
“Ai... Kamu gila? Azia, ini sudah bukan lagi tentang cinta tapi ini adalah obsesi!?” Tanya nya padaku.
“Cinta atau obsesi itu hanya di batasi garis tipis, tidak peduli ini cinta atau bukan tapi untukku, sejak dia menjadi milikku maka tidak akan aku biarkan dia menjadi milik orang lain.”
“Apa kamu masih Azia yang aku kenal?” Tanya nya lagi dengan ekspresi merinding.
“Memangnya Azia versi apa yang selama ini kamu lihat? Bukan kamu harusnya tahu kalau menyukai sesuatu maka aku tidak akan membiarkan orang lain memilikinya, jika dia tidak lenyap maka dia masih harus jadi milikku” Jawabku.
“Aku menjadi merinding, apa dia tahu sisimu yang seperti ini?” Bastian melangkah mundur dan duduk di bangku yang ada di depanku.
“Memangnya aku peduli dia tahu atau tidak tentang sifat ku yang seperti ini, yang penting untuk ku adalah dia milikku. Sudahlah, kamu pulang saja sana, biarkan aku menjaganya”
“Aku tidak bisa pulang tanpa kamu, ini akan membuatku dalam masalah.” Ucapnya.
“Aku tidak bisa meninggalkan dia, bagaimana kalau orang suruhan kakek menyakitinya lagi?”
Bastian menarik napas dalam-dalam, “Aku akan mengirim beberapa orang untuk menjaganya tapi kamu harus pulang bersamaku, aku tidak mau masalah ini membuat mereka mempercepat pernikahan kita, paham!”
“Oke, aku akan pulang bersamamu tapi cepat panggil orang untuk menjaganya.”
Lalu tak lama dokter keluar, dokter mengatakan kalau kak Alex hanya perlu minum obat dengan benar dan istirahat maka dia akan cepat pulih. Bastian segera mengirim beberapa orang untuk menjaga kak Alex, begitu orang-orang suruhan Bastian tiba, aku baru mau ikut pulang dengan Bastian.
Di perjalan tiba-tiba Bastian mendapatkan panggilan dari orang tuanya, kami diajak untuk makan siang bersama dengan keluarga besar Bastian. Sejujurnya aku tidak mau ikut, tapi aku juga tidak punya hak untuk menolak karena situasi ku saat ini tidak akan menguntungkan aku dan Bastian.
Di sebuah restaurant china, keluarga Bastian sudah menunggu kami untuk ikut makan siang bersama. Aku menduga pasti itu akan di hadiri banyak orang, paling kurang 15 orang pasti akan membuatku lelah. Tapi begitu kami sampai di tempat itu ternyata hanya ada 4 orang dewasa dan 3 anak kecil dan 1 bayi di tempat itu.
“Ni hao!” Sapa Bastian dalam bahasa china pada keluarganya yang berdarah campuran China, amerika, Indonesia itu.
“Ayo pakai bahasa indonesia aja, lagian juga Azia lebih nyaman menggunakan bahasa ibunya, bukan?” Tanya Tante sakura yang merupakan mama dari Bastian.
“Eum, aku tidak terlalu mempermasalahkan hal itu” ucapku dengan sebuah senyum.
“Ayo duduk nak” Pinta Tante sakura dengan nada bicara sama lembutnya dengan ibu kak Alex.
“Ayo makan dulu, Bastian mengatakan kalian belum makan sejak pagi karena kamu harus menjenguk temanmu di rumah sakit, apa itu benar?” Tanya tante sakura.
“Hah? Teman?”
Bastian menyenggol kakiku, lalu memberi isyarat dengan mulutnya “Alex”
“Ah, benar. Temanku, dia mendadak sakit dan tidak ada keluarganya di daerah ini, karena itu aku terpaksa harus turun tangan merawatnya.” Jelas ku.
“Apa sekarang dia sudah baik-baik saja? Kalau dia perlu perawatan lebih baik, kamu bisa meminta Om Dery, dia punya rumah sakit yang cukup terkenal di china.”
“Terima kasih tawarannya, tapi sekarang dia sudah lebih baik, beberapa hari lagi dia akan keluar dari rumah sakit”
‘ting!’ sebuah pesan masuk ke handphoneku.
Segera aku melihat pesan yang dikirim dari kak Alex, “Sayang, kamu dimana?”
