
Beberapa hari berlalu dan hubungan Dirga dan Mia semakin membaik apa lagi setelah Dirga menjelaskan kesalahpahaman yang terjadi diantara mereka. Acara pertunangan pun dipersiapkan dengan sangat meriah oleh kedua belah pihak karena Mia sebagai satu-satunya anak perempuan di keluarganya dan Dirga yang seorang anak tunggal membuat acara itu sangat diprioritaskan. Mia yang sangat suka dengan sesuatu berbau putri akhirnya menggelar pesta dengan tema pekerjaan. Itu sangat menyenangkan karena semua orang di pesta itu akan menggunakan pakaian seperti bangsawan di negeri dongeng dan itu juga berlaku padaku dan kak Alex.
“Beb, gimana make up aku? Gaun aku? dan riasan rambut aku?” Mia sangat heboh sendiri karena dia gak mau ada yang kurang dalam penampilannya.
“Cantik, cantik kok” Ucap Fara yang bahkan tidak melirik kearah Mia.
“Serius dong! Azia, menurut kamu gimana?”
“Cantik banget kok, hari ini kamu adalah pemeran utamanya, putri paling cantik sedunia, ayo kita segera keluar”
Acara di gelas di rumah Mia, itu karena tempatnya yang memiliki kebun yang luas dan pas banget kalau dibuat menjadi tempat acara yang luar biasa. Saat kami keluar dari kamar Mia, kami disambut oleh seorang pangeran tampan yang berjas putih, mengeluarkan tangannya pada Mia.
“Ayo kita pergi bersama?” Ucap pria itu dengan senyum penuh ketulusan.
“Tentu saja” Mia menggandeng tangan Dirga dan mereka pergi ke memasuki pesta.
Aku dan Fara mengikuti dari belakang, tapi Fara hari itu benar-benar terlalu fokus pada handphonenya dan itu membuat aku sedikit penasaran apa yang sebenarnya membuat dia sangat tidak bisa melepas pandangannya dari handphonenya itu.
“Fara, lihat tu Andi datang gunakan pakaian pangeran lengkap dengan mahkota!” Tunjuk ku.
“Jangan bercanda!” Mata Fara masih saja terfokus pada handphonenya.
“Ish! Aku gak bercanda tahu! Lihat tu!” Aku memegang dagu Fara dan mengarahkan pandangan para pada Andi yang sedang berjalan ke arah kami.
“Hai semua! Ganteng gak aku hari ini?” Ucapnya dengan nada menyombongkan diri, dia benar-benar dipenuhi dengan semangat dan juga super percaya diri.
“WOW!! Ganteng!” Fara menitipkan handphonenya padaku dan menggandeng Andi masuk ke pesta.
“Dasar dia itu! Lah sekarang aku sama siapa?”
“Sama aku aja boleh?”
Terdengar suara yang sangat familiar di telingaku dan begitu aku memalingkan wajahku aku melihat seorang pria super tampan muncul dari arah kerumunan tamu yang baru saja masuk ke dalam pesta.
“WOW! Ini beneran kak Alex? Apa ini karakter dari film Disney?” Aku mulai mengitari kak Alex dan memastikan itu adalah nyata dan bukan ilusi ataupun animasi.
“Luar biasa Azia! Aku bangga pada diriku karena bisa mendapatkan pacar super ganteng dan tinggi, dan poin plusnya dia super dewasa dan pastinya pengertian, ya’kan kak?” Aku langsung menggandeng kak Alex dan menunjukkan pada dunia kalau pria di sampingku itu adalah milikku dan tidak ada yang boleh mengambilnya dariku.
Dan benar saja baru juga beberapa langkah, tapi sudah ada aja wanita yang datang menghampiri kak Alex.
“Hai!” Dua wanita berpakaian putri datang menghampiri kami berdua.
“Pacar aku!” Ucapkan dengan lantang pada dua perempuan itu dengan tegas sambil memeluk kak Alex.
Kak Alex terlihat menahan tawanya dan dua perempuan itu pergi dengan wajah tidak enak karena berusaha menggoda kak Alex di depanku.
“Kakak tertawa, ya?” Ucapku dengan nada ngambek.
“Enggak kok, sayang” Kak Alex membalas pelukanku lalu kemudian menciumku sambil berkata “Kamu kalau lagi cemburu gini bikin gemes, ya? Bikin orang mau cium aja”
“Apaan sih kak! Eh, ayo ke sana! Mia dan Fara ada di sana”
“Iya” Ucapnya dengan tersenyum sambil mengikuti langkah kakiku yang kecil.
