
Malam acara launching produk baru perusahaan cabang yang bergerak pada bidang kosmetik, meski pada awalnya perusahaan itu milik seorang pengusaha dari vietnam yang pada akhirnya diambil alih oleh perusahaan Xu beberapa tahun belakangan dan perusahaan yang tadinya hampir bangkur kini kembali bangkit dengan segela dukungan dan kerja keras dari Xu dan laboratorium penelitian milik Xu.
“Acaranya melihat, banyak orang, banyak makanan, ada minuman warna warni, Zuzu boleh coba?” Tanya si kecil dalam gendongan Bastian.
“Wah-wah, kayak keluarga bahagia aja kamu, ya Zia” ucap Mia yang menjadi salah satu tamu undangan malam itu.
“Mana anak-anakmu?” Tanya Azia mengalihkan topik pembicaraan.
“Mereka sama ayahnya, eh, Fara kok belum nongol ya?”
“Hai semua… nungguin ya?” Tanya perempuan dengan senyum jailnya.
“Fara! Ish, kenapa baru datang, ini acaranya baru mau di mulai”
“Hahah, kalian ini, eh… kamu cantik banget malam ini Azia. Mana pakai baju copl…” Ucapan Fara terhenti saat Andi masuk dalam jangkauan matanya.
“Hai! Lama nggak jumpa, gimana kabar kalian?” Tanya Andi pada teman-temannya yang berkumpul bersama Azia.
“Andi, itu disamping istri kamu kan?” Tanya Mia dengan mata fokus pada perempuan dengan wajah terlihat sangat ayu.
“Iya, ini istriku. Kalian nggak kenal karena nggak datang pernikahan, ku kan?” Tanyanya dengan nada seolah ngambek.
“Yaelah gimana mau datang, undangannya aja nggak nyampe” Jawab Mia dengan tawa ringannya.
“Hahaha… sorry, keknya lupa deh, soalnya yang ngurus undangan itu Bunda sama para sepupuku, kami tinggal terima beres aja sih kemaren” Ucap Andi sambil menggaruk kepala belakangnya meski tidak gatal.
“Fara, sendiri aja nih. Nggak niat nyari pasangan?” Tanya Andi dengan nada sedikit menyindir.
“Bukan urusanmu” Ketus Fara kesal.
“Hai, ini acara perusahaanku, jadi tolong jangan ribut.”
“Sayang, aku naik ke panggung, kamu doain semua, semoga nggak ada hambatan apapun” Ucap Perempuan yang kini telah menyandang status sebagai istri Andi.
“Loh, kok dia? Bukannya acara ini milik perusahaan Azia?”
“Hei, dia itu sepupuku dan cabang perusahaan ini memang dia yang pegang, itu pun karena kakek memaksa. Ayo duduk, itu meja untuk kita” Azia berjalan mendahului teman-temannya.
“Mimi, mau kuenya” Pinta Zuzu pada Azia yang duduk di sebelahnya.
“Ya, ambil saja sayang” Jawab Azia pada gadis kecil yang duduk di pangkuan Bastian.
“Aku temenin Zuzu memilih kue” Bastian dan Zuzu pun pergi menuju meja-meja yang berisi dengan berbagai jenis kue.
“Tumben tu muka cerah ceria banget, ada apa gerangan?” Tanya Mia pada Andi yang terus senyam-senyum sendiri.
“Hehehe… kelihatan banget ya”
“Ya iyalah, memangnya ada apa? Kamu baru menang lotre atau apa?” Tanya Azia yang juga penasaran.
“Tadi sebelum berangkat ke sini istriku bilang kalau dia hamil, sumpah kaget dan senang banget” Ucapnya dengan penuh semangat dan terpancar aura bahagia yang begitu kental.
Sedang di sisi lain Fara menatap tidak suka pada cerita Andi, diambilnya gelas yang berisi anggur, lalu di teguknya habis, “Kamu sesayang itu?” Tanya Fara.
“Tentu saja, siapa yang tidak senang mendapatkan hadiah terindah dari tuhan, apa lagi kami sudah menantinya dari setahun yang lalu, aku benar-benar sangat bahagia. Bunda pasti sangat senang mendengar kabar ini”
“Kapan rencana memberitahu mereka tentang kehamilan istrimu” Tanya Mia.
“Setelah acara ini selesai. Oh ya, Fara, sebenarnya ada temanku yang ingin berkenalan denganmu apa kamu punya wak…”
“Tidak! Aku sibuk” Tegasnya dengan tatapan penuh amarah.
“Hai jangan marah lah, aku kan cuma tanya doang” ucap Andi merasa tidak enak.
Mia dan Azia menyadari perubahan suasana hati seorang Fara bukan karena ada yang ingin berkenalan dengannya, tapi karena pria yang dia suka malah berkata ingin mengenalkannya pada teman laki-lakinya.
“Azia, aku baru-baru ini melihat Alex. Apa kamu bertemu dengannya?” Tanya Mia mengalihkan topik.
“Kak Alex? Iya, beberapa hari … eh tidak, tadi pagi aku juga bertemu dengannya.”
“Bertemu? Lalu apa yang terjadi?” Tanya Fara penasaran.
“Tidak ada” Jawab Azia singkat.
“Jangan bohong Azia, memangnya kami baru sehari mengenalmu. Aku yakin pasti terjadi sesuatu, jangan bilang kalian baikan” Ujar Fara dengan tatapan tajam pada sahabatnya.
