
“Aku tidak yakin, lagian aku hanya senior untuknya, dan aku tidak punya alasan untuk bisa menyukai orang yang baru aku temui tidak lebih dari 4 kali seumur hidupku.”
“hah! 4 kali? Yang benar saja? Kapan?”
“Itu terjadi saat aku masih manjadi seorang mahasiswa, dan kebetulan dia anak yang harus di damping oleh seniorku tapi karena seniorku sakit, aku terpaksa menggantikannya 3 kali pertemuan dan jika di hitung maka ini adalah pertemuan kami ke 4 setelah bertahun-tahun.” Jelas ku.
“Huem… Tapi aku rasa dia tertarik padamu”
“Lupakan itu, bagaimana kabar anak-anak mu?” Tanya pada Mia yang kini sudah menjadi ibu dari 2 anak.
“Mereka baik-baik saja, hanya kadang sesekali… bukan sesekali sih udah sering kali bertengkar, keduanya sangat keras kepala, makanya aku menitipkan keduanya di mertua dan Mamiku.” Jelas Mia dengan menghela napas beratnya.
“Kalau Dirga?”
“Akhir-akhir ini dia sangat sibuk, tapi aku tetap harus mengawasinya, banyak sekali wanita yang mencoba menggodanya. Ya memang dia tidak tergoda tapi, bukan lebih baik kalau aku tetap waspada, yak an?”
Pesanan Mia pun datang, “Akhirnya datang juga” Ucap Mia dengan mata tidak lepas dari makanan yang sedang di hidangkan di meja kami.
“Apa kamu yakin ingin menghabiskannya?” Tanyaku ragu dengan makanan yang di pesan oleh Mia itu.
“Heum, tentu” Dia pun mulai melahap makanannya. “Heum… Enak banget! Azia, mau coba?” Tawarnya.
“Enggak deh, aku masih kenyang.”
Tak lama Dirga datang menghampiri istri manisnya itu, sebuah kecupan diberinya di kening Mia yang sedang mengunyah makanan.
“Apa makanannya enak?” Tanya Dirga pada Mia.
“Heum, enak! Sayang, mau makan juga?” Mia menyodorkan satu sendok makan ke arah mulut Dirga.
Dengan patuhnya Dirga pun membuka mulutnya dan memakan makanan yang sedang Mia makan itu.
“Sudah bertahun-tahun tapi rasanya kalian seperti baru menikah, ya?” Tanya ku yang iri melihat kemesraan dua sahabatku itu.
“Eh Azia, kok kamu di sini?” Tanya Dirga yang kaget melihat ku ada di depannya.
“Ya, ya ya, aku selalu transparan di depan dua bucin seperti kalian.” Aku memutar bola mataku dan menggeleng heran, “ Jadi gimana bisnismu lancar?” Tanyaku.
“Semuanya lancar, bagaimana dengan kamu? Apa kamu akan memulai bisnis baru atau melanjutkan bisnis keluarga mu?”
“Aku tidak punya rencana apapun untuk saat ini tapi… mungkin saja di masa depan aku memulai ceritaku sendiri. Kalian jangan lupa untuk datang di pernikahanku, ya!”
“InsyaAllah, kalau tidak ada halangan” Jawab Dirga sambil menatap mata Mia lalu keduanya tersenyum tanpa alasan yang bisa aku mengerti.
“Udah dong bucin nya, bikin sakit mata nih! Sepertinya aku harus segera pulang, ini sudah hampir jam 3 sore.” Aku melihat kearah handphone ku yang sudah mendapat notifikasi pesan dari Bastian.
“Kenapa buru-buru?” Tanya Mia yang masih saja belum selesai dengan makanannya itu.
“Aku perlu menyelesaikan beberapa urusan di rumah, lain kali kita bicara lagi.” Aku menghampiri Mia dan memeluknya lalu bergegas pergi dari tempat itu.
Pesan singkat dari Bastian yang berisi ‘Aku menunggumu di rumah kakek’ itu membuat aku bisa menebak pembicaraan macam apa yang akan kami lakukan.
“Semoga tidak terjadi perang” Pikirku sambil bergerak keluar dari mobil.
Begitu keluar dari mobil, seorang pelayan menghampiriku, “Nona, tuan Bastian menunggu anda di taman utara.” Ucapnya.
Aku hanya mengangguk dan mengikuti langkah pelayan itu hingga aku melihat Bastian sedang duduk disebuah kursi taman dengan mata fokus ke handphone.
