
Beberapa tahun berlalu, Azia selesai dengan kuliahnya dan begitu pula dengan Bastian, tapi selama prosesnya Azia tidak sekalipun menghubungi Bastian, bahkan saat Bastian datang menemuinya ke Inggris dengan seribu alasan Azia menolak untuk bertemu hingga waktu dimana Azia harus kembali lagi ke Singapura dan bertemu dengan Bastian karena permintaan kakeknya.
“Azia!” Bastian menyambut tunangannya yang sudah 2 tahun terakhir tidak bisa di temuinya. “Aku merindukanmu, akhirnya kita bertemu. Kenapa kamu tidak pernah menghubungiku dan kamu juga menolak bertemu denganku?” Tanya Bastian dengan memasang wajah cemberut khas nya.
“Aku sibuk” Jawab singkat dan terkesan dingin Azia.
“Apa sesibuk itu hingga tidak bisa menjawab satu panggilan dari tunanganmu Azia Mutiara” Tanya Xu pada cucunya.
“Kakek! Apa kabar? Aku dengar beberapa bulan lalu kesehatan kakek menurun”
“Apa itu yang ingin aku dengar saat ini Azia? Jawab pertanyaanku barusan, jangan mengalihkan pembicaraan” Ucapnya dengan nada dingin yang membuat lawan bicaranya tertekan.
“Maaf kakek, aku benar-benar sibuk”
“Apa ucapanmu itu benar?”
Azia terdiam, matanya menunduk, dia cukup tau semakin dia mencari alasan, maka Xu akan semakin menekannya.
“Sudahlah, ayo ke ruang makan, kamu pasti belum makan kan?” Tanya Xu.
“Iya, kakek” Jawab Azia singkat.
Lalu ketiganya pergi ke ruang makan, dengan posisi Xu duduk di kursi kepala keluarga dan Azia bersama Bastian duduk berdampingan.
“Kapan kamu mulai bekerja? Kakek ingin kamu segera mengambil alih perusahaan” Ujar Xu tiba-tiba hingga membuat Azia sedikit kaget.
“Aku… Aku belum memikirkannya kakek. Bagaimana dengan para kakak sepupu, bukankah mereka lebih cocok untuk mengurus perusahaan kakek dibanding aku yang masih pemula?”
“Mereka semua tidak bisa diandalkan, dibanding mengurus perusahaan mereka lebih suka bekerja di bidang lain dan mulai bisnis masing-masing, kamu satu-satunya harapan kakek, jadi jangan kecewakan kakek seperti yang lain, paham” Tekan Xu pada Azia.
“Bagaimana dengan Liam? Bukahkan dia juga masih bisa menjadi ahli waris yang lebih pantas daripada aku?”
“Jangan konyol Azia, adikmu itu masih kecil, kakek ini sudah terlalu tua untuk menunggu anak 10 tahun itu untuk dewasa. Lagian dia akan menjadi ahli waris dari keluarga ayah tirimu, jadi jangan terlalu berharap lebih padanya” Tegas Xu lagi.
Azia hanya bisa terdiam dan melanjutkan makan karena dia tidak mungkin kembali mendebat kakeknya sedangkan orang yang dia depat itu merupakan lawan yang cukup tangguh dan tidak pernah mau mengalah dengan apapun alasan yang dia punya. Sedangkan Bastian dia memang tidak ingin terlalu ikut campur dalam masalah waris mewaris keluarga Azia karena itu benar-benar bukan urusannya, yang dia tau Azia akan jadi istrinya di masa depan dan mereka akan menjalankan bisnis keluarga masing-masing dengan damai.
Setelah acara makan selesai, ketiganya pergi taman kecil dibelakang rumah Xu untuk menikmati siang yang tenang dengan segelas cangkir dan kucis coklat kesukaan Azia. Dengan Bastian dan Xu duduk saling berhadapan dan di meja mereka terdapat papan catur yang sedang jadi arena pertarungan yang sering keduanya, sedangkan Azia dia sebagai penonton yang setia mendukung siapapun yang jadi pemenang sambil menikmati kukis coklatnya.
“Apa kamu siap kalah?” Tanya Xu.
“Hahaha mana mungkin, kali ini aku akan memang dari kakek, ya kan Nuang”
“Nuang? Ya kakek, aku memanggilnya Nuang dan Azia sudah setuju dengan panggilan itu” Ucap Bastian dengan senyum cerah cerianya.
“Aku tidak setuju, aku tidak menyukainya, kamu yang ingin memanggilku itu” Ketus Azia.
“Eum… kalau queen bagaimana?” Tanya Bastian dengan mata fokus pada papan catur.
