Obsession Of Love

Obsession Of Love
Wanita asing



Aku tidak menjawab apa yang Andi tanyakan padaku, lalu aku merebahkan diriku di pangkuannya sambil memandangi langit biru waktu itu. Di bawah pohon dengan sejuknya angin yang berhembus akhirnya aku tertidur di pangkuan Andi. Aku tahu banyak yang Andi ingin tanyakan padaku tapi, dia tidak bisa memaksa aku untuk memberikan dia jawaban. Selain itu Andi adalah orang yang benar-benar mengerti keadaanku, dia selalu tahu suasana hatiku tanpa aku harus bicara, tanpa aku harus mengeluh, dia selalu mencari cara agar suasana hatiku bisa kembali seperti semula karena itu bagiku Andi adalah bagian terpenting di dalam kisah hidupku, sama pentingnya seperti Nenek, Fara, Mia dan yang tercinta kak Alex, Andi selalu bisa jadi seorang sahabat sekaligus kakak untukku.


Beberapa menit setelah itu aku bangun karena siang hari aku hanya bisa tidur sebentar dan aku sudah terbiasa dengan hal itu. Aku melihat Andi sedang main game saat aku sedang tidar di pangkuannya, dia menahan emosinya saat bermain agar aku tidak terganggu, bahkan dia hampir tidak bergerak selain tangannya saja yang sibuk bermain dengan handphonenya itu.


“Andi, kita pulang, yuk?”


“Azia! Udah bangun, kalau ayo kita pergi, lagian aku udah bosan di sini, kita jadi ke toko buku, ya’kan?”


“Iya” Ucapku sambil bangun, dengan tubuh yang sebenarnya masih enggan untuk bangun dari rumput hijau yang tidak sama dengan nyamanya kasur namun, cukup untuk membuatku tenang karena hangatnya suasana dengan angin yang masih berhembus perlahan seolah menjadi obat bius yang mencoba membuat ku hampir tidak ingin bangun.


Setelah berpamitan pada pengurus panti, aku dan Andi pergi ke toko buku di arah jalan pulang ke rumah Fara. Aku memilih beberapa buku yang menarik untukku, lalu tiba-tiba Andi menarik ku ke bawah dan dia terlihat sedang menghindari sesuatu.


“Ada apa sih?”


“Syuttt! Diam dulu!” Andi menutup mulutku, lalu melihat situasi.


“Ada apa?” Aku bicara dengan suara kecil.


“Sepertinya si Alex anak itu ngikutin kita deh!” Bisik nya dengan pura-pura membaca biar gak kelihatan aneh sama orang-orang yang lewat di depan kami.


“Jangan bercanda Andi, kak Alex itu orang sibuk jadi, buat apa dia buang-buang waktu cuma untuk hal yang gak perlu begitu.”


“Kayaknya benar deh kata si Fara, cowok kamu itu terlalu posesif banget, dia ngikutin kita pasti karena dia cemburu” Padahal dia lagi ngomong serius ,tapi masih sempatnya dia melambai-lambaikan tangannya kearah gadis-gadis yang berada sekitar 100 meter dari tempat kami berada.


“Andi, jangan ngada-ngada deh! Kamu pasti salah lihat orang!” Lalu aku bangun dan saat akan mengambil buku aku melihat kak Alex sedang berjalan kearah kami, seketika aku kembali terduduk di bawah bersama Andi yang seakan sedang bersembunyi dari sesuatu yang menyeramkan.


“Andi! Benar kata kamu, dia ngikutin kita tapi, buat apa?” Aku jadi panik sendiri karena melihat Andi yang sudah duluan panik dari aku.


“Kamu sih bandel kalau di bilangin! Udah, sekarang kita gimana?”


“Gak tahu,”


“Itukan pacar kamu, kamu aja temui dia terus ngomong baik-baik”


“Kamu ini teman aku apa bukan sih? Aku tu lagi marah sama dia, udah pokoknya aku gak mau ketemu dia hari ini”


“Ya terus?”


“Cari cara dong, Andi! Pokoknya kamu harus bantu aku jauh dari dia sementara, paham!” desakku pada Andi yang terus menatau kak Alex dari balik rak buku.


“Nggak mau, kamu aja urus sendiri, itukan pacar kamu Azia Mutiara!”


“Oke! Aku urus sendiri! Dasar teman yang nggak bisa diharapkan!” Lalu aku bangun dan mengambil buku yang ingin aku beli lalu berjalan kearah kak Alex.


