Obsession Of Love

Obsession Of Love
Perubahan yang mengerikan



Setelah aku dan kak Alex menyelesaikan salah paham kami, awalnya semua baik-baik saja hingga aku merasa kak Alex terus saja memperlihatkan perasaannya secara terang-terangan. Sering kali aku tak sengaja melihat kak Alex menyoroti cowok-cowok yang melirik aku dengan tatapan tajam dan aura membunuh yang kental.


“Kak Alex kok akhir-akhir ini jadi aneh sih?”


“Aneh dari mana, sayang?”


“Kakak sering menyoroti orang-orang dengan tatapan tajam dan menakutkan” Keluhku yang menyadari sorotan mata kak Alex akhir-akhir ini sedikit mengerikan.


“Aku melakukan itu karena aku tidak suka mereka memandangi kamu sayang, kamu kan cuma milikku, ini alasannya kenapa aku selalu mengajakmu ke rumah daripada membawamu ke tempat seperti ini”


“Kak, aku suka kakak cemburu tapi, ini terlalu berlebihan dan lihat baru saja aku mengatakannya dan kakak lagi-lagi menatap tajam ke arah pelanggan yang baru tiba”


“Dek, mereka itu yang keterlaluan mereka terus saja menyoroti kamu”


“Aku lebih berpikir mereka menyoroti kakak yang terlihat sangat tampan dari pada aku yang hanya gadis biasa” Pikirku.


“Kalau kakak gak mau mereka terus melihat kearah kita kenapa kakak gak booking aja sekalian tempat ini hanya untuk kita makan berdua?!” Ucapku kesal tanpa niat apapun.


“Ide bagus, aku akan booking tempat ini dan mengusir mereka” Kak Alex bangun dari tempat duduk dan hampir berjalan ke tempat manager cafe itu sedang berdiri.


“Kak, aku cuma bercanda, jangan ngada-ngada deh!” Ucapku panik sambil menarik kak Alex untuk kembali duduk.


Lalu dia akhirnya menurut dan kembali duduk di sampingku. Aku bersyukur karena kak Alex mudah dibujuk dan aku tidak perlu melihat kak Alex membuat keributan di tempat itu hanya karena dia tidak ingin ada yang melirik ke arahku.


Saat semua sudah tenang tiba-tiba Mia dan Fara datang.


“Hai!”


“Eh, kalian! Darimana?”


“Dari rumah pacar ke sini! Kalian udah lama?” Tanya Mia yang langsung duduk disampingku.


“Lumayan, ayo duduk di sini” Ucapku pada Fara yang menatap sinis kak Alex.


Saat Mia dan Fara bergabung tiba-tiba saja suasana hati kak Alex kembali berubah dan wajahnya terlihat masam.


“Kalian emang gak ada kerjaan lain selain mengganggu kencan orang, ya?” Tanya kak Alex yang kesal.


“Wah, udah berani dia ternyata, mau di pukul?!”


Aku menyenggol kaki Fara dan memberi dia kode untuk diam, Mia bertanya lewat matanya padaku, “Ada apa dengan pacarmu?”


“Gak tau, kalian diam aja dulu, dia lagi sensitif beberapa hari ini?” Jawabku lewat pesan di grup.


“Oke!” Mia mengedipkan mata padaku.


“Kamu pikir aku takut, hah! Nggak usah sok nyeremin deh?!” Ucap Fara pada kak Alex.


“Fara sayangku, aku baru ingat kalau kita ada janji sama Dion sekarang, ayo pergi!” Mia menarik Fara pergi dari tempat itu dengan buru-buru.


“Dion siapa?” Tanya Fara bingung.


“Alah yang penting kita kabur dulu aja, gak lihat tu si Alex udah kayak mau meledak?”


“Terus kamu takut kalau dia marah?”


“Udah, daripada kita buat ribut di sini aku kenalin kamu sama Dion dari SMA sebelah, gimana?”


“Ganteng, gak nih?” Tanya Fara yang antusias.


“Gantenglah, makanya ayo jalan cepat sebelum anaknya pulang!”


Setelah Mia berhasil membawa Fara pergi, emosi kak Alex mulai mereda tapi dia terus saja menggenggam tangan tangan kiriku dan tidak melepasnya hingga kami keluar dari tempat itu.


“Kak, mau sampai kapan kakak menggandeng tanganku? Ini kan sudah di dalam mobil, kak”


“Kenapa? Apa itu mengganggumu? Apa kamu tidak suka?”


“Suka kok suka” Aku tidak bisa mengatakan apa yang ada di pikiranku dan memarahinya setelah dia menunjukkan ekspresi yang murung karena ucapanku.


***


Aku suka kak Alex yang kini lebih jelas mengekspresikan perasaannya padaku tapi, ada bagian dimana rasa cemburu kak Alex menyusahkanku misalnya seperti kejadian waktu itu.


Pagi itu setelah turun dari mobil aku bertemu dengan Kiki si adik kelas yang pernah jadi muridku untuk beberapa minggu.


“Pagi, kak!” Ucap Kiki sambil ternyemum padaku.


“Pagi!” Jawabku dengan senyum ramah.