“Sampai di sini saja, kamu bisa kembali” Ucapku pada pelayan itu.
Aku menghampiri Bastian yang benar-benar fokus pada handphone nya dan tidak menyadari kedatanganku.
“Apa yang kamu lihat?” Tanyaku dengan suara sedikit pelan.
“Astaga! Azia, kenapa kamu mengagetkanku?” ucapnya sambil mengelus dada.
Aku benar-benar heran pada laki-laki di depanku, padahal aku sudah jelas-jelas berdiri di depannya sebelum aku mengatakan sesuatu, dan suaraku saat bicara pun sengaja aku kecilkan agar dia tidak terkejut tapi, bisa-bisanya dia tetap terkejut.
“Huft! Untung saja jantungku masih sehat!” Ucapnya kesal padaku.
“Aku harap sebaliknya! Belum tua kamu sudah kagetan dasar pemuda lansia!” Aku pun duduk dan mengintip apa yang sedang dia lihat tapi, tangannya bergerak cepat mematikan layar handphonenya sebelum mataku berhasil menangkap gambar dari apa yang jadi pengalih pikirannya itu.
“Pelit banget sih jadi orang!” Keluh ku sambil memukul lengannya dengan keras.
“Sakit, gila! Udah jadi aku mau nanya kenapa kamu tiba-tiba membatalkan perjodohan kita?” Tanya nya.
“Ini karena permintaan kakek, lagian kita juga sama-sama tidak menginginkan perjodohan ini, ya kan?”
“Ya iya sih. Tapi Azia, kamu kan tahu meski aku tidak suka denganmu dan tidak menginginkan perjodohan ini tapi, aku tidak bisa memutuskan hubungan kita karena aku punya alasan sendiri dan kamu pun tahu apa alasanku, bukan?”
Aku memang sangat tahu alasan dia tidak pernah mau memutuskan perjodohan kami tapi, aku bukan orang yang bisa mementingkan orang lain lagi. Kali ini aku ingin kebahagiaanku, aku tahu membatalkan perjodohan dengan Bastian itu sama artinya dengan membuat Bastian masuk dalam masalah yang membuat dia terpaksa dinikahkan dengan perempuan lain yaitu Agnes, seorang perempuan yang sudah lama mengincar Bastian tapi karena obsesinya yang berlebihan dan kegilaannya dalam mengendalikan kehidupan Bastian membuat Bastian tidak pernah ingin dekat dengannya.
“Tapi ini kesempatan terakhirku untuk bisa menikah dengan kak Alex! Kamu tahu kan betapa aku sangat menginginkan pernikahan ini?”
“Aku tahu! Tapi, Azia apa kamu tidak kasihan padaku? Jika kamu tiba-tiba meninggalkan aku seperti ini, maka anak itu akan merebut posisimu dan membuat aku terjebak dalam kegilaannya!... Setidaknya beri aku sedikit waktu untuk mencari penggantimu dulu, aku benar-benar tidak bisa jika harus bersama perempuan gila itu!”
“Bastian, kamu benar-benar melupakan bagian penting dari ceritamu sendiri” Ucapku.
“Maksudmu apa?”
“Coba kamu ingat lagi, apa benar kamu belum menemukan pengganti ku? Mungkin kamu hanya melewatkannya saja, coba untuk mundur sedikit dan kamu akan melihatnya”
Bastian benar-benar bingung dengan maksudku, dia terlihat berusaha mengingat seseorang yang aku maksud tapi dari raut wajahnya terlihat jelas kalau dia tidak bisa mengingat siapapun.
“Aku tidak mengerti, sebenarnya yang ingin kamu katakan itu apa sih?” Tanya Bastian padaku setelah berusaha keras mencoba mencari jawaban dari ingatannya sendiri.
“Orang itu…. Apa aku benar-benar perlu menyebutnya? Bukan lebih baik kamu mencari sendiri? Lagian dia sudah menunggu kamu untuk melihat ke arahnya lagi… Coba kamu ingat pelan-pelan.”
“Azia, tolong jangan bercanda! Aku sudah cukup frustasi dengan tekanan dari orang tuaku, tolong jangan berikan aku tekanan dari teka-teki mu lagi!”
“Dasar membosankan! Masa kamu lupa pada perempuan yang sudah mencuri hatimu itu?” Ucapku sambil memukul pelan kepalanya.