
“Azia, tolong jangan bercanda! Aku sudah cukup frustasi dengan tekanan dari orang tuaku, tolong jangan berikan aku tekanan dari teka-teki mu lagi!”
“Dasar membosankan! Masa kamu lupa pada perempuan yang sudah mencuri hatimu itu?” Ucapku sambil memukul pelan kepalanya.
“Siapa sih?” Tanya nya lagi.
“Heum! Dasar sangat tidak peka! Dia itu Fara, dia sudah lama menunggu kamu, kamu masih punya dia jadi jangan frustasi, paham!”
“Fara? Azia, apa kamu lupa kalau dia mencampakkan aku! Dia membuang ku, dia tidak lagi menginginkan aku!”
“Kamu terlalu banyak berpikir, bodoh! Dia itu mencintaimu juga… Dan sebenarnya yang mencampakkan itu kan kamu, kamu sendiri yang menghindarinya, kamu sendiri yang membuat dia tidak bisa menghubungimu, ya’kan?... Lagian buat apa sih kamu blok dia? Aku kadang bertanya di dalam kepalamu itu apa benar-benar ada isinya? Apa jangan-jangan itu hanya kerangka kosong” Aku tertawa kecil sambil mendorong pelan kepalanya.
“Jangan menghinaku! Aku… Aku tidak ingin dia mengatakan hal yang menyakitiku karena itu aku tidak ingin bicara dengannya, aku tidak ingin ucapannya membuatku semakin membenci diriku sendiri… Aku hanya…”
Aku memotong ucapan Bastian, “Hanya terlalu banyak berpikir! Sudahlah! Sekarang buka blokir dan biarkan dia menghubungimu, paham! Kamu tidak bisa selamanya membuat dia menunggu seperti itu, bagaimana kalau tiba-tiba dia berubah pikiran dan malah mau mencoba dengan orang lain?”
Aku benar-benar tidak bisa mengendalikan emosiku di depan kebodohan Bastian.
“Tentu saja aku tidak ingin seperti itu! Aku hanya… Azia, bantu aku bicara dengan Fara!” Ucap Bastian dengan nada memohon.
“Hum… Oke deh, kali ini aja! Jangan lakukan kesalahan lagi, paham!” Ancam ku.
“Iya, paham kok! Ayo cepat hubungi dia!”
“Iya sabar, bocah bodoh!” Aku pun melakukan panggilan video dengan Fara.
"Kok mulutmu enggak ke kontrol banget kalau hina aku, ya?"
"Diam!" Bentak ku kesal pada Bastian yang sok kesal.
Tak butuh waktu lama Fara pun menjawab panggilan itu, “Hallo Azia, ada apa?” Tanya Fara.
“Ada seseorang yang ingin bicara denganmu!” Aku menyerahkan handphone itu pada Bastian.
Dia kelihatan canggung dan sedikit bingung dalam memulai percakapan dengan Fara.
“Kenapa kamu tidak bisa aku hubungi? Kamu sengaja menghindari ku, ya?” Tanya Fara.
“Itu… Maafkan aku” Ucap Bastian penuh penyesalan.
“Apa kamu sekarang sudah menemukan orang lain karena itu kamu ingin mencampakkan aku?” Tanya Fara lagi.
“Tidak, tidak! Aku tidak mungkin melakukan itu, aku hanya mencintai kamu… Aku hanya takut kamu mengatakan ingin pisah denganku di saat aku belum siap dengarnya karena itu… Harusnya aku tidak melakukan itu, maafkan aku!” ucapnya tulus.
“Lalu sekarang apa? Apa kamu akan menghindari ku lagi?”
“Tidak, aku tidak akan melakukan itu. Fara, apa aku boleh meminta kesempatan terakhir ku?” Tanya Bastian dengan ragu-ragu.
“Heum… Akan aku pertimbangkan kalau kamu bisa membawa orang tuamu melamar ku lusa” Ucap Fara dengan sebuah senyum malu-malu setelah mengatakan hal itu.
“Beneran? Okey, pulang dari sini akan aku minta orang tuaku melamar kamu untukku!”
“Bagus, bagaimana kalau kita nikahnya barengan?” Usul ku.
“Itu bukan ide buruk, ayo lakukan!” Ucap Fara.
“Fara, aku akan menghubungimu lagi nanti, sekarang aku harus pulang dan mengatakan hal baik ini pada orang tuaku.” Bastian mengembalikan handphone ku lalu segera berlari ke mobilnya.
“Jadi, acara pernikahan akan diadakan dimana?” Tanya Fara yang ternyata belum mematikan panggilan video itu.