Aku belum sampai pada kak Alex tapi, malah adegan yang menyayat hati muncul secara tiba-tiba. Seorang wanita muda dengan rambut panjang bergelombang menemui kak Alex, dia memeluknya dengan mesra dan kak Alex membiarkan itu tanpa penolakan. Mereka bicara dengan sangat akrab hingga aku merasa jadi orang ketiga diantara mereka, lalu tiba-tiba tangan kak Alex menyentuh rambut wanita itu dengan sangat lembut dan dengan tetapan yang lembut. Mereka saling bertatapan, jelas sekali itu bukan sebuah tatapan biasa. Gadis itu melihat kak Alex dengan tatapan penuh perasaan dan kak Alex pun membalasnya dengan tatapan penuh dengan kehangatan. Padahal beberapa hari yang lalu dia dingin padaku tapi, dia sangat hangat pada gadis itu, aku kehilangan kesabaran ku padanya. Aku memutar arah dan kembali lagi ke tempat Andi bersembunyi.


“Kenapa balik lagi? Udah pergi orangnya?” Tanya Andi padaku.


“Bangun!”


“Kenapa?”


“Udah kamu bangun aja dulu!” Aku menarik tangan Andi dengan paksa.


Aku yang penuh dengan amarah sengaja menabrak dua orang yang sedang bicara santai di dekat kasir, Andi menutup mukanya saat kak Alex memandangi dia bergendengan tangan denganku hingga ke kasir.


“Bayar cepat!” Perintah ku pada Andi.


“Iya, iya, jangan marah gitu dong, nanti makin jelek” ucapnya dengan nada bercanda namun aku tanggapi dengan cukup serius.


“Aku cuma bercanda kok, rakusku!” Andi merangkul ku. “Kamu tu, cewek tercantik se-indonesia jadi, jangan marah, ya?!” Andi tersenyum sambil melihat kearah kasir yang menatap kami berdua.


“Au ah! Ayo pulang!” Aku kembali menarik Andi mengikuti langkahku.


Lalu kak Alex mengejar langkah kami berdua, dia mencoba menghentikan kami tapi, aku sedang dalam suasana yang buruk saat itu.


“Azia! Tunggu! Hai....! .... Kalian berdua!” Kak Alex terus mengejar langkah kami tapi, karena sadar kalau kak Alex mengejar kami aku membuat Andi terpaksa berlari hingga ke parkiran.


Aku pikir tadinya mungkin kak Alex kembali lagi ke dalam tempat itu dan menemui wanita sialan yang gak tahu diri itu tapi, ternyata dia menghadang kami di gerbang saat akan keluar dari tempat itu.


“Awas woi! Mau mati, ya?!” Bentak Andi pada Alex yang menghadang kami.


“Kamu diam! Aku mau bicara dengan Azia!”


“Bicara aja nanti, aku udah lapar banget, nih!” Ucap Andi dengan nada kesal.


“Yaudah, kalau gitu tinggalin Azia, biar aku yang anterin Azia nanti”


Lalu Andi melirik kearahku dan ingin mengatakan apa yang diucapkan kak Alex.


“Kalau kamu minta aku turun, aku akan bilang sama Bunda mu kalau kamu banyak hutang dan sering main game di kamar dan bukannya belajar, paham!” Ancamku pada Andi.


Dia tersenyum terpaksa lalu kembali melirik kearah kak Alex.


“Dia gak mau, udah sana minggir!” Andi mencoba mengisir Alex dengan nada tegas yang sebenarnya terdengar kayak biasa aja menurut aku.


“Kamu sok tahu! Azia aja belum ngomong apa-apa” Kak Alex tidak percaya ucapan Andi karena dia tidak mendengar apa yang aku bisikkan pada Andi saat Andi berniat menyuruhku turun.


“Tolonglah, kalian gak kasihan sama aku yang kelaparan ini? Kalau mau berantem ya nanti aja di rumah masing-masing, jangan di sini, dan sekarang aku lapar banget!”


“Kak, kalau kakak gak minggir aku akan…”


Lalu aku tidak sengaja melihat petugas keamana sedang menuju kearah keluar pagar.


“PAK!” Teriakku memanggil petugas itu.


“Ada apa?” Petugas itu datang dan menghampiri kami.


“Pak, tolong suruh orang itu minggir, kami mau pulang, teman saya hampir mati kelaparan karena orang ini menghalangi jalan kami!”


“Pak, tolong beri jalan pada anak-anak ini!” Ucap petugas itu dengan sopan.


“Tidak bisa, mereka tidak boleh pergi sebelum Azia turun dari motor.” Kak Alex sangat kekeh pada pendiriannya, dia tidak mau menyingkir dari jalan kami.


“Kalau bapak tidak mau mendengarnya saya akan bertindak kasar, tolong jangan membuat keributan di tempat ini, pak!” Lalu petugas keamanan itu menarik kak Alex yang menghalangi jalan kami menjauh.


“Cepat ngebut Andi!”


Lalu kami pun segera pergi dari tempat itu, entah apa yang terjadi pada kak Alex tapi, yang pastinya aku dan Andi sampai di tujuan dengan tepat waktu, kami berhenti di rumah Andi karena dia terlalu lapar untuk bisa mengantarku pulang ke rumah Fara.




Jangan lupa Like dan vote dari kalian semua, terimakasih telah membaca.