“Apa yang harus aku katakan? Aku tidak bisa jujur untuk saat ini” Pikirku sambil mengetik beberapa kata di handphone.
“Aku di rumah, sore nanti aku akan coba untuk menjenguk kakak lagi, tolong bersabar karena aku tidak bisa keluar dari tempat ini dengan mudah.”
“Azia, apa kamu tidak suka makanannya?” Tanya tante stela padaku yang masih sibuk dengan handphone ku.
“Maaf tante, karena aku teralihkan pada handphoneku. Aku menyukai semuanya, aku tidak terlalu pemilih, selama itu bukan udang, maka aku bisa memakannya.” Kami pun mulai makan.
“Tolong ya, jangan buat aku dalam masalah” Bisik Bastian padaku yang sesekali melirik ke handphoneku.
Tak lama kami pun selesai makan, lalu mulai lah suasana terasa seperti di ruang sidang.
“Apa kamu sudah memilih konsep pernikahan untuk kalian?” Tanya tante stela padaku.
“Semua sudah kami urus kok, Tante.” Jawab Bastian mewakili ku.
“Bagaimana dengan gaun pengantin?” Lanjut tent stela.
“Itu sudah” Jawab Bastian lagi.
“Kenapa kamu yang menjawab pertanyaan dari tante mu? Biarkan Azia bicara, kamu akan mendapat giliran nya, paham!” Tegas tante Sakura.
“Iya, ma.” Bastian akhirnya hanya bisa diam.
“Jadi, setelah menikah kalian sudah memikirkan tempat bulan madu nya?” Tanya tante sakura padaku.
“Kami masih mendiskusikannya, iya kan sayang” Jawabku sambil melirik kearah Bastian.
“Bantu aku” Ucapku lewat kode mata dan sebuah tendangan pada Bastian.
“Sorry, aku menyerah!” Balasnya lewat sebuah pesan.
Bastian hanya mengangguk dan tersenyum kearah ku.
“Dasar menyebalkan” Aku menatap tajam kearahnya.
“Kalian tidak perlu buru-buru punya anak, nikmati dulu waktu kalian bersama karena setelah menikah nanti kalian akan sulit untuk menikmati waktu bersama.” Saran tante stela.
“Bastian, kapan kamu mulai bekerja di perusahaan ayahmu?” tanya om Dery.
“Kamu akan segera menjadi suami orang, jadi cepat-cepat belajar untuk mengurus perusahaan kita” Ucap tante Sakura.
“Aku sudah memikirkan itu kok ma, tapi mungkin aku akan mulai bekerja setelah persiapan pernikahan kami sudah diatur dengan sempurna” Jawab Bastian.
Aku sedikit terganggu dengan percakapan siang itu, suasana terasa seakan aku benar-benar akan menikah dengan Bastian, seolah aku akan kalah dalam perang itu.
“Bagus, papa senang mendengarnya” Jawab Papa dari Bastian.
Satu jam berlalu dengan sangat lembut, seolah-olah aku sedang menunggu 1 tahun berlalu. Setelah makan siang selesai, Bastian mengantarku pulang ke rumah dan di rumah ternyata kakek sudah menungguku di ruangannya. Begitu sampai di rumah asisten kakek langsung mengarahkan ku ke ruang kerja kakek. Aku yakin tidak aka nada hal baik yang terjadi saat itu tapi, lagi-lagi aku tidak punya pilihan, aku tetap harus menemui kakek di ruangannya.
Saat masuk ke ruangan itu, kakek terlihat sedang membaca beberapa dokumen yang ada di meja.
“Tuan, nona kecil sudah kembali” Ucap asisten itu lalu dia segera meninggalkan ruangan itu.
“Dari mana saja?” Tanya kakek padaku dengan nada dingin seperti biasanya.
“Tadi aku makan siang dengan keluarga Bastian, bukannya kakek harusnya tahu, mereka pasti sudah menghubungi kakek sebelum mengajakku untuk makan siang bersama mereka.” Jelas ku dengan nada dingin juga.
“Apa saja yang terjadi hari ini?” tanya kakek lagi padaku.
“Bukannya kakek tahu, untuk apa kakek bertanya lagi padaku?” Jawabku dengan dingin.
Jangan lupa LIKE dan komentar terbaikmu