Obsession Of Love

Obsession Of Love
Melepas rindu



Setelah membuat janji dan beberapa kali gagal melakukan pertemuan karena beberapa hari terakhir Azia sangat sibuk dengan masalah perusahaan, akhirnya Azia bisa mendapatkan waktu yang tepat untuk bisa bicara berdua dengan Alex. Malam ini di sebuah restoran yang hampir seterkenal milik keluarga Bastian, tempat yang bisa membuat orang menikmati makan malam dengan pemandangan kota yang sangat indah.


“Kak Alex, lama tidak bertemu” Sapa Azia dengan senyum bahagia yang terukir jelas saat Alex baru saja tiba setelah hampir setengah jam menunggu tanpa kepastian.


“Iya, sangat lama hingga kamu lupa sudah bertunangan denganku lebih dulu sebelum dengan anak itu” ucap Alex yang terdengar kesal.


“Maaf! Aku mengecewakan kakak. Tapi, aku senang saat tau ada orang lain yang berhasil menyembuhkan luka yang aku buat di hati kak Alex”


“Orang lain? Siapa maksudmu?” Tanya Alex yang tidak mengerti siapa yang sedang Azia bicarakan.


“Tentu saja istri kakak, aku melihatnya waktu di jepang, dia sangat cantik dan anggun, rambut sebahu, dengan senyum manis, dia memang cocok dengan kakak” Ucap Azia dengan sebuah senyum dipaksakannya agar terlihat baik-baik saja meski hatinya sedang hancur.


Alex kaget dengan apa yang baru saja dia dengar dari Azia, ‘Menikah? Perempuan jepang? Memangnya siapa?’ pikir Alex.


“Maaf terlambat mengucapkannya, tapi… selamat, atas pernikahan kakak, aku bahagia selama kakak bisa bahagia” Ucapnya dengan senyum palsu, “Meski bahagia kakak bukan berasal dariku” sambungnya dengan suara kecil.


“Azia, aku tidak mengerti apa yang kamu bicarakan. Tapi yang jelas aku belum menikah dengan siapapun, aku masih sangat mencintaimu, bagaimana aku bisa bersama wanita lain saat orang yang aku cinta itu kamu, Azia Mutiara” Ucap Alex yang terlihat tulus dan jujur.


“Kak, tolong jangan bercanda untuk hal yang serius, aku tidak ingin berharap” ucap Azia ragu.


Alex meraih tangan Azia yang terlihat gelisah saat menunggu jawaban Alex, ia menggenggam lembut tangan gadis yang ia cintai itu, “Aku tidak pernah bercanda dengan perasaanku Azia, hanya ada kamu di hati dan pikiranku, meskipun kamu memohon untuk menghapusnya, aku tidak akan bisa melakukannya” Ucap Alex dengan nada lembut yang membuat hati Azia benar-benar luluh.


Mendengar ucapan Alex dengan nada lembut dan tulus itu membuat mata Azia tiba-tiba berkaca-kaca, Alex yang menyadari Azia akan menangis itu pun bangun dan segera memeluk penuh rindu gadis yang paling ia cintai itu.


“Aku mencintai kakak” Ucapnya lirih dalam pelukan Alex.


“Aku juga sangat mencintaimu Azia” Balas Alex dengan memberi satu kecupan di puncak kepala Azia.


Untungnya restoran itu sudah di pesan khusus untuk mereka berdua karenanya tidak ada yang akan mengusik ketenangan mereka berdua.


Dring…


Handphone Azia terus berdering tapi Azia tidak menjawab panggilan itu, ia dengan sengaja mematikan ponselnya saat nomor yang disimpan dengan nama kontak ‘sekretaris 1’ terus menghubunginya.


“Kenapa kamu matikan ponselmu?” Tanya Alex.


“Aku tidak ingin bekerja malam ini, aku ingin menghabiskan waktuku bersamamu, hanya malam ini, aku ingin tenang tanpa tekanan, apa itu tidak boleh?”


“Tentu saja boleh” ucap Alex yang masih enggan melepas pelukannya dari Azia.


