Obsession Of Love

Obsession Of Love
Es krim dan kesialannya



Sudah berjam-jam Azi bergulat dengan berbagai dokumen yang entah kenapa terus saja berdatangan padahal hari ini adalah hari pertamanya sebagai direktur sementara perusahaan milik kakeknya. Di ruangan lain Bastian dan Zuzu sedang asik bermain dengan boneka dan rumah-rumahan yang baru saja mereka beli, keduanya terlihat sangat hanyut dalam permainan mereka hingga membuat Bastian lupa kalau dia itu laki-laki dewasa dan bukan anak kecil seperti Zuzu.


Kreeek


Pintu ruang istirahat direktur terbuka dan keluarga sosok tinggi dengan ekspresi sedikit kusut, ia berjalan menuju meja Azia, lalu berdiri di samping Azia. “Aku pengen es krim” Rengeknya dengan ekspresi masih kusut.


“Ada apa denganmu?” Tanya Azia yang sekilas melirik  Bastian yang sedang mode merengek di sampingnya.


Bukannya langsung menjawab, Bastian malah berjalan ke belakang Azia lalu memeluk perempuan yang masih sibuk membaca dokumen, kepalanya disandarkan di pundak Azia, sedang si pemilik tubuh hanya diam tanpa respon apapun. “Aku ingin es krim” Rengeknya lagi.


“Zuzu dimana?” Tanya Azia datar.


“Zuzu sudah tidur setelah menceritakan es krim yang ia makan saat tinggal di rumah neneknya, aku juga mau es krim Queen… aku mau es krim” Rengeknya  dengan suara kecil namun masih dengar dengar cukup jelas di telinga Azia karena dia memang mengatakannya di dekat telinga Azia.


“Eum, oke.” Azia mengambil handphonenya lalu melakukan panggilan dengan kontak yang disimpan dengan nama ‘sekretaris2’.


“15 menit. Bawa es krim yang paling enak ke ruanganku” Perintahnya sebelum memutuskan panggilan tanpa menunggu respon dari orang yang di telponnya itu.


“Sudah, sekarang duduk di sana dan jangan berisik, paham” Perintah Azia dengan menatap pada sofa yang ada jauh dari meja kerjanya.


Sebenarnya Bastian senang karena mendapatkan apa yang dia mau tapi dia juga agak kesal karena tidak bisa menyandarkan diri lebih lama pada Azia. Pada akhirnya Bastian duduk di sofa dengan diam sesuai perintah Azia, hingga es krim yang dia pesan datang.


“Silahkan menikmatinya, tuan” Ucap sekretaris Azia, lalu ia pun segera keluar dari ruangan itu.


“Azia, apa kamu mencoba?” Tanya Bastian sambil berjalan meja Azia. “Mau kan?” Tanya nya lagi.


“Tidak” Jawabnya tegas dan dingin, matanya kembali fokus pada dokumen yang masih banyak yang harus diperiksa.


Sayangnya Bastian tidak mengindahkan ucapan Azia, dia terus berjalan mendekati Azia lalu menyodorkan sendok yang berisi es krim coklat. “Coba!” Ucapnya sedikit memaksa.


“Jangan ganggu, aku sibuk!” Tegasnya kesal.


“Sedikit saja Azia” Paksanya dengan terus menyodorkan es krim itu pada Azia.


“Aku bilang tidak, ya TIDAK!” Bentaknya kasar.


Bastian yang di bentak pun kaget dan tidak sengaja menjatuhkan es krimnya hingga mengenai baju yang dikenakan oleh Azia.


“Ah! Maaf, aku tidak…” Ucap nya panik namun Azia tidak peduli dengan Bastian yang panik di depannya.


Azia bangun, wajahnya terlihat benar-benar marah, tapi tidak ada satupun kata keluar dari mulutnya, ia hanya menarik beberapa tisu dan membersihkan bajunya yang kotor seadanya. Lalu berjalan menuju ruang istirahat direktur, tempat itu sebenarnya lebih layak di sebut kamar pribadi dibandingkan ruang istirahat, tidak hanya memiliki Kasur yang besar, bahkan di dalamnya terdapat lemari pakaian dan kamar mandi mewah bak hotel bintang lima. Sebenarnya Azia berniat membersihkan ke kamar mandi untuk membasuh wajahnya dan memenangkan diri agar tidak meluapkan emosinya pada Bastian yang terlihat sangat panik dan merasa bersalah atas kecerobohannya. Tapi begitu melihat kamar mandi ia langsung ingin menyegarkan diri, seharian bergulat dengan dokumen yang tidak ada habisnya membuat dia butuh waktu untuk menyegarkan diri sebelum kembali bergulat dengan dokumen-dokumen yang sedari pagi terus saja berdatangan.


