
Setelah itu kami pergi ke toko baju langganan ku, di sana aku malah bertemu dengan ibunya kak Alex.
“Ibu!”
“Sayang, kenapa kamu di sini? Eh, ini siapa?”
“Kenalin ini namanya Andi, dia teman Azia dari kecil, dan Andi ini adalah ibu mertuaku”
“Ibu mertua? Nikah aja belum! Dasar anak ini, maaf ya Bu, Azia memang suka melebih-lebihkan kalau udah bucin!” Ucap Andi yang merasa tidak enak pada Bu Dewi.
“Gak papa, lagian saya sudah menganggap Azia sebagai menantu dan anak sendiri, sekarang kalian mau beli apa di sini?”
“Azia mau beli baju sehari-hari karena baju Azia sudah pada gak bisa pakai lagi”
“Makanya kalau makan tu jangan berlebihan, kan udah gendut!”
“Hai aku itu gak gendut tahu!”
“Iya, Azia terlalu kurus buat di bilang gendut, sayang kamu makan dengan teratur’kan?”
“Tante, Azia ini terlalu rakus makanya gak mungkin dia bisa makan teratur, dia biasanya makan tiap jamnya”
“Enak aja! Jangan dengerin dia, bu! Dia suka fitnah Azia, Azia makan secukupnya”
“Bohong banget! Dia makan semuanya yang dia lihat, tan!”
Aku benar-benar kesal dengan mulut Andi yang tidak bisa di kendalikan itu dan yang lebih parahnya dia membongkar rahasiaku di depan calon mertuaku dan membuat aku menjadi malu.
“Tutup mulutmu!” Aku menginjak kaki Andi.
“Au, sakit!”
“Sudah sudah, jangan berantem lagi ayo kita coba baju-bajunya dulu”
Pada akhirnya kami belanja bersama dan semua belanjaan di bawa oleh Andi termasuk belanjaan bu Dewi. Hari itu cukup menyenangkan karena aku merasa semakin dekat dengan bu Dewi setelah beberapa waktu jadi jarang berkunjung karena aku tidak lagi menjadi guru les untuk anak bungsunya.
“Udah ya, kita pulang aja!” Wajah Andi terlihat sangat kelelahan dengan tangan penuh dengan barang belanjaan aku dan Bu Dewi.
“Iya, iya udah kok! Bu Dewi gimana? Mau belanja lagi?”
“Ibu pikir ini udah cukup, oh iya kamu mau mampir ke rumah ibu, gak?”
“Iya, mampir aja ke rumah mertua mu saja sana dan bawa barang mu sendiri, aku mau main sama teman-teman!”
“Oh, jadi ceritanya kamu udah gak mau bawa barang aku lagi? Ingat siapa yang udah selamatkan dari serigala betina?! Mana rasa terima kasihmu pada teman yang udah membantumu di saat susah?”
“Eh, itukan aku bayar”
“Gak ada tu, kamu kan ngutang artinya belum bayar”
“Iya, sama aja kan nanti juga di bayar”
“Kapan?”
“Ya, kapan-kapan lah, pokoknya aku mau main dulu”
“Boleh, boleh tapi anterin belanjaan ku dulu ke rumah Fara!”
“Loh, kenapa aku yang anterin?”
“Jadi, gak mau nih ceritanya? Awas ya kalau dia datang lagi aku gak mau bantu!”
“Jangan gitu dong! Oke, oke, sini-in belanjaannya!” Wajah Andi cemberut dan kesal, dia pergi setelah mengambil sasa belanjaan di tanganku, lalu mengembalikan belanjaan Bu Dewi.
“Azia, ibu boleh nanya sesuatu?”
“Iya, ibu Dewi mau tanya apa?”
“Apa kamu dan anak laki-laki itu pacaran?”
“Mana mungkin?!” Jawab Andi dengan cepat.
“Loh, kok kamu balik lagi?” Aku sedikit kaget karena tiba-tiba Andi sudah di belakangku lagi, padahal tadi aku sudah lihat dia berjalan cukup jauh.
“Aku sebenarnya lupa bawa uang tadi, boleh pinjam dulu gak?”
“Karena ke lapangan basket itu arahnya beda dari rumah Fara, kasih aja 200.”
“Nih! Udah kan? Jalangan lupa bayar tu!”
“Sip bos!” Lalu dia berlari kearah taksi yang sudah menunggunya.
“Kalian benaran cuma teman?”