Setelahnya keduanya meneruskan makan malam dengan sesekali bercerita tentang waktu yang mereka lewatkan tanpa satu sama lainnya, ada banyak luka dan rindu yang mereka utarakan, hingga tidak sadar waktu sudah menunjukkan tengah malam. Bak cinderella Azia harus segera pulang ke apartemennya agar manusia bernama Bastian tidak khawatir.


“Boleh aku mengantarmu?” Tanya Alex penuh harapan.


“Bagaimana kalau tidak pulang malam ini? Menginap lah di tempatku” Tawar Alex.


Azia tersenyum menatap mata Alex dengan binar bahagia karena membayangkan bisa menghabiskan lebih banyak waktu bersama Alex, “ Tidak, aku tidak ingin membuat orang rumah khawatir” Ucap Azia sedikit sedih memikirkan ada orang yang menunggunya pulang dan membuat dia terbebani jika tidak pulang malam ini.


“Siapa? Bukan tadi kamu bilang kamu tinggal di apartemen? Jangan bilang…”


“Bukan seperti itu, anak sepupuku beberapa hari ini menginap di sana jadi dia datang untuk menjaganya” Potong Azia cepat.


“Ada berapa kamar di sana?” Tanya Alex dengan nada kesal.


“Ada 3 kamar, memangnya kemana? Jangan pikir kalau dalam bayangan kakak, aku dan anak itu tinggal satu kamar? Aku tidak segila itu, kami tidak melakukan apapun selain pegang tangan, bahkan sampai detik ini kami tidak pernah berciuman”


“Benarkah?” Tanya Alex yang terlihat senang mendengar penjelasan Azia.


“Tentu saja. Aku tidak bisa melakukan lah itu dengan pria lain”


“Bagus, jangan pernah biarkan orang lain menyentuhmu, kamu hanya milikku” Ucapnya sambil mempererat pelukannya.


“Kak, aku harus pulang” Azia melepas pelukan itu, ia menunggu Alex melakukan hal yang sama.


“Sayang sekali, apa besok kita bisa bertemu?”


“Bisa, memangnya kakak akan tinggal lama di sini?” Tanya Azia dengan harapan Alex memberi jawaban positif.


Pelukan itu pun terlepas sempurnah hingga terdapat jerah yang nyata diantara mereka berdua, ekspresi Alex terlihat muram, “Aku harus kembali ke indonesia 3 hari lagi” Ucapnya kecewa.


“Tidak apa, minggu depan aku pun akan kesana untuk mengurus kantor cabang milik kakek” Ujar Azia mencoba menenangkan Alex.


“Benarkah?! Syukurlah, aku pikir kita akan berpisah lagi, aku akan sulit ke tempat ini beberapa waktu karena ada banyak pekerjaan di rumah sakit untuk minggu depan. Kalau kamu sudah kembali, apa kita bisa seperti dulu lagi?”


“Seperti dulu? Itu… aku akan berusaha, tapi selama menunggu semua selesai, ayo terus bersama seperti ini” Ucap Azia sambil menyelipkan jemari mungilnya ke tangan Alex yang jauh lebih besar darinya. “Jangan menyesal karena berada di sisiku” Ucap Azia sedang senyum yang entah bermakna apa, hanya dia dan tuhan yang tau.


“Aku tidak akan menyesalinya. Dibanding menyesalinya, aku akan terus mensyukurinya seumur hidupku, karena itu tolong jangan berpaling lagi, sayang”


Ucap Alex sambil menarik Azia dalam pelukannya, kedua mata mereka kini saling bertatapan, entah sihir apa yang diberikan oleh mata Alex, tapi yang pasti Azia sudah terhipnotis dan masuk dalam hasrat yang tidak pernah keluar sebelumnya. Tanpa permisi Alex berhasil mencium Alex, ciuman itu tidak terlalu lama namun cukup berkesan untuk keduanya, seolah ciuman itu pertanda bahwa mereka telah kembali bersama.


***


Bersambung…