntun aku masuk ke rumahnya.


Aku masuk ke rumah yang sederhana dan terasa sangat nyaman senyaman rumah Nenek, tempat itu di penuhi tanaman hias di berbagai sudut karena tante Ika sangat menyukai tanaman. Lalu tante Ika menuntun aku masuk ke dalam kamar yang tadinya itu kamar anak-anaknya tapi, karena anak-anaknya sudah pergi ke Italia dan tinggal bersama Ayahnya di sana jadinya kamar itu kosong.


“Ini udah hampir malam, kalau kamu capek tidur saja dulu, kalau lapar ada makanan di meja makan, kamu tinggal makan saja. Bibi yang bekerja di sini pulang jam 8 jadi, kalau ada sesuatu kamu panggil tante saja nanti, ya!?”


“Iya tante, terima kasih”


“Sama-sama sayang” Lalu tante Ika keluar dari kamar setelah mengelus rambutku dengan lembut.


Tante Ika itu adalah wanita yang sangat lembut yang pernah aku temui, dia sama baiknya dengan ibu Andi dan juga Ibu dari teman-temanku yang tidak pernah mempermasalahkan status aku yang berasa dari panti asuhan. Tubuh ku sangat lelah karena perjalanan ke bandara lalu naik pesawat dan perjalanan menuju ke rumah tante Ika yang lumayan jauh dari bandara. Setelah membereskan barang-barang ku dari tas, aku tertidur di kasur karena kelelahan, saat bangun jam sudah menunjukkan pukul 9 malam.


“Loh! Udah jam segini aja” Lalu aku mencari handphone ku.


“Ternyata mati, pantas saja tidak terdengar alarm, harusnya jam-jam segini aku masih mengerjakan tugas dari para klien ku”


Lalu aku menyalakan handphone ku dan ternyata kak Alex mengirim banyak pesan padaku, banyak panggilan yang tak terjawab dari kak Alex, harusnya sih aku menelponnya saat melihat semua pesan dan panggilan yang masuk tapi, aku masih marah jadi aku mengabaikan semua itu. Aku keluar kamar karena lapar, aku melihat tante Ika sedang menonton serial drama di ruang tamu.


“Sayang, kamu lapar?”


“Iya tante! Azia mau makan dulu”


“Iya, kalau sudah selesai temani tante nonton ya, sayang?”


“Baik, tante”


Aku makan dengan cepat lalu menghampiri tante yang sedang fokus pada film yang sedang di tayangkan.


“Azia!” Dia menyadari kehadiran ku ya meski dia tidak menatap kearah ku karena matanya terlalu fokus pada film itu. “Ayo duduk sayang, kamu mau cemilan?” dia menawarkan snack yang ada di dekatnya.


“Boleh, tan!” Aku mengambil snack ketela dan langsung memakannya.


“Azia, kamu punya masalah apa sama pacar kamu sayang?”


“Gak ada kok tan”


“Azia, jangan bohong, tante gak suka kalau kamu jadi anak yang pembohong”


“Memang mulut si Andi itu sudah buat di kontrol, dasar menyebalkan!” Pikirku sambil berpikir cara menghukum Andi saat pulang nanti.


“Sebenarnya kak Alex kepergok lagi mesra-mesra-an di toko buku pas Azia dan Andi mau beli buku di sana”


“Kamu yakin mereka mesra-mesra-an?”


“Azia cukup yakin kok tante, Azia lihat sendiri kalau dia memegang rambut wanita itu kayak gini, terus mereka saling menatap dengan penuh perasaan” Aku mulai mempraktekkan adegan yang aku lihat di depan tante.


“Sayang, itu kan bisa saja karena ada sesuatu di rambutnya, masa kamu kabur dari rumah cuma karena hal yang tidak pasti seperti itu?”


“Tapi tante…”


Bersambung…


Buat teman-teman jangan lupa kasih like, vote dan juga reting 5 ya. Kalau ada ide yang ingin kalian sampaikan bisa tulis di kolom komentar, terima kasih telah membaca.