“Iya, bu. Kami hanya teman tapi, dari pada teman kami sudah seperti saudara, lihat saja tingkahnya yang tidak tahu malu itu, biasanya kalau udah bilang pinjam tetap dia gak akan bayar lagi, makanya Azia ajak dia buat bawa barang belanjaan Azia aja, sebagai ganti hutangnya.”
“Kamu perhitungan juga ya orangnya”
“Hahahah… Sedikit bu, karena Azia udah ngerasain gimana susahnya mencari uang sendiri, kalau uang itu hilang tanpa jejak rasanya sakit banget bu, soalnya buat mendapatkannya itu susah.”
“Oh iya, kamu jalan sama anak itu, apa Alex tahu?”
“Azia sih ada bilang kalau mau pergi sama Andi tapi, Azia gak bilang kalau mau bantu Andi buat jadi pacar pura-pura nya”
“Pacar pura-pura? Maksudnya apa?”
“Itu, sebenarnya ada anak yang sudak sama Andi terus ngikutin Andi gitu, Andi merasa di terror sama anak itu, Andi tipe orang yang pemilih banget kalau cari pacar makanya dia masih nge-jomblo sampai sekarang. Terpaksa deh Azia bantuin karena kasian juga kalau di ingat-ingat, soalnya cewek itu terus menghubunginya siang dan malam, dan ada mata-mata di sekolah kami yang mengawasi dia”
“Wah, mengerikan juga anak gadis jaman sekarang, terlalu berani”
“Bu, itu mobil kak Alex datang”
Mobil kak Alex berhenti di depan kami berdua, aku pikir dia akan senang melihatku setelah beberapa hari kami tidak bertemu tapi, sayangnya hanya pikiranku saja yang mengatakan kalau dia senang karena kenyataannya dia tidak terlihat senang sama sekali.
“Ada apa dengan wajahnya yang datar itu? Apa terjadi sesuatu di rumah sakit?” Pikirku.
“Azia, sayang kamu duduk di depan aja, ya!” Pinta Bu Dewi padaku.
“Azia gak enak kalau gitu, Azia duduk sama ibu aja di belakang, ya?”
“Dengerin aja apa kata ibu, kamu duduk di depan sama aku!” Ucap kak Alex dengan nada dingin.
“Baiklah” Aku menurut dan duduk di kursi depan bersama dengan kak Alex.
Selama dalam perjalanan dia hanya fokus pada jalan dan tidak mengajakku bicara sama sekali, dia seperti bukan kak Alex yang aku kenal, dia pria dingin yang menyebalkan, dia bersikap seolah-olah kami tidak memiliki hubungan apapun.
“Apa yang kamu lihat?” Tanyanya dengan nada dingin.
“Kenapa? Apa aku tidak boleh melihat wajah pacarku?”
“Lihat yang lain saja, kamu membuat aku merasa terganggu!” Kak Alex terlihat kesal.
Selama pacaran dia tidak pernah protes kalau aku melihat kearahnya dalam waktu yang lama dan dia tidak pernah mangatakan apa yang aku lakukan itu mengganggu dia tapi, kali ini dia seperti membuat jarak pada hubungan kami. Aku mulai bertanya apa yang terjadi padanya? Apa aku melakukan kesalahan? Apa dia sudah memiliki orang lain di hatinya hingga dia mencoba menyingkirkan aku sekarang? Semua pikiran tentang itu membuat aku larut dalam lamunan.
“Azia, sudah sampai ayo turun!” Ajak kak Alex yang masih berbicara dengan nada dingin padaku.
“Iya”
Setelah turun rasanya aku tidak ingin masuk ke rumah itu dan langsung pulang saja terlebih wajah kak Alex yang terus saja datar itu membuat aku merasa tidak ingin berlama-lama di sana.
“Bu, sepertinya Azia harus ke rumah sakit, Azia tiba-tiba kangen sama nenek”
“Oh, kalau gitu biar Alex yang anterin kamu ke rumah sakit, ya?”
“Alex mau istirahat, bu!”
“Kalau kakak capek ya sudah gak papa, Azia akan pesan taksi saja. Kalau gitu Azia pergi dulu ya bu”
“Iya, hati-hati di jalan, ya sayang”
Lalu kak Alex seperti mengabaikan ku, dia langsung pergi saat aku sedang berpamitan dengan Bu Dewi.
“Kenapa dia seperti itu?” Pikirku, lalu aku segera pergi dari tempat itu.
Bersambung…
Jangan lupa LIKE nya kawan, semangatku dari kalian, sampai jumpa di episode berikutnya.