
Sesampai di depan rumah Fara, aku merasa tidak mau turun dari motor Andi.
“Apa kamu gak mau turun?” Tanya Andi padaku yang terus meluk pinggangnya.
“Kalau kamu gak mau turun, gimana kalau kita ke rumah aja?”
“Gak mau” Ucapku cepat.
“Yaudah kalau gitu” Andi tidak bertanya lagi padaku dan dia langsung kembali menyalakan motor.
Motor Andi kembali membawaku pergi, kali ini aku tidak tahu kemana tujuan kami karena Andi tidak mengatakan apapun. Lalu Andi berhenti di minimarket yang berada tidak jauh dari taman kota, Andi masuk dan membeli beberapa makanan ringan sedangkan aku menunggu di parkiran. Tak lama setelah itu Andi keluar dengan sekantong cemilan yang tidak banyak.
“Nih pegang!”
“Kenapa gak tarok depan aja?”
“Males aja, pengang ajalah! Lagian dari pada galau mending kamu mikirin makanan di tanganmu saja”
Lalu kami pergi ke taman kota, setelah memarkirkan motor Andi mengajakku masuk ke taman itu dan mencari kursi kosong yang bisa kami tempati. Kami berkeliling tapi tidak ada tempar yang kosong, semua penuh dengan para orang-orang yang asik pacaran di siang itu dan juga beberapa anak-anak yang lagi nongkrong.
“Andi, aku capek, kita ke danau aja, ya?”
“Oke”
Lalu pada akhirnya kami pergi ke danau buatan dan duduk di bawah pohon yang cukup rimbun di sana. Di panding lapar aku hanya ingin merasakan ke tenangan untuk saat itu. Meskipun taman itu tidak terlalu berisik tapi tetap saja tempat itu tidak cukup tenang untuk membuat aku benar-benar tenang.
“Aku ada beli es krim coklat kesukaanmu, nih makan!”
“Gak, aku lagi gak nafsu buat makan”
“Yakin? Yaudah kalau gitu biar aku habiskan semuanya”
“Eh, jangan dong Andi! Sini!” Aku mengambil es krim di tangan Andi dan mulai memakannya.
“Tadi sok nolak, sekarang di lahap semua, dasar ratu rakus!”
Lalu kami menghabiskan semua cemilan yang Andi beli tadi, setelah semua habis Andi mengutip semua sampah dan membuangnya di tempat sampah yang agak jauh dari tempat kami duduk, di saat itu aku merasa ada orang yang gerak-geriknya mencurigakan. Orang itu seperti terus memerhatikan Andi, dari sejak tadi hingga saat Andi kembali dan duduk di dekatku.
“Kamu lihat apa sih, Azia?”
“Gak ada”
“Jadi, sebenarnya kamu ada masalah apa sama si dokter itu? Kalian bertengkar lagi?”
“Andi…” Lalu aku bersandar di bahu Andi sambil menangis, aku selalu tidak bisa berpura-pura menahan perasaan dan emosiku jika di depan Andi.
“Kamu kenapa? Apa dia membuat kamu marah hingga kamu seperti ini?”
Aku mengangguk dan tidak menjawab Andi dengan ucapan, aku terus saja menangis di bahu Andi.
“Nih tisu! Jangan basahin baju sekolahku, besok masih dipakai”
“Kan bisa di cuci heu…heu…” Ucapku sambil sedikit seda-seda karena masih menangis.
“Kapan keringnya kalau cucinya malam, Azia! Udah pakek tisu aja, nih!”
“Gak mau!” Aku terus menangis hingga membuat baju Andi basah.
“Memang kamu ini gak berubah, ya? Bandel banget kalau di bilangin”
“Iya, maaf!” Lalu aku mengambil tisu yang ada di tangan Andi. “Dari mana dapat ini?”
“Ya beli lah, aku tahu kamu pasti mau nangis-nangis, udah kelihatan banget dari saat kita di sekolah apa lagi saat ketemu si dokter garang itu. Sebenarnya kamu ada masalah apa lagi sih sama dia?”
“Hue… Hue…”
“Azia, berhenti dulu nangisnya, nanti nangis lagi setelah cerita” Ucapnya sambil itu mengelap air mataku.
“Mana bisa! Dasar menyebalkan!” Aku memukul dengan pelan sambil terus bersandar di bahu Andi.