“Ah itu… Sesuai rencana itu akan dilakukan di rumah orang kakekku, semua sudah mulai di persiapkan dengan sesempurna mungkin”
“Untuk gaun bagaimana?” Tanya Fara.
“Aku sudah melihat-lihat beberapa gaun tapi sejujurnya belum ada yang mencuri perhatianku.”
“Bagaimana untuk gaun biar aku urus, lusa akan sampai di tempatmu. Sejujurnya aku sudah lama memesannya, gaun pengantin itu rencananya akan jadi kostum untuk reunian kita nanti di akhir tahun tapi karena pernikahan kita yang cukup mendadak ini aku pikir… Kenapa kita tidak menggunakannya sekarang, ya’kan?”
“Bagus, jadi masalah gaun sudah teratasi sekarang kita hanya perlu mempersiapkan mental kita untuk melalui bebagai serangkaian prosesi pernikahan yang cukup rumit.”
“Heum. Azia, lain kali kita bicara lagi, aku ada pekerjaan yang harus aku urus sekarang”
“Oke, bye!”
***
Karena lamaran untuk ku dan Fara itu kebetulan di hari yang sama, membuat kami terpaksa tidak bisa saling menemani di saat-saat penting kami. Namun untungnya kami menikah di hari dan tempat yang sama, kamu melakukan akad dan resepsi di tempat yang sama.
Pernikahan yang sangat sempurna seperti yang aku impikan, sebuah gaun yang cantik, resepsi di tempat yang indah dan megah seolah aku adalah anggota kerajaan. Betapa bahagianya aku hari ini karena akhirnya bisa resmi menikah dengan kak Alex, meski hubunganku tidak cukup baik dengan Mama tapi setidaknya hari itu aku melihat dia memperlakukanku seperti putrinya.
Aku mendapatkan banyak cinta di hari pernikahan ku, undangan yang hampir seluruhnya adalah teman-temanku selama sekolah hadir dan beberapa murid les ku dulu pun ikut menjadi tamu hari itu. Beberapa penjabat dan pengusaha yang aku kenal menjadi tamu di acara pernikahanku itu, namun alasan acara itu istimewa karena aku bisa menikah berbarengan dengan sahabat terbaikku yang sudah seperti kakak untukku.
Meski kadang aku masih melihat tatapan mata Fara yang penuh kebencian sering diarahkannya ke kak Alex yang terus di sampingku. Namun tatapan itu selalu berubah tiap kali aku menyadari kalau Fara melempar tatapan sinis kearah kak Alex.
“Fara, bukan kamu mengatakan akan membiarkan kami bersama? Kenapa kamu masih terlihat seperti sangat membencinya?” Bisik ku pada Fara yang ada di sampingku.
“Aku memang membiarkan kamu menikahinya tapi aku belum bisa menghapus rasa benci ku pada anak itu” Jawab Fara sambil tersenyum pada tamu yang menyapa kami.
“Sayang, kamu haus?” Tanya Bastian pada Fara.
“Sedikit”
Bastian dengan cepat turun dari panggung dan meminta pelayan untuk mengambil minuman untuk Fara.
“Dek, kamu haus?” Tanya kak Alex padaku.
“Sepertinya iya” Lalu aku berbalik mengambil air di meja yang ada di belakangku, “Untung Liam tadi memberiku air saat kami bersalaman jadi aku tidak perlu turun dan mengambil air” Ucapku sambil membuka botol minuman dan mulai meneguknya.
“sayang, ini untukmu” Bastian memberikan secangkir minuman untuk Fara, “Azia… Ah kamu sudah ada minuman, nih buat kamu…” Saat akan memberikan minuman untuk kak Alex tiba-tiba saja Fara malah mengambil minuman di tangan Bastian dan menghabiskannya juga.
“Aku sangat haus” ucapnya sambil tersenyum puas.
“Tapi itu kan untuk…” Bastian sedikit merasa bersalah karena minuman kak Alex di habiskan Fara.
“Jangan khawatir, aku bisa minum minuman Azia kok” Ucap kak Alex yang mengambil minuman yang ada di tanganku.
Melihat kak Alex menghabiskan minumanku, sejujurnya aku sedikit kesal tapi, Fara terlihat jadi orang paling kesal di sana. Dia menatap tajam kearah Kak Alex yang benar-benar sangat kentara dalam mengompori Fara.
“Mereka bisa enggak sih kalau nunda pertengkaran?” Pikirku yang berjalan di depan mereka yang sedang perang dingin tapi sayangnya aku tidak bisa menghalangi pandangan keduanya karena ku lebih pendek dari dua orang itu.
“Hai! Jangan membuat keributan di sini, ini acara pernikahan kita berempat, paham!” Ucap Bastian sambil menarik Fara ke sampingnya.