“Setelah ini atau… ayo pergi sekarang, toh bukan kamu yang menjadi tokoh utama acara ini, kita semua hanya tamu, jadi mending kita pergi aja dan selesaikan masalah yang lebih penting” Ajak Fara yang sudah berdiri dan hendak pergi.
“Tunggu dulu! Aku tidak mungkin pergi, meski aku hanya direktur sementara, tapi rasanya tidak benar kalau pergi saat acara baru saja dimulai.” Tolok Azia.
“Tidak-tidak, sepertinya memang harus pergi sekarang, biarkan saja tunanganmu dan Andi disini menggantikan kita. Masalah ini cukup serius karena menyangkut masa depanmu, Azia” Ujar Mia yang kini ikut berdiri.
“Baiklah. Andi, aku titip Bastian dan Zuzu, katakan kalau aku pulang duluan”
“Oke” Ucap Andi sambil menaikan satu sudut bibir dan jempol kirinya kerah Azia.
Ketika perempuan itu pun pergi dari Acara yang baru saja dimulai.
*
*
*
Ruang privat di sebuah restoran bintang lima….
“Jadi bagaimana?” Tanya Fara.
“Apanya?” Azia berbalik bertanya karena tidak tau arah pertanyaan dari sahabatnya itu.
“Masalah Alex, kamu kita mungkin balikan lagi kan?” Tanyanya lagi.
“Oooo… itu, sebenarnya…”
“Azia, jangan katakan kalau kalian baikan” Potong Mia yang sudah menebak alur pikir dari sahabatnya itu.
Azia tersenyum canggung, “Aku tidak bisa melupakannya”
“Lalu bagaimana tunanganmu, wajah ibu Azia tercinta!” Ucap Fara kesal.
“Aku akan memutuskan pertunangan kami di saat yang tepat, aku hanya butuh sedikit waktu agar bisa lepas dari kakek, lalu setelah itu aku akan benar-benar memutuskan hubunganku dengan Bastian”
Fara memijat keningnya yang terasa sakit saat mendengar ucapan dari Azia, “Kamu benar-benar sudah di butakan cinta, untuk apa kamu mempertahankan hubungan yang sudah pasti tidak akan berjalan lancar? Keluargamu pasti akan menentang hubungan kalian, dan bagaimana nasib orang yang sudah jadi tunanganmu itu, apa kamu tidak memikirkan sedikit saja perasaanku?”
“Kami tidak saling menyukai, lagian aku dan dia … daripada kekasih kami lebih cocok jadi sahabat, dia dan aku tidak mungkin menjadi suami istri” Jawab Azia penuh keyakinan.
“Azia, coba pikir ulang. Bastian itu terlihat menyukaimu, aku bisa melihat bagaimana dia menatap mu, matanya penuh cinta, aku percaya dia tidak mungkin hanya menganggapmu sebagai teman” Ucap Mia.
“Kenapa kalian jadi menentang hubunganku dengan kak Alex lagi? Bukan dulu kalian sudah setuju” Ucap Azia kesal.
“Dulu itu beda Azia, waktu itu status mu sendiri, sekarang kamu sudah punya tunangan, nantinya kalian akan menikah, kan?” Tanya Mia.
“Itu– aku tidak akan menikah dengannya, Kak Alex adalah orang yang akan jadi suami masa depanku apapun yang terjadi.”
“Kalau kamu masih keras kepala seperti ini, aku akan meminta bu Dewi menjodohkan Alex dengan orang lain” Ancam Fara.
“Mana bisa, memangnya apa hubungan kamu dengan bu Dewi hingga kamu punya kuasa untuk memintanya seperti itu?”
“Aku masih memiliki hubungan sepupu dengan Ayah Alex, jadi bu Dewi mu itu sepupu iparku. Aku akan membujuknya untuk menikahkan Alex dengan perempuan lain”
Plak!
Azia memukul keras meja, matanya menatap tajam pada sahabat yang duduk berhadapan dengannya.
“Tidak akan aku biarkan! Jangan hanya karena kita sahabat kamu bisa melewati basamu Fara!” Bentak Azia. lalu dia pun pergi dari tempat itu dalam keadaan marah.
“Fara, apa tidak masalah membiarkan dia pergi begitu saja?” Tanya Mia yang merasa tidak enak melihat Azia pergi dalam keadaan marah.
“Dia hanya akan marah sebentar dengan kita, lalu besoknya dia akan kembali baikkan. Tapi keputusanku sudah bulat, jika aku tidak bisa membujuk bu Dewi, ya terpaksa aku menyingkirkan pria itu. Lagian dia selalu jadi penghalang dari kehidupan Azia.”
“Tapi Fara, itu sudah sangat berlebihan. Ini kehidupan Azia, kita sebagai sahabat hanya bisa menasehati tapi untuk bertindak lebih rasanya itu sudah tidak wajar”
“Mana bisa begitu. Bagiku Azia sudah seperti adik kecilku yang ingin aku lindungi, dari dulu dia memimpikan memiliki keluarga, lalu saat dia sudah menemukan keluarga kandungnya, apa aku harus membiarkan mimpinya ikut hancur hanya karena obsesi sesaatnya akan cinta seorang Alex? Hahaha… mana mungkin, aku tidak akan membiarkan Alex menjadi batu hambatan untuk kebahagiaan Azia yang sempurna.” Ucap Fara.
“Tapi…”
“Mia, jika kamu tidak ingin membantu, setidaknya diam saja” Tegur Fara.
Bersambung…..