Obsession Of Love

Obsession Of Love
Bersikap dingin



“Kalau kakak capek ya sudah gak papa, Azia akan pesan taksi saja. Kalau gitu Azia pergi dulu ya bu”


“Iya, hati-hati di jalan, ya sayang!”


Lalu kak Alex seperti mengabaikan ku, dia langsung pergi saat aku sedang berpamitan dengan Bu Dewi.


“Kenapa dia seperti itu?” Pikirku, lalu aku segera pergi dari tempat itu.


Dalam perjalanan aku terus saja kepikiran dengan wajah kak Alex yang terlihat tanpa ekspresi itu.


“AA… Kenapa dia bersikap seperti itu” Teriakku dalam mobil karena terlalu kesal mengingat sikap kak Alex.


“Mbak, anda baik-baik saja?” Tanya supir taksi yang terkejut karena teriakan ku.


“Maaf pak, saya cuma sedang kesal saja.”


Setelah bertemu dengan nenek rasanya aku kembali berenergi dan merasa lebih baik, aku tidak lagi sikap kak Alex padaku. Seperti biasa aku mengirimnya banyak pesan dan dia hanya membalas satu pesan dan itu membuat aku merasa jengkel karena dia membalas ku dengan satu harus dan itu membuat aku ingin pergi ke rumahnya dan berteriak padanya.


“Apa sih yang membuat dia seperti ini, aku tidak merasa melakukan kesalahan apapun, ini sangat menyebalkan”


Sampai di rumah aku menceritakan semua kejadian pada Mia dan Fara.


“Lah, kalau itu udah pasti karena kesalahan kamu, coba deh ingat-ingat apa yang kamu lakukan hingga dia kayak gitu?”


“Aku gak merasa melakukan kesalahan tu”


“Beb, kamu itu … eum gimana ya cara bilangnya, itu…Huem.. kamu seperti agak tidak peka dengan pasangan atau perasaan orang yang suka sama kamu.”


“Betul kata Mia! Kalau masalah lain kamu emang bisa dengan mudah menanggapinya tapi kalau udah masalah perasaan sepertinya kamu sedikit lamban dalam merespon. Dari dulu kamu selalu begitu, menyepelekan perasaan suka dari lawan jenis.”


“Aku tidak seperti itu”


“Beb, kamu tidak sadar saja, ingat gak ketua kelas pas nyantai perasan sama kamu, kamu malah  ketawa dan bilang kalau dia sedang bercanda, padahal dia udah susah-susah menyiapkan kejutan buat kamu, sayang banget tu cowok”


“Euhm, kalau soal itu aku memang tidak peka sedikit, soalnya dia tipe cowok yang baik ke semua orang jadi aku pikir dia bersikap sama padaku juga dan masalah kejutan itu, karena hari itu adalah hari ulang tahunku, aku pikir kalian semua mau ngerjain aku gitu, eh tapi, aku udah minta maaf kok”


“Tetap aja, dia sakit hati karena kamu tolak”


“Ya mau gimana, aku suka berteman tapi, gak suka pacaran”


“Gak suka pacaran tapi sekali pacaran langsung jadi bucin akut”


“Aku gak bucin kok!”


“Gak bucin tapi, selalu aja nurut sama apa yang di suruh sama si Alex sialan itu, kamu jadi jarang jalan sama kami karena anak sialan itu, aku membencinya!”


“Aku juga!” Mia terlihat sangat kesal.


“Kalian berdua jangan gitu dong, jadi gimana nih masalahku?”


“Kalau menurut aku kamu minta maaf aja dari pada masalah jadi besar dan dia bakalan mengabaikan mu lagi seperti dulu”


“Kenapa aku yang minta maaf? Aku gak lakukan kesalahan apapun?!”


“Kamu mau putus atau mau minta maaf aja?”


“Ya aku gak mau putus tapi, minta maaf tanpa kesalahan itu… Ya sudahlah, asalkan dia bisa menjadi seperti semua akan aku lakukan.”


Agar masalah cepat selesai aku menghubungi kak Alex di hari itu juga dan berharap kami bisa menyelesaikan semua masalah dari hubungan kami.


“Kak, apa kita bertemu?” Aku sengaja video call dengan kak Alex karena ingin melihat ekspresinya.


“Dek, aku lelah, kita bicara besok saja, ya?”


“Kakak marah sama aku?”


“Marah? Marah kenapa? Memangnya kamu buat salah apa?”


“Ya gak ada, tapi kakak kok jadi beda dan cuek gitu sama aku?”


Sejenak dia menatapku dengan tatapan yang aneh, dia seakan berharap aku mengatakan sesuatu yang berbeda dari apa yang sudah aku lontarkan padanya. Beberapa menit hanya ada kesunyian, kami hanya saling menatap tanpa bicara, kesunyian itu membuat aku merasa tertekan.


“Kak! Kenapa kakak diam saja?” Aku mulai kesal dengan sikap diam kak Alex.


“Aku hanya merasa lelah saja, maaf kalau aku bersikap dingin tapi, aku benar-benar lelah, sekarang aku mau istirahat dulu, udah ya sayang” Dia terus mengelak tapi matanya jelas tidak lagi menatapku seperti biasanya.


“Baiklah, tapi akhir minggu kita jalan, ya?”


Setelah berbicara dengan kak Alex bukannya tenang aku malah makin gelisah. Masalah yang harusnya selesai malah terasa semakin di buat rumit dengan sikap kak Alex yang jelas-jelas sudah jauh berbeda dari biasanya.