“Sayang, ini aku lupa buat bekal untukku” Kak Alex tiba-tiba masuk di antara kami dan mendorong Kiki menjauh dariku.


“Kak, harusnya kakak tidak boleh melakukan itu!”


“Melakukan apa?” Tanya kak Alex yang tidak merasa bersalah sama sekali pada Kiki yang dia dorong.


“Ini makan siangmu, segera masuk dan hati-hati pada rubah-rubah di sekitarmu!”


“Kak, ini sekolah bukan hutan jadi gak akan ada rubah, kakak cepat keluar sebelum guru lihat”


“Iya, sayangku!” Lalu kak Alex mencium keningku sebelum akhirnya dia pergi.


Sumpah antara senang dan malu saat itu aku rasakan, semua mata melihat apa lagi itu masih pagi dan posisi kami memang di dekat gerbang sekolah. Kiki yang merasa takut dengan tatapan kak Alex sudah duluan melarikan diri dan semenjak saat itu jumlah surat di laciku semakin sedikit dari hari ke hari.


Selain kejadian itu ada lagi yang bikin pusing kepalaku yaitu saat pulang sekolah dimana saat itu kak Alex mengatakan kalau dia akan menjemputku. Saat sedang menunggu kak Alex di halte bus sekolah tiba-tiba ada beberapa teman dari klub basket yang menghampiriku.


“Azia, mau pulang dengan bus?”


“Gak, aku nunggu pacar ku jemput”


“Sambil nunggu tolongin aku dong! Tadi guru matematika kasih PR dan aku gak ngerti, kamu tolong lihat sebentar!”


Saat sedang menulis rumus untuk menyelesaikan soal itu kak Alex datang dan tanpa aba-aba dia menarikku dan menggendongku masuk ke dalam mobil dan itu membuat aku dan teman-teman kaget.


“Kakak, kenapa kakak melakukan itu?”


“Melakukan apa?” Tanyanya sambil memasangkan sabuk pengaman padaku.


“Kak, aku malu kalau kakak kayak gitu! Teman-teman lihatin kita tadi, kakak sangat menyebalkan!” Aku sangat kesal dengan sikap kak Alex yang akhir-akhir ini berlebihan.


Sesampai di rumah aku langsung turun dari mobil kak Alex dengan cepat dan tidak menghiraukan kak Alex yang memanggilku.


brak!


Aku melempar tasku ke tempat tidur dan berbaring di samping tasku. Mia dan Fara kaget melihat kejadian itu, mereka saling bertukar pandang lalu mendekatiku.


“Ada apa, beb?”


“Kamu ada masalah sama si sialan itu?”


“Kak Alex akhir-akhir ini sangat menyebalkan, dia terus saja datang ke sekolah dan membuat aku kesal?”


“Memangnya dia buat apa?”


“Dia menjemputku”


“Itukan biasa”


“Bisa apanya, Fara coba deh kamu pikir sendiri, apa kamu bakalan senang kalau lagi bicara sama teman di depan sekolah dia langsung menarikmu, lalu saat kamu sedang menunggu sambil berdiskusi dengan temanmu dia malah menggendongmu masuk ke mobil tanpa aba-aba dan itu pun di depan banyak siswa lain!!!!” Ucapku sambil memukul-mukul bantal sangking kesalnya.


“Di gendong di depan umum? Uu… kayaknya itu adegan romantis banget gak sih?” Ucap Mia yang sedang membayangkan sesuatu yang berlebihan dengan ekpresi malu-malu aneh nya itu.


“Mia!!” Aku melirik ke arah Mia dengan tetapan kesal.


“Sorry!” Mia tercengir saat aku menatapnya tajam.


“Ya, terus kamu sekarang maunya apa?” Tanya Fara yang seakan sudah lelah menasehatiku.


“Gak tau, pokoknya aku kesal!”


“Kamu disuruh putus selalu bilang ‘aku cinta’ sekarang tahu sendiri akibat kelewat cinta, ya’kan?”


Ucapan Fara memang ada benarnya kalau aku selalu mengatakan aku terlalu mencintai kak Alex hingga gak mau pisah apapun alasannya tapi, beberapa hari ini aku merasa dia sudah cukup berlebihan pada hubungan kami. Dari dulu dia memang banyak mengatur, tapi tidak pernah memaksa, namun setelah kami saling terbuka dia malah semakin menjadi-jadi, dia selalu memaksakan aturan yang dia buat untukku. Segalanya jadi membuatku sesak, sekarang jadwalku diatur olehnya, orang yang aku temui harus lebih dulu mendapat izin dari dia, dan sampai ke pakaianku pun dia atur katanya aku gak boleh terlalu berlebihan saat dengan orang lain karena itu membuat orang lain menjadi menginginkan aku. Serius deh, cantik itu bukan untuk kepuasan orang, tapi untuk kepuasan diri sendiri jadi dimana letak salahnya? Aku kesal tapi gak berani menentang apa lagi kalau kak Alex udah mulai melototin aku dan diam membisu itu membuat aku sangat takut.


Bersambung…


Sejujurnya aku terlalu sibuk hingga melupakan kesenanganku menulis. maaf untuk pera pembaca yang menunggu