Setengah jam berikutnya Azia keluar dari ruangan istirahat tersebut dengan menggunakan salah satu kemeja pria milik kakeknya yang ada di lemari ruang itu, ia berjalan dengan santai dan melewati Bastian yang masih memasang wajah khawatir dan rasa bersalah yang menumpuk jelas di wajahnya.


“Eu… itu… apa kamu baik-baik saja? A-aku benar-benar tidak sengaja melakukannya tadi” Ucapnya dengan penuh penyesalan.


Azia hanya berdehem “Hem” lalu kembali duduk di kursinya dan kembali lagi dengan aktivitasnya membaca dan memeriksa dokumen-dokumen yang ada di atas mejanya.


“Kamu tidak marah?”


Marah? Jelas Azia marah tapi, dia tidak ingin membuang banyak energi dengan marah karena dia masih banyak pekerjaan lain yang akan mengurus seluruh energinya untuk hari itu.


Azia benar-benar diam seribu bahasa dan hal itu membuat Bastian semakin overthinking, raut wajahnya benar-benar takut, takut Azia semakin tidak menyukainya, takut Azia semakin mengabaikannya, takut hubungan mereka semakin berjarak dan ketakutan lainnya di dalam otaknya.


Bastian bangun dan berjalan menuju meja Azia, dia berdiri disana dan mantap Azia yang sedang membaca dokumen, “A-aku minta maaf, tolong jangan benci aku” Ucapnya dengan air mata sudah berjatuhan.


“Jangan berlebihan, itu hanya es krim. Sepertinya kamu lelah, istirahat saja di ruangan itu dengan Zuzu” Ucap Azia datar dengan mata masih menatap lembar dokumen yang ada di tangannya.


“Kamu tidak marah? Kamu tidak membenciku?”


“Berhenti beromong kosong, sebaiknya kamu istirahat saja, setelah pekerjaanku selesai, aku akan bangunkan kalian untuk pulang” Ucap Azia yang kini menatap lekat laki-laki cengeng di depannya.


“B-baik” Lalu Bastian pergi menuju ruang istirahat namun langkahnya terhenti saat handphone milik Azia berdering.


Dringg Dring Dring…


Dengan cepat Azia menjawab panggilan masuk tersebut, “Hallo! Ada apa?” Tanya Azia dengan nada datarnya seperti biasa.


“Tuan besar masuk rumah sakit, sekarang sedang ditangani dokter”


“Hah?” Azia mencoba mencerna apa yang baru saja di sampaikan oleh sekretaris pribadi Xu padanya.


“Jangan bercanda! Bagaimana bisa orang yang sehat-sehat saja masuk rumah sakit?” Tanya Azia dengan nada kian meninggi.


“Tuan mengalami serangan jantung saat sedang berjalan-jalan di taman kota, saya kurang tau pemicunya tapi, pria yang menyelamatkan tuan mengatakan hal tersebut”


“Menyelamatkan? Berjalan-jalan? Dia pergi sendiri?” Tanya Azia dengan nada marah.


“I-iya nona, tuan ingin berjalan sendiri. Ini benar-benar kelalaian saya, seharusnya saya tetap mengawasi beliau meski dilarang. Maafkan saya, nona”


“Sudahlah, kirim saja alamat rumah sakit, saya akan segera ke sana”


“Baik nona” Ucapnya sebelum mengakhiri panggilan itu.


Ting!


Satu pesan yang berisi alamat rumah sakit yang merawat Xu pun masuk ke dalam aplikasi WA milik Azia.


“Apa yang terjadi pada kakek?” Tanya Bastian khawatir.


“Kakek mengalami serangan jantung. Bawa pulang Zuzu, aku akan menemui kakek sekarang”


“Aku itu!” Pintanya pada Azia.


“Baik, kalau Zuzu biar diurus oleh sekretaris ku” Ucap Azia yang sibuk membereskan berkas yang ada di mejanya lalu mengambil tas dan pergi mendahului Bastian, langkah Azia terhenti di meja sekretarisnya yang ada di depan ruangannya.


“Kalian urus Zuzu, kalau dia bangun segera bawa ke apartemen saya. Kami akan pergi ke rumah sakit, jadi jaga dia sampai saya kembali, paham”


“Paham, Direktur” Ucap kedua sekretaris Azia.


 Next.....