“Gimana?” Tanya Fara padaku dengan wajah super kepo nya.


“Ya, gak gimana-gimana, dia bilang dia cuma cuma kecapean aja tadi, makanya dia kayak gitu”


“Ou…, kalau gitu udah selesai deh malah Azia kita hari ini?” Mia terlihat sedikit tidak yakin dengan ucapan ku.


“Gak deh, aku pikir ini masih terlalu awal untuk menyimpulkan, kalau aku perhatikan di Alex itu tipe cemburuan, gak mungkin dia membiarkan masalah kamu pergi di hari ini bersama dengan si Andi sialan itu”


“Kenapa kamu bicara seperti itu, Fara?”


“Azia sayang, kamu tidak tahu saja kalau selama pacaran sama kamu si Alex kamp**t itu terus saja memandang kami dengan tatapan sinis saat sedang bersama kamu, matanya seakan berkata ‘enyahlah kalian pengganggu’ seperti itu” Ucap Mia dengan meniru tatapan kak Alex.


“Gak mungkin! Kak Alex itu adalah pria yang hangat dan baik hati”


“Dia cuma baik sama kamu aja, beb! Serius deh, aku males banget lihat dia, anak nyebelin itu memandang kami dengan tatapan mengerikan tiap kali merangkul mu, itu sangat menyebalkan, beb!”


“Betul itu, jadi kalau dia ngizinin kamu pergi dengan cowok lain itu adalah semua hal yang gak mungkin terjadi! Pasti ada alasan tersembunyi di balik itu, ya’kan Mia?”


“Eum, aku setuju! Dia pasti bersikap seperti itu karena kesal pada kamu yang menghabiskan akhir pekan dengan orang lain, ya’kan Fara?”


“Betul banget! Pokoknya kalau kamu udah putus sama si sialan itu, kamu langsung bilang biar kami langsung cariin pengganti yang lebih baik dari pria tua sialan itu, ok!”


“Kalian doa-in kami putus?” Aku sedikit merasa kecewa pada sikap teman-temanku yang lebih mendukung aku putus dari kak Alex ketimbang kami baikan.


“Eh, bukan gitu, maksud kami itu ‘kalau’ ya kalau-kalau aja, mana tahu kalian gak cocok dengan kepribadian gak jelas dari si sialan itu, ya’kan Mia?”


“Eum, Beb, kami itu ingin kamu mendapatkan yang terbaik, kami masih berpikir dia itu terlalu buruk untuk kamu yang sempurna! Beb, pokoknya aku gak akan biarin kamu sampai nangis lagi karena si Alex kamp**t itu!”


“Aku paham kalau kalian mengkhawatirkan masa depanku tapi, aku sangat mencintai kak Alex jadi hampir gak mungkin kami berpisah”


“Tapi kalian udah pernah putus tu!”


“Iya, tapi kan itu dulu, sekarang aku yakin kalau kami gak akan putus”


“Oke, kalau kamu benar-benar yakin, ayo buat janji dengan kami!”


“Janji apa?”


“Kalau sempat suatu hari kalian putus dan itu kesalahan anak itu maka, kamu harus setuju untuk kami jodohkan, gimana?”


“Gak masalah! Aku, Azia Mutiara, berjanji pada dua sahabat cantikku ini untuk ikut perjodohan yang mereka usulkan kapan saja apabila aku dan Alex putus! Udah kan?”


“Iya, sekarang mengingat janji kamu, percaya atau enggak rasanya kamu pasti akan kami jodohkan pada akhirnya”


“Kenapa kalian seyakin itu?”


“Karena si Alex itu punya masalah dengan emosinya, lihat saja pada akhirnya dia akan memperlihatkan dirinya pada kamu dan kamu pasti akan menyesal karena tidak mendengarkan kami”


“Kalian jangan kayak gitulah! Aku jadi kepikiran! Kak Alex itu pria yang baik, dia ramah dan selalu menolang orang lain tanpa pandang bulu, aku rasa dia tidak memiliki masalah dengan emosinya”


“Kamu kan gak jadi kami, kamu gak tahu aja betapa mengerikannya sikapnya pada kami di belakangmu”


“Memangnya dia melakukan apa?”


“Ya, belum ada selain menatap kami dengan tatapan penuh kekesalah, cemburu, dan tatapannya itu pedang yang bisa menebas kepala kami berdua”


“Jangan aneh-aneh deh! Kalau gitu ayo kerjain tugas kalian sekarang?!”


“Lah kok jadi bahas tugas gak asik banget, aku gak mau belajar!” Mia mulai mengeluh


“Jangan begitu, tugas kalian kan di kumpul besok, ayo kerjakan sekarang?!”


“Nanti malam” Fara salalu saja menghindari membuat tugas.


“Kamu Fara jangan mulai deh! Sekarang bilang malam, pas malam bilang besok terus besok pulang nangis karena kena tegur guru lagi, udah gak ada alasan sekarang kerjain, aku akan mengawasi kalian, kalau tugas belum selesai di larang main handphone dan gak boleh nonton drakor, paham?!”


“Baik bu guru!”


Lalu mereka mengejakan tugasnya dengan wajah terpaksa hingga selesai.


Bersambung…


Kalau ada kesalahan dalam penulisan bisa di tulis saja di kolom komentar dan jangan lupa like dan favoritkan ya kawan-kawan. Biar penulis semakin semangat updatenya jangan lupa like mu ya, kalau bisa share juga ke teman-teman yang lain biar bisa baca bareng dan menikmati cerita.