“Terserah” Jawabnya singkat.
“Terserah lagi? Nanti kamu marah lagi kalau aku panggil sesuka hatiku”
“Sudah, queen saja, kakek lebih setuju itu. Nah! Kamu kalah! Hahahah…” Xu tertawa puas melihat Bastian cemberut karena kalah darinya.
“Ih, kakek curang sekali. Aku yakin tadi tidak seperti ini”
“Kamu saja yang tidak pandai bermain, lihat kamu kalah secara adil, Azia saksinya.” Mata Xu dan Bastian kini fokus pada Azia, mereka menunggu respon Azia dengan penuh harapan.
“Hahahaha….” Xu kembali tertawa karena melihat reaksi calon cucu menantunya yang cemberut karena kalah darinya untuk kesekian kalinya.
Meski Bastian tidak pandai bermain catur tapi, dia selalu berusaha untuk memahami dan mencari taktik agar menang tapi, yang terjadi dia selalu kalah di depan Xu, sedangkan Xu dia selalu senang bermain dengan Bastian meskipun Bastian memang bukan lawan yang sulit untuknya, tapi selalu ada kesan dan kesenangan sendiri tiap kali dia bermain catur dengan pemuda itu.
“Apa kalian sudah memikirkan pernikahan kalian?” Tanya Xu yang mulai agak serius.
“Belum, aku masih terlalu mudah dan aku masih ingin belajar banyak hal dalam bisnis sebelum memulai hubungan serius dengan Bastian” Jawab Azia tegas.
“Kalau aku, kapan Azia siap aku pun siap” Jawab Bastian penuh semangat.
“Baiklah, bagaimana kalau kakek beri waktu 2 tahun lagi, setelah itu mari buat acara pernikahan yang meriah” Tawarnya.
“Tidak, aku ingin menikah saat usiaku 25 tahun, beri waktu 3 tahun lagi, lalu baru baru mulai bahas masalah pernikahan.”
“Azia, kakekmu ini sudah cukup tua, kakek tidak yakin bisa menunggu selama itu, bagaimana kalau menikah dulu, lalu baru resepsi?” Tawarnya lagi.
“Tawaran 2 tahun lagi tadi terdengar lebih baik, mari menikah setelah 2 tahun lagi” Ucap Azia pada Bastian.
“Kapan pun kamu mau, aku akan selalu siap” Ucapnya penuh percaya diri.
“Padahal kalau menikah dulu pun terdengar lebih baik dari pada harus menunggu selama 2 tahun” Gumam Xu yang masih terdengar oleh Azia.
“Kakek yang tadi menawarkan 2 tahun, kenapa kakek yang tiba-tiba berubah pikiran, ini bukan seperti kakek yang aku kenal.”
Xu menghela napas berat, “Kakek tadi salah bicara, sebenarnya kakek mau kalian cepat menikah, kakek ingin melihat cucu kakek menikah sebelum ajal kakek datang” Ujarnya.
Azia meneguk teh terakhir yang ada dalam cangkirnya, lalu matanya fokus menatap Xu yang ada di hadapan Bastian. “Makanya jaga kesehatan kakek, agar kakek berumur panjang dan bisa melihat aku menikah. Oh ya, aku ingin mengatakan pada kakek kalau minggu depan aku akan pergi ke Indonesia untuk melihat kantor cabang yang ada di sana”
“Kalau kamu ke sana, bawa juga Bastian bersamamu”
“Untuk apa? Itu hanya akan membebaniku, aku tidak mau”
“Jangan membantah Azia, ini demi kebaikanmu. Lagian kamu tidak mungkin akan segera kembali kan? Kalau kamu tidak membawanya ikut bersamamu, maka jangan harap bisa kembali ke tempat itu” Tegas Xu.
“Baiklah.” Azia berdiri dan pergi dari tempat itu dalam suasana hati yang sedikit kacau karena permintaan Xu.
“Apa tidak masalah aku itu, kakek?” Tanya Bastian khawatir.
Xu menatap Bastian lembut seolah Bastian adalah cucu kesayangannya, “Ini adalah cara terbaik agar kalian semakin dekat, jika kamu tidak ikut dengannya dalam perjalan kali ini, kakek tidak bisa menjamin kalau kalian tetap akan menikah di masa depan”
“Memangnya kenapa begitu, Kakek?” Tanya nya dengan tatapan polos.
“Ada orang yang dia cintai di sana, jika mereka bertemu berdua, kamu bisa bayangkan apa yang akan terjadi bukan?” Ucap Xu yang dibalas anggukan paham dari Bastian.
Sampai jumpai di episode berikutnya, semoga cerita ini menarik untuk kalian