“Hai! Gimana? Setelah ini beneran ada pesta dansa kan?”
“Yes, akhirnya bisa ngerasain juga kayak di film Disney, bisa dansa sama pangeran”
“Siapa pangerannya?”
“Nih!” Aku menunjuk kak Alex.
“Loh kapan datang dan siapa yang undang?” Tanya Mia kaget.
“Aku yang undang!” Kak Hendrik datang dari arah belakang mereka.
“Kakak! Ish, padahal udah sengaja gak kasih tahu dia, kenapa kakak nyebelin banget sih?”
“Ya mau gimana, dia kan sahabat kakak dek, udah gak usah lebay, sekarang ke atas panggung dan bersiap buat acara tukar cincinnya!” Perintah kak Hendrik pada Mia dan Dirga.
Dirga menggandeng Mia yang terlihat kesal karena kehadiran kak Alex ke pesta hari itu. Tapi sampai di panggung suasana hatinya berubah apalagi saat mereka melakukan proses tukar cincin di depan semua orang. Setelah proses yang paling dinantikan Mia selesai, tiba giliran acara yang paling aku tunggu-tunggu, acara dansa pun dimulai. Semua sudah mulai berdansa mengikuti musik yang baru saja diputar, Mia dan Dirga memulai dansa mereka dan diikuti oleh Fara yang pada akhirnya terpaksa berdansa dengan pacarnya yang kebetulan hadir sebagai tamu di acara pesta hari itu. Wajah Fara terlihat di paksakan untuk tersenyum, dan satu lagi jomblo yang tidak berdansa dan malah memilih menikmati makanan yaitu Andi yang mengasingkan diri dari kami dengan makanan yang di piringnya sudah hampir menggunung.
Rencananya sih udah pas banget, Mia sama Dirga dan Fara dengan pasangannya, lalu aku berdansa dengan kak Alex tapi sayangnya sesuatu terjadi. Kak Hendrik menghampiri kami dan menculik kak Alex dariku dengan alasan Dosen mereka datang ke acara hari itu, kak Alex terpaksa mengikuti kak Hendrik karena merasa tidak enak kalau tidak menyapa Dosennya itu. Pada akhirnya aku sendirian di tengah keramaian, aku hanya bisa melihat orang-orang yang sedang menikmati dansa mereka.
“Ini sangat membosankan” Lalu aku menyusul Andi yang sedang mojok bersama makanannya.
“Andi!” Aku duduk setelah mendapatkan beberapa kue dari pesta.
“Asik dansanya?” Tanya Andi dengan nada lesu.
“Dansa apaan? Kak Alex pergi sama kak Hendrik ke situ!” Tunjuk ku pada tiga orang dewasa yang sedang berbincang serius di tengah pesta yang super menyenangkan.
“Mau dansa juga?” Tanya Andi dengan nada bisa hingga aku berpikir itu pernyataan bukan pertanyaan.
“Kenapa?”
“Kalau kamu mau, ayo dansa denganku saja?!”
“Oke, ayo kita berdansa!”
Lalu aku menerima tawaran Andi, kamu masuk ke tengah acara dan berdansa berdua. Sebenarnya aku tidak bisa berdansa tapi, Andi menuntunku dengan perlahan hingga aku meminimalisir kesalahan dalam gerakan ku. Andi memang sedari dulu selalu baik padaku dan selalu tahu cara membuat mood ku kembali.
“Apa sekarang kamu senang?”
“Iya dong! Ini sangat menyenangkan dan kamu guru dansa yang sangat baik, makasih Andi”
“Iya, sama-sama. Lain kali kalau kamu ada masalah langsung aja bilang, jangan ditekuk mukanya, kan jadi gak enak buat dilihat. Sekarang kamu terlihat lebih baik.”
“Iya iya, tapi sekali lagi makasih! Kamu selalu bisa diandalkan”
“Kamu baru nyadar? Aku memang selalu bisa diandalkan dari dulu” Ucap Andi menyombongkan diri di depanku seperti biasa.
“Hahahah… iya, iya kamu memang yang paling bisa diandalkan.”
Kami berdansa mengikuti musik yang di putar, dengan perlahan aku mengikuti langkah Andi yang sengaja dibuat dengan tempo perlahan.
Bersambung….