Beberapa menit setelah itu aku mulai berhenti menangis dan tanpa sadar sudah banyak tisu yang berhamburuan di dekatku. Lalu Andi bangun dan mengutipnya, dia mengumpulkan tisu itu untuk di buang di tong sampah.
“Sekarang sudah tenang, iya’kan? Coba cerita sebenarnya apa yang terjadi?”
“Jadi sebenarnya aku sedang kesal sama kak Alex karena dia mengabaikan pesanku saat kita pergi bersama-sama untuk menghabiskan akhir pekan beberapa hari yang lalu, lalu kemaren aku menghubunginya dan kamu tahu apa?”
“Emangnya apa?”
“Yang menangkatnya malah cewek, aku kan kesal! Cewek itu juga bilang kalau dia pacar kak Alex”
“Kalau gitu kamu putus aja, gampangkan?!”
“Gak bisa, aku cinta banget sama kak Alex, gak mau putus pokoknya”
“Yaudah, dari pada kamu marah-marah gak jelas mending kamu tanya secara langsung lalu kamu juga cari tahu sejelas-jelasnya masalah ini, bisa ajakan kalau ini hanya salah paham saja, iya’kan?”
“Tapi… tapi…”
“Azia, dengerin aku, ya! Gak ada masalah yang akan terselesaikan jika hanya ngambek dan infomasi yang belum pasti seperti itu”
“Kenapa kamu berkata begitu? Kenapa kamu mendukung kakak Alex?!” Ucapku yang tidak suka Andi berihak pada kak Alex.
“Aku tidak memihaknya, aku hanya tidak ingin kamu stres karena hal yang belum pasti, mending cari tau ketimbang stres dan tidak tau apa yang sebenarnya terjadi” Jelas Andi.
“Lalu kalau kak Alex beneran ada yang lain bagaimana?” Tanyaku yang masih negative thinking.
“Kamu hanya perlu tau kalau ada yang melukaiku aku akan maju dan menghancurkan mereka, kamu tidak perlu taku, aku akan jadi pendukungmu selamanya” Ucap Andi dengan nada serius.
“Apa kamu berjanji akan selalu di pihakku?”
"Iya, aku berjanji" Ucapnya tulus.
Setelah itu, aku merebahkan diriku di pangkuan Andi lalu aku mulai menutup mataku. Aku merasa lelah, lelah menangis, lelah memikirkan segalanya yang membuat aku tertekan, dan lelah menjani hidup ini. Dalam pangkuan Andi yang terasa sangat nyaman di tambah angin yang berhembus sepoi-sepoi menyentuh tubuh dan wajahku yang masih merasa panas karena terlalu lama menagis. Saat angin berhembus rasanya aku bisa mendengar desiran dedaunan yang saling menyentuh, rasanya hanya ada aku dan Andi di tempat yang di lalui banyak orang itu. Rasa tenang itu membuat aku terlelap dalam pangkuan Andi, aku tidak tahu berapa lama aku terlelap tapi Andi terus membiarkan aku tertidur seperti itu di pangkuannya.
Dari dulu Andi selalu jadi tempat aku benar-benar bersandar selain Mia dan Fara, Andi adalah orang pertama yang membuat aku merasa benar-benar hidup dan harus hidup di dunia yang sesungguhnya kejam. Dia selalu mencari cara agar aku hanya melihat hal baik saja, dia selalu ada untuk membuat aku bahagia, menenangkan aku, menjagaku, dan dia adalah orang pertama yang akan maju untuk melindungku jika ada yang menyakitiku dari dulu hingga sekarang. Meski terkadang dia menyebalkan tapi, sebenarnya dia adalah orang yang sangat baik dan super perhatian.
“Azia! Bangun udah mau sore ni!” Andi membangunkan aku dengan sabar dan lembut.
“Eum, iya aku bangun”
Setelah memastikan tidak ada sampah di tempat kami duduk barulah kami pergi dari tempat itu. Sejujurnya aku masih merasa mengantuk dan berharap bisa tidur lagi setelah sampai di rumah sayangnya begitu sampai di depan pagar rumah, aku di kejutkan dengan kak Alex yang seakan sudah menanti kedatangan kami berdua.
“Dari mana kalian?”
Dia menatap tajam kearah kami sambil menyilangkan kedua tangan di dada.
Bersambung…